bukamata.id – Bagi masyarakat yang sedang mengecek status kepesertaan bantuan sosial (bansos), istilah “desil” tentu sudah tidak asing lagi. Angka ini sering menjadi indikator utama apakah sebuah keluarga berhak menerima bantuan dari pemerintah atau tidak. Lantas, bagaimana jika hasil pencatatan menunjukkan Anda masuk ke dalam kategori Desil 6 hingga 10?
Pemerintah memanfaatkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) untuk mengelompokkan tingkat perekonomian masyarakat ke dalam skala 1 sampai 10. Sistem ini membagi kondisi finansial penduduk dari skala yang paling rentan hingga yang paling sejahtera.
Memahami Pembagian Kategori Desil 6 sampai 10
Banyak orang mengira desil hanya diukur berdasarkan gaji bulanan. Padahal, Kementerian Sosial (Kemensos) memperhitungkan berbagai variabel lain, mulai dari tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, kondisi fisik bangunan rumah, daya listrik terpasang, hingga kepemilikan aset.
Setiap tingkatan desil mewakili sekitar 10 persen dari total populasi keluarga di Indonesia. Khusus untuk rentang Desil 6 hingga 10, berikut adalah rincian tingkat kesejahteraannya:
- Desil 6: Masyarakat dengan kondisi ekonomi kelas menengah bawah.
- Desil 7: Kelompok masyarakat kelas menengah.
- Desil 8: Masyarakat kelas menengah ke atas.
- Desil 9: Kelompok dengan tingkat perekonomian relatif mapan.
- Desil 10: Masyarakat dengan tingkat kesejahteraan tertinggi (paling mampu).
Semakin besar angka desil yang tertera, semakin dinilai mampu pula kondisi perekonomian keluarga tersebut.
Alasan Desil 6–10 Sulit Memperoleh Bansos Reguler
Skema penyaluran bantuan pemerintah, seperti Program Keluarga Harapan (PKH) atau Bantuan Sembako, pada dasarnya mengutamakan masyarakat di tingkatan terpesat atau terendah.
- Desil 1–4: Menjadi sasaran utama penerima bantuan sosial reguler karena masuk dalam kuota 40 persen masyarakat berpendapatan terendah.
- Desil 5: Masih berpotensi mendapatkan bantuan khusus, seperti PBI-JKN (BPJS Kesehatan gratis).
- Desil 6–10: Tidak masuk dalam skala prioritas penerima bansos karena dianggap sudah memiliki kemampuan ekonomi yang cukup mandiri.
Kendati demikian, penetapan ini tidak serta-merta menutup seluruh peluang program bantuan pemerintah lainnya. Kebijakan kepesertaan sangat bergantung pada syarat khusus dan regulasi dari tiap-tiap program yang sedang berjalan.
Panduan Mengecek Tingkat Desil Secara Mandiri via HP
Masyarakat dapat memantau status desil dan data kepesertaan bansos secara cepat langsung melalui smartphone.
1. Lewat Aplikasi Resmi “Cek Bansos”
- Pasang aplikasi Cek Bansos di HP Anda.
- Buat akun baru atau login jika sudah mendaftar.
- Masuk ke opsi Cek Bansos.
- Ketikkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) sesuai KTP.
- Tekan tombol Cari Data untuk melihat hasil analisis sistem.
2. Lewat Laman Resmi Kemensos
- Buka peramban (browser) dan akses situs resmi Cek Bansos Kemensos.
- Masukkan NIK KTP Anda pada kolom yang tersedia.
- Ketik kode verifikasi (captcha) yang muncul di layar.
- Pilih Cari Data untuk menampilkan rincian informasi sosial ekonomi Anda.
Cara Mengajukan Sanggah Jika Data Tidak Sesuai
Tingkat desil seseorang bersifat fleksibel dan dapat berubah seiring waktu. Jika kondisi ekonomi keluarga mengalami penurunan—misalnya karena PHK atau musibah—data tersebut bisa diperbarui melalui mekanisme Usul Sanggah.
Langkah-langkah pengajuan pembaruan data secara online:
- Buka aplikasi Cek Bansos dan masuk ke akun Anda.
- Cari dan pilih fitur Usul Sanggah atau Pembaruan Data.
- Klik pada menu pengajuan perbaikan data.
- Isi data terbaru yang menggambarkan kondisi ekonomi riil saat ini.
- Lampirkan dokumen atau foto pendukung yang diminta.
- Kirim formulir dan tunggu proses verifikasi lapangan oleh petugas.
Selain melalui aplikasi, proses pemutakhiran data ini juga bisa diurus secara luring (offline) dengan mendatangi kantor kelurahan, perangkat desa, atau Dinas Sosial setempat. Penyesuaian desil nantinya ditentukan berdasarkan hasil verifikasi dan validasi faktual di lapangan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










