BUKAN CUMA REPOT, INI KELEWATAN! Bawa Sapi ke Rinjani Demi Logistik Mewah, SOP Dijebol!
PENDENDAKI SULTAN BIKIN ULAH?! BAWA SAPI HIDUP KE RINJANI
bukamata.id – Sebuah video yang memperlihatkan seekor sapi dibawa melintasi jalur pendakian Gunung Rinjani kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial. Rekaman tersebut memancing rasa penasaran sekaligus kritik dari warganet setelah diketahui hewan itu akhirnya disembelih di kawasan Goa Susu, salah satu titik ikonik di sekitar Danau Segara Anak.
Video tersebut memperlihatkan bagaimana seekor sapi dipaksa melewati jalur berbatu dan menanjak di Jalur Torean, salah satu rute pendakian Gunung Rinjani yang dikenal memiliki panorama indah sekaligus medan paling menantang.
Belakangan terungkap, sapi itu bukan dibawa tanpa tujuan. Hewan tersebut merupakan bagian dari logistik konsumsi untuk rombongan pendakian yang terdiri dari 10 tamu dan 14 porter.
Namun, rencana membawa sapi hingga lokasi perkemahan tidak berjalan sesuai harapan.
Medan Ekstrem Jalur Torean Membuat Perjalanan Sapi Terhenti
Menyiapkan logistik untuk pendakian di Gunung Rinjani memang bukan pekerjaan sederhana. Jalur yang panjang, tanjakan curam, bebatuan licin, hingga kondisi cuaca yang berubah-ubah membuat seluruh kebutuhan logistik harus diperhitungkan secara matang.
Dalam pendakian tersebut, rombongan berupaya membawa seekor sapi hidup melalui Jalur Torean sebagai persediaan konsumsi selama kegiatan berlangsung.
Akan tetapi, perjalanan sapi akhirnya harus dihentikan ketika rombongan tiba di kawasan Cikararat atau Goa Susu.
Lokasi tersebut berada di sekitar kawasan Danau Segara Anak dan dikenal sebagai salah satu titik favorit pendaki karena memiliki sumber uap panas alami yang keluar dari celah-celah bebatuan vulkanik.
Melihat kondisi medan yang semakin berat dan tidak memungkinkan dilalui oleh sapi, rombongan akhirnya mengambil keputusan untuk menyembelih hewan tersebut di lokasi.
Daging sapi kemudian diolah menjadi konsumsi bagi seluruh anggota rombongan selama berada di kawasan Gunung Rinjani.
Video Viral Picu Beragam Reaksi Warganet
Setelah video tersebut beredar luas, kolom komentar media sosial dipenuhi beragam tanggapan dari warganet.
Sebagian menilai membawa sapi hidup ke jalur pendakian merupakan tindakan yang merepotkan dan tidak lazim dilakukan saat mendaki gunung.
Komentar tersebut dikutip dari unggahan Instagram @gedflip.
“Naik gunung sebisa mungkin nyari yang praktis. Eh orang berduit datang dengan keribetannya,” tulis akun @cho***.
Warganet lain menyoroti kondisi sapi yang harus melewati jalur pendakian sebelum akhirnya disembelih.
“Ditarik sana sini, disuruh naik gunung, sampai di puncak disembelih. Ribet banget jadi orang,” tulis akun @cmd***.
Sementara komentar lainnya mempertanyakan aspek perlakuan terhadap hewan sebelum proses penyembelihan.
“Masih bisa dibilang halal enggak ya dagingnya? Soalnya kayak ‘disiksa’ dulu sebelum disembelih,” tulis akun @dea***.
Komentar-komentar tersebut mencerminkan beragam sudut pandang masyarakat, mulai dari persoalan etika membawa hewan ke kawasan konservasi, kesejahteraan hewan, hingga tata cara pendakian yang dinilai semestinya lebih ramah lingkungan.
