bukamata.id – Di tengah ambisi besar Persib Bandung dalam merombak susunan pemain untuk musim 2026/2027, mencuat isu krusial yang dianggap kontradiktif dengan status mereka sebagai raksasa sepak bola tanah air. Keluhan utama yang ramai diperbincangkan publik adalah lambatnya pembenahan fasilitas latihan yang dirasa belum memenuhi standar klub profesional kelas atas.
Walaupun telah puluhan tahun mengelola Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) dan menyediakan lapangan pendamping, Maung Bandung dinilai masih tertinggal dalam penyediaan sarana penunjang vital seperti pusat latihan terpadu, fasilitas gym modern, maupun sport center. Bahkan, kualitas permukaan lapangan dan kondisi rumput di stadion utama sempat menjadi sasaran kritik dari pelatih Igor Tolic. Kondisi ini membuat basis pendukung merasa bahwa laju pembangunan infrastruktur tidak seirama dengan prestasi tim di atas lapangan hijau.
Ketua Umum Viking Persib Club, Tobias Ginanjar, memandang fenomena ini sebagai bentuk keterlibatan suporter dalam mengawal kemajuan klub.
“Saya menilainya kritik terus saran bagus-bagus aja ya karena kan Bobotoh juga harus jadi quality control buat manajemen Persib juga. Jadi kritik yang berkembang, saran yang berkembang, suara yang berkembang itu adalah bentuk kecintaan Bobotoh kepada Persib gitu,” kata Tobias, Rabu (15/7/2026).
Lebih lanjut, Tobias mengingatkan bahwa setiap masukan dari suporter harus dibarengi dengan komitmen bersama untuk merawat fasilitas yang sudah tersedia.
“Tapi tentunya kecintaan terus rasa peduli juga harus diimbangi dengan tingkat kesadaran untuk menjaga yang tinggi juga. Jadi sama-samalah, kita sama-sama harus naik level juga,” katanya.
Menanggapi desakan Bobotoh terkait pengembangan fasilitas, Tobias memilih sikap netral. Ia berpendapat bahwa manajemen perlu diberikan kesempatan untuk memberikan penjelasan mengenai kendala yang sebenarnya dihadapi.
“Ya itu kan ekspektasi dari Bobotoh ya, dari kacamata sudut pandang Bobotoh. Dan beberapa pelatih juga kan sudah menyuarakan. Tapi kan tentunya kita harus tanya juga dari sudut pandang manajemen seperti apa,” katanya.
“Tentunya saya tidak mau berkomentar lebih dalam karena saya juga belum mendengar apa penjelasan dari manajemen terkait hal ini. Jangan sampai kita sudah memvonis atau berasumsi sedangkan belum mendengar juga dari sudut pandang yang lain.”
Tobias pun berharap manajemen PT Persib Bandung Bermartabat (PBB) segera bersikap terbuka kepada publik mengenai peta jalan pembangunan sarana latihan tim. Ia menegaskan bahwa Persib, sebagai klub dengan gelar juara yang bergengsi, sepatutnya memiliki infrastruktur yang sepadan.
“Iya sebenarnya sebuah klub yang ideal memang harus mempunyai fasilitas latihan yang baik apalagi sekelas Persib harus yang memang kita adalah terbaik di Indonesia, ya tentunya fasilitas latihannya harus terbaik di Indonesia gitu kan,” tegasnya.
Pandangan senada juga disampaikan oleh Sekretaris Umum Viking, Arlan Siddha. Ia mengakui ada langkah maju yang dilakukan manajemen, terutama dengan penyediaan lapangan pendamping, namun ia menekankan bahwa itu belumlah cukup.
“Ya sebenernya memang kalau kita lihat apa yang telah dilakukan oleh manajemen Persib dari tahun ke tahun memang ada banyak perubahan ya, terutama dalam perhatian kepada fasilitas klub,” kata Arlan.
“Salah satu yang kemudian cukup bisa kita banggakan adalah terkait dengan lapang pendamping untuk latihan, itu menurut saya sih sudah menjadi keharusan bagi setiap klub,” sambungnya.
Kendati demikian, Arlan menyoroti urgensi penyediaan fasilitas penunjang lainnya seperti pusat kebugaran demi menjaga performa pemain.
“Tapi di sisi lain penunjang-penunjang yang lain memang harus diperhatikan sesegera mungkin. Salah satunya adalah tadi, beberapa fasilitas yang memang belum ada seperti gym dan lain sebagainya,” ujarnya.
Arlan beranggapan bahwa kritikan yang beredar di media sosial adalah hal yang wajar. Bobotoh hanya menginginkan profesionalisme klub tidak hanya terbatas pada pencapaian trofi, tetapi juga pada aspek sarana prasarana.
“Jadi sebenernya manajemen harus bisa menyikapi itu dengan bijak dan kemudian juga harus memberikan jawaban yang terukur gitu agar ke depan sarana prasarana ini tidak menjadi polemik atau perdebatan,” katanya.
Menurut Arlan, kehadiran pemain berkelas dunia akan terasa sia-sia jika tidak dibarengi dengan dukungan infrastruktur latihan yang mumpuni.
“Kita boleh pemain bagus-bagus dan lain sebagainya boleh, kita juga oke punya pemain yang berstandar internasional dan lain sebagainya, tapi kalau mereka juga abai terhadap fasilitas yang seharusnya mendukung performa mereka kan juga percuma gitu,” tegasnya.
Arlan secara jujur menyatakan bahwa progres pembangunan yang ada saat ini masih jauh dari harapannya.
“Ya kalau saya pribadi masih di luar ekspektasi ya. Karena kalau kita lihat Persib per hari, kita dikatakan sebagai klub profesional, bisa mendatangkan banyak pemain profesional, pemain-pemain internasional datang tapi kalau tidak didukung dengan fasilitas yang ada kan ya menurut saya sih percuma aja gitu,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa kritik tersebut adalah bentuk dorongan agar manajemen mau lebih peka terhadap kebutuhan tim ke depannya.
“Kalau menurut saya ini harus disikapi dengan baik lah. Kalau harapan saya sih manajemen juga harus melihat dan membuka mata gitu ya terkait dengan apa yang dibutuhkan dan kemudian juga manajemen harus bisa mau dan mendengar kritik-kritik dari suporter, dari Bobotoh,” katanya.
Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa status Persib sebagai juara liga tiga musim berturut-turut harus dibarengi dengan kualitas fasilitas yang setara.
“Ya kalau persoalannya hal-hal yang lain ya itu kan menjadi urusan manajemen, tapi keinginan para Bobotoh itu kalau pada pandangan saya, pemainnya sudah bagus tapi tidak didukung dengan fasilitas agar performanya lebih baik kan juga percuma juga gitu,” jelasnya.
“Termasuk kondisi rumput lapangan GBLA, salah satunya itu. Sebagai tim besar, tim terbaik gitu ya juara tiga kali ya ya harusnya sudah bisa menjawab tantangan-tantangan itu gitu,” pungkas Arlan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










