Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Menjelajah Kelezatan Karawang: 10 Wisata Kuliner Legendaris yang Menggoyang Lidah

Kamis, 17 September 2026 02:00 WIB

Rekomendasi Kuliner Legendaris Garut: 4 Tempat Makan Ikonik yang Wajib Dicoba

Kamis, 17 September 2026 01:00 WIB

Bio Farma Transfer Teknologi Vaksin ke Sejumlah Negara, Dorong Diplomasi Kesehatan Indonesia

Rabu, 16 September 2026 22:30 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Menjelajah Kelezatan Karawang: 10 Wisata Kuliner Legendaris yang Menggoyang Lidah
  • Rekomendasi Kuliner Legendaris Garut: 4 Tempat Makan Ikonik yang Wajib Dicoba
  • Bio Farma Transfer Teknologi Vaksin ke Sejumlah Negara, Dorong Diplomasi Kesehatan Indonesia
  • Persib Bungkam FC Seoul 1-0, Maung Bandung Langsung Kuasai Puncak Grup E ACL Two
  • Warga Bandung Jangan Asal Beli! 25 Merek Beras Fortifikasi Diduga Tak Sesuai Label
  • Kebakaran Ciumbuleuit Bongkar Dugaan Penimbunan Sampah Ilegal, 19 Warga Terdampak
  • 10 Tempat Wisata Bogor Terbaru dan Paling Hits, Cocok untuk Liburan Keluarga
  • Persib Curi Poin Penuh di ACL 2, Marc Klok Sanjung Mental Juang Bobotoh di Negeri Ginseng
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 17 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Tanggapi Fenomena Beragama, Haedar Nashir: Kita Harus Menjadi Suluh

By Putra JuangSelasa, 28 Januari 2025 22:00 WIB2 Mins Read
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir. (Foto: Muhammadiyah)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir mengungkapkan bahwa dalam menghadapi fenomena beragama saat ini, maka harus menghadirkan agama Islam yang mendalam, kaya dan luwes.

Hal itu disampaikan Haedar Nashir dalam Dialog Ideopolitor Muhammadiyah Regional Jawa-Kalimantan 1 di Dormitory Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), pada Senin (27/1/2025).

“Kita harus menjadi suluh dalam beragama yang tetap kokoh dalam hal akidah, ibadah dan akhlak,” ucap Haedar dikutip laman Muhammadiyah.

Selain menjadi pribadi yang kokoh dalam beragama, Haedar mengingatkan untuk tidak mengabaikan lingkungan sekitar.

“Kemudian pada saat yang sama, menyumbangkan kehidupan muamalah duniawiyah,” ujarnya.

Baca Juga:  Muhammadiyah Siap Bangun Ekosistem Inovasi Teknologi Kendaraan Listrik

Mengacu pada cara beragama dan berdakwah Kiyai Ahmad Dahlan, kata Haedar, Kiai Dahlan juga banyak melakukan dekonstruksi. Dalam artian, misalnya, membongkar kenapa orang menolak kebenaran.

“Karena manusia pada dasarnya suka dan senang dengan apa yang sudah dia pikirkan selama ini. Mengapa orang menolak kebenaran pada dasarnya orang bodoh atau ia tidak suka terhadap orang yang membawa kebenaran itu,” katanya.

Maka, lanjut Haedar, Kiai Dahlan menawarkan konsep bahwa agama itu mencerahkan, bercahaya, tetapi manusia pengikut agama itu yang bodoh dan menjadikan agama redup.

Baca Juga:  Muhammadiyah Sebut Pagar Laut di PIK Rugikan Nelayan dan Masyarakat Pesisir

Hal ini bertentangan dengan ciri manusia muslim yang ulil albab, yaitu seorang muslim yang mau mendengar pernyataan atau pikiran orang lain.

Haedar menekankan bahwa Muhammadiyah merupakan bagian dari Islam yang turut membangun peradaban.

“Islam itu membangun peradaban. Maka kalo Muhammadiyah merumuskan gerakan Islam pencerahan, gerakan islam berkemajuan, kemudian dari situ membangun peradaban khaira ummah, itu sesungguhnya bagian dari islam,” ungkapnya.

Jika membaca sosiolog Peter Berger, Haedar mengungkap istilah agama sebagai kanopi suci (the sacred canopy). The sacred canopy berarti bahwa di tengah gelombang kehidupan di mana manusia modern resah tentang berbagai hal, lalu agama harus hadir menjadi kanopi suci. Tempat orang berlindung dari panas dan hujan.

Baca Juga:  Sinergitas Pemkab Bandung dan Muhammadiyah Teruji Sukses Tingkatkan Nilai IPM

Untuk menghadapi fenomena beragama masa kini, Haedar menegaskan bagaimana menghadirkan islam dengan mendalam, kaya dan luwes. Supaya agama itu tidak menjadi faktor judgement semata-mata apalagi judgement yang kering.

“Karena agama itu punya kekuatan sakralisasi dan glorifikasi yang sampai ke ilahi. Jadi, kalau kita bertindak terlalu gegabah dalam kehidupan mengatasnamakan agama, maka dampaknya meluas,” tandasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Haedar Nashir Muhammadiyah
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Bio Farma Transfer Teknologi Vaksin ke Sejumlah Negara, Dorong Diplomasi Kesehatan Indonesia

Warga Bandung Jangan Asal Beli! 25 Merek Beras Fortifikasi Diduga Tak Sesuai Label

Kebakaran Ciumbuleuit Bongkar Dugaan Penimbunan Sampah Ilegal, 19 Warga Terdampak

Viral! Gegara Puntung Rokok, WNI Ini Masuk Penjara di Malaysia

DIKULITI DI FORUM DUNIA?! Nama Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Mendadak Jadi Sorotan PBB!

Api Kepung 5 Titik Lahan di Sindanggalih Sumedang, Warga Mulai Waspada

Terpopuler
  • Jadwal Lengkap FC Seoul vs Persib Bandung di ACL 2: Waktu Kick-off dan Link Nonton
  • Semarak HUT TNI ke-81, Ribuan Peserta Siap Ikuti Fun Run di Cimahi
  • Game Free Fire
    Deretan Kode Redeem FF 15 September 2026, Klaim Reward Senjata Eksklusif Sekarang Juga!
  • Tradisi 60 Tahun Berujung Hujatan! Menelusuri Fakta di Balik Hebohnya Simbang Kulon Night Carnival 2026
  • Link Live Streaming ACL 2: FC Seoul vs Persib Bandung, Nonton Gratis di Sini!
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.