bukamata.id – Di era di mana ruang publik bergerak secepat sapuan jempol di layar ponsel, batasan antara personifikasi diri, pilihan politik, dan komitmen etis kian kabur. Kebisingan yang melingkupi Pancatera pasca-perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus lalu di Istana Merdeka bukan sekadar badai singkat di media sosial, melainkan cermin besar yang memantulkan krisis inkonsistensi narasi di industri media independen modern.
Pancatera—grup yang dihuni oleh empat wanita berpengetahuan luas, vokal, dan berpengaruh—mendadak berada di pusaran kritik publik. Kehadiran para personelnya dalam perayaan kenegaraan di Istana, yang diabadikan melalui deretan foto berseri dengan senyum mengembang, memicu gelombang kekecewaan yang sangat masif. Mengapa sebuah kehadiran dalam pesta kemerdekaan bisa memicu reaksi sekeras ini? Jawabannya berada pada retorika dan nilai yang selama ini dibangun, dikampanyekan, dan dialirkan oleh kolektif tersebut kepada audiensnya.
Retorika Pemberdayaan dan Realitas yang Terputus
Pancatera lahir bukan sekadar sebagai hiburan pengisi waktu luang. Melalui wadah podcast In Her View, kelompok ini mempertemukan perempuan dari berbagai latar belakang untuk memperbincangkan pengalaman dan persoalan kehidupan modern secara jujur, personal, dan reflektif. Mereka membedah berbagai realitas sosial—mulai dari karier, hubungan, gaya hidup, kesehatan mental, hingga tantangan menjalani kehidupan sehari-hari. Narasi utama yang ditawarkan adalah pemberdayaan (empowerment), keberpihakan pada suara perempuan, serta dorongan agar perempuan menentukan sendiri jalannya tanpa terjebak narasi lama.
Namun, ketika para sosok di balik platform ini terlihat melangkah anggun di atas karpet merah Istana, batas antara “penyiar kritis” dan “bagian dari lingkaran kekuasaan” mendadak runtuh. Bagi publik, khususnya komunitas pendengar setia yang dijuluki ViewHers, tindakan tersebut ditangkap sebagai sebuah disonansi kognitif yang tajam.
Kritik yang bertebaran di platform media sosial memperlihatkan luka atas rasa dikhianati. Salah satu pengguna Threads, @trivena****, secara lugas menyoroti apa yang dinilainya sebagai kesenjangan antara citra yang dibangun Pancatera dengan realitas kehidupan sebagian besar perempuan Indonesia. Setelah melihat foto-foto tersebut, ia mengaku semakin menyadari bahwa figur-figur Pancatera tidak serta-merta dapat dianggap mewakili suara seluruh perempuan Indonesia. Momen di Istana seolah menegaskan bahwa di balik retorika inklusivitas dan pemikiran kritis yang diagungkan, para personel Pancatera berada dalam gelembung kelas istimewa (privileged class) yang memiliki akses langsung ke jantung kekuasaan—sebuah kemewahan yang jauh dari jangkauan masyarakat biasa yang tengah berjuang menghadapi himpitan ekonomi dan ketidakpastian hukum.
Ulasan yang tak kalah menohok datang dari akun @amil***. Ia menilai polemik ini bukan sekadar mengenai foto yang diunggah ke media sosial, melainkan soal keberpihakan. Akun tersebut menuliskan pandangannya secara tajam:
“Karena mereka dalam kesadaran penuh berdandan, menyetujui hadir di sana, berfoto tersenyum, wow itu bukan kesalahan ga perlu minta maaf dan klarifikasi Pancatera. Itu pilihan atas nilai dan keberpihakan yang kalian yakini,” tulis akun tersebut.
“Yang mereka pilih dalam kesadaran penuh itu sudah sangat kalkulatif,” lanjutnya.
Berdandan rapi, menghadiri undangan, berpose, dan mengunggahnya ke ruang publik dipandang sebagai serangkaian tindakan yang dilakukan dengan kalkulasi matang. Dalam konteks ini, kehadiran mereka dibaca sebagai bentuk legitimasi dan persetujuan atas entitas politik yang ada, yang oleh sebagian warganet dinilai sering kali abai terhadap isu-isu krusial yang selama ini didengungkan oleh Pancatera sendiri.
