bukamata.id – Sebuah rekaman video singkat berdurasi beberapa detik mendadak memantik kegemparan di linimasa media sosial. Dalam video yang diunggah oleh akun @mood.pendidikan, tampak sejumlah siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, masih mengenakan seragam putih-biru lengkap dengan sepatu ketsnya. Namun, alih-alih memegang buku atau menyimak penjelasan guru di dalam kelas, tangan-tangan muda itu justru memegang cangkul, ember, dan cetok bangunan.
Di tengah teriknya matahari pertengahan semester, mereka terlihat bahu-membahu mengaduk campuran pasir dan semen, lalu menuangkannya untuk menambal lubang-lubang besar di lapangan sekolah yang retak dan hancur.
Tak butuh waktu lama bagi narasi publik untuk terbentuk. Kecaman keras segera meletup dari berbagai pihak yang menilai kejadian ini sebagai bentuk eksploitasi anak di bawah umur. Salah satu suara paling lantang datang dari Ketua Umum IEMC, Ronald A. Sinaga, atau yang akrab disapa BroRon. Melalui akun media sosialnya, BroRon meluapkan kemarahannya atas apa yang ia anggap sebagai skandal manajemen sekolah.
“Ini benar-benar biadab dan tidak tahu malu! Anak-anak dikirim orang tuanya ke sekolah itu buat belajar, biar pintar, bukan dijadikan pekerja untuk menambal boroknya manajemen sekolah!” tegas BroRon dengan nada tinggi.
BroRon menilai bahwa membiasakan atau membiarkan siswa melakukan pekerjaan konstruksi fisik yang berat dengan dalih ‘kerja bakti’ adalah tindakan yang keliru. Apalagi, muncul tuduhan bahwa para siswa harus merogoh kocek sendiri dari uang kas kelas hingga ratusan ribu rupiah guna membeli bahan material seperti pasir dan semen.
“Ke mana perginya Dana Operasional Sekolah (BOS)? Ke mana anggaran pemeliharaan fasilitas? Kalau lapangan rusak, panggil tukang bangunan profesional, bayar pakai anggaran negara! Jangan malah memeras keringat dan uang jajan anak-anak. Ini sekolah negeri atau proyek romusa?” cecarnya mendesak pihak Inspektorat dan Dinas Pendidikan setempat untuk melakukan audit menyeluruh.
Plot Twist di Kolom Komentar: Warganet Justru Pasang Badan
Narasi yang dibangun untuk mengecam sekolah dan membela siswa dari “kerja paksa” ini awalnya diprediksi akan mendapat dukungan penuh dari masyarakat digital. Namun, jagat internet Indonesia kerap menyajikan kejutan yang tak terduga.
Ketika video tersebut menyebar luas di platform TikTok, Instagram, dan X (Twitter), sudut pandang publik justru berbelok 180 derajat. Mayoritas warganet tidak merespons dengan amarah seperti yang diharapkan narasi awal, melainkan dengan nostalgia, apresiasi, dan rasa bangga terhadap aksi para siswa tersebut.
Kolom komentar unggahan tersebut dengan cepat dibanjiri puluhan ribu respons dari warganet yang justru pasang badan membela dan menyemangati aksi murid-murid SMPN 2 Ngamprah. Banyak yang menganggap aksi ini adalah hal biasa yang mendidik mental generasi muda agar tidak lembek.
“Biasa aja, jaman gw smp juga pernah bantu-bantu sekolah kayak buat pager dari bambu, tanem pohon, ngecat kelas,” ujar salah seorang netizen mengenang masa-masa sekolahnya.
Sentimen senada juga dilontarkan oleh netizen lain yang menilai bahwa generasi muda tidak boleh terlalu dimanjakan dan dijauhkan dari kerja keras fisik.
“Ah biasa aja lah, kami dulu waktu sekolah biasa ngoret, nyangkul, ngangkut batu.. Jangan terlalu dimanja juga lah,” tegas netizen lainnya di kolom komentar.
Tak berhenti di situ, beberapa netizen bahkan melihat aksi pragmatis para siswa ini dari kacamata positif sebagai bagian dari proses belajar hidup yang sesungguhnya dan doa untuk masa depan mereka.
“Lanjutkan nak. 🔥 Siapa tau suatu saat kamu jadi kontraktor besar.. bisa membanggakan orang tua.. belajar dengan siapa saja, kapan saja dan dimana saja..,” tulis netizen memberi dukungan penuh.
Publik menilai ada perbedaan mendasar antara “mempekerjakan anak secara paksa untuk mencari keuntungan” dengan “mengajari anak peduli terhadap lingkungan belajar mereka sendiri.” Raut wajah para siswa di video yang penuh tawa dan kebersamaan menjadi bukti bahwa mereka menikmatinya sebagai momen kebersamaan, bukan siksaan.
Beda Budaya: Di Luar Negeri, Ini Justru Kurikulum Wajib & Tradisi
Perdebatan mengenai apakah siswa boleh dibebani pekerjaan fisik di lingkungan sekolah sebenarnya membuka ruang diskusi yang lebih luas terkait sistem pendidikan global. Jika di Indonesia tindakan semacam ini kerap memicu polemik hukum dan perlindungan anak, bagaimana dunia luar memandangnya?
Di banyak negara maju dan tetangga kawasan, keterlibatan siswa dalam perawatan fasilitas sekolah dan pekerjaan fisik dasar justru bukan dianggap sebagai pelanggaran, melainkan bagian integral dari kurikulum pendidikan karakter dan budaya kebersamaan.
