bukamata.id – Bayangkan sebuah sekolah menengah atas yang tidak menjadikan rambut pendek sebagai ukuran kedisiplinan. Di lingkungan sekolah itu, siswa laki-laki bisa datang dengan rambut gondrong, mengenakan pakaian bebas pada waktu tertentu, bahkan menggunakan sepatu sandal.
Namun, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa sekolah tersebut longgar terhadap kedisiplinan.
Di balik penampilan yang terlihat bebas, ada prinsip yang justru sangat serius diterapkan: kebebasan harus berjalan bersama tanggung jawab.
Sekolah itu adalah SMA Kolese De Britto Yogyakarta.
Nama De Britto selama puluhan tahun memang lekat dengan citra sekolah yang memberikan ruang besar bagi kebebasan siswa. Rambut gondrong menjadi salah satu ciri yang paling mudah dikenali. Tetapi jika hanya melihat dari penampilan, ada bagian penting dari filosofi pendidikan De Britto yang bisa terlewatkan.
Bagi sekolah ini, pendidikan tidak semata-mata tentang membuat siswa patuh terhadap aturan. Pendidikan juga tentang membentuk manusia yang mampu berpikir, menentukan pilihan, memahami konsekuensi, kemudian bertanggung jawab atas keputusan yang dibuatnya.
Prinsip tersebut bahkan masih menjadi bagian penting dari pendidikan De Britto hingga sekarang.
Bukan Sekadar Sekolah yang Membolehkan Rambut Gondrong
Ketika nama SMA Kolese De Britto muncul di media sosial, salah satu hal yang paling sering menjadi perhatian adalah rambut gondrong para siswanya.
Bagi sebagian orang, rambut panjang pada siswa laki-laki masih kerap dikaitkan dengan kesan tidak disiplin, pemberontak atau kurang serius dalam belajar.
De Britto justru mengambil pendekatan yang berbeda.
Sekolah tidak menjadikan panjang pendek rambut sebagai tolok ukur utama kualitas seorang siswa. Yang lebih penting adalah bagaimana siswa tersebut menjalani kebebasan, bersikap terhadap orang lain, mengikuti proses pendidikan dan mempertanggungjawabkan pilihannya.
Penelitian yang dilakukan siswa SMA Kolese De Britto pada 2024/2025 bahkan secara khusus membahas fenomena rambut gondrong di sekolah tersebut. Penelitian itu menemukan bahwa 83,8 persen siswa yang menjadi responden merasa lebih percaya diri dengan adanya kebijakan tersebut. Studi tersebut juga menyebut kebijakan kebebasan berekspresi ikut mendorong keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar-mengajar.
Artinya, rambut gondrong di De Britto bukan sekadar gaya.
Ia menjadi bagian dari sebuah budaya pendidikan yang lebih besar: memberi ruang kepada siswa untuk mengenali dirinya sendiri sekaligus belajar bertanggung jawab atas pilihannya.
Filosofi De Britto: Bebas, tetapi Tidak Semau Gue
Wakil Kepala Bidang Humas dan Jejaring SMA Kolese De Britto, Christophorus Danang Wahyu Prasetio, menjelaskan bahwa konsep pendidikan di De Britto kerap disebut sebagai sekolah bebas yang bertanggung jawab.
Konsep tersebut tidak lahir begitu saja.
Gagasan kebebasan di De Britto berkembang dari pemikiran para romo yang melihat bahwa pendidikan yang terlalu mengekang dapat menghambat kreativitas, keberanian berpikir dan kemampuan siswa dalam menyampaikan gagasan.
Karena itu, kebebasan diberikan bukan untuk menghilangkan aturan, melainkan untuk membuat siswa memahami mengapa aturan diperlukan.
Dengan kata lain, De Britto tidak mengajarkan kebebasan sebagai “bebas semaunya”.
Justru sebaliknya.
Siswa didorong untuk berpikir sebelum mengambil keputusan.
“Berpikir sebelum berbuat” menjadi salah satu gagasan penting dalam pendekatan pendidikan tersebut.
Prinsipnya sederhana tetapi memiliki konsekuensi besar: sebelum melakukan sesuatu, seorang siswa harus memahami pilihan yang diambil, mempertimbangkan dampaknya dan siap menerima konsekuensinya.
Konsep tersebut juga tercermin dalam tata tertib siswa De Britto. Dalam buku panduan siswa 2024/2025, sekolah menegaskan bahwa tata tertib bukan dimaksudkan untuk membelenggu kebebasan siswa. Aturan diposisikan sebagai pedoman untuk membantu siswa berkembang menjadi pribadi yang dewasa, kritis dan bertanggung jawab.
