Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Liburan Tanpa Ribet! 10 Destinasi Wisata Sukabumi Ini Bisa Dijangkau Cuma Naik Kereta Api

Sabtu, 19 September 2026 06:00 WIB

Dendam Masa Lalu Berujung Pengeroyokan, Jukir di Cileunyi Jadi Korban

Sabtu, 19 September 2026 05:00 WIB

Persib vs Persijap Jepara, Bobotoh Bisa Nobar di 5 Lokasi Ini

Sabtu, 19 September 2026 04:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Liburan Tanpa Ribet! 10 Destinasi Wisata Sukabumi Ini Bisa Dijangkau Cuma Naik Kereta Api
  • Dendam Masa Lalu Berujung Pengeroyokan, Jukir di Cileunyi Jadi Korban
  • Persib vs Persijap Jepara, Bobotoh Bisa Nobar di 5 Lokasi Ini
  • Bukan Cuma Didenda, Pohon yang Ditebang di Bandung Harus Dikembalikan ke Lokasi Semula
  • Cristiano Ronaldo Kembali Masuk Skuad Timnas Portugal untuk UEFA Nations League
  • Rekomendasi 10 Anime Pendek Terbaik yang Bisa Ditamatkan dalam Sehari, Cocok Buat Maraton Weekend!
  • Resmi Dirilis! Daftar 23 Pemain Timnas Indonesia untuk FIFA ASEAN Cup 2026 Tanpa Jay Idzes
  • Lawan Calo Pabrik, Dedi Mulyadi Buka Bursa Kerja Lewat Live TikTok Pemprov Jabar
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 19 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Tak Terima Ditegur Potong Antrean, Pria Paruh Baya Ludahi Kasir Swalayan

By Aga GustianaJumat, 26 Desember 2025 17:53 WIB5 Mins Read
Pria paruh baya meludahi kasir swalayan gegara tak terima ditegur potong antrean. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Pagi itu, Rabu 24 Desember 2025, suasana dalam sebuah swalayan di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Makassar, tidak jauh berbeda dari hari-hari menjelang libur panjang lain. Pelanggan datang silih berganti, membawa kebutuhan rumah tangga, beberapa terburu-buru mengejar tugas terakhir sebelum Natal, sebagian lainnya sekadar berbelanja harian.

Di balik meja kasir, N, seorang perempuan berusia 21 tahun, berdiri menjalankan rutinitasnya. Ia terbiasa menghadapi beragam karakter konsumen: yang ramah, yang pemalu, yang cerewet, bahkan yang mudah tersinggung. Namun hari itu, ia tidak pernah menduga bahwa pekerjaannya akan berakhir dengan kejadian yang terus terngiang dalam benaknya hingga kini—sebuah ludah yang menyentuh wajahnya dan meninggalkan luka yang tak kasat mata.

Sekitar pukul 11.30 WITA, antrean di depan kasir tampak padat tetapi masih terkendali. N sedang menyelesaikan transaksi dengan seorang pelanggan ketika matanya menangkap gelagat tak biasa dari seorang pria paruh baya yang membawa keranjang penuh barang. Gerak-geriknya gelisah, seperti seseorang yang ingin cepat selesai, tetapi bukan melalui jalur yang tepat.

“Awalnya itu sementara transaksi (layani konsumen lain). Terus kulihat memang itu di depan itu bapak kayak gelisah mau masuk ini di antrean,” ujar N, mengingat kembali kejadian tersebut.

Sang pria tidak menunggu lama untuk menunjukkan maksudnya. Ia langsung menyelinap masuk ke depan, menyalip antrean beberapa pelanggan yang lebih dulu menunggu. Titik awal dari serangkaian tindakan yang membuat suasana seketika berubah tegang.

Teguran yang Berujung Kemarahan

Sebagai kasir, N berkewajiban menjaga alur antrean tetap tertib. Tanpa bermaksud menyinggung, ia mengingatkan pria tersebut agar kembali ke barisan.

