bukamata.id – Koko, gorila dataran rendah barat yang dikenal dunia karena kemampuannya berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat, meninggal dunia pada 19 Juni 2018 dalam usia 46 tahun. Kepergiannya bukan sekadar kehilangan seekor satwa yang populer, tetapi juga menutup satu bab penting dalam kisah panjang hubungan manusia dengan dunia hewan.
Selama puluhan tahun, Koko menjadi perhatian para ilmuwan, media, dan masyarakat dunia. Ia dikenal karena kemampuan menggunakan bahasa isyarat, memahami sejumlah besar kosakata bahasa Inggris, menunjukkan emosi, menyayangi kucing, berinteraksi dengan manusia, bahkan menyampaikan respons terhadap berbagai persoalan yang dihadapinya.
Namun, di balik semua keunikan itu, ada satu pesan Koko yang hingga kini terasa semakin relevan: manusia harus memperbaiki dan melindungi bumi.
Pesan tersebut disampaikan Koko dalam sebuah video untuk konferensi perubahan iklim COP21 di Paris pada 2015. Melalui bahasa isyarat, Koko menyampaikan ajakan untuk melindungi bumi dan alam. The Gorilla Foundation menyebut Koko saat itu menjadi bagian dari kampanye Voice of Nature yang digagas bersama organisasi konservasi Prancis, Noé Conservation.
Dan menariknya, pesan itu disampaikan beberapa tahun sebelum dunia menghadapi rangkaian persoalan lingkungan yang semakin kompleks.
Koko, Gorila yang Mengubah Cara Manusia Melihat Hewan
Koko lahir di San Francisco Zoo pada 1971. Nama lengkapnya, Hanabiko, berasal dari bahasa Jepang yang berarti “anak kembang api”, karena kelahirannya bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat.
Saat masih kecil, Koko kemudian menjadi bagian dari proyek penelitian yang melibatkan psikolog hewan Francine “Penny” Patterson. Dari sinilah perjalanan panjang Koko dalam mempelajari komunikasi dengan manusia dimulai.
Koko dikenal mampu menggunakan ratusan hingga lebih dari seribu tanda dalam sistem bahasa isyarat yang diajarkan kepadanya. The Gorilla Foundation juga menyebut Koko mampu memahami lebih dari 2.000 kata bahasa Inggris.
Kemampuan tersebut membuat Koko menjadi salah satu gorila paling terkenal di dunia.
Tetapi yang membuat Koko begitu istimewa bukan semata jumlah tanda yang dapat digunakannya.
Koko membuat manusia bertanya ulang tentang batas kecerdasan, emosi, empati, dan komunikasi pada hewan.
Ia menunjukkan ekspresi senang, sedih, marah, penasaran, bahkan kehilangan. Ia memiliki benda-benda favorit, menyukai permainan, dan mempunyai hubungan emosional dengan hewan lain.
Dengan kata lain, Koko tidak lagi sekadar dipandang sebagai objek penelitian. Bagi jutaan orang, ia menjadi sosok yang terasa memiliki kepribadian.
Kisah Koko dan Kucing yang Menyentuh Dunia
Salah satu kisah Koko yang paling terkenal adalah persahabatannya dengan seekor anak kucing bernama All Ball.
Koko dikenal sangat menyukai kucing. Ketertarikannya bahkan bermula dari buku-buku bergambar yang menampilkan kucing.
Pada 1984, Koko mendapatkan kesempatan memilih anak kucing sebagai hadiah ulang tahun. Ia kemudian memilih seekor kucing yang diberi nama All Ball.
Hubungan keduanya menjadi sangat dekat.
Koko menggendong, memeluk, dan memperlakukan All Ball dengan penuh kasih sayang. Foto Koko bersama anak kucing tersebut kemudian menjadi salah satu gambaran paling ikonik tentang dirinya.
Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung selamanya.
All Ball kemudian meninggal setelah tertabrak mobil. Koko menunjukkan kesedihan yang kemudian menjadi salah satu kisah paling emosional dalam perjalanan hidupnya.
Bagi manusia, kehilangan hewan kesayangan adalah pengalaman yang sangat menyakitkan.
Kisah Koko memperlihatkan bahwa ikatan emosional antara makhluk hidup tidak selalu dibatasi oleh perbedaan spesies.
Koko Bisa Merasakan Kehilangan
Kisah tersebut juga memperlihatkan sisi lain Koko yang membuat dunia tertarik: bagaimana ia merespons kematian.
Koko pernah diperlihatkan kerangka gorila dan ditanya apakah gorila tersebut masih hidup. Respons yang dilaporkan dari Koko berkaitan dengan kematian dan kondisi setelah tubuh tidak lagi hidup.
Dalam kehidupannya sendiri, Koko juga mengalami kehilangan sejumlah teman dekat.
Salah satunya adalah Michael, gorila jantan yang menjadi teman Koko. Michael meninggal pada 2000.
