Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
Persib Bandung

Resmi! Dewa United vs Persib Digelar Tanpa Penonton, Bobotoh Dilarang Datang

Jumat, 17 April 2026 09:19 WIB

KLAIM SEKARANG! Kode Redeem FF 17 April 2026: Banjir Skin Senjata Permanen dan Bundle Langka

Jumat, 17 April 2026 09:12 WIB

Zaki Abbas, Bocah Ajaib yang Bikin Nama Indonesia Wangi di Markas KPOP!

Jumat, 17 April 2026 09:07 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Resmi! Dewa United vs Persib Digelar Tanpa Penonton, Bobotoh Dilarang Datang
  • KLAIM SEKARANG! Kode Redeem FF 17 April 2026: Banjir Skin Senjata Permanen dan Bundle Langka
  • Zaki Abbas, Bocah Ajaib yang Bikin Nama Indonesia Wangi di Markas KPOP!
  • Update Terbaru! Kode Redeem ML 17 April 2026: Dapatkan Skin Epic dan Fragmen Langka Secara Gratis
  • Buruan! 100+ Kode Redeem FF April 2026 Masih Aktif, Hadiah Skin Langka Menanti
  • Kuliner Pagi Bandung Lagi Viral, Ini 3 Spot Sarapan Favorit Warga
  • Sekali Klik Bisa Kena! Link Viral Ini Ancam Rekening dan Data Pribadi
  • Banjir Pemain Bintang! Kode Redeem FC Mobile 17 April 2026: Klaim Pack Spesial dan Jutaan Koin Sekarang!
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Jumat, 17 April 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Tanggapi Fenomena Beragama, Haedar Nashir: Kita Harus Menjadi Suluh

By Putra JuangSelasa, 28 Januari 2025 22:00 WIB2 Mins Read
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir. (Foto: Muhammadiyah)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir mengungkapkan bahwa dalam menghadapi fenomena beragama saat ini, maka harus menghadirkan agama Islam yang mendalam, kaya dan luwes.

Hal itu disampaikan Haedar Nashir dalam Dialog Ideopolitor Muhammadiyah Regional Jawa-Kalimantan 1 di Dormitory Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), pada Senin (27/1/2025).

“Kita harus menjadi suluh dalam beragama yang tetap kokoh dalam hal akidah, ibadah dan akhlak,” ucap Haedar dikutip laman Muhammadiyah.

Selain menjadi pribadi yang kokoh dalam beragama, Haedar mengingatkan untuk tidak mengabaikan lingkungan sekitar.

“Kemudian pada saat yang sama, menyumbangkan kehidupan muamalah duniawiyah,” ujarnya.

Mengacu pada cara beragama dan berdakwah Kiyai Ahmad Dahlan, kata Haedar, Kiai Dahlan juga banyak melakukan dekonstruksi. Dalam artian, misalnya, membongkar kenapa orang menolak kebenaran.

Baca Juga:  Kapan Lebaran 2026? Ini Prediksi Tanggal Idul Fitri Menurut Muhammadiyah, Pemerintah, dan NU

“Karena manusia pada dasarnya suka dan senang dengan apa yang sudah dia pikirkan selama ini. Mengapa orang menolak kebenaran pada dasarnya orang bodoh atau ia tidak suka terhadap orang yang membawa kebenaran itu,” katanya.

Maka, lanjut Haedar, Kiai Dahlan menawarkan konsep bahwa agama itu mencerahkan, bercahaya, tetapi manusia pengikut agama itu yang bodoh dan menjadikan agama redup.

Baca Juga:  Fenomena K-Pop dan Game Jadi Media Sebarkan Nilai-nilai Islam pada Generasi Muda

Hal ini bertentangan dengan ciri manusia muslim yang ulil albab, yaitu seorang muslim yang mau mendengar pernyataan atau pikiran orang lain.

Haedar menekankan bahwa Muhammadiyah merupakan bagian dari Islam yang turut membangun peradaban.

“Islam itu membangun peradaban. Maka kalo Muhammadiyah merumuskan gerakan Islam pencerahan, gerakan islam berkemajuan, kemudian dari situ membangun peradaban khaira ummah, itu sesungguhnya bagian dari islam,” ungkapnya.

Jika membaca sosiolog Peter Berger, Haedar mengungkap istilah agama sebagai kanopi suci (the sacred canopy). The sacred canopy berarti bahwa di tengah gelombang kehidupan di mana manusia modern resah tentang berbagai hal, lalu agama harus hadir menjadi kanopi suci. Tempat orang berlindung dari panas dan hujan.

Baca Juga:  Gus Baha Jelaskan Perbedaan NU dan Muhammadiyah soal Penentuan Awal Ramadhan

Untuk menghadapi fenomena beragama masa kini, Haedar menegaskan bagaimana menghadirkan islam dengan mendalam, kaya dan luwes. Supaya agama itu tidak menjadi faktor judgement semata-mata apalagi judgement yang kering.

“Karena agama itu punya kekuatan sakralisasi dan glorifikasi yang sampai ke ilahi. Jadi, kalau kita bertindak terlalu gegabah dalam kehidupan mengatasnamakan agama, maka dampaknya meluas,” tandasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

beragama Haedar Nashir Muhammadiyah
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Promo HUT Kota Sukabumi 2026 dari bank bjb, Kuliner dan Ngopi Jadi Lebih Hemat!

Program DPLK bank bjb Bertabur Hadiah 2026, Total Reward Capai Rp40 Juta

Rafael Situmorang Soroti Reformasi Kepolisian dan Perlindungan Kelompok Rentan

Ilustrasi korban meninggal.

Geger! Kerangka Manusia Ditemukan di Bawah Jembatan Dayeuhkolot

Modus Cinta Berujung Penipuan di Batujajar, Motor Dibawa Kabur Usai Diajak Belanja

Spionase di Tengah Gencatan Senjata: Iran Ringkus Kuartet Terduga Mata-mata Israel

Terpopuler
  • Link Video Diburu Netizen, Fakta di Balik Ibu Tiri vs Anak Tiri Terbongkar
  • Viral Ibu Tiri vs Anak Tiri, Fakta Asli dari Kebun Sawit hingga Dapur Terungkap
  • Update Kode Redeem FF 12 April 2026: Buruan Ambil Skin Titan & Emote Langka Hari Ini!
  • Viral video part 2 ibu tiri vs anak tiri.
    Terbongkar! Video Viral Ibu Tiri vs Anak Tiri Ternyata Bukan Cerita Asli
  • Viral! Link Video Ibu Tiri vs Anak Tiri Full Durasi No Sensor dari Kebun Sawit ke Dapur
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.