Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Momen Humanis di Nagekeo: Asyik Melayani Selfie Warga, Seskab Teddy Hampir Ketinggalan Rombongan Presiden

Rabu, 26 Agustus 2026 20:46 WIB

PN Bandung Tolak Lagi Praperadilan Mantan Pengurus Gereja: Status Tersangka ITE Bambang Soeharto Sah

Rabu, 26 Agustus 2026 20:34 WIB

El Clasico Persija vs Persib Siap Guncang GBK 12 September, I.League Tunggu Surat Izin Resmi Polisi

Rabu, 26 Agustus 2026 20:28 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Momen Humanis di Nagekeo: Asyik Melayani Selfie Warga, Seskab Teddy Hampir Ketinggalan Rombongan Presiden
  • PN Bandung Tolak Lagi Praperadilan Mantan Pengurus Gereja: Status Tersangka ITE Bambang Soeharto Sah
  • El Clasico Persija vs Persib Siap Guncang GBK 12 September, I.League Tunggu Surat Izin Resmi Polisi
  • NIK KTP Jadi Kunci! Cara Cek BPNT Tahap 3 2026 dan Potensi Bantuan Rp600 Ribu
  • Tawa Anak-anak di Tenda Pengungsian Nagekeo: Saat Presiden Prabowo Bawa Mainan dan Harapan Baru
  • HEBOH! ‘Ikan Kiamat’ Sepanjang 4 Meter Muncul di Pantai Pink Lombok, Benarkah Sinyal Bencana Besar?!
  • MQ Iswara Soroti Penggusuran PKL, Minta Pemerintah Perhatikan Aspek Kemanusiaan
  • Viral Kendaraan Dipajak Rp50 Ribu di Jalan Beton Baru Cianjur, Aksi Pria Buka Paksa Palang Tuai Pujian
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Rabu, 26 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Pro-Kontra Wajah Baru Gedung Sate: Warga Nilai Konsep Tua dan Beri Nilai 6

By Mulki AlbarRabu, 26 Agustus 2026 18:43 WIB5 Mins Read
Wajah baru Gedung Sate. (Foto: bukamata.id/Mulki Albar)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Revitalisasi kawasan Gedung Sate dan Lapangan Gasibu dengan konsep Pasanggrahan Panca Rasa masih menuai beragam tanggapan dari masyarakat. Sejumlah warga mengapresiasi perubahan kawasan yang dinilai lebih luas dan menarik, tetapi sebagian lainnya mengkritik desain baru yang dianggap terlalu ramai dan berlebihan.

Pantauan dan wawancara dengan sejumlah warga dilakukan di kawasan Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Citarum, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Rabu (26/8/2026).

Salah seorang warga, Teguh (21), menilai kawasan Gedung Sate saat ini terlihat mengalami banyak perubahan, khususnya pada bagian depan yang menurutnya tampak lebih luas.

Namun, ia menilai perpaduan desain baru dengan bangunan Gedung Sate kurang selaras.

“Terlihat lebih bagus dan banyak perubahan, terutama di bagian depan karena lebih luas dilihatnya. Tapi menurut saya memang kurang cocok, karena tidak selaras antara bangunan zaman Belanda di-mix dengan budaya Sunda,” ujar Teguh.

Ia juga membandingkan penataan Gedung Sate saat ini dengan revitalisasi yang dilakukan pada era Ridwan Kamil.

Menurutnya, setiap periode pemerintahan memiliki ciri khas masing-masing. Namun, desain terbaru dinilai membuat kawasan Gedung Sate terlihat lebih leluasa untuk dipandang.

Meski demikian, Teguh mempertanyakan urgensi revitalisasi tersebut.

“Saya akan mengkritik perihal perubahan wajah baru Gedung Sate, apakah perlu merevitalisasi tanpa adanya urgensi dan banyak di Kota Bandung yang harus dibenahi selain Gedung Sate,” katanya.

Baca Juga:  Jabar Diguncang Gempa 1.321 Kali dan 10 Juta Petir Sepanjang 2024

Teguh memberikan nilai 5 dari 10 untuk wajah baru kawasan Gedung Sate.

Dinilai Terlalu Ramai dan Berlebihan

Kritik serupa disampaikan warga lainnya, Luna (22). Ia menilai wajah Gedung Sate sebelum revitalisasi justru memiliki karakter yang lebih kuat.

Menurut Luna, perubahan terbaru memang membuat kawasan terlihat lebih megah, tetapi sejumlah ornamen dianggap terlalu banyak sehingga mengurangi kesan khas Gedung Sate.

“Menurut aku wajah Gedung Sate sekarang malah jadi kurang bagus dibanding sebelumnya. Memang kelihatan lebih megah dan banyak perubahan, tapi menurut aku terlalu ramai dan agak berlebihan,” ujar Luna.

Selain persoalan estetika, Luna juga menyoroti aspek akses masyarakat setelah adanya penataan kawasan.

Menurutnya, penutupan salah satu akses jalan membuat perubahan tersebut perlu dilihat bukan hanya dari sisi tampilan, tetapi juga fungsi.

Luna justru menilai hasil revitalisasi Gedung Sate pada era Ridwan Kamil lebih sesuai karena desainnya dianggap lebih sederhana dan modern, namun masih mempertahankan karakter bangunan.

“Yang sekarang justru terasa lebih ramai dan terlalu banyak elemen, terlalu berbau kerajaan,” katanya.

Ia bahkan menilai kritik warganet yang menyebut kawasan baru tersebut seperti latar film kolosal masih memiliki alasan, terutama karena sejumlah ornamen dan desain gerbang yang dianggap terlalu bernuansa kerajaan.

Meski demikian, Luna mengakui kritik tersebut tidak serta-merta berarti seluruh revitalisasi tidak memiliki nilai positif.

