Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Selalu Bawa Celurit dan Hobi Ajak Tawuran, Ini Pengakuan Pelaku Pembacokan Bobotoh

Kamis, 29 Oktober 2026 18:14 WIB

PKL Bandung Wajib Tahu! Lapak Permanen Dilarang, Jualan Maksimal 12 Jam

Kamis, 29 Oktober 2026 17:55 WIB

Tagih Janji Aksi 20 Oktober, Ratusan Mahasiswa Kembali Demo di Gedung DPRD Jabar

Kamis, 29 Oktober 2026 16:39 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Selalu Bawa Celurit dan Hobi Ajak Tawuran, Ini Pengakuan Pelaku Pembacokan Bobotoh
  • PKL Bandung Wajib Tahu! Lapak Permanen Dilarang, Jualan Maksimal 12 Jam
  • Tagih Janji Aksi 20 Oktober, Ratusan Mahasiswa Kembali Demo di Gedung DPRD Jabar
  • Ruang Bicara Resmi Berdiri di Bandung, Hadir Sebagai Wadah Anak Muda Bertumbuh dan Berdampak
  • Akhirnya Pecah Telur! Balsa Sekulic Borong Dua Gol, Melbourne Victory Tak Berdaya
  • Anak Mantan Cuci Piring Jadi Wali Kota Kanada! Kisah Alvin Tedjo Bikin Gempar!
  • Bandung Digital Safety Forum 2026 Dorong Jurnalis Aktif Cegah Kejahatan Digital Berbasis AI
  • Debut di ACL Two, Kiper Muda Persib Fitrah Maulana Tampil Gemilang
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 29 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Data Satelit NASA Ungkap Ratusan Hotspot, Musim Kering Parah Kepung Gambut Indonesia

By Aga GustianaJumat, 4 September 2026 17:53 WIB2 Mins Read
NASA Soroti Kebakaran Gambut RI. (Foto: NASA)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Lensa satelit Aqua NASA mendeteksi lonjakan titik panas (hotspot) di atas lahan gambut Indonesia per 1 September 2026. Data sensor MODIS memperlihatkan sebaran noktah merah yang kian padat, menandakan eskalasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akibat musim kemarau yang memuncak.

Eskalasi ini dipicu kombinasi fenomena El Nino dari NOAA yang terus memuat sejak Agustus 2026 dan kemunculan fase positif Indian Ocean Dipole. Kombinasi cuaca ini memangkas curah hujan secara ekstrem, memicu kekeringan parah di berbagai kawasan rawan.

“Indonesia baru sekitar tiga minggu masuk musim kebakaran, tapi kami melihat aktivitas kebakaran naik tajam, mirip 2015,” kata Robert Field, peneliti Columbia University yang mengembangkan Global Fire Weather Database, alat pemantau prakiraan cuaca kebakaran secara real-time. “El Nino yang kuat membuat musim kering makin kering di wilayah rawan kebakaran, dan ini memperparah pembakaran seperti yang kami perkirakan,” ujarnya dikutip dari laman NASA.

Kebakaran di ekosistem gambut memiliki karakter yang jauh lebih kompleks dibanding kebakaran hutan tropis biasa. Api tidak hanya membakar area permukaan, tetapi merayap perlahan di bawah deposit organik yang mengering, sehingga memicu kepulan asap pekat dan sangat sulit dipadamkan.

Baca Juga:  Langit Jakarta dan Jawa Barat Dirayapi Asap Karhutla Kalimantan, Kualitas Udara Mulai Terancam?

Sektor emisi juga mencatatkan dampak signifikan. Kebakaran lahan gambut menghasilkan partikel halus tiga kali lipat lebih tinggi dibanding karhutla biasa, emisi sulfur dioksida lima kali lipat, karbon organik tiga kali lipat, serta lonjakan metana dan karbon monoksida hingga dua kali lipat.

Baca Juga:  Bukan Cuma Makanan Tradisional, Singkong Kini Disulap Jadi Penjinak Karhutla

Sebagai penampung sekitar 36 persen lahan gambut tropis dunia, wilayah Kalimantan, Sumatra, hingga Papua menjadi titik paling rentan saat bencana ekologis ini berulang, layaknya krisis besar pada 1997 dan 2015.

Sebagai pembanding, bencana karhutla 2015 yang membara selama tiga bulan melepas 1,75 miliar ton setara gas rumah kaca—melampaui emisi tahunan negara industri seperti Jepang. Memasuki 2 September 2026, pelepasan emisi karhutla tahun ini diperkirakan sudah menembus 10 persen dari total emisi krisis 2015 tersebut.

Baca Juga:  Musim Kemarau 2023, Puluhan Hektare Lahan dan Hutan di Sumedang Terbakar

Berdasarkan pantauan sistem SiPongi milik Kementerian Kehutanan RI yang memadukan data satelit MODIS dan VIIRS, terdeteksi sebanyak 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.

Ancaman ini makin nyata mengingat data meteorologi nasional merekam hampir 90 persen wilayah Indonesia minim curah hujan pada awal Agustus 2026, yang mengubah kawasan gambut menjadi area amat mudah terbakar.

“Kebakaran di permukaan tidak terlalu mengkhawatirkan, tapi begitu api masuk ke bawah tanah, dia tidak akan berhenti sendiri. Api itu akan terus membakar sampai hujan turun di Oktober atau November,” kata Field.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Gambut Karhutla NASA
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Selalu Bawa Celurit dan Hobi Ajak Tawuran, Ini Pengakuan Pelaku Pembacokan Bobotoh

PKL Bandung Wajib Tahu! Lapak Permanen Dilarang, Jualan Maksimal 12 Jam

Tagih Janji Aksi 20 Oktober, Ratusan Mahasiswa Kembali Demo di Gedung DPRD Jabar

Ruang Bicara Resmi Berdiri di Bandung, Hadir Sebagai Wadah Anak Muda Bertumbuh dan Berdampak

Anak Mantan Cuci Piring Jadi Wali Kota Kanada! Kisah Alvin Tedjo Bikin Gempar!

Bandung Digital Safety Forum 2026 Dorong Jurnalis Aktif Cegah Kejahatan Digital Berbasis AI

Terpopuler
  • Megalomania Arsitektur: Ketika Kota Bandung Dipaksa Berbaju Kerajaan
  • Gelar Tabligh Akbar, Pemuda Pancasila Jabar Usung Semangat Gaya Baru di HUT ke-67
  • Dikukuhkan di Depan Gubernur Lemhannas, Tatang Suherman Siap Gerakkan FWK Jabar
  • Peta Potensi Bencana November 2026: Puluhan Kecamatan di Jawa Barat Siaga Longsor dan Banjir Bandang
  • Pengurus DPC PKB Kabupaten Bandung Dikukuhkan, Dadang Supriatna Mulai Jaring Caleg 2029
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.