bukamata.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Berdasarkan data Google Finance, kurs rupiah pada Kamis (4/6/2026) pagi berada di level Rp18.020 per dolar AS. Sementara itu, data Investing menunjukkan dolar AS menguat 0,28 persen ke posisi Rp18.015.
Dalam perdagangan harian, rupiah bergerak di kisaran Rp17.937 hingga Rp18.015 per dolar AS.
Pelemahan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena menandai level terlemah rupiah dalam beberapa waktu terakhir di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan sentimen pasar keuangan.
Bank Indonesia Pastikan Jaga Stabilitas Rupiah
Menanggapi pelemahan nilai tukar rupiah, Bank Indonesia (BI) menegaskan akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global maupun domestik.
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan BI akan terus hadir di pasar dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
“Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik serta senantiasa hadir di pasar dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat ketahanan eksternal,” kata Ramdan dalam keterangan tertulis.
Menurutnya, BI juga mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik serta menjaga kecukupan likuiditas valuta asing guna mendukung stabilitas pasar keuangan nasional.
BI Batasi Pembelian Valas dan Perluas Transaksi Mata Uang Lokal
Sebagai langkah penguatan stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia sejak 2 Juni 2026 telah memberlakukan ketentuan batas pembelian valuta asing (valas) terhadap rupiah tanpa underlying sebesar 25.000 dolar AS per pelaku per bulan.
Selain itu, BI terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT).
Kebijakan tersebut bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus memitigasi risiko volatilitas nilai tukar.
Saat ini, kerja sama LCT telah dijalankan Indonesia dengan sejumlah negara, antara lain Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.
Ramdan menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah membutuhkan sinergi seluruh pemangku kepentingan.
“Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, perbankan, dunia usaha, dan pelaku pasar guna memastikan bekerjanya mekanisme pasar secara baik serta memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional,” ujarnya.
Celios Soroti Respons Negatif Pasar
Pelemahan rupiah hingga menembus level Rp18.000 per dolar AS terjadi sehari setelah Kejaksaan Agung melakukan penggeledahan di kantor Badan Gizi Nasional (BGN) di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, pada Rabu (3/6/2026).
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menilai respons negatif pasar keuangan dan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan adanya kekhawatiran investor terhadap tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut Bhima, reaksi pasar yang cenderung negatif mencerminkan adanya kekhawatiran terhadap aspek transparansi dan tata kelola program pemerintah.
“Reaksi dari pasar justru negatif. IHSG-nya justru crash dan rupiahnya konsisten terus melemah. Artinya, pasar melihat adanya persoalan mendasar terkait tata kelola program tersebut,” ujar Bhima.
Meski demikian, pergerakan nilai tukar rupiah tetap dipengaruhi berbagai faktor global dan domestik, termasuk kebijakan moneter Amerika Serikat, arus modal asing, kondisi fiskal, serta sentimen pasar terhadap perekonomian Indonesia.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