Polarisasi, Pragmatisme, dan Jebakan Politikal
Kendati gelombang kritik meruah, ruang diskusi sosial tidak sepenuhnya seragam. Suara kontra-narasi datang dari sudut pandang yang melihat politik dari kacamata yang lebih pragmatis dan sportif. Akun @ruther, misalnya, menilai kritik tersebut menunjukkan bahwa masyarakat semakin melihat perbedaan pandangan secara hitam-putih. Menurutnya, orang dengan pandangan politik berbeda tetap dapat berkolaborasi.
“Menurutku, politik yang sehat adalah politik yang sportif. Tetap bisa duduk bareng di luar diskusi, namun bisa saling tajam saat berdiskusi,” tulisnya.
Ia menilai perbedaan pandangan politik seharusnya tidak otomatis membuat seseorang tidak dapat berteman atau bekerja sama. Menurutnya, pengambilan keputusan yang menyeluruh justru membutuhkan akses dan komunikasi dengan berbagai pihak.
Perspektif ini menghadirkan pertanyaan mendasar: Apakah seorang komunikator publik dan aktivis narasi harus selalu mengambil jarak radikal dari institusi negara untuk menjaga integritasnya? Ataukah akses ke lingkaran dalam justru diperlukan untuk menyuarakan perubahan secara lebih efektif?
Niat atau argumen tersebut berhadapan langsung dengan realitas bahwa di mata publik, simbol visual memiliki bobot geopolitik dan emosional yang amat berat. Foto berselimut senyum di tengah kemegahan perayaan Istana—di saat banyak isu kerakyatan dan hak-hak perempuan masih menggantung tanpa kejelasan—lebih mudah ditangkap sebagai gestur kompromi politik ketimbang diplomasi kritis. Kehadiran di acara seremoni yang sifatnya selebratif sulit dibaca sebagai bentuk dialog kritis; ia lebih menyerupai partisipasi dalam pesta elite.
Anatomi Permintaan Maaf: Independensi di Ujung Tanduk
Merespons tekanan yang kian membesar, Pancatera akhirnya buka suara. Melalui akun media sosialnya, termasuk Threads @Pancatera, kelompok tersebut menyampaikan permintaan maaf kepada komunitas ViewHers dan masyarakat.
“Kami minta maaf atas tindakan kami yang keliru,” tulis Pancatera dalam pernyataannya.
Pancatera mengakui bahwa kehadiran dan unggahan foto pembawa acara In Her View dalam perayaan Hari Kemerdekaan di Istana Merdeka telah memicu kekecewaan dan pertanyaan, baik di kalangan komunitas mereka maupun masyarakat. Mereka menyatakan telah mendengar berbagai kritik yang muncul dan menerimanya sebagai koreksi.
“Kami menerimanya sebagai koreksi dan pengingat bahwa sebagai orang-orang yang memiliki ruang publik, kami memiliki tanggung jawab untuk mempertimbangkan dengan lebih matang setiap keputusan yang kami ambil,” tulis Pancatera.
Dalam pernyataan tersebut, Pancatera juga menegaskan bahwa In Her View dan Pancatera beroperasi secara independen serta didanai secara mandiri. Mereka menyatakan tidak memiliki afiliasi dengan pemerintah maupun lembaga politik mana pun dan menyebut independensi tetap menjadi salah satu prinsip penting mereka.
Pancatera juga menyinggung kondisi pemerintahan saat ini dan mengakui masih terdapat berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat:
“Kami mengakui jalannya pemerintahan selama ini masih jauh dari sempurna. Masih banyak saudara-saudara kita yang menghadapi kesulitan, ketidakpastian, dan berbagai persoalan yang tidak boleh luput dari perhatian kita bersama,” demikian pernyataan Pancatera.
Mereka kemudian berjanji menjadikan kritik yang muncul sebagai bahan evaluasi dalam menggunakan platform mereka ke depan.
“Kami belajar dari kesalahan ini dan berkomitmen untuk menggunakan platform kami dengan kesadaran dan penuh tanggung jawab,” tutup Pancatera.
