bukamata.id – Di tengah euforia publik merayakan keberhasilan Tim Nasional Indonesia mengangkat trofi edisi perdana FIFA ASEAN Cup 2026, sebuah riak perdebatan menyeruak ke permukaan. Gelombang kritik dan skeptisisme yang dilontarkan oleh pengamat sepak bola nasional, Akmal Marhali, memicu diskusi hangat di kalangan pecinta sepak bola tanah air.
Dalam sebuah wawancara mendalam yang viral di media sosial, Akmal Marhali secara blak-blakan menyebut bahwa jalannya turnamen regional ini terasa bagaikan “sudah disetting”. Namun, di lapangan hijau Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), riwayat perjuangan Timnas Indonesia membuktikan bahwa setiap jengkal trofi tersebut diraih melalui keringat, ketegangan, dan dramatisasi yang nyata.
Profil dan Sepak Terjang Akmal Marhali
Akmal Marhali merupakan pengamat sepak bola nasional yang dikenal sering menyoroti Timnas Indonesia dan persepakbolaan tanah air. Namanya sering muncul tiap kali Timnas Indonesia mengikuti ajang bergengsi maupun saat terjadi peristiwa penting di kompetisi domestik.
1. Profil Singkat
Lahir pada 20 September 1978, Akmal dikenal luas sebagai sosok pengamat yang vokal memberikan kritik maupun masukan. Namanya makin melambung saat ditunjuk menjadi anggota Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) untuk mengusut Tragedi Kanjuruhan pada Oktober 2022 lalu. Saat ini, Akmal aktif membagikan pandangannya melalui kanal YouTube Bicara Bola by Akmal.
2. Mantan CEO Klub Sepak Bola
Sebelum aktif menjadi pengamat, Akmal pernah menjabat sebagai CEO Tangerang Wolves, klub asal Tangerang yang berkompetisi di Liga Primer Indonesia (IPL) pada 2010. Meski sempat mendatangkan pelatih asal Brasil, Paulo Camargo, serta sejumlah pemain asing dan keturunan, Tangerang Wolves mengakhiri musim IPL 2011 di posisi ke-18 klasemen.
3. Aktif di Organisasi dan Satgas Sepak Bola
Akmal memimpin Save Our Soccer (SOS), lembaga swadaya yang aktif mengawasi tata kelola sepak bola nasional. Selain keterlibatannya di TGIPF Kanjuruhan, pada September 2023 Akmal juga ditunjuk menjadi anggota Satuan Tugas (Satgas) Anti-Mafia Sepak Bola bersama sejumlah tokoh publik seperti Najwa Shihab dan Maruarar Sirait.
Deretan Kontroversi dan Sorotan Publik
Komentar-komentar tegas yang dilontarkan Akmal Marhali tak jarang menuai pro dan kontra hingga memicu kontroversi di kalangan pencinta sepak bola tanah air:
- Skeptisisme Terhadap Timnas: Akmal kerap melontarkan kritik pedas terhadap program naturalisasi dan performa Timnas Indonesia. Ia sempat memprediksi langkah Garuda Muda akan terhenti lebih awal di Piala Asia U-23 2024, meski akhirnya Timnas justru mampu mengukir sejarah hingga menembus babak semifinal.
- Pembatalan Piala Dunia U-20 2023: Saat Indonesia batal menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2023, Akmal menuntut pertanggungjawaban dan permintaan maaf terbuka dari pihak-pihak yang menyuarakan penolakan terhadap tim peserta.
- Klaim “Settingan” FIFA ASEAN Cup 2026: Pernyataan terbarunya yang menuduh FIFA ASEAN Cup 2026 disetting untuk memenangkan Indonesia kembali memicu gelombang kritik hebat dari suporter Garuda di media sosial.
Perjalanan Perjuangan Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026
Timnas Indonesia menorehkan sejarah dengan menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026. Tim Garuda mengangkat trofi usai melewati final dramatis kontra Thailand di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Senin (5/10/2026) malam.
Skuad Garuda harus berjuang hingga laga ditentukan melalui adu penalti. Sesudah bermain 2-2 selama 120 menit, armada John Herdman akhirnya menang 4-2 dalam drama tos-tosan. Gelar tersebut menjadi pencapaian spesial bagi Indonesia karena Tim Merah-Putih akhirnya kembali meraih trofi turnamen resmi level senior setelah kali terakhir melakukannya pada SEA Games 1991. Perjalanan menuju podium juara tidak mudah; Kevin Diks dkk. kudu melalui persaingan ketat di fase grup sebelum merengkuh gelar juara lewat laga final yang mendebarkan.
Fase Grup A: Sengit Sejak Laga Perdana
Tim Merah-Putih mengawali kiprah di Grup A dengan bersua Singapura di SUGBK, Jumat (25/9/2026). Bermain di hadapan publik sendiri, Timnas Indonesia berhasil meraih kemenangan 2-0, di mana Ragnar Oratmangoen membuka keunggulan pada menit ke-13 seusai memanfaatkan umpan Luke Vickery, dan Ole Romeny menggandakan skor via eksekusi penalti di menit ke-74.