Rambut Gondrong Ada Aturannya
Kebebasan penampilan di SMA Kolese De Britto juga bukan berarti tidak ada batas sama sekali.
Rambut gondrong diperbolehkan, tetapi tetap ada ketentuan. Rambut harus alami dan tidak diwarnai. Jika siswa memilih mewarnai rambut, terdapat konsekuensi yang harus diterima.
Hal serupa berlaku untuk penggunaan alas kaki.
Siswa diperbolehkan menggunakan sandal dengan ketentuan tertentu, salah satunya sandal yang memiliki pengait di bagian belakang.
Sekilas, aturan seperti ini terlihat sederhana.
Namun, justru di situlah pendekatan pendidikan De Britto terlihat.
Sekolah tidak hanya mengatakan “boleh” atau “tidak boleh”. Siswa juga diajak memahami alasan di balik sebuah aturan serta konsekuensi apabila pilihan yang diambil tidak sesuai dengan ketentuan.
Tidak Ada Sistem Hukuman yang Sekadar Menghukum
Salah satu hal yang menarik dari pendekatan De Britto adalah cara sekolah merespons kesalahan siswa.
Menurut Danang, kesalahan siswa tidak serta-merta diterjemahkan dalam bentuk hukuman dengan sistem skor.
Tidak ada pendekatan sederhana seperti terlambat mendapat sejumlah poin, berkelahi mendapat sejumlah poin, kemudian seluruh kesalahan dihitung secara mekanis.
Sebaliknya, guru berusaha mencari tahu alasan di balik tindakan siswa.
Misalnya ketika seorang siswa terlambat datang ke sekolah, persoalannya bukan semata-mata berapa menit siswa tersebut terlambat.
Guru dapat mengajak siswa berdiskusi.
Mengapa terlambat?
Apa yang terjadi?
Keputusan apa yang diambil?
Dan bagaimana siswa tersebut akan memperbaikinya?
Pendekatan ini membuat kesalahan ditempatkan sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Konsekuensi tetap ada, tetapi tujuan utamanya bukan mempermalukan atau menjatuhkan siswa.
Konsekuensi diharapkan membuat siswa memahami hubungan antara pilihan dan akibat.
Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar menaati aturan karena takut dihukum, tetapi belajar mengambil keputusan karena memahami tanggung jawab.
Pendidikan yang Memerdekakan Manusia
Di balik konsep kebebasan tersebut, SMA Kolese De Britto menempatkan pendidikan humanis sebagai bagian penting dari proses pembentukan siswa.
Logikanya cukup sederhana.
Bagaimana seseorang dapat berkembang secara optimal apabila seluruh ruang untuk berpikir dan menentukan pilihan selalu dibatasi?
Karena itu, kebebasan menjadi sarana pendidikan.
Siswa diberikan ruang untuk berkembang, tetapi pada saat yang sama dituntut untuk bertanggung jawab.
Pendekatan tersebut juga sejalan dengan identitas pendidikan De Britto yang berorientasi pada pembentukan pemimpin pengabdi.
Dalam materi resmi sekolah, De Britto menempatkan pendidikan sebagai proses membentuk pribadi yang utuh dan seimbang, baik dari sisi intelektual, emosional, sosial maupun spiritual.
Di sinilah konsep kebebasan menjadi lebih luas daripada sekadar rambut gondrong.
Kebebasan berarti berani menyampaikan pendapat.
Kebebasan berarti berani berbeda.
Kebebasan berarti memiliki kesempatan mengembangkan kreativitas.
Tetapi kebebasan juga berarti bersedia mendengar orang lain, menghormati perbedaan, menerima kritik dan mempertanggungjawabkan keputusan.
Sekolah Gondrong yang Tetap Berprestasi Akademik
Stigma bahwa kebebasan identik dengan rendahnya prestasi akademik juga terbantahkan oleh rekam jejak SMA Kolese De Britto.
Dalam pemeringkatan sekolah berdasarkan nilai UTBK 2022 yang dirilis LTMPT, SMAS Kolese De Britto Depok, Sleman, tercatat berada di peringkat 51 nasional dengan nilai rata-rata 594,617. Data tersebut menempatkan De Britto sebagai salah satu sekolah dengan capaian akademik tinggi di Indonesia.
Di tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta, De Britto juga tercatat sebagai salah satu sekolah dengan nilai UTBK tertinggi pada pemeringkatan tersebut.