Baca Juga:  Terungkap! Dokter Residen RSHS Diduga Gunakan Modus Serupa ke Korban Lain

“Langsung saya tanya bilang, ‘Maaf, Pak. Ada antrean dari belakang. Antre dari belakang ki dulu’.”

Namun teguran itu tidak diterima sebagai ajakan untuk tertib. Justru menjadi pemantik kemarahan. Sang pria melempar keranjang belanjaannya—gerakan spontan yang membuat barang-barang di dalamnya bergetar dan menimbulkan suara keras di lantai.

“Dia langsung marah sambil na lempar itu keranjangnya. Dia bilang, ‘Transaksikan saja anuku (belanjaanku)'”, tutur N.

Mendengar nada suara yang meninggi, N memilih mengambil jalan yang dianggapnya paling aman: diam. Keheningan bagi N bukan berarti menyerah, tetapi strategi untuk mencegah konflik meluas. Ia memutuskan melayani barang belanjaan si pria meski tindakannya sebelumnya sudah tidak lagi mengikuti aturan antrean.

Diam yang Tidak Menenangkan

Harapan N agar suasana kembali kondusif rupanya meleset. Diamnya justru membuat pria paruh baya itu semakin agresif secara verbal. Makian mulai meluncur, perlahan mengikis kesabaran dan ketenangan di meja kasir.

“Jadi, saya diam di situ, saya bilang biar mi pale (ya sudah). Dia langsung bilang, ‘Kurang ajar caramu melayani begitu. Saya juga mau ji membayar. Kenapa kau kurang ajar’,” kenang N, menirukan suara pelaku.

Meskipun tersudut, N kembali mencoba menjelaskan. Ia ingin pelaku mengerti bahwa tegurannya murni karena aturan, bukan karena niat melecehkan atau menghambat.

“Saya bilang, ‘Karena ada antrean dari belakang, Pak. Tabe’ jadi harus ki dulu mengantre’.”

Baca Juga:  Bejat! Seorang Gadis Disabilitas Dilecehkan 3 Pedagang di Stadion Sidolig

Tetapi bahkan kalimat penjelasan itu pun belum selesai keluar sepenuhnya ketika batas kesabaran pelaku mencapai titik ekstrem.

“Di situ belum selesai (saya) bicara langsung diludahi. Muka sama jilbab, baju (kena),” bebernya dengan suara pelan.

Dalam sekejap, ruang kasir yang semula penuh aktivitas berubah menjadi senyap. Tidak ada suara protes lantang dari pelanggan lain, tidak ada rekan kerja yang bisa berbuat banyak. Hanya N yang berdiri menahan campuran rasa marah, malu, dan syok.

Syok, Air Mata yang Ditahan, dan Permohonan Maaf yang Terpaksa

Setelah ludah mengenai wajah dan jilbabnya, tubuh N bereaksi spontan. Ia mundur, lalu bergegas menjauh dari situasi yang menghimpit napasnya. Kamar mandi menjadi tempat perlindungan sementara.

“Syok. Saya langsung lari naik ke WC cuci muka.”

Namun kejadian tidak berhenti hanya pada tindakan pelaku. Dalam kondisi terguncang, N bahkan sempat meminta maaf—tindakan yang ia lakukan bukan karena merasa bersalah, melainkan karena ingin menghindari situasi yang semakin membesar.

“Dia suruh ka minta maaf, jadi sempat ja minta maaf di situ. Karena kupikir nanti kalau panjangi, kupikir kalau kulawan tambah panjang lagi masalah,” ucapnya.

Trauma yang Mengendap, Diam yang Menyakitkan

Hari-hari setelah kejadian tidak berjalan seperti biasa. Meski kembali bekerja, guncangan psikis masih ia rasakan. Setiap kali mengingat momen itu, ada sesuatu yang mengganjal—perasaan ditinggalkan dan tidak dibela oleh mereka yang menyaksikan.