Kehilangan tersebut disebut memengaruhi kondisi Koko. Beberapa tahun kemudian, ketika Koko bertemu aktor dan komedian Robin Williams pada 2001, pertemuan itu menjadi momen yang sangat terkenal.
Koko yang sedang berduka dilaporkan kembali menunjukkan keceriaan ketika bermain bersama Williams.
Ketika Williams meninggal pada 2014, Koko kembali disebut menunjukkan reaksi emosional terhadap kabar tersebut.
Kisah-kisah itu membuat Koko semakin dikenal bukan hanya karena kecerdasannya, tetapi karena kemampuannya memperlihatkan hubungan emosional yang terasa begitu dekat dengan pengalaman manusia.
Bukan Sekadar Bisa Bahasa Isyarat
Popularitas Koko sering kali diringkas dalam satu kalimat: gorila yang bisa bahasa isyarat. Padahal, perjalanan Koko jauh lebih kompleks.
Ia dikenal mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi, menyukai permainan, mampu berinteraksi dengan manusia, serta menunjukkan ketertarikan terhadap musik dan berbagai benda di sekitarnya.
Koko juga dikenal memiliki selera humor.
Dalam salah satu interaksi dengan jurnalis National Geographic Cynthia Gorney pada 1985, Koko bahkan menggunakan sebuah tanda yang tidak sopan untuk menyebut Gorney. Ketika ditegur oleh Patterson, Koko menunjukkan bahwa ia bukan sekadar menerima tanda secara pasif, tetapi dapat menggunakan simbol dalam konteks interaksi sosial.
Meski demikian, kemampuan bahasa Koko juga menjadi bahan perdebatan ilmiah.
Sejumlah pengamat mempertanyakan sejauh mana Koko benar-benar memahami struktur bahasa seperti manusia dan sejauh mana responsnya dipengaruhi metode pelatihan serta interpretasi manusia.
The Gorilla Foundation sendiri menjelaskan bahwa video Koko untuk COP21 menggunakan naskah yang disiapkan Noé Conservation. Koko diberi kesempatan untuk berimprovisasi selama proses pembuatan, sementara hasil akhirnya diedit dari sejumlah rekaman.
Karena itu, pesan Koko tentang lingkungan perlu dibaca secara hati-hati: bukan sebagai bukti bahwa Koko memahami perubahan iklim persis seperti seorang manusia atau ilmuwan iklim, tetapi sebagai bagian dari eksperimen komunikasi lintas spesies dan kampanye konservasi.
Justru di situlah kisah Koko menjadi menarik.
Pesan Koko: “Perbaiki Bumi”
Pada 2015, Koko menjadi “Voice of Nature” dalam kampanye menjelang COP21 di Paris.
Melalui video tersebut, Koko menyampaikan pesan tentang manusia, alam, dan kebutuhan melindungi bumi. The Gorilla Foundation mengatakan Koko memahami inti pesan bahwa manusia merusak bumi serta spesies tumbuhan dan hewan dan bahwa masalah tersebut harus segera diperbaiki.
Pesan yang kemudian banyak beredar dari video tersebut berbunyi:
“Fix Earth. Help Earth. Hurry. Protect Earth.”
Artinya kurang lebih: “Perbaiki bumi. Bantu bumi. Segera. Lindungi bumi.”
Pesan itu bukanlah “kata-kata terakhir Koko sebelum meninggal”, sebagaimana pernah muncul dalam berbagai unggahan media sosial. Video tersebut dibuat dan dipublikasikan pada 2015, sekitar tiga tahun sebelum Koko meninggal.
Namun, meski bukan pesan terakhirnya, kalimat tersebut justru terasa semakin kuat ketika dilihat dari kondisi dunia sekarang.
Ketika Pesan Koko Bertemu Krisis Iklim
Pada 2015, ketika pesan Koko dibuat, perubahan iklim sudah menjadi agenda global.
COP21 kemudian melahirkan Paris Agreement, sebuah kesepakatan internasional yang menjadi tonggak penting dalam upaya dunia menghadapi perubahan iklim.
Lebih dari satu dekade kemudian, persoalan lingkungan belum selesai.
Perubahan iklim terus menjadi tantangan global. Gelombang panas, cuaca ekstrem, kebakaran hutan, banjir, kekeringan, kenaikan muka laut, kehilangan keanekaragaman hayati, serta kerusakan habitat menunjukkan bahwa persoalan lingkungan bukan lagi sekadar perdebatan tentang masa depan.
Dampaknya sudah hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Di Indonesia, persoalan lingkungan bahkan memiliki wajah yang sangat dekat dengan masyarakat: kekeringan yang mengurangi ketersediaan air, banjir yang mengganggu aktivitas warga, longsor, kerusakan hutan, kebakaran lahan, hingga ancaman terhadap ekosistem pesisir.
Dalam konteks seperti itu, pesan sederhana Koko terdengar seperti sebuah pengingat:
Waktu tidak berjalan mundur.
