Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
Padam Listrik

Warga Jakarta dan Tangsel Ngeluh Listrik Padam Sejak Subuh, Ini Penjelasan Resmi PLN

Senin, 3 Agustus 2026 08:23 WIB

Negara Konsumen Micin Tertinggi Justru Punya IQ Tinggi, Begini Fakta Ilmiah di Balik Bumbu Penyedap

Senin, 3 Agustus 2026 08:05 WIB

Korban Salah Sasaran, Santri di Karawang Dianiaya hingga Alami Luka Bakar Usai Dituduh Begal

Senin, 3 Agustus 2026 07:08 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Warga Jakarta dan Tangsel Ngeluh Listrik Padam Sejak Subuh, Ini Penjelasan Resmi PLN
  • Negara Konsumen Micin Tertinggi Justru Punya IQ Tinggi, Begini Fakta Ilmiah di Balik Bumbu Penyedap
  • Korban Salah Sasaran, Santri di Karawang Dianiaya hingga Alami Luka Bakar Usai Dituduh Begal
  • Prediksi Indonesia vs Vietnam Piala AFF 2026: Momentum Skuad Garuda Jegal Langkah Golden Star Warriors
  • Jangan Sampai Gagal Cair! Ini Cara Mudah Ambil Bansos PKH, BPNT, dan Beras Agustus 2026
  • Dedi Kusnandar Beri Peringatan ke Persija! Persib Siap Tempur di Bali
  • Kasus Bigmo Buka Polemik Baru, Kemkomdigi Desak YouTube Perketat Moderasi Konten Digital
  • Misi Balas Dendam dan Rebut Puncak Grup! Indonesia vs Vietnam Jadi Laga Paling Ditunggu Piala AFF 2026
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Senin, 3 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Negara Konsumen Micin Tertinggi Justru Punya IQ Tinggi, Begini Fakta Ilmiah di Balik Bumbu Penyedap

By Aga GustianaSenin, 3 Agustus 2026 08:05 WIB4 Mins Read
Ilustrasi MSG atau micin. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Bagi masyarakat Indonesia, Monosodium Glutamat (MSG) atau yang akrab disapa micin sudah mendarah daging sebagai bumbu andalan untuk menyulap masakan menjadi jauh lebih lezat dan gurih. Kendati sangat populer di dapur, bumbu putih ini kerap dihantui stigma negatif, salah satunya klaim lawas yang menyebutkan bahwa sering makan micin bisa menurunkan daya tangkap otak atau membuat seseorang menjadi bodoh.

Usut punya usut, ketakutan massal ini berakar dari sebuah laporan kasus pada era 1960-an yang populer dengan sebutan Chinese Restaurant Syndrome (CRS). Kala itu, sejumlah pengunjung melaporkan gejala pusing hingga mual usai bersantap di restoran oriental. Tanpa investigasi mendalam terhadap elemen kuliner lainnya, pemberitaan media saat itu langsung menyorot MSG sebagai kambing hitam. Seiring berjalannya waktu, narasi keliru tersebut bergeser menjadi mitos turun-temurun tentang penurunan tingkat kecerdasan.

Asal-usul Micin: Murni dari Proses Alami Fermentasi

Menepis berbagai pandangan miring, Kementerian Kesehatan memberikan penjelasan transparan mengenai esensi dasar pembuatan MSG. Bumbu penyedap berbentuk kristal putih ini sejatinya diproduksi melalui metode fermentasi bahan-bahan alami.

Prosedur pembuatannya melibatkan mikroorganisme bakteri yang bertugas mengolah sumber karbohidrat nabati, seperti tetes tebu, umbi kentang, hingga ampas sayuran. Melalui bantuan teknologi bioteknologi modern, bakteri tersebut mengekstraksi zat glutamat murni yang kemudian diolah lebih lanjut menjadi kristal MSG siap konsumsi.

Bantahan Ilmiah: Negara Konsumen Tertinggi Justru Punya IQ Tinggi

Secara sains, tidak ada satu pun riset valid yang membuktikan korelasi langsung antara konsumsi MSG dengan kemunduran fungsi kognitif atau kebodohan. Argumen ini diperkuat oleh data nyata dari belahan dunia lain yang mengonsumsi micin dalam jumlah masif setiap harinya.

Berdasarkan data industri kuliner, Jepang, Korea Selatan, dan China tercatat sebagai negara dengan tingkat pemakaian MSG tertinggi di planet ini. Warga di Jepang dan Korea Selatan rata-rata melahap 1,2 hingga 1,7 gram MSG per hari. Bahkan di beberapa wilayah China, volumenya jauh melampaui kawasan Barat yang rata-rata hanya menyentuh angka 0,5 gram per hari.

