Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Emas Antam Hari Ini Tertahan di Rp 2,526 Juta, Saatnya Beli?

Minggu, 1 November 2026 08:43 WIB
Bansos

Siap-siap! Rilis 10 November, Syarat Dapat Bansos Digital Wajib Scan Wajah dan NIK

Minggu, 1 November 2026 06:00 WIB

Kabar Terbaru Penyaluran Bansos PKH dan BPNT Kuartal IV 2026: Syarat Desil, Cara Cek, hingga Solusi Dana Belum Cair

Minggu, 1 November 2026 02:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Emas Antam Hari Ini Tertahan di Rp 2,526 Juta, Saatnya Beli?
  • Siap-siap! Rilis 10 November, Syarat Dapat Bansos Digital Wajib Scan Wajah dan NIK
  • Kabar Terbaru Penyaluran Bansos PKH dan BPNT Kuartal IV 2026: Syarat Desil, Cara Cek, hingga Solusi Dana Belum Cair
  • Ujian Maraton Maung Bandung: 7 Laga Berat di 3 Kompetisi Mengintai Persib Sepanjang November 2026
  • Hangatkan Tubuh di Tengah Cuaca Dingin Kota Kembang: 7 Rekomendasi Kuliner Berkuah Khas Bandung yang Wajib Dicoba
  • Mengenang 7 Hari Wafatnya Fathan Subchi, PKB dan Masura Kabupaten Bandung Gelar Doa Bersama
  • Viral Foto AI Presiden Prabowo di Padalarang, Petinggi KCIC Diserbu Netizen
  • Persib Dapat Angin Segar Jelang Jamu Isenmulang FC, Teja Paku Alam Comeback?
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 1 November 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Tanggapi Fenomena Beragama, Haedar Nashir: Kita Harus Menjadi Suluh

By Putra JuangSelasa, 28 Januari 2025 22:00 WIB2 Mins Read
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir. (Foto: Muhammadiyah)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir mengungkapkan bahwa dalam menghadapi fenomena beragama saat ini, maka harus menghadirkan agama Islam yang mendalam, kaya dan luwes.

Hal itu disampaikan Haedar Nashir dalam Dialog Ideopolitor Muhammadiyah Regional Jawa-Kalimantan 1 di Dormitory Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), pada Senin (27/1/2025).

“Kita harus menjadi suluh dalam beragama yang tetap kokoh dalam hal akidah, ibadah dan akhlak,” ucap Haedar dikutip laman Muhammadiyah.

Selain menjadi pribadi yang kokoh dalam beragama, Haedar mengingatkan untuk tidak mengabaikan lingkungan sekitar.

“Kemudian pada saat yang sama, menyumbangkan kehidupan muamalah duniawiyah,” ujarnya.

Baca Juga:  Pesan Ketum Muhammadiyah Bagi Kader Kontestan Pemilu 2024: Bijak dan Dewasa

Mengacu pada cara beragama dan berdakwah Kiyai Ahmad Dahlan, kata Haedar, Kiai Dahlan juga banyak melakukan dekonstruksi. Dalam artian, misalnya, membongkar kenapa orang menolak kebenaran.

“Karena manusia pada dasarnya suka dan senang dengan apa yang sudah dia pikirkan selama ini. Mengapa orang menolak kebenaran pada dasarnya orang bodoh atau ia tidak suka terhadap orang yang membawa kebenaran itu,” katanya.

Maka, lanjut Haedar, Kiai Dahlan menawarkan konsep bahwa agama itu mencerahkan, bercahaya, tetapi manusia pengikut agama itu yang bodoh dan menjadikan agama redup.

Baca Juga:  Berduka atas Wafatnya Presiden Iran, Muhammadiyah: Kehilangan Besar bagi Kita

Hal ini bertentangan dengan ciri manusia muslim yang ulil albab, yaitu seorang muslim yang mau mendengar pernyataan atau pikiran orang lain.

Haedar menekankan bahwa Muhammadiyah merupakan bagian dari Islam yang turut membangun peradaban.

“Islam itu membangun peradaban. Maka kalo Muhammadiyah merumuskan gerakan Islam pencerahan, gerakan islam berkemajuan, kemudian dari situ membangun peradaban khaira ummah, itu sesungguhnya bagian dari islam,” ungkapnya.

Jika membaca sosiolog Peter Berger, Haedar mengungkap istilah agama sebagai kanopi suci (the sacred canopy). The sacred canopy berarti bahwa di tengah gelombang kehidupan di mana manusia modern resah tentang berbagai hal, lalu agama harus hadir menjadi kanopi suci. Tempat orang berlindung dari panas dan hujan.

Baca Juga:  Muhammadiyah Kabupaten Bandung Apresiasi 13 Program Prioritas Bupati Dadang Supriatna

Untuk menghadapi fenomena beragama masa kini, Haedar menegaskan bagaimana menghadirkan islam dengan mendalam, kaya dan luwes. Supaya agama itu tidak menjadi faktor judgement semata-mata apalagi judgement yang kering.

“Karena agama itu punya kekuatan sakralisasi dan glorifikasi yang sampai ke ilahi. Jadi, kalau kita bertindak terlalu gegabah dalam kehidupan mengatasnamakan agama, maka dampaknya meluas,” tandasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Haedar Nashir Muhammadiyah
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Mengenang 7 Hari Wafatnya Fathan Subchi, PKB dan Masura Kabupaten Bandung Gelar Doa Bersama

Viral Foto AI Presiden Prabowo di Padalarang, Petinggi KCIC Diserbu Netizen

Aksi Nekat Pemuda Bandung Berujung Maut, Lansia 64 Tahun Gugur Pertahankan Ayam Kesayangan

Sapa Ribuan Warga di Jalak Harupat, Rajiv NasDem Buktikan Janji Kampanye Bukan Sekadar Pemanis

Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Kemensos Proses Data Penerima Bansos Tahap 4, KPM Wajib Cek Hal Ini Sebelum November

Hanya Lemari Ini yang Utuh! Keajaiban Al-Qur’an Selamat dari Kebakaran Madrasah di Garut

Terpopuler
  • Megalomania Arsitektur: Ketika Kota Bandung Dipaksa Berbaju Kerajaan
  • Ruang Bicara Resmi Berdiri di Bandung, Hadir Sebagai Wadah Anak Muda Bertumbuh dan Berdampak
  • Berkas Kasus UU ITE Bambang Soeharto Hampir Rampung, Simalango Law Firm Soroti Langkah Tersangka Lapor Balik Saksi
  • Gelar Tabligh Akbar, Pemuda Pancasila Jabar Usung Semangat Gaya Baru di HUT ke-67
  • Pengurus DPC PKB Kabupaten Bandung Dikukuhkan, Dadang Supriatna Mulai Jaring Caleg 2029
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.