Fakta ini menarik karena memperlihatkan bahwa kebebasan dalam penampilan tidak otomatis berbanding lurus dengan rendahnya kedisiplinan akademik.
Justru ada paradoks yang membuat De Britto menarik untuk dibicarakan.
Sekolah yang membolehkan siswanya berambut gondrong itu tetap menempatkan pendidikan akademik sebagai bagian penting dari pembentukan manusia.
Dengan kata lain, siswa tidak dinilai hanya dari apakah rambutnya pendek atau panjang.
Yang jauh lebih penting adalah apa yang ada di kepala dan bagaimana pengetahuan tersebut digunakan.
Dari Logika hingga Kreativitas
Konsep tersebut menjadi semakin relevan ketika dunia pendidikan mulai membutuhkan kemampuan yang tidak hanya berbasis hafalan.
Siswa dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, berkomunikasi, bekerja sama dan menghasilkan gagasan baru.
Dalam konteks itu, kebebasan berpikir dapat menjadi modal penting.
Anak yang dibiasakan menyampaikan pendapat, mempertanyakan sesuatu dan mengambil keputusan tentu memiliki ruang lebih besar untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya.
Tentu saja, kebebasan tanpa arah juga bisa menjadi persoalan.
Karena itulah kata kedua dalam konsep De Britto menjadi sangat penting: tanggung jawab.
Kebebasan tanpa tanggung jawab dapat berubah menjadi kesemena-menaan.
Sebaliknya, aturan tanpa ruang kebebasan dapat membuat siswa hanya terbiasa mengikuti instruksi.
De Britto mencoba mencari titik tengah di antara keduanya.
Siswa diberikan ruang untuk menjadi dirinya sendiri, tetapi tetap memiliki kewajiban untuk bertanggung jawab terhadap lingkungan, proses belajar dan masa depannya.
Sejarah Panjang SMA Kolese De Britto
SMA Kolese De Britto memiliki sejarah panjang di Yogyakarta.
Sekolah ini berdiri pada 19 Agustus 1948. Pada masa awal berdirinya, sekolah tersebut menggunakan nama SMA Kanisius.
Perjalanan sekolah kemudian mengalami sejumlah perubahan, termasuk pemisahan bagian putra dan putri.
Bagian putra kemudian diasuh oleh para romo Jesuit dan menggunakan nama SMA Santo Johanes de Britto.
Pada 9 Juni 1953, nama tersebut berubah menjadi SMA Kolese De Britto.
Sekolah kemudian berpindah ke kawasan Demangan, yang saat ini dikenal sebagai Jalan Laksda Adisucipto 161, Yogyakarta.
Dari tempat inilah identitas De Britto berkembang semakin kuat.
Konsep kebebasan juga memiliki akar sejarah yang panjang.
Pada dekade 1960-an, ketika kondisi ekonomi Indonesia sulit, sekolah memberikan keleluasaan kepada siswa untuk mengenakan pakaian bebas karena tidak semua siswa memiliki pakaian dan sepatu yang memadai.
Pada masa tersebut, siswa juga diperbolehkan mengenakan sarung dan sandal, sementara rambut gondrong pun diperbolehkan.
Kebijakan tersebut kemudian mengalami berbagai perubahan seiring perkembangan situasi sosial dan politik Indonesia.
Namun, gagasan mengenai kebebasan yang bertanggung jawab tetap menjadi bagian dari identitas De Britto.
Sekolah Khusus Putra dengan Identitas yang Kuat
SMA Kolese De Britto merupakan sekolah menengah atas swasta Katolik yang diperuntukkan bagi siswa laki-laki dan berada dalam pengelolaan Yayasan De Britto serta tradisi pendidikan Serikat Yesus.
Ciri khas sebagai sekolah khusus putra menjadi salah satu identitas yang membedakannya dari banyak SMA lainnya.
Namun, karakteristik yang paling mudah dikenali publik tetaplah pendekatan pendidikan yang memberikan ruang bagi siswa untuk menjadi dirinya sendiri.
Di tengah sistem pendidikan yang sering kali identik dengan seragam, aturan penampilan dan standar perilaku yang seragam, De Britto menawarkan pendekatan berbeda.
Bukan berarti tanpa aturan.
Justru aturan ditempatkan sebagai sarana untuk membantu siswa memahami konsekuensi dari setiap keputusan.
Lima Nilai yang Menjadi Fondasi
Pendidikan di SMA Kolese De Britto diarahkan untuk membentuk siswa menjadi pemimpin pengabdi atau leader of service.
