Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Awas Ditilang! Ini Daftar Pelanggaran yang Disasar Operasi Patuh Lodaya 2026 di Bandung

Rabu, 28 Oktober 2026 12:22 WIB

Julio Cesar Siap Habis-habisan Bawa Persib Kalahkan Melbourne Victory

Rabu, 28 Oktober 2026 12:05 WIB

Tes Psikologis Tersangka Pembunuhan Ibu dan Anak di Madiun: IQ Tinggi, Merasa Superior

Rabu, 28 Oktober 2026 11:46 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Awas Ditilang! Ini Daftar Pelanggaran yang Disasar Operasi Patuh Lodaya 2026 di Bandung
  • Julio Cesar Siap Habis-habisan Bawa Persib Kalahkan Melbourne Victory
  • Tes Psikologis Tersangka Pembunuhan Ibu dan Anak di Madiun: IQ Tinggi, Merasa Superior
  • Hujan Deras Picu Longsor di Bandung Barat, Kerugian Tembus Rp50 Juta
  • Preview Persib vs Melbourne Victory: Ujian Berat Maung Bandung Pertahankan Puncak Grup E
  • Kejutan Besar! Arsenal Tersingkir dari Carabao Cup oleh Tim Kasta Keempat Fleetwood
  • Dianggap ‘B Aja’ oleh Warganet, Jawaban Menohok Aiswarya Pandit Buat Juri Mister International Nyesel?
  • Pelarian Pembacok Remaja Berkaus Persib Berakhir, Pelaku Terancam 15 Tahun Bui
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Rabu, 28 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Netizen +62 Dukung Demo Malaysia! Tolong Bikin Malu Pejabat Kami, Cik!

By Aga GustianaJumat, 4 September 2026 20:13 WIB6 Mins Read
Warga Malaysia demo soal Karhutla di KBRI. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Di medan perang media sosial, hubungan antara netizen Indonesia dan Malaysia biasanya dapat disimpulkan dalam satu kata: “ganyang”. Gesekan kecil seperti klaim kebudayaan, perselisihan resep kuliner, hingga kekalahan tipis di ajang olahraga antarnegara kerap memicu perseteruan sengit di platform X, TikTok, dan Instagram. Hujatan demi hujatan dilontarkan tanpa jeda, memelihara rivalitas digital yang seolah tak pernah padam.

Namun, pada Jumat (4/9/2026), dinamika perseteruan tersebut mendadak jungkir balik.

Di luar ruangan, belasan aktivis lingkungan yang tergabung dalam Greenpeace Malaysia dan Himpunan Advokasi Rakyat (HARAM) berkumpul di depan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur. Sambil membentangkan spanduk dan membawa poster, mereka melontarkan orasi tajam. Tuntutannya tegas: mendesak pemerintah Indonesia untuk berhenti melempar tuduhan di media dan segera membuka identitas perusahaan-perusahaan pemegang konsesi lahan—termasuk perusahaan yang berinduk di Malaysia dan Singapura—yang terlibat dalam Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

Langkah para aktivis Malaysia ini diambil di tengah kepungan kabut asap pekat yang menyebar hingga ke Filipina, Singapura, dan wilayah Malaysia sendiri, memaksa Indeks Pencemaran Udara menembus kategori “sangat tidak sehat”.

Secara historis, aksi demonstrasi dari warga negara tetangga yang menuding Indonesia biasanya langsung direspons oleh netizen +62 dengan gelombang serangan pertahanan nasionalistis. Namun kali ini, alih-alih pasang badan membela tanah air, ruang digital Indonesia justru dipenuhi narasi dukungan hangat untuk para aktivis Malaysia.

Bagi netizen Indonesia, aksi di Kuala Lumpur tersebut bukan bentuk penghinaan, melainkan tumpuan harapan baru. Ada rasa muak yang mendalam terhadap ketidaktegasan pemerintah Indonesia dalam menangani bencana asap tahunan. Aksi aktivis Malaysia dianggap sebagai cara paling ampuh untuk mempermalukan pimpinan politik dan birokrasi di Jakarta yang selama ini dinilai bebal terhadap penderitaan warganya sendiri.

