bukamata.id – Dunia harus bersiap menghadapi gejolak iklim yang ekstrem dalam waktu dekat. Berdasarkan data terbaru dari berbagai lembaga meteorologi global, fenomena El Nino yang sedang dalam proses pembentukan diproyeksikan bakal menjadi yang paling masif dan kuat yang pernah tercatat dalam sejarah modern.
Prediksi dari European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) cukup mencengangkan. Suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator bagian tengah diperkirakan melonjak hingga 3 derajat Celsius di atas angka rata-rata pada Desember 2026 mendatang. Bahkan, sejumlah skenario ekstrem memprediksi angka tersebut bisa menembus ambang batas 4 derajat Celsius.
Jika skenario ini menjadi kenyataan, maka intensitas El Nino tahun ini akan melampaui rekor gabungan dari periode 1997-1998 serta 2015-2016, yang kala itu hanya menyentuh angka 2,3 derajat Celsius di atas rata-rata.
“Hampir tiap skenario kini melampaui +3˚C, dengan sekelompok skenario ekstrem melebihi +4˚C. Prospek ini sekarang menggambarkan El Nino terkuat yang pernah tercatat,” tulis Ben Noll, penulis cuaca global di The Washington Post.
Mengapa El Nino Kali Ini Begitu Berbahaya?
Secara alami, El Nino merupakan fase hangat dari siklus El Nino-Osilasi Selatan (ENSO) yang berulang setiap dua hingga tujuh tahun. Fenomena ini ditandai dengan naiknya suhu permukaan laut di Pasifik tengah dan timur, yang kemudian memicu gangguan pada pola angin pasat serta curah hujan di seluruh dunia.
Dampaknya bukan sekadar perubahan cuaca lokal, melainkan gangguan sistemik terhadap stabilitas suhu global. Kita tentu masih ingat bagaimana El Nino periode Juni 2023 hingga April 2024 menjadi katalisator yang membuat 2024 dinobatkan sebagai tahun terpanas dalam sejarah, bahkan untuk pertama kalinya menembus batas kenaikan 1,5 derajat Celsius sesuai ambang batas Perjanjian Paris.
Peringatan Keras dari PBB
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) telah mengeluarkan data terbaru pada 2 Juni lalu, yang menegaskan bahwa probabilitas terbentuknya El Nino mencapai 80% sebelum September, dan akan melonjak hingga 90% sebelum November 2026. Menanggapi ancaman ini, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres memberikan pernyataan yang sangat lugas.
“Sainsnya sudah jelas: El Nino akan tiba di depan mata kita dalam beberapa bulan mendatang dengan kepastian 90%. Dunia harus menyikapinya sebagai peringatan iklim yang mendesak,” kata Sekjen PBB António Guterres.
Guterres juga memberikan analogi yang cukup mencekam mengenai dampak yang akan ditimbulkan oleh akumulasi panas ini bagi planet kita.
“Kondisi El Nino akan menyiramkan bensin ke kobaran api dunia yang terus memanas. Dampaknya akan menghantam lebih keras, menyebar lebih jauh, dan melintasi batas-batas negara dengan kecepatan menghancurkan,” tambahnya.
Sebagai jalan keluar, Guterres menyerukan urgensi perubahan kebijakan global yang fundamental.
“Satu-satunya respons yang efektif adalah tindakan iklim yang setara dengan krisis yang ada yakni mengakhiri kecanduan terhadap bahan bakar fosil, mempercepat peralihan ke energi terbarukan, melindungi kelompok paling rentan, dan menyediakan sistem peringatan dini bagi semua orang,” imbuhnya.
Krisis ini adalah pengingat bahwa ketangguhan kita dalam menghadapi perubahan iklim akan segera diuji dalam hitungan bulan ke depan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










