bukamata.id – Dunia maya kembali dihebohkan dengan beredarnya sebuah video yang menampilkan seorang mutawif atau pembimbing jemaah umrah asal Indonesia. Video tersebut dengan cepat menjadi viral di berbagai platform media sosial setelah ucapan sang pembimbing kepada jemaah lanjut usia (lansia) dinilai kurang pantas dan menuai kecaman luas dari warganet. Kasus ini membuka ruang diskusi yang lebih luas mengenai standar etika komunikasi, profesionalisme, serta pentingnya pendekatan humanis dalam melayani tamu-tamu Allah di Tanah Suci, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia.
Kronologi dan Isi Video yang Memicu Perdebatan
Dalam rekaman video yang beredar luas di dunia maya, tampak seorang mutawif sedang berdiri bersama sejumlah jemaah di dalam sebuah lift. Di antara rombongan tersebut, terlihat seorang pria paruh baya dan seorang perempuan lansia yang harus menggunakan kursi roda untuk mendukung mobilitas mereka setelah menyelesaikan rangkaian ibadah umrah.
Alih-alih menciptakan suasana yang menenangkan atau memberikan apresiasi atas perjuangan jemaah lansia tersebut, mutawif justru melontarkan nasihat dengan nada yang dinilai menyindir. Ia menyampaikan pandangannya agar masyarakat tidak menunda keberangkatan umrah hingga usia senja. Namun, diksi dan nada bicara yang digunakan dinilai menyinggung kondisi fisik jemaah lansia.
“Kalau bisa jangan berangkat umrah pas tua-tua. Nah, harus nambah kursi, dikit-dikit kursi, itu sudah duit, nggak ada yang gratis ini,” ujar mutawif tersebut dalam video yang memicu polemik.
Tidak berhenti sampai di situ, ia kembali mempertegas pernyataannya dengan menyinggung pola pikir masyarakat yang dianggapnya baru menunaikan ibadah umrah setelah masa tua dan mapan secara materi.
“Tua numpuk dulu harta, beli rumah, beli mobil, umrahnya tua, ternyata di sini pingsan, dikit-dikit kursi, dikit-dikit sakit,” tambahnya.
Gelombang Kecaman dan Suara Kritis Warganet
Potongan video tersebut dengan cepat memantik gelombang reaksi negatif dari warganet. Mayoritas mengecam ucapan sang mutawif karena dinilai tidak memiliki empati dan kurang sensitif terhadap realitas psikologis serta finansial jemaah lansia.
Banyak warganet yang mengingatkan bahwa kesempatan dan kemampuan finansial setiap individu untuk berkunjung ke Baitullah sangatlah bervariasi. Tidak sedikit umat Islam di Indonesia yang harus berjuang selama puluhan tahun menabung dari hasil jerih payah kecil, sehingga baru mendapatkan panggilan serta kecukupan rezeki di usia lanjut.
Gelombang kritik ini semakin tajam tatkala warganet menyoroti esensi dasar dari profesi seorang mutawif itu sendiri. Salah satu komentar yang paling disoroti publik berbunyi:
“Mas, jenengan kalau nggak ada yang umroh, nggak dapat gaji, mas. Itu orang tua yang umroh, rezekinya sampean nikmatin.”
Komentar tersebut dengan telak menyadarkan sang mutawif bahwa kehadiran jemaah—tanpa memandang usia atau keterbatasan fisik—merupakan sumber mata pencaharian mereka. Warganet menilai bahwa melayangkan keluhan terbuka terhadap orang-orang yang justru mendatangkan rezeki adalah tindakan yang kurang elok dan nir-rasa syukur.
Selain itu, warganet juga memberikan edukasi kepada publik mengenai sistem pemberangkatan ibadah dari Tanah Air yang sering kali berada di luar kendali jemaah:
“Hey, heyy, coba deh, sebenarnya mereka juga nggak mau haji atau umroh di usia segitu. Tapi kalian bisa lihat, terkhususnya di Indonesia, yang naik haji misal dia daftar 2015, baru bakal berangkat 2025.”
