Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Java United Angkat Tangan, Kasus Achmad Resal Diserahkan ke Komdis PSSI

Minggu, 27 September 2026 20:17 WIB

Bansos Beras 10 Kg Kembali Disalurkan, Cek NIK Anda Masuk Penerima atau Tidak

Minggu, 27 September 2026 19:23 WIB

Bukan Helm Modular Biasa! JPX MX7 Hadir dengan Fitur Lengkap, Harganya Bikin Penasaran

Minggu, 27 September 2026 18:37 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Java United Angkat Tangan, Kasus Achmad Resal Diserahkan ke Komdis PSSI
  • Bansos Beras 10 Kg Kembali Disalurkan, Cek NIK Anda Masuk Penerima atau Tidak
  • Bukan Helm Modular Biasa! JPX MX7 Hadir dengan Fitur Lengkap, Harganya Bikin Penasaran
  • Alwi Farhan Lolos Semifinal, Target Emas Asian Games 2026 Makin Terbuka
  • Bukan Dipanggil Timnas, Marc Klok Justru Beri Pesan untuk Thom Haye dan Ragnar
  • Pagi-Pagi Sejumlah Bangunan Liar di Tamansari Bandung Dibongkar, Ini Tujuannya
  • Gede Aiswarya Raih Juara 3 Mister International 2026, Momen Reaksi Finalis Viral di Medsos, Ada Apa?
  • Selangkah Lagi ke Final! Fajar/Fikri Punya Misi Besar di Asian Games Aichi-Nagoya 2026
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Senin, 28 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Negara Konsumen Micin Tertinggi Justru Punya IQ Tinggi, Begini Fakta Ilmiah di Balik Bumbu Penyedap

By Aga GustianaSenin, 3 Agustus 2026 08:05 WIB4 Mins Read
Ilustrasi MSG atau micin. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Bagi masyarakat Indonesia, Monosodium Glutamat (MSG) atau yang akrab disapa micin sudah mendarah daging sebagai bumbu andalan untuk menyulap masakan menjadi jauh lebih lezat dan gurih. Kendati sangat populer di dapur, bumbu putih ini kerap dihantui stigma negatif, salah satunya klaim lawas yang menyebutkan bahwa sering makan micin bisa menurunkan daya tangkap otak atau membuat seseorang menjadi bodoh.

Usut punya usut, ketakutan massal ini berakar dari sebuah laporan kasus pada era 1960-an yang populer dengan sebutan Chinese Restaurant Syndrome (CRS). Kala itu, sejumlah pengunjung melaporkan gejala pusing hingga mual usai bersantap di restoran oriental. Tanpa investigasi mendalam terhadap elemen kuliner lainnya, pemberitaan media saat itu langsung menyorot MSG sebagai kambing hitam. Seiring berjalannya waktu, narasi keliru tersebut bergeser menjadi mitos turun-temurun tentang penurunan tingkat kecerdasan.

Asal-usul Micin: Murni dari Proses Alami Fermentasi

Menepis berbagai pandangan miring, Kementerian Kesehatan memberikan penjelasan transparan mengenai esensi dasar pembuatan MSG. Bumbu penyedap berbentuk kristal putih ini sejatinya diproduksi melalui metode fermentasi bahan-bahan alami.

Prosedur pembuatannya melibatkan mikroorganisme bakteri yang bertugas mengolah sumber karbohidrat nabati, seperti tetes tebu, umbi kentang, hingga ampas sayuran. Melalui bantuan teknologi bioteknologi modern, bakteri tersebut mengekstraksi zat glutamat murni yang kemudian diolah lebih lanjut menjadi kristal MSG siap konsumsi.

Baca Juga:  Dedi Mulyadi Sebut 3 DPO Hasil Karya Ilmiah Sudirman, Sang Kakak Ungkap Fakta Mengejutkan

Bantahan Ilmiah: Negara Konsumen Tertinggi Justru Punya IQ Tinggi

Secara sains, tidak ada satu pun riset valid yang membuktikan korelasi langsung antara konsumsi MSG dengan kemunduran fungsi kognitif atau kebodohan. Argumen ini diperkuat oleh data nyata dari belahan dunia lain yang mengonsumsi micin dalam jumlah masif setiap harinya.

Berdasarkan data industri kuliner, Jepang, Korea Selatan, dan China tercatat sebagai negara dengan tingkat pemakaian MSG tertinggi di planet ini. Warga di Jepang dan Korea Selatan rata-rata melahap 1,2 hingga 1,7 gram MSG per hari. Bahkan di beberapa wilayah China, volumenya jauh melampaui kawasan Barat yang rata-rata hanya menyentuh angka 0,5 gram per hari.