Baca Juga:  Didaulat Jadi Waketum Kadin, Instagram Raffi Ahmad Dipenuhi Nyinyiran Netizen

Di Bawah Asap Pekat: Derita Nyata Warga Kalimantan

Dukungan mengejutkan dari warganet Indonesia lahir dari realitas kelam yang dialami warga di garis depan bencana. Di Kalimantan Selatan, karhutla bukan sekadar isu di layar kaca, melainkan krisis pernapasan harian.

Di Hutan Lindung Liang Anggang, sebuah wilayah hijau seluas 960 hektar, asap putih menguar tanpa henti dari dalam tanah gambut yang membara. Karhutla terbaru yang membakar kawasan tersebut memusnahkan hektaran lahan dalam semalam. Para petugas pemadam kebakaran di lapangan mengeluhkan keterbatasan personel dan teknis.

Bambang, seorang personel pemadam dari Dinas Kehutanan, menggambarkan betapa terbatasnya kemampuan mereka menghadapi amukan api yang digerakkan angin kencang. “Malam itu kami hanya melakukan pendinginan,” ujarnya. Penyekatan dilakukan agar api tidak menyebar, tetapi pada dasarnya api tetap membara di dalam tanah gambut setebal 3 hingga 10 meter. Satu-satunya harapan realistis untuk memadamkan api secara total hanyalah hujan lebat atau sumber air yang melimpah—hal yang sulit didapat di tengah puncak kemarau.

Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Selatan mengonfirmasi skala bencana yang masif ini. Dalam kurun waktu Januari hingga awal September, tercatat 2.332 kejadian karhutla yang merusak lahan seluas lebih dari 12.300 hektar. Daerah-daerah seperti Kabupaten Banjar, Kota Banjarbaru, dan Hulu Sungai Selatan menjadi wilayah terdampak paling parah.

Kualitas udara di Kalimantan Selatan telah menembus angka “sangat tidak sehat”, dengan konsentrasi polutan utama PM2.5 mencapai tingkat berbahaya. Di jalan-jalan Banjarbaru, kabut asap menyelimuti jarak pandang dan meninggalkan bau sangit yang menusuk hidung, bahkan melintasi masker berfiltrasi tinggi.

Baca Juga:  Upaya Banding FAM Gagal? FIFA Ungkap Fakta Pemalsuan Dokumen Naturalisasi, Posisi Malaysia Terancam

Dampak buruk ini merambat langsung ke kehidupan anak-anak. Rizma Nur Fatimah (19), seorang guru bantu di TK Al Hidayah, menceritakan bagaimana kegiatan belajar mengajar di sekolahnya sempat diliburkan selama två minggu akibat asap pekat. “Kakak berdiri, melihat kaki aja enggak bisa,” tutur Rizma, menggambarkan pekatnya asap yang menerobos masuk hingga ke dalam rumah.

Anak-anak dan orang tua murid di sekitarnya banyak yang tumbang diserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Hal senada disampaikan Misbah (23), seorang ibu rumah tangga di Desa Pengayuan. Putrinya yang baru berusia tiga tahun terpaksa belajar jarak jauh dan sempat menderita batuk, radang tenggorokan, serta pilek akibat terpapar asap. “Marah itu jujur ada marah, cuma sudah biasa menghadapi ini. Bagi kami, setiap kemarau pasti ada kebakaran,” kata Misbah pasrah.

Tragedi ini bahkan memakan korban jiwa. Di Puruk Cahu, Murung Raya, Kalimantan Tengah, seorang anak laki-laki berusia 11 tahun yang memiliki riwayat asma dilaporkan meninggal dunia setelah kondisi kesehatannya memburuk signifikan selama periode kabut asap. Lebih dari 700 warga di wilayah tersebut harus mendatangi fasilitas kesehatan dengan gejala ISPA. Bencana ini juga merenggut nyawa relawan pemadam kebakaran, Akhmad Rijani, Ketua Tim Serbu Api Kelurahan Palangka, yang gugur saat memadamkan kobaran api di lapangan.

