Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Demian Terang-terangan ‘Goda’ Sara Wijayanto di Live TikTok Pasca Cerai, Bakal Rujuk?

Rabu, 14 Oktober 2026 13:37 WIB

Pemerintah Gak Sanggup? Mbak Rara Dicari Netizen Minta Bantu Padamkan Karhutla Kalimantan

Rabu, 14 Oktober 2026 12:50 WIB

Dua WNI Jadi Korban Serangan di Riyadh, KBRI Ungkap Kondisi Terbaru

Rabu, 14 Oktober 2026 12:08 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Demian Terang-terangan ‘Goda’ Sara Wijayanto di Live TikTok Pasca Cerai, Bakal Rujuk?
  • Pemerintah Gak Sanggup? Mbak Rara Dicari Netizen Minta Bantu Padamkan Karhutla Kalimantan
  • Dua WNI Jadi Korban Serangan di Riyadh, KBRI Ungkap Kondisi Terbaru
  • Bukan Cuma Raja Indonesia! Persib Kini Bikin The Cong Viettel Ketar-ketir
  • 5 Destinasi Wisata Kekinian di Jabar yang Lagi Hits, Cocok Buat Healing Akhir Pekan!
  • Karhutla Jawa Barat Makin Meluas! 833 Hektare Lahan Terbakar, 23 Daerah Terdampak
  • Piala Asia 2027 Terancam Ditunda? Serangan Riyadh Picu Kekhawatiran
  • Mundur atau Ditinggalkan? Teka-teki Raline Shah Tinggalkan Kursi Stafsus Menkomdigi!
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Rabu, 14 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Pemerintah Gak Sanggup? Mbak Rara Dicari Netizen Minta Bantu Padamkan Karhutla Kalimantan

By Aga GustianaRabu, 14 Oktober 2026 12:50 WIB7 Mins Read
Mbak Rara. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Di balik riuhnya jagat maya yang kerap dipenuhi oleh intrik dan drama kehidupan para pesohor tanah air, sebuah ledakan perbincangan mendadak menggeser riak narasi publik. Nama Raden Rara Istiati Wulandari, atau yang lebih populer dikenal sebagai “Rara Pawang Hujan”, kembali melesat ke jajaran perbincangan hangat warganet. Namun, kali ini kemunculan namanya bukan dipicu oleh gelaran balap internasional atau seremoni megah pejabat negara, melainkan dari sebuah jeritan lingkungan yang datang dari benua hijau Indonesia: kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan.

Semua bermula ketika kontcreator dan selebgram Riyuka Bunga mengunggah sebuah utas singkat namun menohok di platform media sosial Threads. Di tengah kabut asap yang kian pekat memeluk wilayah Kalimantan dan kabar kebakaran yang tak kunjung mereda, Bunga—sapaan akrabnya—mengajak publik untuk sejenak mengesampingkan segala bentuk drama selebritas yang banal dan mulai memusatkan perhatian pada kondisi lingkungan yang kian memprihatinkan.

Beralih dari Drama Selebritas ke Isu Krisis Ekologis

Dalam lanskap media sosial Indonesia, perhatian masyarakat sering kali tersedot oleh polemik personal para pembuat konten dan figur publik. Mulai dari perselisihan antarkreator konten hingga kabar perceraian selebritas papan atas, ruang digital kerap dipenuhi oleh komentar dan emosi warganet yang terpancing oleh isu-isu tersebut.

Melihat fenomena ini, Bunga melancarkan sentilan satire yang tajam. Ia secara spesifik menyinggung beberapa persoalan figur publik yang sebelumnya menyita perhatian publik, salah satunya konflik perselisihan antara Awkarin dan Aa Juju, hingga kisruh rumah tangga selebritas lainnya. Bagi Bunga, sudah saatnya energi kolektif warganet yang luar biasa besar itu disalurkan untuk mendorong perhatian pada bencana ekologis yang tengah melanda Kalimantan.

Dengan nada berseloroh yang khas namun sarat makna, Bunga menyarankan agar masyarakat bersatu untuk mencari keberadaan Mbak Rara—sosok yang sempat viral dan dikenal luas setelah aksinya mengendalikan cuaca dalam ajang MotoGP Mandalika beberapa waktu lalu.

melalui akun Threads pribadinya, Bunga menuliskan pesan yang langsung disorot publik:

“Pinggirin dulu ajuju vs awkarin, atau ruben onsu vs sarwendah. Coba skrg kita cari mba rara lg di mana,” tulis Riyuka di akun Threads-nya @riyukabunga yang dikutip pada Rabu (14/10/26).

Baca Juga:  Pasukan Jepang Nyesel Datang? Niat Bantu Karhutla Malah Disambut Parade & Marching Band!

