bukamata.id – Sore di kawasan Jebres, Kota Surakarta, biasanya mengalir dengan ritme yang tenang. Lalu lintas kendaraan membelah Jalan Kyai H. Masykur, ditemani deretan warung makan dan pertokoan yang mulai sibuk menyambut pelanggan menjelang senja. Namun, Selasa sore, 18 Agustus 2026, suasana biasa itu mendadak berubah menjadi gempar.
Sesosok makhluk berbulu cokelat kemerahan lebat dengan postur tubuh tinggi besar mendadak melangkah santai di permukiman warga. Bobotnya tak kurang dari 90 kilogram. Dengan bahu legam yang kokoh dan gerakan tubuh khas arboreal, ia berjalan menyusuri trotoar, melintasi rumah warga, hingga mendekati Rumah Makan Ayam Tulang Lunak Bengawan.
Warga yang melintas terperanjat. Beberapa di antaranya menghentikan kendaraan, terpaku melihat pemandangan tak biasa tersebut. Primata jantan dewasa itu adalah Didi—seekor orang utan berusia sekitar 30 tahun yang merupakan salah satu penghuni utama Solo Safari.
Tanpa tampak agresif, Didi hanya menunjukkan rasa ingin tahu yang amat besar. Ia sempat mendekati area parkir, menyenggol sepeda motor hingga roboh, dan menyusuri bagian depan warung makan seolah sedang melakukan pameran mandiri di luar kawasan konservasi. Bagi warga Kota Bengawan, kemunculan Didi adalah tontonan langka yang menggelitik sekaligus mendebarkan. Bagi pengelola Solo Safari, peristiwa ini adalah alarm mendadak yang memicu evaluasi besar-besaran.
Bagaimana mungkin seekor primata berukuran raksasa dapat keluar dari ekshibit berkonsep open display dengan pengamanan canggih dan berlapis?
Benteng yang Tertembus Kecerdasan
Rabu, 19 Agustus 2026, sehari setelah insiden “jalan-jalan” Didi yang viral di media sosial, kondisi di area ekshibisi primata Solo Safari telah kembali tenang. Namun di balik ketenangan itu, tim kurator dan perawatan satwa sibuk bekerja keras melakukan investigasi mendalam.
Kurator Solo Safari, Muhammad Nur Hidayanto atau yang akrab disapa Tanto, menjelaskan bahwa eksibit orang utan dirancang dengan standar pengamanan modern yang berlapis. Tidak ada kandang besi sempit berteralis; eksibit dibuat menyerupai habitat alami guna menunjang kesejahteraan satwa.
Sebagai pengganti jeruji, sistem keamanan mengandalkan kombinasi gatters (pintu penyekat), pulau buatan, danau buatan yang mengelilingi area, serta electric fence (pagar listrik bertegangan terkontrol) untuk mencegah satwa melintas.
Pemeriksaan menyeluruh dilakukan tepat setelah Didi berhasil dievakuasi kembali ke area konservasi. Hasilnya mengejutkan: tidak ada satu pun peralatan atau fasilitas pengaman yang rusak.
“Semua kita sudah cek, peralatan semuanya normal,” ujar Tanto saat memberikan keterangan pada Rabu (19/8/2026).
Tanto menegaskan bahwa sistem electric fence tetap aktif dan memancarkan aliran listrik dengan baik saat insiden terjadi. Ia sekaligus menepis spekulasi liar yang beredar di masyarakat bahwa Didi meniru gerakan keeper (perawat satwa) untuk mematikan sakelar listrik.
“Kalau kita bilang kemarin ada statement dia meniru keeper melepas elektrik, itu enggak benar. Elektrik itu enggak dilepas. Yang bisa mengoperasikan itu hanyalah manusia,” tegas Tanto membantah isu tersebut.
Jika peralatan tidak rusak dan aliran listrik tetap menyala, lantas bagaimana Didi bisa menyeberangi pembatas?
Di sinilah letak keistimewaan sekaligus tantangan memelihara satwa tingkat tinggi. Pengelola menduga Didi memanfaatkan benda-benda alami di sekitarnya. Salah satu hipotesis kuat yang sedang dipelajari tim kurator adalah penggunaan ranting pohon atau kayu untuk mengganggu fungsi pagar listrik.
