bukamata.id — Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Rafael Situmorang, menekankan pentingnya bagi generasi muda untuk memahami akar kemiskinan struktural di Indonesia.
Hal ini disampaikan Rafael saat menghadiri Seminar bertajuk “Generasi Muda: Obor Perjuangan, Bukan Api Kerusuhan” dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) di Gedung Indonesia Menggugat, Kamis (21/5/2026).
Rafael menyebut bahwa kepekaan sosial yang diasah lewat advokasi di lapangan adalah modal utama lahirnya pemimpin masa depan yang berpihak pada rakyat.
Menurut Rafael, kemiskinan yang terjadi di Indonesia hari ini mayoritas bukan disebabkan oleh faktor malasnya masyarakat, melainkan karena faktor struktural yang lahir dari sebuah kebijakan.
“Di Indonesia, masyarakat miskin itu karena soal struktural. Struktur itu bisa karena kebijakan pemerintah, baik lewat APBN maupun APBD. Ketika anggaran yang harusnya untuk kepentingan rakyat banyak malah dipakai untuk urusan lain, di situlah ketimpangan terjadi,” ucap legislator dari Fraksi PDI Perjuangan tersebut.
Membedakan Kebijakan Kerakyatan dan Kepentingan Oligarki
Rafael meyakini, anak muda yang terbiasa hidup dan mendampingi masyarakat miskin akan memiliki kepekaan politik dan ekonomi yang jauh lebih tajam. Mereka akan mampu menyaring mana program yang benar-benar berpihak pada rakyat kecil dan mana yang ditunggangi kepentingan segelintir elite.
Ia mencontohkan salah satu isu krusial yang tengah hangat diperbincangkan publik saat ini, yaitu proyek cetak sawah di Papua yang digagas atas nama kedaulatan pangan.
Sudut Pandang Kebijakan: Pemerintah ingin mendorong kedaulatan pangan nasional.
Kritik Antropologi dan Lingkungan: Pembangunan skala besar seringkali mengabaikan antropologi wilayah dan berisiko merusak akar budaya lokal.
“Bagi sebagian kalangan, mengubah wilayah rawa tempat masyarakat adat mencari ikan secara instan menjadi lahan sawah adalah kekeliruan jika tanpa mempelajari sosiologi budaya mereka. Analisis kritis seperti ini yang sekarang banyak disuarakan anak muda, salah satunya dipicu oleh film dokumenter seperti Pesta Babi yang membuka mata publik,” jelas Rafael.
Ia juga mengapresiasi gerakan pemuda di berbagai daerah, seperti di Jawa Tengah hingga Ternate, yang terus konsisten menggelorakan keberpihakan terhadap hak-hak masyarakat lokal atas eksploitasi sumber daya alam.
Jalur Perjuangan Lahirkan Pemimpin Dunia
Lebih lanjut, Rafael berharap para aktivis muda yang hari ini matang di jalur advokasi tidak tabu untuk masuk ke dalam pertarungan politik formal di masa depan. Baginya, sejarah mencatat bahwa para pemimpin besar dunia lahir dari kerasnya proses perjuangan dan advokasi di akar rumput.
Ia mencontohkan dua tokoh besar dunia yang berhasil mengubah sejarah lewat konsistensi perjuangannya:
“Banyak pemimpin politik besar yang lahir dari rahim perjuangan dengan segala hambatannya. Nelson Mandela harus dipenjara puluhan tahun demi menghapus politik apartheid di Afrika Selatan. Begitu juga Abraham Lincoln di Amerika yang berjuang melawan arus demi menghapuskan sistem perbudakan.”
Melalui momentum Hari Kebangkitan Nasional ini, Rafael berharap generasi muda di Jawa Barat dan Indonesia pada umumnya terus mengasah sensitivitas sosial mereka. “Mudah-mudahan setelah matang di jalur advokasi dan diasah oleh masalah di masyarakat, mereka bisa memenangkan pertarungan politik dan menjadi pemimpin yang baik bagi bangsa ini,” tandasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