Gengsi Berubah Menjadi Aksi Bersama: Suara Nyaring Netizen Indonesia

Di tengah tumpukan korban jiwa, rusaknya kesehatan anak-anak, dan hilangnya ruang hidup, penanganan pemerintah dianggap terlalu lambat dan terjebak dalam retorika saling tuduh. Pernyataan pejabat yang sering kali hanya menyampaikan dugaan tanpa keterbukaan bukti dianggap publik sebagai pelarian dari tanggung jawab.

Kondisi inilah yang melandasi pergeseran sikap warganet Indonesia. Ketika Campaign Manager Greenpeace Malaysia Heng Kiah Chun dan Chairman HARAM Brendon Gan mendesak Indonesia membuka bukti-bukti konsesi lahan agar dapat ditindaklanjuti secara hukum, netizen Indonesia menyambutnya dengan tangan terbuka.

Baca Juga:  Netizen Amerika Serikat Unggah Peringatan Darurat ala Indonesia

Seruan agar pemerintah Indonesia membagikan data secara akuntabel—baik melalui Perjanjian ASEAN tentang Pencemaran Asap Lintas Batas (AATHP) maupun jalur bilateral—dianggap sebagai bentuk tekanan luar negeri yang sangat dibutuhkan.

Gelombang simpati dan rasa putus asa meluap di kolom komentar berbagai media sosial, memperlihatkan bagaimana rasa nasionalisme sempit meleleh berganti kelelahan kolektif.

“Gpp bestiii, demo aja, aku yg org kalimantan aja udah capek bgt ini, dan juga bawa hewan di hutan kami ini bawa aja ke malaysia, rawat mereka, bahkan hewan disini capekkkk sudahhh mereka ampe matiiii,” ujar seorang netizen asal Kalimantan yang mengekspresikan betapa parahnya situasi ekologis di daerahnya.

Tidak sedikit pula warganet yang secara terang-terangan melampiaskan kekecewaan mereka terhadap citra pemerintah Indonesia di mata dunia. “1 negara Indonesia bikin malu seluruh dunia, semoga pemerintah Indonesia cepat sadar atas kejadian,” tulis netizen lainnya.

Penegasan dukungan tersebut mengalir deras tanpa ada sekat gengsi antarnegara yang biasanya kental. “Kali ini dukung orang Malaysia,” tegas seorang pengguna media sosial.

Permusuhan lama di dunia maya meluruh, digantikan oleh kesadaran bahwa musuh bersama bukanlah warga negara tetangga, melainkan ketidaktegasan hukum dan abainya penanganan bencana ekologis. Netizen Indonesia kini dengan sadar memanfaatkan momentum demonstrasi di Kuala Lumpur sebagai cermin untuk menampar birokrasi di dalam negeri. Bagi mereka, dipermalukan di mata negara tetangga adalah harga kecil yang harus dibayar demi terwujudnya transparansi, penegakan hukum yang nyata, dan hak dasar untuk menghirup udara bersih.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

demo Karhutla Malaysia netizen
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Awas Ditilang! Ini Daftar Pelanggaran yang Disasar Operasi Patuh Lodaya 2026 di Bandung

Tes Psikologis Tersangka Pembunuhan Ibu dan Anak di Madiun: IQ Tinggi, Merasa Superior

Hujan Deras Picu Longsor di Bandung Barat, Kerugian Tembus Rp50 Juta

Pelarian Pembacok Remaja Berkaus Persib Berakhir, Pelaku Terancam 15 Tahun Bui

Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Belum Terdaftar Bansos? Begini Cara Usulkan Diri Jadi Penerima BLT Kesra

bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

BLT Kesra Oktober 2026 Cair Lagi? Ini Faktanya dan Cara Cek Bansos

Terpopuler
  • Megalomania Arsitektur: Ketika Kota Bandung Dipaksa Berbaju Kerajaan
  • Lomba Coding SD-SMP 2026 Dibuka, Siswa Ditantang Bikin Solusi Bencana Alam
  • Kisah Santri Cipasung yang Berhasil Mengubah Sejarah Pendidikan Islam Indonesia
  • Dikukuhkan di Depan Gubernur Lemhannas, Tatang Suherman Siap Gerakkan FWK Jabar
  • Peta Potensi Bencana November 2026: Puluhan Kecamatan di Jawa Barat Siaga Longsor dan Banjir Bandang
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.