bukmata.id – Fenomena “teror pocong” kembali mengguncang media sosial Indonesia. Dalam beberapa hari terakhir, video dan foto sosok menyerupai pocong viral di berbagai platform seperti TikTok, Instagram, Facebook, hingga grup WhatsApp warga.
Mulai dari Tangerang, Lamongan, Nganjuk, Sidoarjo, hingga Bandung Barat, masyarakat dibuat resah oleh kemunculan sosok berpakaian putih yang disebut berkeliaran di malam hari.
Narasi yang beredar pun semakin liar. Ada yang menyebut pocong itu berdiri di pinggir jalan pada dini hari, mengetuk pintu rumah warga, berjalan di gang sempit permukiman, bahkan membawa senjata tajam jenis celurit. Rekaman CCTV yang beredar cepat membuat suasana mencekam semakin terasa.
Fenomena ini bukan sekadar cerita horor biasa. Di tengah era kecerdasan buatan (AI) dan banjir konten digital, isu mistis ternyata masih sangat mudah memicu kepanikan publik. Pertanyaannya, mengapa masyarakat masih begitu mudah percaya pada narasi horor viral? Dan bagaimana media sosial memperbesar ketakutan kolektif warga?
Viral di Media Sosial, Warga Mulai Takut Keluar Malam
Gelombang keresahan bermula ketika sejumlah video memperlihatkan sosok pocong berdiri di area permukiman minim penerangan viral di TikTok dan WhatsApp. Dalam video tersebut, suasana malam yang sunyi dipadukan dengan visual sosok putih membuat banyak orang langsung percaya bahwa ada “teror gaib” di lingkungan mereka.
Di beberapa daerah, warga mulai meningkatkan ronda malam dan patroli lingkungan. Orang tua melarang anak-anak keluar rumah terlalu larut malam. Bahkan sejumlah warung malam mengaku mengalami penurunan pengunjung karena masyarakat memilih tetap berada di rumah.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana rasa takut bisa menyebar jauh lebih cepat dibanding fakta. Hanya lewat satu video berdurasi beberapa detik, suasana satu kampung bisa berubah mencekam.
Di Tangerang dan Jawa Barat misalnya, video yang disebut memperlihatkan “pocong mengetuk rumah warga” tersebar masif melalui grup WhatsApp keluarga dan RT. Banyak warga yang mengaku takut membuka pintu ketika mendengar suara aneh pada malam hari.
Lamongan Heboh, Ternyata Hanya Prank Dua Remaja
Salah satu kasus yang paling menyita perhatian terjadi di Lingkungan Tumenggungan, Kecamatan Lamongan. Video viral memperlihatkan sosok pocong berdiri di dalam gang sempit pada dini hari.
Warga bernama Faisol mengaku terkejut karena lokasi video tersebut ternyata berada tepat di depan rumahnya.
“Warga kampung langsung heboh setelah video itu menyebar. Banyak yang penasaran apakah itu benar penampakan atau hanya seseorang yang sengaja menakut-nakuti,” ujarnya.
Namun setelah ditelusuri aparat kelurahan, fakta sebenarnya justru jauh dari unsur mistis. Sosok pocong tersebut ternyata diperankan dua remaja berinisial MA (17) dan AB (17) yang sengaja membuat konten prank demi media sosial.
Lurah Tumenggungan, Junaidi, langsung memanggil kedua remaja tersebut untuk meredam kepanikan warga.
“Saya tanya kepada mereka tujuannya apa, terus mereka jawab hanya bercanda untuk ngeprank,” katanya.
MA mengaku hanya mengikuti perintah temannya untuk memakai kain putih dan berperan sebagai pocong. Sementara AB menjadi penggagas sekaligus perekam video.
Kasus ini memperlihatkan sisi gelap budaya konten viral di media sosial. Demi mengejar views, likes, dan perhatian publik, sebagian orang rela membuat konten yang justru menimbulkan keresahan massal.
Bandung Barat Mencekam, Isu Pocong Bersenjata Bikin Warga Panik
Fenomena serupa juga terjadi di Kabupaten Bandung Barat. Media sosial diramaikan kabar adanya sosok pocong membawa senjata tajam yang meneror warga di wilayah Padalarang hingga Ngamprah.
Dalam unggahan yang viral, sosok tersebut disebut mengetuk kaca rumah secara acak dari satu rumah ke rumah lainnya pada malam hari.
Kasi Humas Polres Cimahi, Iptu Gofur Supangkat, mengatakan polisi langsung turun melakukan penelusuran setelah banyak unggahan viral di media sosial.
“Ya kami sudah dapat informasi terkait keberadaan sosok yang disebut pocong oleh warga. Tapi laporan resmi dari warga belum ada,” ujarnya.
Polisi menduga sosok tersebut bukan makhluk gaib, melainkan manusia yang sengaja memakai kain putih untuk menebar ketakutan.