Hasil itu jadi modal positif Timnas Indonesia untuk menghadapi partai kedua versus Malaysia. Namun, duel melawan Harimau Malaya pada Senin (28/9/2026) berlangsung jauh lebih sulit. Timnas Indonesia harus bermain dengan 10 orang setelah Thom Haye menerima kartu merah pada babak pertama. Meski minus satu pemain, Tim Garuda mampu bertahan sampai laga berakhir tanpa gol. Skor 0-0 menjadikan kedua kesebelasan sama-sama mengoleksi empat poin, sehingga tiket ke final harus ditentukan pada pertandingan pamungkas Grup A.
Lolos Dramatis ke Final Kontra Bangladesh
Tiga hari berselang, Timnas Indonesia berjumpa Bangladesh pada laga terakhir Grup A di SUGBK, Kamis (1/10/2026). Kemenangan menjadi harga mati bagi Tim Garuda untuk menjaga peluang melaju ke final.
Timnas Indonesia tampil agresif dan berpesta gol. Mitchell Baker tampil menggila dengan mencetak lima gol, sedangkan empat gol lain disumbangkan Rizky Ridho, Justin Hubner, Luke Vickery, dan Kevin Diks. Tim Garuda akhirnya menang telak dengan skor 9-2. Pada waktu bersamaan, Malaysia juga mengukir kemenangan besar 6-0 atas Singapura. Meski demikian, Timnas Indonesia berhak melaju ke final dengan status juara Grup A karena unggul produktivitas gol atas Malaysia, kendati punya nilai sama yakni tujuh poin.
Partai Puncak yang Mendebarkan di SUGBK
Final FIFA ASEAN Cup 2026 yang mempertemukan Indonesia dengan jawara Grup B, Thailand, berjalan dengan sangat ketat. Tim Garuda mendapatkan keuntungan seusai Nicholas Mickelson diganjar kartu kuning kedua dan membuat Thailand bermain dengan 10 orang. Indonesia mampu unggul lebih dulu via Dean James di menit ke-84.
Namun, Thailand merespons cepat. Iklas Sanron mencetak gol tiga menit kemudian untuk mengubah skor menjadi 1-1 dan memaksa pertandingan berlanjut ke babak extra time. Thailand sempat berbalik unggul di menit ke-111 lewat Peeradol Chamrasamee. Tetapi, gol Elkan Baggott pada menit ke-116 membikin kedudukan sama kuat 2-2 hingga babak tambahan selesai.
Laga penentuan juara pun harus ditentukan via adu penalti. Indonesia akhirnya menang 4-2 usai Emil Audero menggagalkan eksekusi Nattapong Sayriya, sedangkan tendangan Sarach Yooyen membentur mistar gawang. Keempat eksekutor Timnas Indonesia—Kevin Diks, Dean James, Elkan Baggott, dan Shayne Pattynama—sukses menjalankan tugasnya dengan sempurna dan memastikan Tim Garuda keluar sebagai juara FIFA ASEAN Cup 2026.
Reaksi Sengit Netizen: Mempertanyakan Klaim Tanpa Data
Klaim kontroversial Akmal Marhali langsung memantik reaksi keras dari warganet dan pencinta sepak bola nasional di jagat maya. Banyak yang menilai analisis tersebut meremehkan perjuangan keras para pemain di lapangan.
“Setidaknya ngomong pakai data valid jangan asbun,” ujar salah satu netizen yang menyayangkan minimnya dasar argumen tersebut.
Netizen lain melontarkan sindiran tajam terkait anggapan bahwa pertandingan sepak bola profesional bisa diatur secara instan.
“Di setting ?? emang main Play station 😂😂 Klo bisa d setting kenapa gak sekalian Veda Ega juara moto3 di mandalika kemaren 😂😂,” tulis netizen lainnya sembari membandingkannya dengan ajang balap internasional.
Rasa frustrasi suporter juga terlihat saat menyoroti betapa berdarah-darahnya perjuangan skuad Garuda sejak fase grup hingga partai puncak yang harus ditentukan lewat adu penalti.
“Mikir borr… dr awal smpe bs dpt juara ngos2an timnas ngadepinya, dr mana settingannya..” cetus seorang warganet menekankan perjuangan nyata anak asuh Timnas Indonesia.
Antara Realitas Industri dan Kerja Keras di Lapangan
Keberhasilan Indonesia merengkuh trofi FIFA ASEAN Cup 2026 kini berdiri di antara dua pandangan besar: di satu sisi, sudut pandang pengamat yang melihat adanya perhitungan bisnis dan struktur kompetisi yang diuntungkan bagi tuan rumah; di sisi lain, perjuangan pantang menyerah para pemain yang bertaruh segalanya di lapangan.
Presiden FIFA Gianni Infantino bahkan secara terbuka memuji atmosfer dan kesuksesan turnamen di Indonesia ini. Pada akhirnya, terlepas dari persepsi atau tuduhan “settingan” mengenai desain kompetisi, kerja keras Emil Audero dan kawan-kawan dalam membalikkan keadaan di menit-menit krusial telah mencatatkan sejarah baru bagi sepak bola Indonesia.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









