Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Malaysia Kena Imbas Karhutla di Kalimantan, 108 Sekolah Tutup Sementara

Kamis, 20 Agustus 2026 21:20 WIB
Ilustrasi virus HIV/AIDS

Kasus HIV/AIDS di Kuningan Naik Tiap Tahun: Tembus 1.354 Penderita, Merata di 32 Kecamatan

Kamis, 20 Agustus 2026 21:12 WIB

Siapa yang Akan Menjadi Juara Liga Premier Musim 2026–2027?

Kamis, 20 Agustus 2026 21:03 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Malaysia Kena Imbas Karhutla di Kalimantan, 108 Sekolah Tutup Sementara
  • Kasus HIV/AIDS di Kuningan Naik Tiap Tahun: Tembus 1.354 Penderita, Merata di 32 Kecamatan
  • Siapa yang Akan Menjadi Juara Liga Premier Musim 2026–2027?
  • BPNT Agustus 2026 Cair Bertahap! Cek Penerima Bansos Pakai NIK KTP, 18,25 Juta KPM Terdata
  • Terancam Hukuman Pidana, Ruben Onsu Resmi Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan dan Penggelapan
  • Korban Overclaim Sales! Kasus Aa Juju Bikin Netizen Murka: Brand Bisa Hancur Kalau Gini!
  • Duka Gempa NTT, Korban Meninggal Bertambah Jadi 75 Orang, Pengungsi Nyaris 93 Ribu
  • Porsi Barbar, Topping Berlimpah! Bubur Ayam Kang Dedi Jadi Buruan Sarapan di Bandung
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 20 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Malaysia Kena Imbas Karhutla di Kalimantan, 108 Sekolah Tutup Sementara

By Aga GustianaKamis, 20 Agustus 2026 21:20 WIB2 Mins Read
Langit Kuala Lumpur Malaysia diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan di Kalimantan. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Kalimantan kian meluas hingga ke negara tetangga. Sebanyak 108 lembaga pendidikan di kawasan Serian, Sarawak, Malaysia, terpaksa menghentikan sementara aktivitas belajar tatap muka setelah Indeks Pencemaran Udara (API) menembus ambang batas berbahaya.

Pemerintah setempat langsung mengalihkan sistem pembelajaran menjadi metode jarak jauh agar hak pendidikan para siswa tetap terpenuhi di tengah krisis kualitas udara.

Dilansir Bernama, Kamis (20/8/2026) Komite Manajemen Bencana Negara Bagian Sarawak (JPBN) mengatakan bahwa setelah penutupan tersebut, Pembelajaran dan Pengajaran Berbasis Rumah (PdPR) akan dilanjutkan. Pembelajaran di rumah dilakukan agar aktivitas belajar siswa tidak terganggu.

Aturan Penutupan Sekolah Berdasarkan Tingkat Polusi

Langkah tegas memulangkan siswa diambil selaras dengan protokol kesehatan dan keselamatan yang berlaku di Malaysia. Penutupan fasilitas pendidikan secara otomatis berlaku ketika tingkat pencemaran udara memasuki kategori sangat tidak sehat.

“Berdasarkan Rencana Aksi Kabut Nasional, yang berada di bawah yurisdiksi direktur Departemen Pendidikan Negara Bagian Sarawak, sekolah, taman kanak-kanak, dan tempat penitipan anak akan segera ditutup begitu API mencapai 200,” kata JPBN Sarawak dalam sebuah pernyataannya.

Sebagai pembanding skala polusi:

  • 0–50: Baik
  • 51–100: Sedang
  • 101–200: Tidak Sehat
  • 201–300: Sangat Tidak Sehat
  • >300: Berbahaya

Kualitas Udara Sarawak Memburuk Sejak Awal Agustus

Kondisi paparan asap pelimpahan dari Kalimantan dilaporkan terus memburuk dalam beberapa pekan terakhir. Pemantauan berkala menunjukkan lonjakan angka polutan secara merata di belasan distrik.

JPBN Sarawak menyatakan bahwa kualitas udara di Sarawak menunjukkan tren peningkatan pada pembacaan API sejak 1 Agustus.

“Hingga pukul 4 sore hari ini, dua wilayah mencatat pembacaan API dalam kategori sangat tidak sehat, yaitu 212 di Tebedu dan 202 di Serian, sementara 11 wilayah berada dalam kategori tidak sehat, yaitu Kuching, Samarahan, Sri Aman, Sarikei, Sibu, Bintulu, Samalaju, Miri, Lundu, Lubok Antu, dan Lawas,” katanya.

Imbauan Khusus bagi Kelompok Rentan

Merespons makin pekatnya kabut asap, otoritas keselamatan Sarawak mengimbau warga untuk menahan diri dari kegiatan luar ruangan. Perlindungan ekstra sangat disarankan bagi warga dengan kondisi kesehatan tertentu.

JPBN Sarawak juga menyarankan masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika indeks kualitas udara berada pada tingkat tidak sehat atau lebih tinggi.

“Kelompok berisiko tinggi, termasuk anak-anak, lansia, ibu hamil, dan individu dengan masalah pernapasan atau jantung, harus membatasi paparan mereka terhadap udara yang tercemar,” ujarnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Kalimantan Karhutla Malaysia
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Ilustrasi virus HIV/AIDS

Kasus HIV/AIDS di Kuningan Naik Tiap Tahun: Tembus 1.354 Penderita, Merata di 32 Kecamatan

BPNT Agustus 2026 Cair Bertahap! Cek Penerima Bansos Pakai NIK KTP, 18,25 Juta KPM Terdata

Duka Gempa NTT, Korban Meninggal Bertambah Jadi 75 Orang, Pengungsi Nyaris 93 Ribu

BUMD Jabar dalam Cengkeraman Politik Akomodatif: Ketika Janji Dedi Mulyadi ‘Tanpa Bagi-bagi Jabatan’ Terpatahkan

Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Bansos Tahap 3 Agustus 2026 Masih Cair! Cek PKH dan BPNT Pakai NIK KTP di Sini

Indonesia Waspada Karhutla: BMKG Petakan 4 Provinsi Berstatus Siaga Merah

Terpopuler
  • Deretan Kode Redeem FF 19 Agustus 2026: Amankan Evolution Stone dan Skin Spesial Kemerdekaan!
  • Auto Resign Massal? Rahasia Gaji Pengupas Bawang Rp700 Ribu per Kg yang Bikin Heboh Indonesia!
  • Mengenal Susanah, Ibu Pengupas Bawang Asal Bogor yang Disebut Prabowo Diupah Rp700 Ribu per Kg
  • Kode Redeem ML 14 Agustus 2026 Terbaru, Ada Diamond dan Skin Gratis Hari Ini
  • Menembus Angka 75,90: Menguji Rekor IPM Jawa Barat di Tengah Bayang Ketimpangan
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.