Balai TNGR: Video Itu Kejadian Lama dan Melanggar SOP
Menanggapi viralnya video tersebut, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) memberikan penjelasan resmi.
Kepala Subbagian Tata Usaha Balai TNGR, Astekita Ardiaristo, membenarkan bahwa video tersebut memang diambil di kawasan Gunung Rinjani.
Namun, ia menegaskan peristiwa tersebut bukan kejadian baru, melainkan berlangsung sekitar satu tahun lalu.
“Peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang berlangsung sekitar satu tahun lalu dan telah menjadi bahan evaluasi bagi kami,” ujarnya, Senin (27/7/2026).
Menurut Astekita, tindakan membawa hewan ternak ke jalur pendakian tidak sesuai dengan aturan yang berlaku di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani.
Ia menegaskan aktivitas tersebut termasuk pelanggaran terhadap Standard Operating Procedure (SOP) Pendakian.
“Perlu kami sampaikan bahwa tindakan tersebut tidak sesuai dengan SOP Pendakian yang berlaku,” tegasnya.
Membawa Hewan dan Menyembelih di Kawasan Taman Nasional Dilarang
Balai TNGR menegaskan bahwa kawasan konservasi memiliki aturan ketat untuk menjaga kelestarian ekosistem.
Karena itu, membawa hewan ternak ke dalam kawasan pendakian, terlebih melakukan penyembelihan di area taman nasional, tidak diperbolehkan.
Imbauan tersebut berlaku bagi seluruh pihak yang terlibat dalam aktivitas pendakian, mulai dari calon pendaki, porter, pemandu wisata (guide), Trekking Organizer (TO), hingga masyarakat sekitar kawasan.
“Kami mengimbau untuk tidak membawa binatang atau satwa ke dalam kawasan. Apalagi memotongnya di dalam kawasan karena melanggar SOP,” kata Astekita.
Aturan tersebut dibuat sebagai bagian dari upaya menjaga kebersihan kawasan, mencegah gangguan terhadap satwa liar, serta melindungi ekosistem yang ada di Gunung Rinjani.
Pengawasan Jalur Pendakian Akan Diperketat
Balai TNGR menyatakan insiden tersebut menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan sistem pengawasan di seluruh jalur pendakian.
Pihak pengelola akan memperkuat patroli rutin guna mencegah terulangnya pelanggaran serupa di masa mendatang.
Langkah tersebut juga mencakup evaluasi terhadap mekanisme pemeriksaan logistik di pintu masuk pendakian agar setiap aktivitas sesuai dengan prosedur yang berlaku.
“Kami akan meningkatkan pengawasan dan patroli rutin untuk mencegah pelanggaran terjadi,” tegas Astekita.
Selain memperketat pengawasan, TNGR juga mengajak masyarakat, porter, pemandu wisata, serta pelaku usaha pendakian untuk ikut berperan aktif menjaga kawasan konservasi.
Partisipasi publik dinilai penting agar setiap dugaan pelanggaran dapat segera dilaporkan sehingga kelestarian Gunung Rinjani tetap terjaga.
Mengenal Gunung Rinjani, Gunung Berapi Ikonik di Lombok
Gunung Rinjani merupakan salah satu gunung berapi aktif paling terkenal di Indonesia yang berada di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dengan ketinggian mencapai 3.726 meter di atas permukaan laut (mdpl), Gunung Rinjani menjadi gunung tertinggi kedua di Indonesia setelah Puncak Jaya di Papua.
Keindahan alam Gunung Rinjani membuat kawasan ini menjadi salah satu destinasi favorit para pendaki dari dalam maupun luar negeri. Gunung ini dikenal memiliki panorama luar biasa, mulai dari hamparan savana luas, hutan tropis, jalur pendakian menantang, hingga Danau Segara Anak yang berada di dalam kawasan kaldera Rinjani.
Gunung Rinjani berada dalam kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), wilayah konservasi yang mencakup beberapa kabupaten di Pulau Lombok, yaitu Lombok Timur, Lombok Utara, dan Lombok Tengah.
