Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Eropa Membara! Berawal dari Aksi Pelajar Prancis, Gelombang Unjuk Rasa Meluas Hingga Bentrokan di 6 Negara

Senin, 19 Oktober 2026 23:04 WIB
Demo Jakarta

Jelang Demo 2 Tahun Prabowo-Gibran, Disdik Jabar Tebar Ancaman Sanksi Bagi Pelajar yang Nekat Ikut Aksi

Senin, 19 Oktober 2026 21:56 WIB

Balita 3 Tahun di Bandung Diduga Jadi Korban Kekerasan Seksual Ayah Kandung, Kuasa Hukum Minta Penanganan Kasus Dipercepat

Senin, 19 Oktober 2026 21:48 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Eropa Membara! Berawal dari Aksi Pelajar Prancis, Gelombang Unjuk Rasa Meluas Hingga Bentrokan di 6 Negara
  • Jelang Demo 2 Tahun Prabowo-Gibran, Disdik Jabar Tebar Ancaman Sanksi Bagi Pelajar yang Nekat Ikut Aksi
  • Balita 3 Tahun di Bandung Diduga Jadi Korban Kekerasan Seksual Ayah Kandung, Kuasa Hukum Minta Penanganan Kasus Dipercepat
  • French Open 2026 Dibayangi Kericuhan Paris, Tim Bulu Tangkis Indonesia Tetap Fokus
  • Tampil Gemilang Lawan Persik, Fitrah Maulana Ungkap Persaingan dengan Teja Paku Alam
  • Misteri Perempuan Hilang di Kaki Gunung Burangrang, Ditemukan Luka di Kepala hingga Kaki
  • Rapimnas PII 2026 Anugerahkan Penghargaan Narendra Dharma Abiyanta kepada Tiga Gubernur
  • Bukan Sekadar Guru PJOK, Yusuf Buka Jalan Devina Aqila Menuju Mimpi Besar di Dunia Futsal
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Senin, 19 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Pro-Kontra Wajah Baru Gedung Sate: Warga Nilai Konsep Tua dan Beri Nilai 6

By Mulki AlbarRabu, 26 Agustus 2026 18:43 WIB5 Mins Read
Wajah baru Gedung Sate. (Foto: bukamata.id/Mulki Albar)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Revitalisasi kawasan Gedung Sate dan Lapangan Gasibu dengan konsep Pasanggrahan Panca Rasa masih menuai beragam tanggapan dari masyarakat. Sejumlah warga mengapresiasi perubahan kawasan yang dinilai lebih luas dan menarik, tetapi sebagian lainnya mengkritik desain baru yang dianggap terlalu ramai dan berlebihan.

Pantauan dan wawancara dengan sejumlah warga dilakukan di kawasan Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Citarum, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Rabu (26/8/2026).

Salah seorang warga, Teguh (21), menilai kawasan Gedung Sate saat ini terlihat mengalami banyak perubahan, khususnya pada bagian depan yang menurutnya tampak lebih luas.

Namun, ia menilai perpaduan desain baru dengan bangunan Gedung Sate kurang selaras.

“Terlihat lebih bagus dan banyak perubahan, terutama di bagian depan karena lebih luas dilihatnya. Tapi menurut saya memang kurang cocok, karena tidak selaras antara bangunan zaman Belanda di-mix dengan budaya Sunda,” ujar Teguh.

Ia juga membandingkan penataan Gedung Sate saat ini dengan revitalisasi yang dilakukan pada era Ridwan Kamil.

Menurutnya, setiap periode pemerintahan memiliki ciri khas masing-masing. Namun, desain terbaru dinilai membuat kawasan Gedung Sate terlihat lebih leluasa untuk dipandang.

Meski demikian, Teguh mempertanyakan urgensi revitalisasi tersebut.

“Saya akan mengkritik perihal perubahan wajah baru Gedung Sate, apakah perlu merevitalisasi tanpa adanya urgensi dan banyak di Kota Bandung yang harus dibenahi selain Gedung Sate,” katanya.