Kendati asupan micin di negara-negara tersebut sangat tinggi, skor rata-rata IQ penduduknya justru bertengger di jajaran atas dunia. Jepang mencatatkan rerata IQ di angka 106,48, China berkisar antara 104,1 hingga 107,19, sementara Korea Selatan stabil pada rentang 102,35 hingga 106,43.

Pernyataan senada diungkapkan oleh dokter spesialis gizi klinik, dr. Johanes Chandrawinata, SpGK. Ia menegaskan bahwa anggapan micin sebagai pemicu kebodohan adalah isapan jempol belaka. Menurutnya, penurunan prestasi belajar anak lebih dipengaruhi oleh gaya hidup sehari-hari.

“Anak jadi bodoh apa karena makan micin, itu tidak ada hubungan, itu mitos mungkin ya berbagai faktor anak jadi bodoh. Karena mungkin terlalu banyak main game atau lihat tv, nonton tv, terus nggak pernah belajar,” ungkap dr. Johanes.

Studi mendalam dalam jurnal medis bertajuk Effect of Monosodium L-glutamate (umami substance) on cognitive function in people with dementia yang melibatkan 159 pasien demensia juga menunjukkan temuan serupa. Hasilnya, konsumsi MSG secara rutin dalam porsi wajar terbukti aman dan tidak merusak fungsi kognitif. Bahkan, riset tersebut mengindikasikan adanya potensi dalam menjaga kestabilan fungsi otak tertentu.

Di sisi lain, pakar nutrisi dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes, menerangkan bahwa zat pembentuk MSG merupakan komponen gizi yang tidak asing bagi tubuh manusia. Diolah secara higienis dari tetes tebu, glutamat pada dasarnya adalah asam amino esensial.

“Glutamat itu adalah zat gizi ya. Apakah glutamat itu racun atau berbahaya? Kita sepakat tidak beracun. Itu zat gizi yang merupakan amino esensial,” pungkasnya.

Tetap Patuhi Takaran Ideal Konsumsi Harian

Meskipun mitos kebodohan akibat micin telah terbantahkan secara telak oleh berbagai literatur medis, bukan berarti bumbu ini boleh dikonsumsi secara berlebihan tanpa kontrol.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan standar aman asupan harian atau Acceptable Daily Intake (ADI) untuk MSG berada pada kisaran 0 hingga 120 miligram per kilogram berat badan. Sementara itu, kajian dalam forum konsensus global mengenai perkembangan mutakhir MSG menunjukkan bahwa akumulasi total glutamat dari makanan di kawasan Eropa umumnya stabil di angka 5 sampai 12 gram per hari. Kuncinya tetap terletak pada prinsip keseimbangan gizi seimbang.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

bumbu dapur fakta Micin MSG
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

ilustrasi, warga tengah mengisi token listrik PLN.

Kabar Baik! Tagihan Listrik Agustus 2026 Tidak Bertambah, Cek Tarif PLN Terbaru Semua Golongan

Kisah Rahmania Shafiatu Zahra: Mojang Bandung yang Percantik Gerobak UMKM Lewat Konten Sosial

Liburan ke Bandung? Jangan Pulang Sebelum Beli 4 Oleh-Oleh Hits Ini

Harga Emas Antam Hari Ini 2 Agustus 2026 Stabil, Cek Daftar Lengkap dari 0,5 Gram hingga 1 Kg

Berburu Reward Eksklusif: Update Kode Redeem FF 2 Agustus 2026

Begini cara dapat saldo DANA gratis, awas hati-hati kena tipu.

Klaim Saldo DANA Gratis 2 Agustus 2026: Cara Aman dan Link Resmi Hari Ini

Terpopuler
  • Rindang Jadi Beton! 9 Pohon di Cihapit Ditebang Demi Lapangan Padel?
  • Kisah Pilu Om Maxim: Jadi Ayah Sekaligus Ibu Balita 1 Tahun, Intip Momen CCTV yang Bikin Mewek!
  • Rahasia Persib Tak Terkalahkan Terungkap, Igor Tolic Sebut Faktor Ini Jadi Kunci Lolos ke Semifinal
  • Salip Elektabilitas Prabowo, Pintu RI 1 Terbuka Lebar untuk Dedi Mulyadi
  • 10 Pohon Ditebang di Cihapit, Farhan Murka dan Ancam Pidanakan Pelaku
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.