bukamata.id – Meninggalnya Sopyan Fathurahman (SF), Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pameungpeuk Rancamulya 2, Kabupaten Bandung, mengejutkan banyak pihak. Kepergian pria berusia 26 tahun itu tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga dan rekan kerja, tetapi juga berdampak terhadap jalannya Program Makan Bergizi Gratis yang melayani ribuan masyarakat.
Korban ditemukan meninggal dunia di kawasan Kings Shopping Centre, Kota Bandung, pada Minggu (12/7/2026). Hingga kini, polisi masih merampungkan pemeriksaan dan pengumpulan keterangan terkait peristiwa tersebut.
Berikut fakta-fakta yang terungkap.
Rekan Kerja Menyadari Ada Perubahan Sikap dalam Beberapa Bulan Terakhir
Salah satu fakta yang menjadi perhatian adalah perubahan perilaku korban sebelum meninggal dunia.
Mitra Dapur SPPG Rancamulya 2, Fajri, mengungkapkan bahwa SF dikenal sebagai sosok yang mudah bergaul, humoris, dan mampu membangun suasana kerja yang nyaman sejak bergabung pada September 2025.
Namun, sekitar tiga bulan terakhir, sikap korban berubah cukup drastis. Ia lebih banyak diam, tampak sering melamun, dan membutuhkan waktu lebih lama saat merespons pembicaraan.
“Kalau ditanya agak-agak lama dijawabnya, jadi agak mahuleng (termenung) dulu. Enggak tahu ada beban pikiran apa yang dia pikirkan,” ujar Fajri.
Menurut rekan-rekannya, tidak ada yang mengetahui secara pasti persoalan yang sedang dihadapi korban.
Surat untuk Keluarga dan Rekan Kerja Ditemukan Polisi
Saat melakukan olah tempat kejadian perkara, polisi mengamankan sejumlah barang pribadi milik korban.
Di antaranya telepon genggam, kartu identitas, sandal, serta sebuah surat tulisan tangan yang ditujukan kepada keluarga, pasangan, dan rekan kerja.
Dalam surat tersebut, korban menyampaikan permohonan maaf kepada orang-orang terdekatnya sekaligus mengungkapkan pergulatan batin yang selama ini ia rasakan.
Korban juga menuliskan bahwa dirinya merasa belum mampu menjalankan tanggung jawab sebagai pimpinan sebagaimana mestinya.
Polisi Terima Laporan dari Petugas Keamanan
Kapolsek Regol Kompol Megawati Triyani mengatakan pihaknya menerima laporan dari petugas keamanan pada Minggu pagi sekitar pukul 06.30 WIB.
Setelah menerima informasi tersebut, personel kepolisian bersama Tim Inafis langsung mendatangi lokasi untuk melakukan pemeriksaan.
“Pada hari Minggu pukul 06.30 WIB kami menerima laporan dari teknisi dan satpam bahwa ada kejadian tersebut, sehingga dari piket dan gabungan Inafis turun ke lapangan dan melakukan olah TKP,” kata Megawati.
Jenazah selanjutnya dibawa ke RS Sartika Asih untuk proses identifikasi dan pemeriksaan lebih lanjut.
Ribuan Penerima Program Gizi Ikut Terdampak
Kepergian SF juga berdampak terhadap operasional SPPG Rancamulya 2.
Pelayanan dapur gizi untuk sementara dihentikan karena proses administrasi dan pencairan dana operasional masih menunggu penunjukan kepala SPPG yang baru.
Dapur tersebut diketahui melayani sekitar 2.625 penerima manfaat, mulai dari siswa TK, SD, SMP hingga balita di sejumlah posyandu.
Selain itu, sebanyak 47 pegawai yang bekerja di dapur SPPG juga ikut terdampak akibat penghentian sementara operasional.
Peristiwa Ini Kembali Mengingatkan Pentingnya Kepedulian terhadap Kesehatan Mental
Peristiwa yang menimpa SF menjadi pengingat bahwa persoalan kesehatan mental dapat dialami siapa saja, termasuk mereka yang menjalankan tanggung jawab besar dalam pekerjaan.
Berbagai pihak berharap kejadian ini menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian terhadap kondisi psikologis di lingkungan kerja maupun keluarga, sehingga seseorang yang sedang menghadapi tekanan dapat memperoleh dukungan lebih awal.
Sementara itu, operasional SPPG Rancamulya 2 masih menunggu keputusan dari instansi terkait mengenai penunjukan pimpinan baru agar pelayanan Program Makan Bergizi Gratis dapat kembali berjalan normal.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










