Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Perjuangan Tanpa Kenal Lelah: 10 Pemain Indonesia Sukses Bendung Serangan Malaysia di ASEAN Cup 2026

Senin, 28 September 2026 21:41 WIB

Dari Bandung ke Bangkok! Persib Siap Tempur di Shopee Cup, Ini Daftar Lawannya

Senin, 28 September 2026 21:27 WIB
bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

Bansos Tahap 4 2026 Cair Oktober? Ini Rincian PKH, BPNT dan Bantuan Beras untuk KPM

Senin, 28 September 2026 21:19 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Perjuangan Tanpa Kenal Lelah: 10 Pemain Indonesia Sukses Bendung Serangan Malaysia di ASEAN Cup 2026
  • Dari Bandung ke Bangkok! Persib Siap Tempur di Shopee Cup, Ini Daftar Lawannya
  • Bansos Tahap 4 2026 Cair Oktober? Ini Rincian PKH, BPNT dan Bantuan Beras untuk KPM
  • Kasus Pembunuhan Ibu Tiri di Bandung, Polisi Telusuri Motif dan Kondisi Pelaku
  • Kronologi Baliho Roboh di Jalan Buah Batu Bandung: 4 Orang Terjebak, 1 Luka
  • Hujan Deras Picu Banjir Cisarua, Warga Sakit Terjebak hingga Dievakuasi Damkar
  • Persib Tantang Port FC di Thailand, Ikwan Tanamal Bidik Tiga Poin di Shopee Cup
  • DIANGGAP LUCU PADAHAL JENIUS! Sisi Lain Aksi Viral Bocah SD Geguritan yang Bikin Netizen Kagum
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Senin, 28 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Isak Tangis Warnai PHK Massal Pabrik Tekstil di Cimahi, Ratusan Buruh Kehilangan Pekerjaan

By Aga GustianaSelasa, 4 Agustus 2026 18:34 WIB3 Mins Read
178 Karyawan Pabrik Tekstil di Cimahi kena PHK massal. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Suasana haru biru menyelimuti kawasan industri tekstil di Kota Cimahi. Ratusan buruh perempuan karyawan PT Namnam Fashion Industries yang berlokasi di Kelurahan Cigugur Tengah, Kecamatan Cimahi Tengah, tak kuasa menahan air mata usai menerima kenyataan pahit menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.

Detik-detik menyayat hati saat para pekerja wanita ini menangis histeris mendadak viral di berbagai platform media sosial. Berdasarkan narasi yang beredar, gelombang pemecatan tersebut terjadi menyusul keputusan manajemen pabrik yang secara resmi menghentikan seluruh aktivitas produksinya.

Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Cimahi, Asep Jayadi, membenarkan adanya tragedi kemanusiaan yang menimpa ratusan buruh di wilayahnya. Dari data sementara yang dikantongi pihak dinas, total pekerja yang terdampak mencapai hampir dua ratus orang.

“Menurut informasi memang ada PHK, total buruh yang terdampak itu sebanyak 178 orang,” kata Asep saat dikonfirmasi, Selasa (4/8/2026).

Baca Juga:  Dedi Mulyadi Ditantang Bongkar Restoran Asep Stroberi Puncak Bogor, Berani Gak?

Asep membeberkan, langkah drastis berupa penutupan operasional ini terpaksa diambil oleh pihak manajemen perusahaan garmen tersebut akibat ketidakmampuan finansial menanggung beban operasional di tengah badai fluktuasi ekonomi nasional maupun global yang kian menghimpit.

“Informasinya mereka sudah nggak kuat biaya produksinya, rencana mau berubah jenis usaha juga. Kami sekarang mau melakukan penelusuran dulu untuk kepastiannya,” ujar Asep.

Sorotan Gubernur Jabar: Sifat Industri Padat Karya yang Nomaden

Menanggapi bencana PHK massal yang merontokkan dapur ratusan keluarga di Cimahi ini, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan pandangan realistis. Menurutnya, fenomena bergugurannya pabrik di sektor garmen bukanlah cerita baru akibat tingginya tekanan biaya produksi (cost production).

Baca Juga:  Purnama yang Dirindukan Dedi Mulyadi, Menelusuri Jejak Kanaya Whu sebelum Berpulang

“Karakter industri padat karya seperti garmen itu memang begitu problemnya. Seperti ada siklus usaha yang membuat perusahaan bisa berpindah atau berhenti beroperasi ketika biaya produksi tak lagi kompetitif,” ujar Dedi.

Mantan Bupati Purwakarta itu menjelaskan bahwa para pengusaha di sektor garmen dan tekstil biasanya memiliki mobilitas tinggi. Jika kalkulasi bisnis di suatu wilayah telah mencapai titik impas (break-even point) dan dinilai tidak lagi menguntungkan dibanding daerah lain yang menawarkan upah buruh lebih rendah, mereka tidak akan ragu untuk hengkang.

Baca Juga:  Dedi Mulyadi Turun Tangan Selamatkan Warga Bogor dari Ancaman Lelang Tanah

“Kalau dia sudah break-even point, kemudian ada tempat lain yang tenaga kerjanya lebih murah, biasanya pindah. Itu sudah terjadi di mana-mana,” kata Dedi.

Karakteristik fleksibel semacam ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan korporasi berbasis padat modal yang menanamkan investasi jangka panjang secara permanen. Oleh sebab itu, tenaga kerja di sektor garmen dituntut untuk memahami risiko bisnis yang dinamis dari masa ke masa.

“Jadi, mereka tidak membuat perusahaan ini permanen seperti industri padat modal. Kalau memang ada industri padat karya sektor garmen, ya harus berhati-hati bahwa dalam siklus sekian puluh tahun, dia pasti menutup,” pungkasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Dedi Mulyadi
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

Bansos Tahap 4 2026 Cair Oktober? Ini Rincian PKH, BPNT dan Bantuan Beras untuk KPM

Kasus Pembunuhan Ibu Tiri di Bandung, Polisi Telusuri Motif dan Kondisi Pelaku

Kronologi Baliho Roboh di Jalan Buah Batu Bandung: 4 Orang Terjebak, 1 Luka

Hujan Deras Picu Banjir Cisarua, Warga Sakit Terjebak hingga Dievakuasi Damkar

DIANGGAP LUCU PADAHAL JENIUS! Sisi Lain Aksi Viral Bocah SD Geguritan yang Bikin Netizen Kagum

Baliho Tua Mendadak Roboh di Buahbatu! Bengkel Hancur, Warga Sempat Terjepit

Terpopuler
  • Herwin Muchtar Siap Berebut Kursi Ketua Kadin Kota Bandung, Usung Program Goes Global hingga Digitalisasi
  • HUT ke-38 Bikers Brotherhood 1% MC Digelar di Bandung, Angkat Semangat Persaudaraan
  • Lirik Pemimpin Muda Otentik untuk Jabar, Gema Bangsa Pasang Target Mutlak di Pemilu 2029
  • Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa
    Bursa Pilgub Jabar: Nama Purbaya Yudhi Sadewa Mulai Diperhitungkan, Parpol Pilih Wait and See
  • Heboh Kemunculan ‘Cucu Krakatau’ Seluas 32,8 Hektare Usai Erupsi, Begini Penjelasan Badan Geologi
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.