“Dia tahu kalau ranting itu bisa nge-grounding elektrik. Dia itu bisa mengubur, terus memasukkan itu,” ungkap Tanto.
Dengan menyentuhkan atau menumpuk ranting kayu—benda non-konduktor yang memicu aliran listrik terbuang ke tanah (grounding)—Didi diduga berhasil menetralkan sengatan listrik tanpa menyentuh kawat pagar secara langsung. Taktik cerdik ini membuktikan betapa tajamnya daya rekam dan kemampuan analisis primata tersebut terhadap lingkungan sekitarnya.
97 Persen Kemiripan dan Adaptasi Tanpa Henti
Fenomena lepasnya Didi sebenarnya membuka jendela pemahaman yang lebih luas mengenai karakter biologi dan psikologi orang utan. Primata ini memegang hubungan kekerabatan genetik yang sangat dekat dengan manusia, dengan tingkat kemiripan DNA mencapai 97 persen.
Secara fisik, Didi adalah spesimen orang utan jantan dewasa yang sangat mengagumkan. Struktur tubuhnya dilengkapi dengan 32 susunan gigi, termasuk gigi taring yang amat kuat. Rahangnya mampu mengupas kulit kelapa utuh yang keras tanpa bantuan alat apa pun, serta mengunyah biji buah salak yang berserat padat. Telapak tangannya memiliki lima jari yang lentur dengan garis tangan dan sidik jari yang mirip dengan manusia, sangat mendukung kebiasaan hidupnya di atas pohon (arboreal).
Namun, bukan hanya kekuatan fisik yang membuat Didi menonjol, melainkan kecerdasannya. Orang utan dikenal sebagai problem solver alami di alam liar. Mereka sanggup membuat alat bantu (tool use) untuk memetik buah berduri atau mengambil madu dari sarang lebah.
Dalam lingkungan konservasi, kecerdasan ini mewujud dalam bentuk pembelajaran harian. Didi mempelajari jadwal keeper, mengamati cara kerja alat, dan mengevaluasi material enrichment (pengayaan lingkungan) yang diberikan pengelola. Benda-benda yang semula disediakan sebagai sarana bermain atau stimulasi mental justru dapat dipelajari satwa untuk tujuan yang tak terduga.
“Karena memang harus dia belajar tiap hari, kita pun juga belajar tiap hari,” tutur Tanto.
Kejadian ini menjadi bukti nyata bahwa sistem pengamanan fisik harus selalu berkejaran dengan dinamika daya pikir satwa yang terus berkembang. Pasca-insiden, Solo Safari berjanji meningkatkan pemantauan dan mengevaluasi barrier serta material enrichment.
“Barrier-nya ditambah. Kita akan intenskan monitoring ke situ supaya kejadian serupa tidak terulang,” tambah Tanto. Bagi Solo Safari, tujuannya adalah menciptakan ruang aman bagi pengunjung dan satwa, tanpa mengorbankan konsep habitat terbuka yang manusiawi bagi sang primata.
Reuni Keluarga, Tumpeng Durian, dan “Aksi Gengsi” Didi
Di balik kerumitan teknis dan evaluasi keamanan, ada sisi humanis dan menggemaskan yang terlihat dari kehidupan domestik Didi di dalam ekshibisi primata Solo Safari.
Didi tidak hidup sendirian. Di area pameran primata, ia tinggal bersama keluarga kecilnya: sang istri bernama Tori (25 tahun) dan anak jantan mereka yang masih balita, Dito (3 tahun). Tori memiliki bobot sekitar 80 kilogram, sementara Dito kecil berbobot sekitar 15 kilogram.
Pada Rabu (19/8/2026) siang, sehari setelah petualangan singkat Didi di luar area kebun binatang, tontonan menarik tersaji bagi para pengunjung yang mendatangi ekshibisi primata.
Didi terlihat duduk sendirian di sudut area pameran. Posturnya yang besar tampak bergeming, sesekali berteduh dan bersembunyi di bawah meja beton. Sementara itu, Tori dan Dito berada di sudut lain. Dito yang lincah tampak bergelantungan dan berlarian di struktur kayu, selalu dibayangi dengan siaga oleh Tori. Ada jarak fisik yang tak biasa antara Didi dan anak-istrinya siang itu.