Pernyataan ini membuka mata banyak pihak terhadap masalah antrean panjang (waiting list) perjalanan ibadah di Indonesia, khususnya untuk haji reguler yang memakan waktu tunggu hingga bertahun-tahun. Kondisi inilah yang menjadi jawaban logis mengapa sebagian besar jemaah asal Indonesia baru bisa menginjakkan kaki di Tanah Suci pada usia senja. Mereka bukanlah sengaja menunda-nunda karena malas, melainkan harus menunggu giliran masa tunggu yang panjang, ditambah dengan proses menabung bertahun-tahun dari hasil kerja keras seumur hidup.
Warganet juga menilai bahwa substansi pesan mutawif—yakni pentingnya menjaga kesehatan fisik—sebenarnya adalah hal yang baik, namun harus dibalut dengan bahasa yang santun, edukatif, dan penuh kasih sayang, bukan dengan nada menyudutkan.
Respons Tegas Gubernur Sumatera Selatan: Soroti Jemaah Asal Komering
Dugaan semakin mengerucut ketika jemaah lansia yang disindir dalam video tersebut dikabarkan berasal dari wilayah Komering, Sumatera Selatan. Hal ini memancing perhatian langsung dari Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, yang merupakan putra daerah asli Komering kelahiran Belitang, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur.
Dalam tanggapannya, Herman Deru dengan tegas meminta agar para pembimbing dan mutawif umrah senantiasa mengedepankan pelayanan prima, kesabaran, dan sikap profesional kepada seluruh jemaah tanpa terkecuali, termasuk kepada para lansia yang membutuhkan perhatian ekstra.
“Kalau berita itu benar, saya minta para pembimbing, para mutawif, jangan ekspresiflah melayani tamu-tamu itu. Layani dengan baik. Kalau ada yang kurang baik, omongin dengan keluarganya, apalagi orang-orang yang syukur yang pengen beribadah,” ujar Herman Deru.
Gubernur Sumsel ini juga mengingatkan bahwa tugas utama seorang mutawif adalah membimbing dan melayani, bukan malah mengeluh secara terbuka yang dapat mencoreng nama baik biro perjalanan tempat mereka bernaung.
“Jadi itulah tugasnya. Jangan sampai merusak nama company, nama perusahaan tempat bernaung,” tegasnya, sekaligus menekankan pentingnya menjunjung tinggi budaya saling menghormati kepada orang tua yang sedang menunaikan rukun Islam kelima tersebut.
Refleksi: Pentingnya Etika Komunikasi dan Peran Mutawif
Peristiwa viral ini memberikan pelajaran berharga bagi seluruh ekosistem penyelenggaraan ibadah haji dan umrah di Indonesia. Peran seorang mutawif sangatlah krusial; mereka bukan sekadar pemandu arah, melainkan wajah terdepan dari biro perjalanan yang menjadi tempat bersandar jemaah selama berada di lingkungan asing.
Bagi jemaah lansia, perjalanan ke Tanah Suci sering kali menjadi momen emosional yang penuh tantangan fisik dan mental. Oleh karena itu, pendekatan komunikasi yang empatik, sabar, dan penuh kehangatan adalah kunci utama. Kritik atau arahan teknis terkait kondisi fisik seharusnya disampaikan melalui jalur komunikasi yang bijak, privat, dan berkoordinasi langsung dengan pihak keluarga pendamping.
Kasus ini diharapkan menjadi momentum evaluasi bagi para penyelenggara perjalanan ibadah umrah untuk memperketat pembekalan etika pelayanan (service excellence) bagi para mutawif mereka, sehingga kejadian serupa tidak terulang kembali dan kemuliaan tamu-tamu Allah tetap terjaga dengan baik.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









