bukamata.id – Setelah tren bersepeda sempat menguasai gaya hidup masyarakat Indonesia, kini giliran padel yang naik daun. Olahraga raket yang memadukan unsur tenis dan squash ini sedang jadi primadona baru, terutama di kalangan anak muda dan selebritas.
Namun, pertanyaannya: akankah hype padel di Indonesia berumur panjang, atau akan bernasib sama seperti di Swedia?
Swedia Pernah Jadi Surga Padel, Kini Banyak Lapangan Tutup
Swedia tercatat sebagai salah satu negara yang paling cepat mengadopsi padel. Antara 2016–2020, jumlah lapangan padel di negeri Skandinavia itu melonjak hingga 1.000%. Sayangnya, ekspansi besar-besaran tanpa perencanaan matang membuat pasar jenuh.
Jumlah lapangan tidak sebanding dengan jumlah pemain, hingga banyak pengusaha terpaksa gulung tikar. Salah satu raksasa industri padel, We Are Padel, bahkan menutup sekitar 50% fasilitasnya pada 2022 akibat kerugian besar.
Kisah di Swedia menjadi pelajaran penting agar tren padel tidak sekadar jadi euforia sementara yang berujung “gelembung” bisnis.
Padel: Lebih Mudah dari Tenis, Lebih Sosial dari Squash
Padel pertama kali muncul di Meksiko tahun 1969, lalu berkembang pesat di Spanyol dan berbagai negara Eropa. Kini, olahraga ini mulai digemari di Asia, termasuk Indonesia.
Permainan padel menggunakan raket lebih ringan daripada tenis, dimainkan di lapangan kecil yang dikelilingi dinding kaca. Uniknya, bola boleh memantul ke dinding sebelum dikembalikan, sehingga permainan terasa lebih dinamis dan strategis.
Karena dimainkan berpasangan, padel dikenal sebagai olahraga sosial yang menyenangkan. Selain itu, aturannya lebih sederhana sehingga mudah dipelajari semua kalangan.
Booming di Indonesia: Gaya Hidup Baru Masyarakat Urban
Di Indonesia, lapangan padel mulai bermunculan di kota-kota besar. Banyak anak muda hingga figur publik menjadikannya aktivitas seru untuk olahraga sekaligus bersosialisasi.
Popularitasnya tak lepas dari keunggulan padel yang:
- Minim kontak fisik, sehingga relatif aman.
- Seru dimainkan berpasangan, cocok untuk semua usia.
- Efektif melatih kelincahan, koordinasi, dan membakar kalori.
Tak heran jika padel berpotensi menjadi gaya hidup baru masyarakat urban, layaknya tren gowes beberapa tahun lalu.
Peluang dan Tantangan di Indonesia
Meski tren padel tengah booming, para pakar mengingatkan agar industri ini tidak mengulang kesalahan Swedia. Pertumbuhan lapangan, bisnis perlengkapan, hingga event padel harus dirancang secara berkelanjutan.
Jika dikelola dengan tepat, padel bukan hanya jadi olahraga populer, tetapi juga mampu membuka peluang di sektor ekonomi kreatif, pariwisata, hingga penyelenggaraan event internasional.
Dengan kata lain, Indonesia punya kesempatan besar menjadikan padel lebih dari sekadar tren sesaat — sebuah industri olahraga modern dengan masa depan cerah.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










