bukamata.id – Sebuah video pernikahan di Desa Gandasoli, Kecamatan Kramatmulya, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, viral di media sosial dan menjadi perbincangan luas warganet. Prosesi tersebut menjadi sorotan karena menghadirkan momen tidak biasa, di mana istri pertama turut hadir di pelaminan dan memberikan restu kepada suaminya yang menikah lagi dengan seorang perempuan lebih muda.
Di balik viralnya peristiwa tersebut, tersimpan cerita panjang yang justru menarik perhatian publik: proses pencarian calon istri kedua yang disebut dilakukan langsung oleh istri pertama selama bertahun-tahun.
Sosok Kiai dan Dua Istri di Pelaminan
Dalam video yang beredar luas, tampak seorang pria mengenakan busana pengantin didampingi dua wanita di pelaminan. Mempelai pria tersebut diketahui adalah Kiai Dede Nadif Ar-Rasyid (40), Pimpinan Pondok Pesantren Roudlotul Ummah di Kuningan.
Sementara dua wanita yang mendampingi adalah istri pertama, Wida (34), dan istri kedua, Syifa Sri Wahyuni (20), yang juga merupakan alumni santri di pesantren tersebut.
Kehadiran istri pertama di pelaminan sekaligus memberikan restu langsung kepada suaminya menjadi momen yang paling banyak menyita perhatian publik.
Viral karena Narasi “Kado Ulang Tahun”
Video pernikahan itu semakin viral setelah muncul narasi di media sosial yang menyebut bahwa pernikahan tersebut merupakan “kado ulang tahun” dari istri pertama untuk sang suami.
Narasi ini menyebut bahwa sang istri pertama bukan hanya merestui, tetapi juga ikut terlibat dalam proses pencarian calon istri kedua untuk suaminya.
Hal inilah yang kemudian membuat publik terbelah dalam merespons peristiwa tersebut, antara rasa takjub, penasaran, hingga kritik di ruang digital.
Kisah Panjang Pencarian Istri Kedua oleh Istri Pertama
Pengurus Pondok Pesantren Roudlotul Ummah, Solehudin, mengungkap bahwa keinginan untuk mencarikan istri kedua sebenarnya sudah muncul sejak sekitar tiga tahun sebelum pernikahan terjadi.
Menurut penuturannya, istri pertama memiliki keinginan kuat untuk mencarikan pendamping bagi suaminya dengan pertimbangan tertentu yang berkaitan dengan kehidupan keluarga dan aktivitas dakwah.
“Awalnya itu sudah direncanakan sekitar tiga tahun yang lalu. Istri pertama yang berinisiatif untuk mencarikan calon istri untuk suaminya,” ujar Solehudin, Minggu (7/6/2026).
Sejak saat itu, proses pencarian pun dilakukan secara perlahan. Istri pertama disebut tidak serta-merta menemukan sosok yang tepat, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan pertimbangan pribadi dan lingkungan pesantren.
Pencarian hingga ke Berbagai Daerah
Dalam upaya mencari calon istri kedua yang dianggap cocok, istri pertama bahkan disebut melakukan pencarian hingga ke beberapa daerah di Jawa Barat.
Ia dikabarkan sempat mencari kandidat ke wilayah Tasikmalaya, Ciamis, hingga Cikijing. Namun berbagai upaya tersebut belum membuahkan hasil sesuai harapan.
“Istri pertama sudah mencari sampai ke pesantren di Tasik, Ciamis sampai ke Cikijing. Namun belum ketemu yang cocok,” ungkap Solehudin.
Proses pencarian ini menggambarkan bahwa keputusan tersebut tidak terjadi secara instan, melainkan melalui pertimbangan yang cukup panjang.
Bertemu dengan Alumni Pesantren Sendiri
Setelah perjalanan panjang tersebut, akhirnya pilihan mengarah pada Syifa Sri Wahyuni (20), seorang alumni santri sekaligus warga Desa Gandasoli.
Syifa disebut sebagai sosok yang sudah dikenal dalam lingkungan pesantren karena pernah menimba ilmu di bawah asuhan Kiai Dede.
Menurut pihak pesantren, kedekatan lingkungan dan kesamaan visi keagamaan menjadi salah satu faktor yang membuat keputusan tersebut akhirnya diambil.
Restu yang Diberikan di Pelaminan
Momen yang paling menjadi sorotan adalah ketika istri pertama tidak hanya hadir dalam prosesi pernikahan, tetapi juga duduk berdampingan dengan istri kedua di pelaminan.
Dalam sejumlah video yang beredar, ia bahkan terlihat menyampaikan restu secara langsung dalam bahasa Sunda, disertai ungkapan rasa syukur dan doa agar rumah tangga yang baru dibangun membawa kebaikan bagi semua pihak.
Istri pertama juga disebut berharap agar keputusan tersebut menjadi jalan bagi dirinya untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT serta memperkuat nilai-nilai kehidupan keluarga.
Tujuan Disebut untuk Mendukung Dakwah
Pengurus pesantren menegaskan bahwa pernikahan ini tidak terlepas dari konteks kehidupan dakwah di lingkungan pesantren.
Menurut Solehudin, keputusan tersebut juga dikaitkan dengan upaya memperkuat peran keluarga dalam mendukung aktivitas pendidikan dan dakwah di pesantren.
“Tujuannya untuk dakwah, untuk menyamakan persepsi dalam mengurus pesantren dan umat,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa proses tersebut berlangsung tanpa paksaan dari pihak mana pun, melainkan melalui kesepakatan keluarga.
Reaksi Warganet Beragam
Viralnya video ini memicu berbagai reaksi di media sosial. Sebagian warganet mengaku kagum dengan keteguhan dan sikap istri pertama, namun tidak sedikit pula yang mempertanyakan narasi yang berkembang di ruang publik.
Sejumlah komentar di akun Instagram @bandung.banget memperlihatkan perdebatan pandangan masyarakat.
“Gk ada urgent-nya sih ini…” tulis akun @wid***
“Kalo begini seperti dinormalisasi jadinya…” tulis akun @tyt***
“Wanita jadi hadiah… Astaghfirullah,” tulis akun @nad***
“Perbudakan dikemas dengan agama,” tulis akun @faj***
Perdebatan tersebut menunjukkan bahwa peristiwa ini tidak hanya menjadi konsumsi viral semata, tetapi juga memunculkan diskusi sosial yang lebih luas di masyarakat.
Masih Jadi Sorotan Publik
Hingga saat ini, video pernikahan tersebut masih terus beredar luas dan menjadi bahan perbincangan di berbagai platform media sosial.
Belum ada keterangan tambahan dari pihak keluarga maupun pesantren di luar klarifikasi yang telah disampaikan. Publik pun masih menantikan kejelasan lebih lanjut terkait konteks lengkap dari peristiwa yang viral ini.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









