bukamata.id – Fasilitas kesehatan publik kembali menjadi sorotan tajam setelah sebuah keluhan dari warga Soreang mendadak viral di jagat maya. Pengalaman pahit ini menimpa seorang ibu yang tengah berjuang melawan serangan asma akut, namun terpaksa gigit jari lantaran akses perawatan medis di RSUD Otto Iskandar Dinata (Otista) Soreang ditolak dengan dalih kapasitas kamar yang telah sesak.
Pihak keluarga pasien tak mampu menyembunyikan rasa kecewanya. Padahal saat tiba di rumah sakit, kondisi pasien sudah sangat darurat dan membutuhkan tindakan medis instan seperti pemberian oksigen atau terapi uap (nebulizer).
Keluarga sangat menyesalkan respons pihak rumah sakit, mengingat kasus gangguan pernapasan berat semestinya masuk dalam kategori kegawatdaruratan utama yang wajib didahulukan, bukan justru diabaikan karena kendala fasilitas.
Klarifikasi dan Permintaan Maaf Manajemen RSUD Otista
Guna meredam kegaduhan dan meluruskan simpang siur di media sosial, Direktur Utama RSUD Otista, dr. Yuli Irnawaty Morjasari, langsung turun tangan membeberkan kronologi serta kondisi riil operasional rumah sakit saat insiden berlangsung.
Manajemen membenarkan adanya lonjakan pasien di Unit Gawat Darurat (UGD) yang memicu terjadinya antrean panjang, sehingga tenaga kesehatan (nakes) terpaksa menerapkan sistem skala prioritas.
“Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan kepada pihak keluarga dan pasien, karena pada saat itu IGD kami pasien sedang banyak hingga menumpuk. Sehingga kami harus melakukan prioritas dalam penanganan pasien,” ungkap Yuli dikutip dari akun @infotibanjaran.id Rabu (20/5/2026).
Nakes Terapkan Skala Prioritas, Rumah Sakit Janji Benahi Fasilitas
Yuli menjelaskan lebih lanjut bahwa situasi pelik tersebut memaksa petugas medis di lapangan untuk mendahulukan pasien yang telah tiba lebih awal. Akibatnya, pasien yang baru masuk mau tidak mau harus mengantre untuk mendapatkan giliran penanganan.
“Kami sangat memahami pasien atau keluarga cemas dengan keadaan penyakitnya, tapi nakes juga harus melakukan prioritas (menangani pasien yang sudah sebelumnya datang), jadi pasien harus menunggu,” lanjutnya.
Belajar dari pemblokiran pelayanan ini, pihak manajemen berjanji akan menjadikan peristiwa tersebut sebagai momentum evaluasi besar-besaran. Langkah konkret yang disiapkan antara lain mendongkrak daya tampung ruangan serta memperluas jangkauan layanan medis agar kejadian serupa tidak terulang.
“Tapi kami mungkin mengerti kepercayaan pasien untuk datang ke IGD, sehingga kami akan lakukan perbaikan ke depannya, dengan melakukan penambahan kapasitas hingga perluasan pelayanan kesehatan,” tandasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










