Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Warga Indramayu Geger, Kolam Surut Ungkap Keberadaan Dua Ikan Raksasa

Jumat, 4 September 2026 18:05 WIB

Data Satelit NASA Ungkap Ratusan Hotspot, Musim Kering Parah Kepung Gambut Indonesia

Jumat, 4 September 2026 17:53 WIB

Bukannya Malu Malah Minta Tambah? Di Balik Anggaran BPS dan Bobroknya Sistem Desil yang Bikin Netizen Murka!

Jumat, 4 September 2026 17:16 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Warga Indramayu Geger, Kolam Surut Ungkap Keberadaan Dua Ikan Raksasa
  • Data Satelit NASA Ungkap Ratusan Hotspot, Musim Kering Parah Kepung Gambut Indonesia
  • Bukannya Malu Malah Minta Tambah? Di Balik Anggaran BPS dan Bobroknya Sistem Desil yang Bikin Netizen Murka!
  • Arsenal vs Chelsea Memanas! Derbi London Jadi Ujian Start Sempurna di Liga Inggris
  • Selesai Siskamling di 151 Kelurahan, Farhan Siapkan Program Jumaahan Keliling
  • FSP BPD SI Tolak Pengalihan Payroll ASN ke Himbara, Warning Risiko PHK dan Anjloknya Ekonomi Daerah
  • Jangan Terlewat! Bansos PKH BPNT Tahap 3 September 2026 Segera Dicek
  • Depo BRT Cicaheum Dibangun, Trayek Angkot Tak Akan Berubah
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Jumat, 4 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Data Satelit NASA Ungkap Ratusan Hotspot, Musim Kering Parah Kepung Gambut Indonesia

By Aga GustianaJumat, 4 September 2026 17:53 WIB2 Mins Read
NASA Soroti Kebakaran Gambut RI. (Foto: NASA)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Lensa satelit Aqua NASA mendeteksi lonjakan titik panas (hotspot) di atas lahan gambut Indonesia per 1 September 2026. Data sensor MODIS memperlihatkan sebaran noktah merah yang kian padat, menandakan eskalasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akibat musim kemarau yang memuncak.

Eskalasi ini dipicu kombinasi fenomena El Nino dari NOAA yang terus memuat sejak Agustus 2026 dan kemunculan fase positif Indian Ocean Dipole. Kombinasi cuaca ini memangkas curah hujan secara ekstrem, memicu kekeringan parah di berbagai kawasan rawan.

“Indonesia baru sekitar tiga minggu masuk musim kebakaran, tapi kami melihat aktivitas kebakaran naik tajam, mirip 2015,” kata Robert Field, peneliti Columbia University yang mengembangkan Global Fire Weather Database, alat pemantau prakiraan cuaca kebakaran secara real-time. “El Nino yang kuat membuat musim kering makin kering di wilayah rawan kebakaran, dan ini memperparah pembakaran seperti yang kami perkirakan,” ujarnya dikutip dari laman NASA.

Kebakaran di ekosistem gambut memiliki karakter yang jauh lebih kompleks dibanding kebakaran hutan tropis biasa. Api tidak hanya membakar area permukaan, tetapi merayap perlahan di bawah deposit organik yang mengering, sehingga memicu kepulan asap pekat dan sangat sulit dipadamkan.

Baca Juga:  BMKG Beri Peringatan Serius: Karhutla Makin Parah, Kualitas Udara 8 Daerah Ini Menyentuh Level Berbahaya

Sektor emisi juga mencatatkan dampak signifikan. Kebakaran lahan gambut menghasilkan partikel halus tiga kali lipat lebih tinggi dibanding karhutla biasa, emisi sulfur dioksida lima kali lipat, karbon organik tiga kali lipat, serta lonjakan metana dan karbon monoksida hingga dua kali lipat.

Baca Juga:  Bukan Cuma Makanan Tradisional, Singkong Kini Disulap Jadi Penjinak Karhutla

Sebagai penampung sekitar 36 persen lahan gambut tropis dunia, wilayah Kalimantan, Sumatra, hingga Papua menjadi titik paling rentan saat bencana ekologis ini berulang, layaknya krisis besar pada 1997 dan 2015.

Sebagai pembanding, bencana karhutla 2015 yang membara selama tiga bulan melepas 1,75 miliar ton setara gas rumah kaca—melampaui emisi tahunan negara industri seperti Jepang. Memasuki 2 September 2026, pelepasan emisi karhutla tahun ini diperkirakan sudah menembus 10 persen dari total emisi krisis 2015 tersebut.

Baca Juga:  Duet El Nino dan IOD Positif Terjadi, Karhutla di Indonesia Diprediksi Makin Parah

Berdasarkan pantauan sistem SiPongi milik Kementerian Kehutanan RI yang memadukan data satelit MODIS dan VIIRS, terdeteksi sebanyak 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.

Ancaman ini makin nyata mengingat data meteorologi nasional merekam hampir 90 persen wilayah Indonesia minim curah hujan pada awal Agustus 2026, yang mengubah kawasan gambut menjadi area amat mudah terbakar.

“Kebakaran di permukaan tidak terlalu mengkhawatirkan, tapi begitu api masuk ke bawah tanah, dia tidak akan berhenti sendiri. Api itu akan terus membakar sampai hujan turun di Oktober atau November,” kata Field.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Gambut Karhutla NASA
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Warga Indramayu Geger, Kolam Surut Ungkap Keberadaan Dua Ikan Raksasa

Bukannya Malu Malah Minta Tambah? Di Balik Anggaran BPS dan Bobroknya Sistem Desil yang Bikin Netizen Murka!

Selesai Siskamling di 151 Kelurahan, Farhan Siapkan Program Jumaahan Keliling

FSP BPD SI Tolak Pengalihan Payroll ASN ke Himbara, Warning Risiko PHK dan Anjloknya Ekonomi Daerah

Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

Jangan Terlewat! Bansos PKH BPNT Tahap 3 September 2026 Segera Dicek

Depo BRT Cicaheum Dibangun, Trayek Angkot Tak Akan Berubah

Terpopuler
  • Benarkah Azab? Di Balik Narasi Bencana Nepal dan Isu Perusakan Masjid yang Viral
  • Game Free Fire
    Klaim Senjata & Emote Langka Gratis! Kode Redeem FF Terbaru Sabtu 29 Agustus 2026, Cek Cara Klaimnya
  • Terbongkar Sosok Melva Pardede! Sebut Ojol Dikhianati Botok Pati CS, Ternyata Cuma Driver Jadi-jadian?
  • Adu Konsep Bongkar Pasang Gedung Sate Ala Dedi Mulyadi Vs Ridwan Kamil, Pilih Mana?
  • Persib Bandung Lolos ke Fase Grup ACL Two, Igor Tolic Langsung Alihkan Fokus
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.