“Manusia Mencintai Bumi, Tapi…”
Ada ironi besar dalam pesan Koko.
Di satu sisi, manusia adalah satu-satunya spesies yang mampu membangun teknologi luar biasa, mempelajari iklim secara ilmiah, memetakan perubahan suhu bumi, menciptakan energi terbarukan, dan merumuskan kesepakatan internasional.
Namun di sisi lain, aktivitas manusia juga menjadi salah satu faktor utama yang mengubah sistem bumi.
Kita menebang hutan untuk membuka lahan.
Kita membakar bahan bakar fosil untuk energi.
Kita menghasilkan limbah dalam jumlah besar.
Kita mengonsumsi sumber daya alam jauh lebih cepat daripada kemampuan sebagian ekosistem untuk memulihkannya.
Dan ketika habitat hilang, bukan hanya manusia yang kehilangan tempat tinggal. Hewan seperti gorila juga menjadi korban.
Di sinilah pesan Koko menemukan maknanya.
Ia tidak berbicara tentang angka konsentrasi karbon dioksida atau grafik kenaikan temperatur global.
Ia berbicara dari perspektif yang jauh lebih sederhana:
bumi adalah rumah bersama.
Gorila Koko dan Ancaman yang Nyata bagi Spesiesnya
Koko merupakan gorila dataran rendah barat (western lowland gorilla), salah satu kelompok gorila yang menghadapi tekanan serius di habitat alaminya.
Perburuan, kehilangan habitat, penyakit, dan tekanan terhadap ekosistem menjadi ancaman bagi keberlangsungan populasi gorila.
Karena itulah Koko kemudian memiliki posisi unik dalam kampanye konservasi.
Ia menjadi jembatan antara manusia dan satwa.
Manusia melihat wajah Koko, mendengar kisah hidupnya, melihat bagaimana ia menyayangi kucing, merasakan kesedihannya ketika kehilangan teman, lalu perlahan menyadari bahwa satwa liar bukan sekadar angka dalam laporan konservasi.
Di balik istilah seperti “keanekaragaman hayati” terdapat makhluk hidup yang memiliki kehidupan, hubungan sosial, habitat, dan kebutuhan untuk bertahan hidup.
Koko Mengajarkan Empati, Bukan Sekadar Bahasa
Ada satu hal yang mungkin lebih penting daripada kemampuan Koko menggunakan bahasa isyarat.
Empati.
Koko membuat manusia melihat bahwa komunikasi tidak selalu harus dilakukan melalui kata-kata.
Seekor gorila tidak perlu berbicara seperti manusia untuk menunjukkan rasa kehilangan.
Tidak perlu menggunakan kalimat panjang untuk memperlihatkan kasih sayang.
Tidak perlu memahami seluruh teori perubahan iklim untuk menjadi simbol bahwa alam sedang membutuhkan perhatian manusia.
Dalam konteks ini, Koko menjadi semacam cermin.
Manusia mempelajari Koko untuk memahami hewan.
Tetapi semakin lama, manusia justru menemukan banyak hal tentang dirinya sendiri.
Tentang kasih sayang.
Tentang kehilangan.
Tentang persahabatan.
Tentang kesepian.
Dan akhirnya, tentang tanggung jawab.
Koko Sudah Pergi, Pesannya Belum
Koko meninggal dalam tidurnya pada 19 Juni 2018. The Gorilla Foundation kemudian menyatakan bahwa warisan Koko akan diteruskan melalui kegiatan konservasi, penelitian komunikasi, dan upaya perlindungan gorila.
Enam tahun setelah kematiannya, kisah Koko tetap hidup.
Bukan karena manusia masih terpesona oleh seekor gorila yang bisa menggunakan bahasa isyarat.
Lebih dari itu, Koko meninggalkan pertanyaan yang jauh lebih besar:
Jika manusia sudah mengetahui bumi sedang menghadapi masalah, mengapa perubahan berjalan begitu lambat?
Kalimat “Fix Earth. Help Earth. Hurry” memang lahir dari sebuah kampanye lingkungan menjelang COP21. Tetapi ketika dunia menghadapi krisis iklim dan kehilangan keanekaragaman hayati, pesan tersebut memperoleh makna baru.
Bukan karena Koko memiliki jawaban ilmiah untuk semua persoalan lingkungan.
Melainkan karena pesan itu mengingatkan manusia pada sesuatu yang sebenarnya sederhana: kita tidak hidup sendirian di bumi.
Koko adalah gorila.
Bumi adalah rumahnya.
Bumi juga rumah manusia.
Dan mungkin, setelah bertahun-tahun manusia mencoba mengajari Koko bahasa untuk memahami pikirannya, justru manusia yang akhirnya perlu belajar mendengarkan pesan paling sederhana dari seekor gorila:
Lindungi bumi. Bantu bumi. Jangan menunggu terlalu lama.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