Keresahan semakin meningkat setelah muncul isu tambahan bahwa “pocong” itu membawa celurit. Meski belum terbukti, narasi tersebut membuat warga makin takut beraktivitas malam hari.
Sebagai langkah antisipasi, patroli polisi ditingkatkan dan masyarakat diminta mengaktifkan kembali ronda malam atau siskamling.
Nganjuk hingga Sidoarjo: Ketakutan Menyebar Lewat WhatsApp
Di Kabupaten Nganjuk, warga dibuat panik setelah poster digital tentang “pocong bercelurit” viral di media sosial. Poster tersebut menarasikan adanya teror pocong jadi-jadian yang mengetuk rumah warga pada malam hari.
Namun polisi memastikan informasi tersebut belum terbukti dan bukan berasal dari akun resmi aparat keamanan.
Sementara di Sidoarjo, video pocong jadi-jadian yang viral ternyata diketahui berasal dari Tangerang, bukan dari wilayah setempat. Meski begitu, video tersebut telanjur memicu ketakutan warga.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana informasi di media sosial sering kehilangan konteks. Video dari satu daerah bisa dengan mudah dianggap terjadi di tempat lain hanya karena dibagikan berulang kali tanpa verifikasi.
Mengapa Fenomena Pocong Selalu Mudah Viral?
Fenomena pocong sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Dari era “kolor ijo”, “pasukan ninja”, hingga “begal pocong”, narasi mistis selalu muncul berulang dalam berbagai bentuk.
Budaya masyarakat Indonesia yang masih dekat dengan cerita supranatural membuat isu seperti ini mudah dipercaya. Ditambah lagi, media sosial mempercepat penyebaran rasa takut.
Algoritma platform digital juga memainkan peran penting. Konten horor cenderung mendapat engagement tinggi karena memancing rasa penasaran dan emosi pengguna. Semakin banyak orang menonton, berkomentar, dan membagikan, semakin luas pula penyebarannya.
Banyak kreator konten akhirnya memanfaatkan situasi tersebut demi viralitas. Sayangnya, tidak sedikit yang mengabaikan dampak sosial yang ditimbulkan.
Komentar Warganet: Antara Takut, Kesal, dan Curiga Pengalihan Isu
Fenomena pocong viral ini memicu banjir komentar dari warganet. Sebagian menganggap isu tersebut lucu dan tidak masuk akal, tetapi ada juga yang menilai fenomena itu sengaja dibuat untuk mencari perhatian.
Komentar-komentar itu ramai bermunculan di media sosial, salah satunya di akun Instagram @magetanbanget.
“Jaman 2026 jaman AI isek percoyo poconk anjrlahh… nek enek paling wong kurang gawean caper ae,” tulis akun @ee***.
Warganet lain mengaitkan fenomena ini dengan tren mistis lama yang selalu muncul dari waktu ke waktu.
“Dulu kolor ijo, pasukan ninja… negara yang nggak bisa lepas dari mistis atau pengalihan isu?” tulis akun @the***.
Ada pula komentar yang bernada emosi karena merasa warga sengaja diteror.
“Oh jangan diserahkan ke polisi dulu, mending digeprek rame-rame dulu,” tulis akun @bab***.
Komentar-komentar tersebut menunjukkan bagaimana media sosial tidak hanya menjadi tempat penyebaran informasi, tetapi juga ruang pembentukan opini publik secara cepat dan emosional.
Polisi Imbau Warga Tidak Mudah Percaya
Aparat kepolisian di berbagai daerah meminta masyarakat tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
Polisi juga mengingatkan warga agar tidak ikut menyebarkan video atau kabar yang dapat memicu kepanikan massal.
Hingga saat ini, sebagian besar kasus “teror pocong” yang viral justru mengarah pada aksi prank, candaan berlebihan, atau upaya mencari sensasi di media sosial.
Meski begitu, aparat tetap meminta masyarakat waspada terhadap kemungkinan adanya oknum yang memanfaatkan ketakutan warga untuk melakukan tindakan kriminal.
Fenomena Lama dengan Wajah Baru
Fenomena pocong viral 2026 menjadi bukti bahwa masyarakat digital modern ternyata masih sangat rentan terhadap ketakutan kolektif berbasis isu mistis.
Bedanya, jika dulu cerita horor menyebar dari mulut ke mulut, kini kepanikan bisa menjalar ke jutaan orang hanya dalam hitungan jam lewat media sosial.
Di era AI, deepfake, dan manipulasi visual yang semakin canggih, kemampuan masyarakat memilah informasi menjadi semakin penting. Sebab ketakutan massal tidak selalu muncul dari ancaman nyata, tetapi bisa lahir dari konten viral yang dimainkan demi sensasi dan perhatian publik.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










