bukamata.id – Karya seni seorang pejabat publik kembali memicu kegaduhan. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, secara terbuka melayangkan kritik tajam terhadap Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, menyusul peluncuran lagu berjudul “Lalaki Langit, Lalanang Bejat” yang dinilai mengandung muatan bias gender dan merendahkan martabat perempuan.
Dalam pernyataannya, Menteri Arifah menekankan bahwa setiap produk kreatif yang dilempar ke ruang publik seharusnya memiliki tanggung jawab moral untuk tidak melanggengkan diskriminasi.
“Setiap karya yang dipublikasikan kepada masyarakat, termasuk lagu, perlu mengedepankan penghormatan terhadap martabat perempuan, tidak memperkuat stereotip gender, serta tidak memuat narasi yang berpotensi melanggengkan diskriminasi berbasis gender,” tegas Arifah seperti dilansir ANTARA, Senin (6/7/2026).
Sorotan pada Pengalaman Biologis Perempuan
Poin utama yang dikritik oleh pihak Kementerian PPPA adalah cara lirik lagu tersebut menyinggung aspek biologis perempuan, mulai dari siklus menstruasi hingga isu kehamilan. Narasi yang menjadikan pengalaman kodrati perempuan sebagai objek candaan dinilai sangat tidak etis.
“Pengalaman biologis perempuan, seperti menstruasi, kehamilan, maupun keguguran, merupakan bagian dari kehidupan yang harus dipahami dengan empati dan penghormatan. Narasi yang menjadikan pengalaman tersebut sebagai bahan candaan atau penggambaran yang merendahkan berpotensi memperkuat stereotip gender yang menghambat terwujudnya kesetaraan perempuan dan laki-laki,” tambah Arifah Fauzi.
Kontroversi Lirik Om Zein
Lagu yang dipopulerkan oleh Bupati yang akrab disapa Om Zein ini menuai kecaman dari berbagai pihak, termasuk Lembaga Jabar Bantuan Hukum (JBH) yang melayangkan somasi. Publik menyoroti beberapa bait lirik yang dianggap vulgar dan menghina kesehatan reproduksi perempuan, di antaranya yang mengaitkan remaja SMP dengan isu keguguran serta sindiran mengenai bentuk tubuh dan penggunaan alat kontrasepsi darurat.
Meski menjunjung tinggi kebebasan berekspresi, Menteri PPPA mengingatkan bahwa demokrasi harus dibarengi dengan tanggung jawab sosial.
“Kementerian PPPA menghormati kebebasan berekspresi dan berkesenian sebagai bagian dari kehidupan demokrasi. Namun kebebasan tersebut juga perlu disertai tanggung jawab sosial dengan mempertimbangkan dampak pesan yang disampaikan kepada masyarakat, khususnya terhadap kelompok yang masih menghadapi berbagai bentuk ketidaksetaraan dan diskriminasi,” jelasnya.
Klarifikasi Sang Bupati
Menanggapi gelombang kritik tersebut, Saepul Bahri Binzein memberikan klarifikasi melalui kanal resmi Pemkab Purwakarta. Ia membantah memiliki intensi untuk menyudutkan kaum hawa. Menurutnya, lagu tersebut adalah bagian dari dokumentasi pribadi yang sudah dibuat pada tahun 2020 sebagai bentuk kontemplasi diri.
“Itu puisi dan lagu diciptakan tahun 2020, bercerita tentang diri saya sendiri. Berawal dari renungan atas perilaku saya sendiri yang menurut saya saat itu saya nakal,” kilah Bupati Purwakarta tersebut.
Lebih jauh, ia mengklaim bahwa lirik-lirik kontroversial tersebut merupakan bentuk refleksi spiritual atas perjalanan hidupnya.
“Saya bersyukur Tuhan menciptakan saya jadi lelaki. Mungkin jika saya diciptakan jadi perempuan, terjadi apa yang saya pikirkan karena saya belum bisa menjaga diri,” pungkas Om Zein.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