“Mungkin anak istrinya lagi ngambek ditinggal keluar kemarin. Jadi mereka berjauh-jauhan,” kelakar Bakti, pemandu wisata Solo Safari, sembari terkekeh melihat tingkah keluarga primata tersebut.
Meskipun sempat keluyuran hingga ke kawasan pemukiman warga, hasil pemeriksaan medis oleh tim dokter hewan Solo Safari memastikan Didi dalam kondisi sehat walafiat tanpa cedera sedikit pun.
Untuk merayakan kepulangannya sekaligus memulihkan stamina sang primata jantan, pihak pengelola menyajikan tumpeng berisi aneka sayuran segar dan buah-buahan favorit Didi, terutama durian.
“Kondisinya sehat setelah dicek kemarin. Ini kumpul sama istrinya Tori dan anaknya Dito,” ujar Bakti. “Didi ini paling suka buah duren. Ini disediakan tumpeng dan sayur setelah kemarin pergi.”
Sorotan Netizen: Dari Kekaguman hingga Humor Rumah Tangga
Aksi petualangan Didi dan dinamika reuninya bersama Tori serta Dito mendadak viral dan memancing gelombang tanggapan dari netizen di berbagai platform media sosial. Respons publik terbagi antara rasa takjub akan keagungan satwa ini hingga candaan renyah yang mengaitkan perilaku Didi dengan problematika kehidupan manusia sehari-hari.
Salah seorang netizen membagikan pengalamannya saat berhadapan langsung dengan spesies ini di alam bebas:
“Pernah melihat mereka langsung habitatnya di Taman Nasional Tanjung Puting Kalimantan Tengah… rasanya antara kagum, lucu dan menggemaskan, tapi juga cerdas, punya daya ingat yang baik. Alam Indonesia luar biasa indah. Semoga orangutan dan habitatnya selalu terjaga, agar generasi berikutnya juga bisa melihat mereka hidup bebas di rumahnya sendiri,” ujar netizen mengapresiasi keberadaan primata ini.
Namun, tidak sedikit pula netizen yang menanggapi aksi kaburnya Didi dan sikap “dingin” Tori pasca-kejadian dari sudut pandang humoristis:
“Mungkin emg sebenarnya ada masalah rumah tangga. Makanya beliau kabur,” tulis seorang netizen berseloroh.
Komentar lain menimpali dengan kelakar mengenai alasan sang istri yang tampak menjauhi Didi saat reuni keluarga:
“Bininya ngambek soalnya dari luar gak bawa oleh oleh,” ujar netizen lainnya.
Ragam komentar tersebut menunjukkan betapa dekatnya figur orang utan di hati masyarakat. Tingkah laku mereka yang menyerupai manusia tidak hanya memancing kepedulian atas kelestariannya, tetapi juga menghadirkan gelak tawa di tengah hebohnya pemberitaan.
Mengasihi dan Memahami Sang Penjaga Hutan
Kehidupan keluarga kecil orang utan ini di Solo Safari dijaga dengan kehati-hatian tinggi. Setiap pagi, sebelum Didi, Tori, dan Dito dilepas ke area exhibit, para keeper melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh. Mereka mengamati gerakan tubuh, tingkat keaktifan, hingga pola makan. Jika ada kelainan perilaku, tim medis dan dokter hewan akan segera turun tangan memberikan suplemen vitamin atau perawatan medis.
Melihat Tori yang dengan telaten memandu Dito belajar memanjat kayu, serta Didi yang perlahan keluar dari persembunyiannya untuk menikmati potongan buah, pengunjung disuguhkan pada keindahan interaksi spesies yang terancam punah ini.
Insiden lepasnya Didi dari ekshibit Solo Safari pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang pintu keamanan yang lolos atau tontonan unik di jalanan kota. Kejadian ini menjadi pengingat berharga bagi manusia tentang betapa luar biasanya kecerdasan mahluk hidup yang berbagi 97 persen genetika dengan kita.
Didi telah mengajarkan satu hal penting: bahwa menjaga konservasi bukan hanya soal membangun tembok yang lebih tinggi atau kawat yang lebih kuat, melainkan tentang proses belajar tanpa henti untuk memahami, menghormati, dan hidup berdampingan dengan kecerdasan alam.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