Selain memiliki nilai wisata, Gunung Rinjani juga memiliki peran penting bagi masyarakat sekitar karena menjadi bagian dari ekosistem alam yang menjaga keseimbangan lingkungan di Pulau Lombok.
Jalur Pendakian Gunung Rinjani yang Menantang
Gunung Rinjani memiliki sejumlah jalur pendakian resmi dengan karakter medan yang berbeda-beda. Setiap jalur menawarkan pengalaman tersendiri bagi para pendaki.
Jalur Sembalun menjadi salah satu jalur paling populer karena menawarkan pemandangan padang savana yang luas. Jalur ini banyak dipilih pendaki yang ingin menuju puncak Rinjani karena memiliki pemandangan terbuka sejak awal perjalanan.
Sementara itu, Jalur Senaru terkenal dengan suasana hutan tropis yang lebat dan menjadi salah satu akses utama menuju Danau Segara Anak. Jalur ini menawarkan pengalaman berjalan di tengah pepohonan hijau dengan udara pegunungan yang sejuk.
Selain Sembalun dan Senaru, terdapat pula Jalur Torean yang belakangan menjadi sorotan setelah video sapi dibawa naik Gunung Rinjani viral di media sosial. Jalur Torean dikenal memiliki panorama alam yang indah, tetapi juga memiliki medan yang cukup ekstrem dengan jalur berbatu, tanjakan curam, serta beberapa bagian yang membutuhkan kehati-hatian ekstra.
Karakter medan inilah yang membuat aktivitas membawa logistik dalam jumlah besar, termasuk hewan ternak, menjadi tantangan tersendiri dan berpotensi melanggar aturan kawasan konservasi.
Pesona Danau Segara Anak dan Goa Susu Gunung Rinjani
Salah satu daya tarik utama Gunung Rinjani adalah Danau Segara Anak. Danau dengan air berwarna biru kehijauan ini berada di ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut dan menjadi lokasi favorit pendaki untuk beristirahat.
Di sekitar kawasan Danau Segara Anak terdapat beberapa lokasi menarik, salah satunya Goa Susu atau kawasan Cikararat yang dikenal memiliki sumber uap panas alami dari aktivitas vulkanik Gunung Rinjani.
Namun, sebagai bagian dari kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani, seluruh aktivitas di area tersebut tetap harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh pengelola. Termasuk larangan membawa hewan ternak maupun melakukan penyembelihan di dalam kawasan konservasi.
Keindahan Gunung Rinjani tidak hanya terletak pada puncaknya, tetapi juga pada kekayaan alam dan budaya yang ada di sekitarnya. Kawasan ini menjadi rumah bagi berbagai flora dan fauna serta memiliki nilai penting bagi masyarakat lokal Lombok.
Karena itu, setiap aktivitas di Gunung Rinjani harus dilakukan dengan memperhatikan prinsip pendakian ramah lingkungan. Pendaki, porter, maupun penyedia jasa wisata diharapkan dapat menjaga kebersihan, menaati aturan, dan menghormati kawasan konservasi.
Pendakian Bukan Sekadar Mencapai Puncak
Kasus viral sapi di Jalur Torean kembali mengingatkan bahwa aktivitas pendakian bukan hanya tentang mencapai puncak, tetapi juga tentang menghormati aturan yang berlaku di kawasan konservasi.
Gunung Rinjani merupakan salah satu taman nasional yang memiliki nilai ekologis tinggi. Setiap aktivitas di dalamnya harus mempertimbangkan keselamatan, kelestarian lingkungan, serta kepatuhan terhadap prosedur yang telah ditetapkan.
Viralnya video tersebut menjadi pengingat bahwa logistik pendakian, seberat apa pun kebutuhannya, tetap harus disesuaikan dengan regulasi pengelola kawasan agar tidak menimbulkan dampak terhadap lingkungan maupun pelanggaran terhadap aturan konservasi.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









