Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Pagi-Pagi Sejumlah Bangunan Liar di Tamansari Bandung Dibongkar, Ini Tujuannya

Minggu, 27 September 2026 15:21 WIB

Gede Aiswarya Raih Juara 3 Mister International 2026, Momen Reaksi Finalis Viral di Medsos, Ada Apa?

Minggu, 27 September 2026 14:32 WIB

Selangkah Lagi ke Final! Fajar/Fikri Punya Misi Besar di Asian Games Aichi-Nagoya 2026

Minggu, 27 September 2026 14:07 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Pagi-Pagi Sejumlah Bangunan Liar di Tamansari Bandung Dibongkar, Ini Tujuannya
  • Gede Aiswarya Raih Juara 3 Mister International 2026, Momen Reaksi Finalis Viral di Medsos, Ada Apa?
  • Selangkah Lagi ke Final! Fajar/Fikri Punya Misi Besar di Asian Games Aichi-Nagoya 2026
  • Masuk Periode Neraka, 7 Pertandingan dalam 20 Hari Siap Dijalani Maung Bandung
  • Ratusan Pecinta Off-Road dan Campervan Meriahkan Kalibarasi 2026 di Subang
  • Kejar-kejaran Dini Hari di Bandung, Dua Pelajar Diduga Geng Motor Diamankan
  • Cari Cafe Estetik di Bandung? Ini 5 Tempat Ngopi yang Wajib Masuk Daftar
  • Timnas Indonesia vs Malaysia, Ini Jadwal Lengkap Laga Panas FIFA ASEAN Cup 2026
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 27 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Pengamat Harap Masyarakat Tak Takut Kritik Pemerintahan Prabowo

By Putra JuangJumat, 1 November 2024 14:08 WIB2 Mins Read
Presiden RI, Prabowo Subianto. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Pengamat Politik, Airlangga Pribadi mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kebebasan berekspresi di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Dirinya menyoroti tantangan kebebasan berekspresi di era Prabowo itu akibat sikap kritis mahasiswa, seperti yang ditunjukkan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga (Unair).

Karena itu, Airlangga berharap agar masyarakat tidak takut untuk menyampaikan kritik kepada kekuasaan, dalam hal ini pemerintahan di era Prabowo-Gibran. Dia juga berharap, agar gerakan masyarakat tidak terpecah-pecah.

“Saya tidak optimis terhadap keadaan masa depan, karena tantangan sosial politik yang dihadapi sangat besar. Namun, saya berharap kita bisa melampaui masalah ini jika warga sebagai subjek aktif berani mengkritik kekuasaan,” ucap Airlangga dilansir laman NU Online, Jumat (1/11/2024).

Baca Juga:  BLT Rp 300 Ribu Segera Cair Oktober–Desember 2025, Ini Cara Cek Penerimanya

Airlangga mendorong masyarakat untuk berani mengekspresikan ketidakpuasan terhadap berbagai bentuk pembungkaman, serta tidak terpisah dalam aksi-aksi yang dilakukan.

“Persatuan dari kekuatan pro-demokrasi sangat penting. Kita perlu berkolaborasi, bersolidaritas, dan bergotong royong,” ujarnya.

Ia mencatat bahwa selama ini konsep persatuan dan gotong royong dalam Islam seringkali diidentikkan dengan sentralisme negara. Menurutnya, isu kolaborasi dan kebersamaan sangat penting untuk menjaga demokrasi.

“Aliansi atau jejaring di antara kalangan entitas masyarakat dan aktor-aktor strategis demokrasi harus mulai dibangun kembali,” ungkapnya.

Baca Juga:  Trump Kenakan Tarif Impor 32% ke Indonesia, Lebih Tinggi dari Malaysia

Airlangga menegaskan, kehadiran media juga berperan aktif dalam memperkuat demokrasi. Ia mengingat kembali sejarah Indonesia, terutama kebangkitan gerakan demokrasi pada 1990 yang muncul dari komitmen bersama.

“Ada intelektual, pimpinan ormas seperti Gus Dur dan Amien Rais, akademisi, profesional, pengusaha, serta gerakan serikat pekerja. Ini adalah momen untuk menghimpun kembali concern dan perhati bersama, apalagi dalam kondisi krusial setelah transisi dari presiden Jokowi ke presiden Prabowo,” tuturnya.

Ia menggarisbawahi bahwa dukungan dan legitimasi politik sangat dibutuhkan. Jika pola yang sama diulang, hal itu bisa menjadi bumerang bagi negara.

Baca Juga:  Kembali Tak Ambil Cuti Kampanye, Prabowo Kunjungi PM Anwar di Malaysia

Tekanan harus semakin kuat jika masyarakat sipil ingin memperjuangkan kembali hak-hak mereka sebagai warga negara.

“Itu saya pikir menjadi bagian dari mitigasi yang harus dilakukan dengan dukungan lembaga bantuan hukum dan kalangan yang berkomitmen,” imbuhnya.

Di Unair, ia mencatat adanya pandangan yang terbelah di kalangan mahasiswa, tapi mereka bisa membangun komunikasi dengan dosen yang mendukung demokrasi.

“Ini yang bisa dilakukan di internal. Di eksternal, penting untuk membangun hubungan dan jejaring yang lebih kuat untuk mitigasi sosial,” tandasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

kritik mahasiswa pengamat Prabowo Subianto
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Pagi-Pagi Sejumlah Bangunan Liar di Tamansari Bandung Dibongkar, Ini Tujuannya

Ratusan Pecinta Off-Road dan Campervan Meriahkan Kalibarasi 2026 di Subang

Kejar-kejaran Dini Hari di Bandung, Dua Pelajar Diduga Geng Motor Diamankan

Kasus Penganiayaan YTR Bergulir ke Pengadilan, Sidang Perdana Taufik Hidayat Digelar Pekan Ini

Lirik Pemimpin Muda Otentik untuk Jabar, Gema Bangsa Pasang Target Mutlak di Pemilu 2029

Sungai Citepus Kembali Dipenuhi Gunung Sampah, Warga Dayeuhkolot Ancam Protes Keras

Terpopuler
  • Bukan Uang Biasa? Jejak Tanda Tangan Purbaya di Rp100 Ribu Mulai Dicari Kolektor
  • Herwin Muchtar Siap Berebut Kursi Ketua Kadin Kota Bandung, Usung Program Goes Global hingga Digitalisasi
  • 118 Gempa dalam 38 Hari, Apa yang Sebenarnya Bergerak di Bawah Kabupaten Bandung?
  • HUT ke-38 Bikers Brotherhood 1% MC Digelar di Bandung, Angkat Semangat Persaudaraan
  • Unjani dan Djarum Foundation Kolaborasi Dorong Green Campus dan Green Leadership
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.