Baca Juga:  108 Sekolah di Jabar Terlambat Isi PDSS, Terancam Gagal Ikut SNBP

Teguh memberikan nilai 5 dari 10 untuk wajah baru kawasan Gedung Sate.

Dinilai Terlalu Ramai dan Berlebihan

Kritik serupa disampaikan warga lainnya, Luna (22). Ia menilai wajah Gedung Sate sebelum revitalisasi justru memiliki karakter yang lebih kuat.

Menurut Luna, perubahan terbaru memang membuat kawasan terlihat lebih megah, tetapi sejumlah ornamen dianggap terlalu banyak sehingga mengurangi kesan khas Gedung Sate.

“Menurut aku wajah Gedung Sate sekarang malah jadi kurang bagus dibanding sebelumnya. Memang kelihatan lebih megah dan banyak perubahan, tapi menurut aku terlalu ramai dan agak berlebihan,” ujar Luna.

Selain persoalan estetika, Luna juga menyoroti aspek akses masyarakat setelah adanya penataan kawasan.

Menurutnya, penutupan salah satu akses jalan membuat perubahan tersebut perlu dilihat bukan hanya dari sisi tampilan, tetapi juga fungsi.

Luna justru menilai hasil revitalisasi Gedung Sate pada era Ridwan Kamil lebih sesuai karena desainnya dianggap lebih sederhana dan modern, namun masih mempertahankan karakter bangunan.

“Yang sekarang justru terasa lebih ramai dan terlalu banyak elemen, terlalu berbau kerajaan,” katanya.

Ia bahkan menilai kritik warganet yang menyebut kawasan baru tersebut seperti latar film kolosal masih memiliki alasan, terutama karena sejumlah ornamen dan desain gerbang yang dianggap terlalu bernuansa kerajaan.

Meski demikian, Luna mengakui kritik tersebut tidak serta-merta berarti seluruh revitalisasi tidak memiliki nilai positif.

Baca Juga:  Dibawah Komando Ridwan Kamil, Indeks Rumah Layak Huni di Jabar Meningkat

Ia berharap penataan Gedung Sate tidak hanya mengejar kesan megah, tetapi juga memperhatikan fungsi kawasan serta mempertahankan identitas historisnya.

“Renovasi jangan cuma fokus bikin gedungnya kelihatan lebih megah atau baru, tapi juga harus mikirin fungsi dan karakter aslinya,” ujarnya.

Luna memberikan nilai 5 dari 10.

Warga Minta Aspirasi Masyarakat Diperhatikan

Sementara itu, Nazwa Nindya (21) mengaku belum sepenuhnya puas dengan kondisi kawasan saat ini. Ia menilai proses penataan yang disebut masih sekitar 80 persen membuat dirinya lebih nyaman dengan kondisi Lapangan Gasibu sebelumnya.

“Kalau dari perkembangan Gedung Sate sekarang cukup kurang memuaskan, karena mungkin dari progresnya masih 80 persen, jadi aku lebih nyaman ke lapangan yang dulu,” kata Nazwa.

Ia memberikan nilai 6 dari 10.

Menurut Nazwa, salah satu hal yang membuatnya kurang puas adalah kondisi bangunan yang dinilainya masih terlihat tua dibandingkan besarnya anggaran yang dikeluarkan.

Ia berharap selama proses revitalisasi masih berlangsung, pemerintah dapat melakukan penyempurnaan sekaligus lebih banyak mendengar aspirasi masyarakat.

“Kalau selagi masih renovasi yang 80 persen lebih bisa diperbaiki, terus lebih pendekatan sama pelari ataupun masyarakat sekitar tentang harapan seperti apa yang mereka harapkan,” ujarnya.

Ada Warga yang Beri Nilai Tinggi

Berbeda dengan tiga warga lainnya, Apin (18) justru memberikan penilaian positif terhadap perkembangan kawasan Gedung Sate.

