bukamata.id – Kematian tragis Yogi Saleh, Kepala Bidang Pengelolaan Aset Daerah di BKAD Kabupaten Purwakarta, masih menyisakan teka-teki besar. Almarhum ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di kediamannya, Kampung Karangsari, Desa Citalang, Kecamatan Purwakarta, pada Minggu (14/6). Kondisi jasad yang dipenuhi luka tusukan memicu tanda tanya besar mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
Di balik peristiwa memilukan ini, pihak kepolisian membeberkan fakta bahwa birokrat tersebut sempat menghilang dari aktivitas kantornya sebelum ditemukan tewas.
Absen Bekerja Dua Hari Sebelum Ditemukan Tewas
Pihak kepolisian sejauh ini masih meraba-raba motif di balik tragedi ini. Berdasarkan hasil penelusuran awal, almarhum diketahui sempat mangkir dari tugasnya di pemerintahan daerah selama dua hari berturut-turut.
Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Hendra Rochmawan mengonfirmasi bahwa korban tidak menunjukkan keberadaannya di tempat kerja menjelang akhir pekan, meski motif absennya belum bisa dipastikan.
“Bahwa sejak hari Kamis dan Jumat korban tidak masuk bekerja,” kata Hendra Rochmawan, Selasa (16/6/2026).
Hingga saat ini, kejelasan mengenai penyebab utama hilangnya nyawa korban masih terus didalami oleh Satreskrim Polres Purwakarta melalui proses penyelidikan intensif.
Pihak Keluarga Desak Polisi Bongkar Fakta dan Hasil Autopsi
Kondisi fisik jenazah yang tidak wajar membuat pihak keluarga tersentak. Mereka secara terbuka menyatakan adanya indikasi yang tidak beres dan mendesak kepolisian bertindak cepat serta transparan.
Eka Yusuf, selaku perwakilan dari keluarga almarhum, mengungkapkan rasa tidak percayanya atas kondisi luka yang diderita sang kakak. Saat diwawancarai di rumah duka pada Senin (15/6), ia meminta keadilan ditegakkan jika terbukti ada unsur kriminalitas.
“Saya melihat ada kejanggalan. Banyak luka di tubuh kakak saya, di leher dan bagian lainnya. Kalau takdir saya terima, tapi kalau memang ada tindakan pidana, keluarga meminta keadilan dan meminta polisi mengungkap kasus ini usut tuntas,” kata Eka.
Selain itu, pihak keluarga kini tengah menanti laporan hitam di atas putih terkait hasil bedah mayat (autopsi) yang dilakukan tim kedokteran forensik.
“Kami belum menerima hasil resminya. Kalau memang ada luka-luka seperti yang disampaikan, tentu harus dijelaskan secara terbuka. Jangan sampai ada yang ditutupi,” katanya.
Membantah Isu Depresi dan Adanya Curhatan Soal Beban Kerja
Di tengah simpang siurnya informasi, sempat berembus spekulasi liar yang menyebutkan korban nekat mengakhiri hidupnya sendiri. Namun, tuduhan tersebut langsung ditepis mentah-mentah oleh pihak keluarga yang mengenal baik kepribadian Yogi.
“Kalau ada yang mengatakan bunuh diri karena depresi, saya pribadi sulit percaya. Kakak saya orang yang religius, rajin beribadah,” ujarnya.
Eka berharap penuh agar Pemerintah Kabupaten Purwakarta turut mengawal kasus ini agar tidak menguap begitu saja tanpa kepastian hukum.
“Kami minta kasus ini diusut tuntas. Kalau memang ada pelaku, harus ditangkap. Jangan sampai kasus ini berhenti tanpa kejelasan,” tuturnya.
Meski menolak narasi bunuh diri, Eka tidak menampik bahwa almarhum sempat memikul beban pikiran terkait kedinasan. Berdasarkan informasi internal keluarga, korban sempat mengutarakan keluh kesah mengenai pekerjaannya kepada sang istri sebelum insiden berdarah itu terjadi.
“Saya hanya mendengar dari keluarga, jika korban bercerita ke istrinya ada keluhan terkait pekerjaan. Detailnya saya tidak tahu, mungkin istrinya yang lebih mengetahui,” pungkasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