Baca Juga:  Pemerintah Selalu Kambing Hitamkan Persoalan Luar Negeri saat Harga Bahan Pokok Naik

Ia berharap penataan Gedung Sate tidak hanya mengejar kesan megah, tetapi juga memperhatikan fungsi kawasan serta mempertahankan identitas historisnya.

“Renovasi jangan cuma fokus bikin gedungnya kelihatan lebih megah atau baru, tapi juga harus mikirin fungsi dan karakter aslinya,” ujarnya.

Luna memberikan nilai 5 dari 10.

Warga Minta Aspirasi Masyarakat Diperhatikan

Sementara itu, Nazwa Nindya (21) mengaku belum sepenuhnya puas dengan kondisi kawasan saat ini. Ia menilai proses penataan yang disebut masih sekitar 80 persen membuat dirinya lebih nyaman dengan kondisi Lapangan Gasibu sebelumnya.

“Kalau dari perkembangan Gedung Sate sekarang cukup kurang memuaskan, karena mungkin dari progresnya masih 80 persen, jadi aku lebih nyaman ke lapangan yang dulu,” kata Nazwa.

Ia memberikan nilai 6 dari 10.

Menurut Nazwa, salah satu hal yang membuatnya kurang puas adalah kondisi bangunan yang dinilainya masih terlihat tua dibandingkan besarnya anggaran yang dikeluarkan.

Ia berharap selama proses revitalisasi masih berlangsung, pemerintah dapat melakukan penyempurnaan sekaligus lebih banyak mendengar aspirasi masyarakat.

“Kalau selagi masih renovasi yang 80 persen lebih bisa diperbaiki, terus lebih pendekatan sama pelari ataupun masyarakat sekitar tentang harapan seperti apa yang mereka harapkan,” ujarnya.

Ada Warga yang Beri Nilai Tinggi

Berbeda dengan tiga warga lainnya, Apin (18) justru memberikan penilaian positif terhadap perkembangan kawasan Gedung Sate.

Warga asal kawasan Dago tersebut menilai perubahan yang dilakukan pemerintah cukup baik.

Baca Juga:  Polisi Bantah Laporan Korban Dicabut, Kasus Dokter Priguna Tetap Diproses Hukum

“Untuk perkembangannya lumayan sih, bagus-bagus aja,” ujar Apin.

Ia memberikan nilai 9 dari 10. Namun, Apin mengakui penilaian tersebut masih bersifat sementara karena dirinya belum melihat hasil akhir revitalisasi secara keseluruhan.

“Dari 0 sampai 10 paling 9 sih, soalnya belum lihat hasil jadinya juga,” katanya.

Beragam tanggapan tersebut menunjukkan bahwa revitalisasi kawasan Gedung Sate masih mendapatkan penilaian yang berbeda dari masyarakat.

Di satu sisi, perubahan dinilai membuat kawasan lebih luas, megah, dan memiliki konsep baru. Namun di sisi lain, sejumlah warga mempertanyakan kesesuaian desain, fungsi, akses masyarakat, hingga urgensi penggunaan anggaran untuk revitalisasi.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Jawa Barat merampungkan revitalisasi kawasan Gedung Sate yang mencakup area Gedung Sate, Jalan Diponegoro, hingga Lapangan Gasibu. Kawasan tersebut diberi nama Pasanggrahan Panca Rasa dan resmi dibuka untuk masyarakat pada 17 Agustus 2026.

Penataan kawasan menggunakan konsep nuansa tempo dulu dengan sentuhan arsitektur tradisional Nusantara. Revitalisasi Plaza Gedung Sate yang terintegrasi dengan Jalan Diponegoro dan Lapangan Gasibu disebut menelan anggaran sekitar Rp15,8 miliar, sedangkan jika ditambah penataan gerbang dan pilar pada tahap sebelumnya, total anggarannya mencapai sekitar Rp35,6 miliar.

Kini, setelah kawasan dibuka dan mulai digunakan masyarakat, kritik maupun apresiasi terhadap wajah baru Gedung Sate menjadi bagian dari evaluasi publik atas hasil revitalisasi tersebut.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Gedung Sate jawa barat Lapangan Gasibu
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Momen Humanis di Nagekeo: Asyik Melayani Selfie Warga, Seskab Teddy Hampir Ketinggalan Rombongan Presiden

PN Bandung Tolak Lagi Praperadilan Mantan Pengurus Gereja: Status Tersangka ITE Bambang Soeharto Sah

Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

NIK KTP Jadi Kunci! Cara Cek BPNT Tahap 3 2026 dan Potensi Bantuan Rp600 Ribu

Tawa Anak-anak di Tenda Pengungsian Nagekeo: Saat Presiden Prabowo Bawa Mainan dan Harapan Baru

HEBOH! ‘Ikan Kiamat’ Sepanjang 4 Meter Muncul di Pantai Pink Lombok, Benarkah Sinyal Bencana Besar?!

MQ Iswara Soroti Penggusuran PKL, Minta Pemerintah Perhatikan Aspek Kemanusiaan

Terpopuler
  • Janji Penguatan UMKM Dipertanyakan di Tengah Masifnya Penertiban PKL Kota Bandung
  • Mengenang 50 Tahun Kebersamaan, Alumni ITB 76 Unjuk Budaya Lokal Lewat Karnaval Sisingaan di Bandung
  • Garena Free Fire
    Kode Redeem FF Terbaru 21 Agustus 2026: Serbu Evolution Stone dan Skin Senjata Gratis!
  • Lepas Saat Dijemur, Pitbull Ngamuk Serang Anak 9 Tahun di Arjasari Bandung
  • Loyalis Fanatik Mulai Tergerus, Warga Makin Berani Kritik Dedi Mulyadi!
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.