Pernyataan ini merupakan langkah mitigasi krisis yang standar, namun memancing bedah analitis yang lebih dalam. Dengan menegaskan independensi finansial dan operasional, Pancatera berusaha menyelamatkan fondasi etik yang menjadi jualan utama mereka sejak awal. Namun, pemulihan kepercayaan (trust-building) tidak cukup hanya dengan secarik teks permohonan maaf. Publik kini menagih bukti konkret tentang bagaimana kesadaran dan tanggung jawab tersebut akan diwujudkan dalam konten-konten mereka ke depan.
Jalinan Empat Profil: Rekam Jejak di Balik Kemudi Pancatera
Untuk memahami mengapa polemik ini bergetar begitu kuat, kita perlu melongok lebih jauh ke dalam dinamika internal dan latar belakang para figur pembentuknya. Pancatera sendiri berangkat dari gagasan sederhana tentang menghadirkan percakapan antarsesama perempuan dalam suasana yang aman dan terbuka. Pada masa awal pembentukannya, formasi host In Her View diisi oleh lima perempuan, termasuk Shahnaz Soehartono atau Kak Inez. Setelah Shahnaz tidak lagi menjadi bagian dari kelompok ini, Pancatera bertransformasi dan melangkah maju lewat empat sosok utama yang masing-masing membawa rekam jejak panjang, reputasi profesional yang disegani, serta bobot intelektual yang tidak sembarangan.
Kekuatan narasi Pancatera sangat ditopang oleh hadirnya Marissa Anita, seorang aktris, jurnalis, presenter, dan komunikator kelahiran Surabaya, 29 Maret 1983. Mengawali kiprahnya dari panggung teater pada 2005, Marissa menancapkan taji di dunia broadcasting melalui kiprahnya sebagai jurnalis dan pembawa berita di Metro TV (8-11 Show, Indonesia Now) serta NET TV (Indonesia Morning Show, 1 Indonesia). Peraih Piala Citra 2021 sebagai Pemeran Pendukung Perempuan Terbaik lewat film Ali & Ratu Ratu Queens ini memegang gelar Master of Media Practice dari University of Sydney dan Master of Digital Media and Society dari Loughborough University melalui beasiswa Chevening. Pada 2025, ia juga memperdalam keilmuannya dalam program Positive Psychology and Wellbeing di Stanford University School of Medicine serta pelatihan life coaching. Sebagai seorang communications specialist, mentor dosen di Universitas Indonesia, dan pembicara publik mengenai mindfulness serta slow living, sosok Marissa dipandang publik sebagai simpul empati dan pemikir etis. Maka, ketika figur dengan kedalaman spiritual dan akademis sepertinya terseret dalam pusaran perayaan Istana, publik merasa ekspektasi moral yang disematkan kepadanya telah tercederai.
Melengkapi dimensi intelektual tersebut, Kai Soerja hadir membawa perspektif kepemimpinan media serta keahlian mendalam di bidang keberagaman, kesetaraan, dan inklusi (Diversity, Equity, and Inclusion/DEI). Lulusan Bachelor of Science di bidang Financial Management dari Upper Iowa University dan Master of Arts Cross-Cultural Communication dari Horizons University ini memiliki jam terbang tinggi sebagai presenter TV di SEA Today (SEA Morning Show) dan penyiar KIS 95.1 FM. Ketertarikan Kai pada isu kesetaraan gender diuji langsung di lapangan melalui keterlibatannya memajukan rugby perempuan, di mana ia pernah menjabat sebagai Head of Women’s Rugby serta Vice Chairperson III di Persatuan Rugby Union Indonesia, serta Deputy Chair II Gender Equity Committee di Asia Rugby. Sebagai trainer dan konsultan yang aktif mengedukasi jajaran manajemen hingga anak muda tentang inklusivitas, posisi Kai dalam gestur selebrasi di Istana menciptakan paradoks yang kontras terhadap nilai-nilai kesetaraan dan inklusi yang kerap ia ajarkan.
