bukamata.id – Kabar kurang menggembirakan datang bagi para investor emas di Tanah Air. Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali terkoreksi tajam pada perdagangan Selasa, 2 Juni 2026. Data terbaru dari situs resmi Logam Mulia menunjukkan adanya penurunan sebesar Rp 25.000 per gram dibandingkan hari sebelumnya.
Saat ini, harga emas Antam dipatok di angka Rp 2.774.000 per gram, turun dari posisi Rp 2.799.000 per gram pada Senin (1/6/2026). Koreksi ini menjadi perhatian karena terjadi tepat setelah emas sempat menunjukkan tren penguatan pada akhir bulan lalu.
Rincian Perubahan Harga
Tak hanya harga beli, harga buyback atau harga jual kembali emas Antam pun ikut terseret turun dengan nominal serupa, yakni sebesar Rp 25.000, sehingga berada di level Rp 2.584.000 per gram.
Untuk menempatkan konteks pada angka hari ini, harga emas masih berada jauh di bawah rekor tertinggi sepanjang masa yang pernah menyentuh Rp 3.168.000 per gram pada awal 2025 lalu. Sepanjang Mei 2026 sendiri, puncak harga emas sempat menyentuh Rp 2.859.000 per gram pada pertengahan bulan.
Dinamika Emas Global: Geopolitik Jadi Beban
Penurunan harga di pasar domestik ini selaras dengan pergerakan emas di pasar global. Hingga Selasa pagi, harga emas dunia terpantau berada di kisaran US$ 4.475 per troi ons, tertekan di bawah psikologis US$ 4.500.
Ketidakpastian geopolitik menjadi katalis utama pelemahan ini. Terhentinya jalur komunikasi antara Washington dan Teheran—sebagai imbas dari eskalasi konflik di Lebanon—telah memicu kekhawatiran pasar. Meskipun Presiden AS Donald Trump memberikan optimisme terkait nota kesepahaman pembukaan kembali Selat Hormuz, investor tampaknya lebih memilih bersikap konservatif.
Fokus Investor: Inflasi dan Suku Bunga AS
Pasar keuangan saat ini tengah dalam mode “siaga”. Meningkatnya inflasi di Amerika Serikat yang dipicu oleh konflik berkepanjangan di Timur Tengah membuat para pelaku pasar mulai memperhitungkan skenario kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) sebelum tahun 2026 berakhir.
Investor kini mengalihkan fokus pada laporan ketenagakerjaan bulanan AS yang akan dirilis pekan ini. Sinyal kebijakan moneter dari pejabat The Fed akan menjadi kompas bagi investor untuk menentukan langkah selanjutnya. Apakah koreksi ini merupakan peluang beli (buy on weakness) atau awal dari tren penurunan yang lebih dalam? Jawabannya akan sangat bergantung pada arah kebijakan ekonomi global dalam beberapa hari ke depan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










