bukamata.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan penyebab cuaca panas ekstrem yang terjadi beberapa hari terakhir di Bandung dan sejumlah wilayah Indonesia. Informasi ini disampaikan melalui akun Instagram resmi @infobmkg, Rabu (18/3/2026).
BMKG menegaskan bahwa kondisi panas yang dirasakan masyarakat merupakan fenomena normal dan rutin setiap tahun, terutama pada periode peralihan dari musim hujan ke musim kemarau.
Faktor Astronomi: Matahari Mendekati Ekuator
Secara ilmiah, salah satu faktor utama adalah posisi Matahari yang semakin dekat dengan garis ekuator. Fenomena ini meningkatkan intensitas radiasi Matahari yang diterima permukaan bumi.
“Jaraknya yang seolah ‘tegak lurus’ di atas kepala bikin suhu udara melonjak,” tulis BMKG dalam unggahannya, dikutip Kamis (19/3/2026).
Saat Matahari tampak berada tepat di atas kepala, suhu udara meningkat signifikan, membuat cuaca terasa sangat panas, terutama di wilayah Bandung dan sekitarnya.
Faktor Meteorologi: Berkurangnya Tutupan Awan
Selain faktor astronomi, BMKG juga menyebut fenomena meteorologi sebagai penyebab. Berkurangnya tutupan awan membuat radiasi Matahari langsung mencapai permukaan bumi tanpa hambatan, sehingga memperkuat efek panas yang dirasakan masyarakat.
Kombinasi faktor astronomi dan meteorologi ini terjadi bersamaan dengan masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau, yang dikenal sebagai periode puncak panas tahunan.
Gerak Semu Tahunan Matahari dan Prediksi Puncak Panas
BMKG menjelaskan fenomena ini berkaitan dengan Gerak Semu Tahunan Matahari, yaitu pergerakan Matahari dari belahan bumi selatan menuju belahan utara.
Peristiwa ini diprediksi akan mencapai puncak antara 21–23 Maret 2026, saat Matahari tepat berada di atas garis ekuator. Intensitas penyinaran Matahari akan meningkat, sehingga suhu udara diperkirakan semakin panas.
Tips Menghadapi Cuaca Panas Ekstrem
BMKG mengimbau masyarakat melakukan langkah antisipasi untuk menjaga kesehatan selama cuaca panas ekstrem:
- Perbanyak konsumsi air putih untuk mencegah dehidrasi
- Lindungi kulit dari paparan sinar UV langsung
- Gunakan pakaian berbahan katun yang menyerap keringat
- Batasi aktivitas di luar ruangan pada siang hari jika tidak penting
Penerapan langkah-langkah ini diharapkan dapat mengurangi dampak panas ekstrem dan menjaga kondisi tubuh tetap sehat. Memahami fenomena ini sebagai siklus tahunan yang wajar juga membantu masyarakat lebih siap menghadapi cuaca panas menyengat.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










