bukamata.id – Kualitas udara Kota Bandung sempat masuk kategori tidak sehat pada Kamis (29/10/2026). Kondisi tersebut diduga dipengaruhi polusi kendaraan bermotor yang meningkat, terutama pada jam-jam sibuk.
Berdasarkan pantauan situs IQAir, indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) Kota Bandung sempat berada di angka 167 dengan indikator merah pada siang hari. Angka tersebut kemudian menurun menjadi 152 sebelum berangsur membaik pada sore hari dengan indeks 148 hingga 142.
Sementara itu, pemantauan melalui situs Air Quality Monitoring System (AQMS) Bandung menunjukkan indeks kualitas udara berada di angka 76 atau kategori sedang pada pukul 17.15 WIB. Situs tersebut mencantumkan peningkatan polutan ringan dari kendaraan, debu jalanan, atau pembakaran skala kecil sebagai faktor yang dapat memengaruhi kualitas udara.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung, Darto, mengatakan, polusi dari aktivitas kendaraan bermotor diduga menjadi salah satu penyebab memburuknya kualitas udara di Kota Bandung.
“Dugaannya memang karena sektor transportasi publik, kecenderungannya karena polusi. Terus polusi karena gesekan ban dengan aspal sampai asap knalpot yang keluar, termasuk semburan kendaraan yang membawa debu dan seterusnya,” kata Darto saat dihubungi, Kamis (29/10/2026).
Menurut Darto, kualitas udara di Kota Bandung perlu menjadi perhatian, terutama pada waktu dengan mobilitas kendaraan yang tinggi. Kondisi udara cenderung memburuk pada pagi hari sekitar pukul 06.00 hingga 09.00 WIB dan sore hari pukul 16.00 hingga 19.00 WIB.
“Di jam-jam itu memang kecenderungannya buruk kualitas udaranya,” ungkapnya.
Untuk memantau kondisi tersebut, DLH Kota Bandung memiliki lima alat pemantau kualitas udara. Dinas tersebut juga dilengkapi perangkat bergerak yang dapat digunakan untuk memantau kualitas udara secara langsung di lapangan.
Melalui situs AQMS Bandung, DLH turut menyediakan panduan bagi masyarakat untuk menyesuaikan aktivitas dengan kondisi kualitas udara. Ketika kualitas udara memburuk, kelompok rentan, termasuk penderita asma dan penyakit jantung, disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan serta mengikuti petunjuk medis.
“Jadi di kondisi baik itu kita harus ngapain, di kondisi sedang harus ngapain, di kondisi kurang baik, buruk, sangat buruk, kita ngapain, itu sudah ada panduannya. Misalnya penderita asma dan penyakit jantung untuk menghindari aktivitas di luar ruangan dan ikuti petunjuk medis,” paparnya.
Dorong Penggunaan Transportasi Publik
Darto menjelaskan, DLH Kota Bandung telah melakukan sejumlah upaya untuk menjaga kualitas udara. Salah satunya dengan mendorong kendaraan yang beroperasi di Kota Bandung memenuhi standar uji emisi.
“Karena dugaannya kan emisi gas buang kendaraan bermotor. Maka upaya kita adalah memastikan supaya kendaraan yang beroperasi di Bandung teh lulus uji emisi. Kemudian kita merawat pohon, merawat tanaman, supaya bisa menyerap oksigennya lebih banyak,” katanya.
Selain itu, DLH mendorong pengurangan penggunaan kendaraan pribadi yang menghasilkan emisi berlebihan. Masyarakat juga dianjurkan beralih ke transportasi publik, terutama jika tersedia layanan yang lebih ramah lingkungan.
“Terus sebenarnya yang perlu lebih signifikan dilakukan tuh adalah kita berharap supaya penggunaan kendaraan yang mengeluarkan emisi yang berlebihan dikurangi. Makanya kita mendorong selain ada transportasi massal yang lebih ramah lingkungan, kita juga menganjurkan supaya semua orang menggunakan transportasi publik bukan kendaraan pribadi,” pungkasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