Kalimat singkat tersebut rupanya menjadi pemantik ledakan tanggapan di kolom komentar. Dalam waktu singkat, unggahan tersebut disukai puluhan ribu pengguna dan dibagikan berulang kali, menciptakan gelombang perbincangan baru yang memadukan humor, kepasrahan, sekaligus satir atas kondisi darurat bencana yang sedang terjadi.

Respons Warganet: Antara Satire, Remot Langit, dan Keputusasaan

Utas yang diunggah oleh Riyuka Bunga langsung mengundang beragam tanggapan dari netizen Indonesia yang terkenal kreatif dalam merespons isu hangat. Sebagian besar warganet menyambut ajakan tersebut dengan nada candaan khas digital, mengaitkan kemampuan kontroversial Rara dalam mendatangkan maupun menahan hujan dengan kebutuhan mendesak akan guyuran air di daratan Kalimantan.

Imajinasi publik pun melayang pada narasi ikonik tentang “remot langit”—istilah populer yang sering disematkan warganet saat membahas aksi pawang hujan. Seorang pengguna Threads menuliskan komentar yang mengocok perut sekaligus mengiyakan ajakan Bunga:

“Nah ini yg paling bener. Soalnya beliau yg bawa remot langit.”

Tak sedikit pula warganet yang merasa heran sekaligus tertawa melihat momentum pemikiran Bunga. Mengapa di saat situasi krisis karhutla memuncak, sosok pawang hujan tiba-tiba menjadi “pahlawan” yang paling dicari untuk menyelesaikan masalah ekologi yang kompleks tersebut. Salah satu pengguna Threads melontarkan reaksinya:

“HAHAHAHAHAHAHA.Kenapa baru kpikiran nyari mba rara skrg bung.”

Aksi warganet tak berhenti pada sekadar respons di kolom komentar unggahan Bunga. Beberapa di antaranya bahkan secara aktif bergerilya menandai akun media sosial yang diduga milik Rara Pawang Hujan. Langkah ini dilakukan agar pesan dan seruan tersebut benar-benar sampai ke telinga sang pawang, berharap ada aksi nyata atau minimal respons dari sosok yang kerap mengklaim bisa berkomunikasi dengan awan tersebut.

“@rarapawang_cahayatarot noh mba rara dicariin si bunga.”

Namun, di balik deretan gelak tawa dan emoji tertawa yang memenuhi kolom komentar, terselip pula permohonan jujur dari warganet yang tampaknya sudah sangat prihatin—atau bahkan putus asa—melihat kondisi Kalimantan yang terus diselimuti kabut asap dan kobaran api. Permintaan spontan pun bermunculan, memohon agar hujan segera diturunkan di bumi Borneo.

Baca Juga:  Pasukan Jepang Nyesel Datang? Niat Bantu Karhutla Malah Disambut Parade & Marching Band!

“Mba RARAAAAA TURUNIN HUJAN PLISSSS DI KALIMANTAN.”

Di Balik Candaan: Realita Kelam Karhutla dan Ancaman Bencana Harian

Di balik riuhnya candaan dan satire mengenai pawang hujan di ruang siber, fenomena ini sejatinya mencerminkan realitas yang jauh lebih kelam dan mendesak. Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan bukanlah persoalan main-main atau sekadar bahan konten media sosial; ini adalah bencana ekologis tahunan yang membawa dampak sistemik bagi kehidupan jutaan jiwa.

Kondisi cuaca yang sangat kering, dipicu oleh musim kemarau dan fenomena iklim, menjadikan vegetasi gambut dan hutan di Kalimantan sangat mudah terbakar. Begitu titik api menyala, struktur tanah gambut yang kaya akan bahan organik membuat api dapat menjalar di bawah permukaan tanah (subsurface fire), menjadikannya sangat sulit dipadamkan hanya dengan metode pemadaman darat biasa.

Asap tebal yang dihasilkan dari karhutla mengandung partikel berbahaya seperti PM2.5, karbon monoksida, dan senyawa beracun lainnya. Dampak kesehatan yang ditimbulkan tidaklah main-main:

  • Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA): Menyerang ribuan warga, terutama anak-anak, balita, dan lansia yang rentan.
  • Lumpuhnya Aktivitas Ekonomi: Sekolah-sekolah terpaksa diliburkan, penerbangan ditunda atau dibatalkan karena jarak pandang yang aman tidak terpenuhi, dan aktivitas perdagangan warga terganggu secara signifikan.
  • Ancaman Biodiversitas: Hutan Kalimantan yang merupakan rumah bagi flora dan fauna langka, termasuk orangutan yang terancam punah, kian terdesak dan kehilangan habitat aslinya.