“Masih trauma. Ada pelanggan lain yang lihat, tapi tidak bilang-bilang juga. Cuma na lihat ja. Itu temanku yang di dekatku cuma diam ji kodong karena takut juga,” ungkapnya.

Baca Juga:  Bongkar Skandal Pelecehan di Ponpes Lombok, Begini Kisah Film Bidaah yang Buat Santri Tersadar

Trauma bukan sekadar luka yang terlihat, tetapi pengalaman yang menempel pada ingatan dan membuat seseorang mengulang kembali kejadian meski tubuhnya sudah jauh dari tempat kejadian.

Keluarga Menolak Diam: Laporan Polisi dan Tuntutan Keadilan

Jika N memilih menahan diri demi pekerjaannya, keluarganya tidak ingin insiden ini berlalu begitu saja. Mereka merasa tindakan pelaku tidak bisa dianggap kesalahan ringan atau emosi sesaat. Harus ada penyelesaian hukum.

“Karena dari pihak keluarga tidak terima sama ini kejadian. Iya, (diproses hukum) kalau bisa,” tegas seorang anggota keluarga, Ningsih.

Laporan pun disampaikan ke Polsek Tamalanrea. Keluarga berharap polisi segera menindaklanjuti agar tindakan serupa tidak terulang kepada pekerja lain—khususnya mereka yang berada di garda depan layanan publik dan sering menghadapi tekanan.

Di Balik Meja Kasir, Ada Martabat

Kisah N adalah potret sunyi pekerja ritel yang sering kali berdiri sendirian menghadapi kemarahan pelanggan. Mereka adalah orang-orang yang menjaga sistem layanan tetap berjalan, tetapi tidak selalu mendapat perlindungan saat hal-hal buruk terjadi.

N masih bekerja, masih belajar menata ulang rasa percaya dirinya. Ia menatap ke depan, tetapi tidak ingin kejadian itu hilang begitu saja tanpa pelajaran.

Insiden itu mengingatkan bahwa di balik meja kasir, ada manusia yang sama-sama menuntut penghargaan dan martabat—bahkan saat mereka hanya meminta satu hal sederhana: “Maaf, Pak. Ada antrean dari belakang. Antre dari belakang ki dulu.”

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

pelecehan
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Liburan Tanpa Ribet! 10 Destinasi Wisata Sukabumi Ini Bisa Dijangkau Cuma Naik Kereta Api

Rekomendasi 10 Anime Pendek Terbaik yang Bisa Ditamatkan dalam Sehari, Cocok Buat Maraton Weekend!

Ngeri Dipalak Sejuta Sehari! Pengakuan Blak-blakan Korban Pungli Jogja yang Bikin Satu Indonesia Murka

8 Tahun Disimpan, Erin Ungkap Dugaan Perselingkuhan Andre Taulany dengan Sinden OVJ

Cari Bakso dan Mie Ayam Enak di Bandung? Ini 4 Rekomendasinya

Bikin Takjub! Aksi ‘Orator Cilik’ Asal Cilacap Bikin Satu Kelas Terpukau, Bakat Alaminya Luar Biasa

Terpopuler
  • Jadwal Lengkap FC Seoul vs Persib Bandung di ACL 2: Waktu Kick-off dan Link Nonton
  • Game Free Fire
    Deretan Kode Redeem FF 15 September 2026, Klaim Reward Senjata Eksklusif Sekarang Juga!
  • Tradisi 60 Tahun Berujung Hujatan! Menelusuri Fakta di Balik Hebohnya Simbang Kulon Night Carnival 2026
  • Karpet Merah Mobilitas Publik atau Kuburan Ekonomi Rakyat: Menelisik Polemik di Balik Megaproyek BRT Bandung Raya
  • Link Live Streaming ACL 2: FC Seoul vs Persib Bandung, Nonton Gratis di Sini!
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.