Kendati asupan micin di negara-negara tersebut sangat tinggi, skor rata-rata IQ penduduknya justru bertengger di jajaran atas dunia. Jepang mencatatkan rerata IQ di angka 106,48, China berkisar antara 104,1 hingga 107,19, sementara Korea Selatan stabil pada rentang 102,35 hingga 106,43.

Baca Juga:  Ledakan Amunisi TNI di Garut: Fakta-Fakta hingga Motif Kehadiran Warga Sipil di Lokasi

Pernyataan senada diungkapkan oleh dokter spesialis gizi klinik, dr. Johanes Chandrawinata, SpGK. Ia menegaskan bahwa anggapan micin sebagai pemicu kebodohan adalah isapan jempol belaka. Menurutnya, penurunan prestasi belajar anak lebih dipengaruhi oleh gaya hidup sehari-hari.

“Anak jadi bodoh apa karena makan micin, itu tidak ada hubungan, itu mitos mungkin ya berbagai faktor anak jadi bodoh. Karena mungkin terlalu banyak main game atau lihat tv, nonton tv, terus nggak pernah belajar,” ungkap dr. Johanes.

Studi mendalam dalam jurnal medis bertajuk Effect of Monosodium L-glutamate (umami substance) on cognitive function in people with dementia yang melibatkan 159 pasien demensia juga menunjukkan temuan serupa. Hasilnya, konsumsi MSG secara rutin dalam porsi wajar terbukti aman dan tidak merusak fungsi kognitif. Bahkan, riset tersebut mengindikasikan adanya potensi dalam menjaga kestabilan fungsi otak tertentu.

Baca Juga:  Misteri Kepergian Kepala SPPG Rancamulya 2, Ini 5 Fakta Penting yang Terungkap

Di sisi lain, pakar nutrisi dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes, menerangkan bahwa zat pembentuk MSG merupakan komponen gizi yang tidak asing bagi tubuh manusia. Diolah secara higienis dari tetes tebu, glutamat pada dasarnya adalah asam amino esensial.

“Glutamat itu adalah zat gizi ya. Apakah glutamat itu racun atau berbahaya? Kita sepakat tidak beracun. Itu zat gizi yang merupakan amino esensial,” pungkasnya.

Tetap Patuhi Takaran Ideal Konsumsi Harian

Meskipun mitos kebodohan akibat micin telah terbantahkan secara telak oleh berbagai literatur medis, bukan berarti bumbu ini boleh dikonsumsi secara berlebihan tanpa kontrol.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan standar aman asupan harian atau Acceptable Daily Intake (ADI) untuk MSG berada pada kisaran 0 hingga 120 miligram per kilogram berat badan. Sementara itu, kajian dalam forum konsensus global mengenai perkembangan mutakhir MSG menunjukkan bahwa akumulasi total glutamat dari makanan di kawasan Eropa umumnya stabil di angka 5 sampai 12 gram per hari. Kuncinya tetap terletak pada prinsip keseimbangan gizi seimbang.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

fakta
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Gede Aiswarya Raih Juara 3 Mister International 2026, Momen Reaksi Finalis Viral di Medsos, Ada Apa?

Cari Cafe Estetik di Bandung? Ini 5 Tempat Ngopi yang Wajib Masuk Daftar

Harga Emas Antam Hari Ini 27 September 2026 Stabil, 1 Gram Tembus Rp2,61 Juta

Bansos

Jadwal & Cara Cair Bansos PKH-BPNT Tahap IV 2026: Simak Syarat dan Dokumen yang Wajib Dibawa!

Jangan Cuma Puncak! Ini 15 Destinasi Wisata Cianjur Paling Hits dari Air Terjun hingga Pantai Eksotis

3 Tempat Nongkrong Hits di Cianjur Terbaru 2026, Menu Lezat Harga Mulai Belasan Ribu!

Terpopuler
  • Herwin Muchtar Siap Berebut Kursi Ketua Kadin Kota Bandung, Usung Program Goes Global hingga Digitalisasi
  • HUT ke-38 Bikers Brotherhood 1% MC Digelar di Bandung, Angkat Semangat Persaudaraan
  • Lirik Pemimpin Muda Otentik untuk Jabar, Gema Bangsa Pasang Target Mutlak di Pemilu 2029
  • Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa
    Bursa Pilgub Jabar: Nama Purbaya Yudhi Sadewa Mulai Diperhitungkan, Parpol Pilih Wait and See
  • Heboh Kemunculan ‘Cucu Krakatau’ Seluas 32,8 Hektare Usai Erupsi, Begini Penjelasan Badan Geologi
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.