Dalam situasi krisis seperti ini, hadirnya hujan alami memang menjadi salah satu “faktor penyelamat” paling efektif. Guyuran air hujan berintensitas tinggi mampu membasahi permukaan daratan yang mengering, memadamkan bara api di dalam tanah gambut, serta membersihkan partikel debu dan asap yang melayang di udara. Tak heran jika kerinduan akan datangnya hujan menjadi harapan terbesar masyarakat yang terdampak.

Namun, mengandalkan mitos atau fenomena pawang hujan tentu bukanlah solusi ilmiah atas krisis iklim dan lingkungan. Penanganan karhutla yang berkelanjutan tetap membutuhkan kerja keras terintegrasi dari berbagai pihak di lapangan:

  1. Pemadaman Darat dan Udara: Perjuangan para petugas Manggala Agni, TNI, Polri, dan relawan masyarakat yang bertaruh nyawa menembus hutan terjal serta operasi water bombing menggunakan helikopter.
  2. Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC): Upaya penyemaian garam (NaClNaClNaCl) di awan-awan potensial oleh lembaga pemerintah seperti BMKG dan BRIN untuk merangsang turunnya hujan buatan secara ilmiah.
  3. Pencegahan dan Penegakan Hukum: Pengawasan ketat terhadap pembukaan lahan dengan cara membakar, penindakan tegas terhadap korporasi atau oknum nakal, serta edukasi masyarakat secara konsisten.
Baca Juga:  Pasukan Jepang Nyesel Datang? Niat Bantu Karhutla Malah Disambut Parade & Marching Band!

Fenomena Satire Digital: Saat Humor Menjadi Senjata Kesadaran Publik

Hingga unggahan Riyuka Bunga kian meluas dan menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial, belum ada keterangan resmi mengenai respons dari Rara Pawang Hujan terhadap ajakan publik tersebut. Apakah sang pawang akan betul-betul merespons dan berniat mengadakan ritual di tanah Kalimantan, ataukah fenomena ini akan menguap begitu saja seiring bergantinya tren di media sosial?

Terlepas dari ada atau tidaknya tanggapan dari Rara, fenomena unggahan Riyuka Bunga memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana dinamika komunikasi publik bekerja di era digital. Bunga berhasil menggunakan humor dan kepopuleran figur unik seperti Mbak Rara sebagai “alat pemantik” untuk mengalihkan sorotan kamera publik dari hal-hal sepele menuju isu yang jauh lebih krusial.

Ketika narasi berita resmi tentang bencana sering kali diabaikan karena kejenuhan informasi, satire media sosial justru mampu menembus kebekuan tersebut. Dengan meminjam nama Rara Pawang Hujan dan “remot langit”-nya, warganet diajak untuk menyadari bahwa di saat mereka sibuk memperdebatkan konflik para selebritas, ada saudara-saudara mereka di Kalimantan yang sedang berjuang menghirup udara segar di tengah kepungan asap karhutla.

Pada akhirnya, unggahan tersebut lebih dari sekadar lelucon internet. Ia adalah cermin dari harapan kolektif masyarakat: sebuah kerinduan akan hadirnya hujan yang menyejukkan, serta teguran halus agar kita semua—termasuk para pemangku kebijakan—tidak pernah berpaling dari isu kelestarian lingkungan demi masa depan bumi Indonesia.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Karhutla Kalimantan Mbak Rara Pawang Hujan Riyuka Bunga
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Demian Terang-terangan ‘Goda’ Sara Wijayanto di Live TikTok Pasca Cerai, Bakal Rujuk?

5 Destinasi Wisata Kekinian di Jabar yang Lagi Hits, Cocok Buat Healing Akhir Pekan!

Kuliner khas Sukabumi yang wajib dicoba.

Wisata Kuliner Jabar yang Wajib Dikunjungi: Dari Legendaris sampai Hidden Gem!

Harga Emas 14 Oktober 2026 Merosot, Antam dan Galeri24 Turun! Saatnya Borong?

Catat! 5 Tempat Kuliner di Bandung Ini Punya Menu Unik, Cocok Buat Wisata Kuliner

Menggugah Selera! Ini 5 Spot Kuliner Hits di Cimahi yang Bikin Ketagihan

Terpopuler
  • Dari Kampus ke Gedung DPR RI, KPMJ Ilmu Komunikasi UIN Bandung Pelajari Dunia Keprotokolan dan Kehumasan
  • Humas Era Digital Tak Cukup Viral! Mahasiswa UIN Bandung Dibekali Strategi Algoritma hingga Etika
  • bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.
    BLT Kesra 2026 Kapan Cair? Cek Update Bantuan Sosial Akhir Tahun dan Cara Cek NIK Kemensos
  • Terbongkar! Pengakuan Jujur Anggun C Sasmi Soal Paspor Prancis yang Selama Ini Disembunyikan
  • Ilustrasi video syur
    Viral Video Syur Perempuan Berseragam Poltekkes Bandung, Begini Kata Kemenkes
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.