1. Filipina: Tradisi Kebersamaan dalam Brigada Eskwela
Di negara tetangga Filipina, keterlibatan siswa dan masyarakat dalam perbaikan sekolah bukan sekadar aksi spontan, melainkan program nasional resmi dari Departemen Pendidikan (DepEd) bernama Brigada Eskwela (Gerakan Pemeliharaan Sekolah Nasional). Setiap menjelang tahun ajaran baru, seluruh siswa, orang tua, guru, dan warga sekitar bergotong royong mengecat tembok, memperbaiki meja dan kursi rusak, menambal fasilitas yang retak, hingga membersihkan area sekolah. Program ini berbasis pada konsep budaya lokal Bayanihan (semangat kebersamaan dan saling bantu). Di Filipina, Brigada Eskwela justru dinanti-nanti karena menjadi ajang mempererat tali silaturahmi komunitas serta menanamkan rasa memiliki (sense of ownership) yang kuat pada siswa terhadap sekolah mereka.
2. Jepang: Budaya Oclean-up (Gakko Soji)
Di Jepang, sekolah negeri hampir tidak memiliki petugas kebersihan (janitor). Sejak usia Sekolah Dasar (SD) hingga SMA, para siswa diwajibkan membersihkan ruang kelas, koridor, toilet, hingga menyajikan makan siang mereka sendiri secara bergantian (Kyoshoku). Budaya ini mengajarkan nilai Oclean-up (Soji), yang bertujuan menanamkan kerendahan hati, rasa tanggung jawab bersama, serta menghargai setiap jenis pekerjaan tanpa memandang rendah buruh atau pekerja kasar.
3. Jerman: Handwerk dan Pendidikan Vokasi Sejak Dini
Di Jerman, keterampilan tangan (Handwerk) sangat dihormati. Melalui sistem pendidikan yang seimbang antara akademis dan praktis, siswa sejak usia remaja diajarkan dasar-dasar pertukangan, mekanik, dan perbaikan fasilitas. Memperbaiki meja yang rusak, memahami cara kerja semen, hingga pertukangan kayu (woodworking) dianggap sebagai life skill (keterampilan hidup) wajib agar generasi muda tidak canggung ketika menghadapi masalah teknis di kehidupan sehari-hari.
4. Amerika Serikat & Skandinavia: Proyek Sloyd dan Maker Education
Di negara-negara Skandinavia seperti Finlandia dan Swedia, terdapat mata pelajaran Sloyd (kerajinan tangan praktis). Siswa diajarkan cara menggunakan alat-alat pertukangan nyata seperti gergaji, palu, hingga mengolah bahan bangunan ringan untuk membuat atau merawat sesuatu. Sementara di Amerika Serikat, konsep Maker Education mendorong siswa untuk memperbaiki (repair culture) barang-barang di sekitar mereka daripada langsung membuangnya atau menunggu orang lain memperbaikinya.
Menemukan Titik Temu: Transparansi Anggaran vs. Pendidikan Karakter
Melihat perbandingan budaya tersebut, polemik yang terjadi di SMPN 2 Ngamprah sebenarnya menyoroti dua isu yang berbeda namun saling beririsan: Tata Kelola Anggaran dan Pendidikan Karakter Praktis.
Di satu sisi, kritikan dari figur seperti BroRon memiliki dasar yang sah terkait transparansi finansial. Sekolah negeri dibiayai oleh uang rakyat melalui Dana BOS dan APBD. Jika perbaikan fasilitas fisik yang menjadi kewajiban pemerintah justru dibebankan kepada uang kas siswa tanpa kejelasan alokasi anggaran, maka hal tersebut jelas merupakan pelanggaran administrasi yang harus diusut tuntas oleh dinas terkait.
Namun di sisi lain, reaksi positif warganet menunjukkan kerinduan masyarakat akan kembalinya nilai-nilai gotong royong dan kemandirian dalam dunia pendidikan Indonesia. Terlalu memanjakan atau “mensterilkan” anak dari pekerjaan fisik justru dikhawatirkan akan menciptakan generasi yang rapuh, serba manja, dan tidak memiliki keterampilan praktis saat terjun ke masyarakat.
Kesimpulan: Mengubah Persepsi Terhadap Keterampilan Fisik
Kasus viral siswa SMPN 2 Ngamprah yang menambal lapangan sekolah memberikan pelajaran berharga bagi dunia pendidikan tanah air. Mengaduk semen, memegang cangkul, atau mengecat tembok tidak seharusnya selalu dipandang sebagai “nasib sial” atau “eksploitasi buruh.”
Dalam porsi yang tepat dan pengawasan yang aman, keterlibatan aktif siswa dalam merawat sekolah mereka dapat menumbuhkan rasa kebersamaan (camaraderie), kepedulian lingkungan, serta keterampilan hidup (life skills) yang mahal harganya—sebagaimana yang telah lama diterapkan di negara-negara tetangga dan dunia internasional.
Namun, agar nilai-nilai positif gotong royong ini tidak dicemari oleh prasangka, pemerintah dan manajemen sekolah wajib menjamin transparansi penuh. Keringat dan semangat gotong royong para siswa tidak boleh pernah dijadikan tameng untuk menutupi kelalaian atau penyelewengan anggaran oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