Di sisi lain, kematangan dan jam terbang penyiaran Pancatera juga disokong oleh Caroline Soerachmat, seorang profesional media yang telah bergelut di dunia broadcasting selama lebih dari dua dekade. Lahir di Los Angeles pada 24 Mei 1984, Caroline menempuh pendidikan di Orange Coast College dan University of California, Los Angeles (UCLA) di bidang Mass Communication. Perjalanan kariernya merentang panjang dari penyiar radio di Prambors FM, 101 Jak FM, dan Female Radio, menjadi VJ MTV Indonesia, hingga berkiprah secara internasional sebagai pembawa acara di Voice of America (VOA) Washington, D.C., FOX Sports Asia, serta program Indonesia Morning Show di NET TV dan Mom Squad. Di luar aktivitas media dan bisnis wirausahanya melalui PRSY Parisya Beauty dan lini busana The Khasoe, Caroline yang menikah dengan AKBP Reza Mahendra Setligt, SIK, seorang perwira Polri di lingkungan Polda Banten, berada dalam posisi yang unik. Latar belakang personalnya yang terhubung dengan lingkaran institusi negara menciptakan garis batas yang cukup sensitif bagi publik ketika menilai independensi Pancatera.
Sementara itu, energi generasi muda dan advokasi masa depan dihadirkan oleh Karina Basrewan. Lulusan Communication and Media Studies dari University of Melbourne ini membawa pengalaman media sebagai Morning News Anchor di SEA Today, MC, dan content creator ke ranah kelestarian lingkungan. Karina melangkah jauh sebagai ESG Program Manager di Nafas, pendiri Climate Starts with SEA, serta terpilih dalam CNN Academy Climate Storytelling Program 2023-2024. Mantan Miss Earth Indonesia 2022 yang merengkuh Best National Costume di tingkat internasional serta Top 11 Puteri Indonesia 2018 ini kini menjabat sebagai Lead Consultant untuk Indonesia di Eco-Business dan Social Media Manager untuk Museum for the United Nations – UN Live. Sebagai climate storyteller yang vokal mengarahkan sorotan pada krisis iklim dan akuntabilitas kebijakan publik, tindakan Karina melangkah ke seremoni kekuasaan memantik pertanyaan mendasar mengenai konsistensi sikap seorang pejuang isu keberlanjutan di hadapan para pembuat keputusan.
Pembelajaran bagi Platform Media Independen
Kasus Pancatera membedah sebuah pelajaran berharga bagi seluruh pengelola platform media alternatif, podcast, dan para pembuat konten (content creator) di Indonesia. Ada beberapa poin reflektif yang dapat ditarik dari peristiwa ini:
- Popularitas Berbanding Lurus dengan Akuntabilitas: Ketika sebuah platform menjual nilai-nilai keberpihakan, kesadaran sosial, dan kritik terhadap ketimpangan, publik tidak lagi memandang para pembuatnya sekadar sebagai entertainer. Mereka dipandang sebagai moral compass. Setiap langkah pribadi di luar kamera akan selalu diukur menggunakan kacamata nilai yang mereka khotbahkan sendiri.
- Bahaya Performative Activism: Dalam era transparansi digital, publik sangat mudah mendeteksi kejanggalan antara apa yang dikatakan di depan mikrofon dan apa yang dilakoni di balik layar. Jika pesan pemberdayaan hanya berhenti sebagai komoditas konten tanpa dibarengi konsistensi sikap dalam kehidupan nyata, platform tersebut berisiko terperosok ke dalam tuduhan performative activism (aktivisme sebatas formalitas).
- Navigasi Simbol di Ruang Publik: Bagi seorang komunikator, simbol adalah bahasa. Kehadiran fisik dalam sebuah acara politik—apapun niat personal di baliknya—adalah sebuah simbol politik yang akan ditafsirkan secara bebas oleh publik. Kehati-hatian dalam mengelola simbol menjadi kunci utama dalam menjaga integritas independensi.
Polemik yang menimpa Pancatera tidak serta-merta menghapus seluruh kontribusi dan edukasi yang telah mereka bangun lewat In Her View. Namun, peristiwa ini menjadi pengingat yang keras: dalam medan media modern, membangun reputasi independensi membutuhkan waktu bertahun-tahun, namun untuk menggoyahkannya, publik hanya membutuhkan satu potret di waktu yang salah. Bagaimanakah Pancatera menavigasi langkah mereka selanjutnya? Waktu dan konsistensi konten merekalah yang akan menjawabnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