Warga asal kawasan Dago tersebut menilai perubahan yang dilakukan pemerintah cukup baik.

Baca Juga:  Jawa Barat Siapkan Deretan Festival Spektakuler Sepanjang Juli 2025

“Untuk perkembangannya lumayan sih, bagus-bagus aja,” ujar Apin.

Ia memberikan nilai 9 dari 10. Namun, Apin mengakui penilaian tersebut masih bersifat sementara karena dirinya belum melihat hasil akhir revitalisasi secara keseluruhan.

“Dari 0 sampai 10 paling 9 sih, soalnya belum lihat hasil jadinya juga,” katanya.

Beragam tanggapan tersebut menunjukkan bahwa revitalisasi kawasan Gedung Sate masih mendapatkan penilaian yang berbeda dari masyarakat.

Di satu sisi, perubahan dinilai membuat kawasan lebih luas, megah, dan memiliki konsep baru. Namun di sisi lain, sejumlah warga mempertanyakan kesesuaian desain, fungsi, akses masyarakat, hingga urgensi penggunaan anggaran untuk revitalisasi.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Jawa Barat merampungkan revitalisasi kawasan Gedung Sate yang mencakup area Gedung Sate, Jalan Diponegoro, hingga Lapangan Gasibu. Kawasan tersebut diberi nama Pasanggrahan Panca Rasa dan resmi dibuka untuk masyarakat pada 17 Agustus 2026.

Penataan kawasan menggunakan konsep nuansa tempo dulu dengan sentuhan arsitektur tradisional Nusantara. Revitalisasi Plaza Gedung Sate yang terintegrasi dengan Jalan Diponegoro dan Lapangan Gasibu disebut menelan anggaran sekitar Rp15,8 miliar, sedangkan jika ditambah penataan gerbang dan pilar pada tahap sebelumnya, total anggarannya mencapai sekitar Rp35,6 miliar.

Kini, setelah kawasan dibuka dan mulai digunakan masyarakat, kritik maupun apresiasi terhadap wajah baru Gedung Sate menjadi bagian dari evaluasi publik atas hasil revitalisasi tersebut.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Gedung Sate jawa barat Lapangan Gasibu
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Eropa Membara! Berawal dari Aksi Pelajar Prancis, Gelombang Unjuk Rasa Meluas Hingga Bentrokan di 6 Negara

Demo Jakarta

Jelang Demo 2 Tahun Prabowo-Gibran, Disdik Jabar Tebar Ancaman Sanksi Bagi Pelajar yang Nekat Ikut Aksi

Balita 3 Tahun di Bandung Diduga Jadi Korban Kekerasan Seksual Ayah Kandung, Kuasa Hukum Minta Penanganan Kasus Dipercepat

Misteri Perempuan Hilang di Kaki Gunung Burangrang, Ditemukan Luka di Kepala hingga Kaki

Rapimnas PII 2026 Anugerahkan Penghargaan Narendra Dharma Abiyanta kepada Tiga Gubernur

Iseng Masukkan Jari Kelingking ke Lubang Kursi, Siswa di Bandung Minta Bantuan Damkar

Terpopuler
  • Humas Era Digital Tak Cukup Viral! Mahasiswa UIN Bandung Dibekali Strategi Algoritma hingga Etika
  • Ramai Kritik Ornamen Candi di Gedung Sate, Warga Sentil Dedi Mulyadi: Estetik Henteu, Fungsional Komo!
  • Dedi Mulyadi Marah Ditagih Jalan Rusak, Pengamat: Batas Wewenang Bukan Alasan!
  • 100 Persen Pulih, Beckham Putra Bakal Jadi Senjata Persib Kontra Persik Kediri?
  • Siap-siap Cair! Panduan Cek Bansos PKH dan BPNT Tahap 4 Oktober-Desember 2026 Pakai NIK KTP
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.