Untuk mencapai tujuan tersebut, pendidikan tidak hanya mengejar kemampuan akademik.
Ada sejumlah karakter yang menjadi perhatian.
Pertama, competence, yakni kemampuan dan keunggulan dalam bidang akademik serta keterbukaan terhadap pengetahuan dan pengalaman baru.
Kedua, conscience, yaitu kemampuan memiliki hati nurani yang benar sehingga keputusan yang dibuat tidak hanya didasarkan pada kepentingan pribadi.
Ketiga, compassion, yakni kemampuan memiliki kepedulian dan belas kasih terhadap sesama.
Keempat, commitment, berupa komitmen untuk memperjuangkan keadilan.
Kelima, consistency, yaitu kesetiaan untuk bertindak sesuai dengan apa yang telah dipikirkan dan dikatakan.
Lima nilai tersebut memperlihatkan bahwa konsep “bebas” di De Britto memiliki fondasi yang jauh lebih luas daripada urusan rambut.
Warganet Soroti Sekolah yang Berbeda
Konsep pendidikan SMA Kolese De Britto kembali menjadi perhatian warganet setelah konten mengenai sekolah tersebut beredar di media sosial.
Sejumlah komentar muncul di kolom komentar Instagram @voktis.id.
Sebagian warganet membandingkan konsep tersebut dengan sistem pendidikan di sejumlah sekolah luar negeri.
“Konsepnya kayak sekolah-sekolah luar negeri,” tulis akun @iin***.
Ada pula warganet yang melihat kebebasan tersebut sebagai pembelajaran untuk menghargai perbedaan.
“Dari sini kita belajar menghargai, menghormati perbedaan dan menepis penyeragaman!” tulis akun @nin***.
Komentar lain justru menyoroti sisi humor dari konsep tersebut.
“Kepala sekolahnya pasti gaul,” tulis akun @pan***.
Sementara itu, akun @vik*** mengingatkan bahwa penampilan bukan satu-satunya ukuran seorang siswa.
“Tapi mereka pinter dan ngerti adab dan sopan santun yaa.. Catet itu..” tulisnya.
Komentar-komentar tersebut menunjukkan bahwa perdebatan mengenai pendidikan sering kali berangkat dari hal sederhana seperti penampilan.
Padahal, di balik rambut gondrong terdapat pertanyaan yang jauh lebih besar: apakah kedisiplinan harus selalu diwujudkan melalui keseragaman?
Mendobrak Stigma tentang Rambut dan Prestasi
Pada akhirnya, cerita SMA Kolese De Britto bukan semata-mata cerita tentang sekolah yang membolehkan siswanya berambut gondrong.
Ini adalah cerita tentang bagaimana sebuah institusi pendidikan mencoba mendefinisikan kembali arti disiplin.
Di banyak tempat, disiplin mungkin identik dengan rambut pendek, seragam rapi, sepatu tertentu dan kepatuhan terhadap aturan.
Di De Britto, disiplin ditempatkan pada level yang lebih mendasar: kemampuan seseorang mengendalikan diri dan bertanggung jawab terhadap pilihan yang dibuatnya.
Seorang siswa boleh gondrong, tetapi bukan berarti boleh mengabaikan pelajaran.
Siswa boleh berbeda, tetapi bukan berarti boleh merendahkan orang lain.
Siswa boleh menyampaikan pendapat, tetapi harus siap mendengar pendapat yang berbeda.
Siswa boleh memiliki kebebasan, tetapi harus memahami bahwa setiap kebebasan selalu memiliki konsekuensi.
Itulah alasan mengapa SMA Kolese De Britto tetap menarik untuk dibicarakan.
Di sekolah ini, rambut panjang tidak otomatis berarti tidak disiplin.
Sandal tidak otomatis berarti malas.
Pakaian bebas tidak otomatis berarti tidak serius.
Dan sebaliknya, rambut pendek, seragam rapi serta penampilan formal juga tidak otomatis menjamin seseorang memiliki karakter yang baik.
Pada akhirnya, kualitas seorang siswa tidak berhenti pada apa yang terlihat dari luar.
Yang jauh lebih penting adalah bagaimana ia berpikir, bagaimana ia bersikap, bagaimana ia memperlakukan orang lain dan bagaimana ia mempertanggungjawabkan setiap keputusan yang dibuat.
Mungkin, inilah makna sebenarnya dari “sekolah bebas yang bertanggung jawab”: rambut boleh gondrong, tetapi cara berpikir harus tetap panjang.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










