bukamata.id – Empat pengguna kursi roda mencoba naik ke trotoar halte Bus Rapid Transit (BRT) nonkoridor di Jalan Ibrahim Adjie, Kiaracondong, Kota Bandung. Tak satu pun bisa melakukannya sendiri. Mereka harus dibantu orang lain hanya untuk mencapai area trotoar.
Pemandangan itu terekam saat Komunitas Pejalan Kaki (Kopeka) Bandung menggelar kegiatan “Tamasya Trotoar”. Temuan mereka langsung mendapat tanggapan dari Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, yang berjanji akan meninjau ulang fasilitas tersebut bersama kontraktor BRT.
Kopeka Uji Langsung Halte BRT
Belasan anggota Kopeka turun langsung mencoba fasilitas publik di halte tersebut, empat di antaranya pengguna kursi roda. Hasilnya, kawan disabilitas kesulitan naik ke area trotoar karena aksesnya dinilai tidak mendukung kebutuhan mereka.
Ketua Kopeka, Muhammad Fadhil, mengatakan kegiatan “Tamasya Trotoar” bertujuan merasakan langsung kondisi trotoar dan fasilitas publik yang disediakan pemerintah.
“Kami sekarang lagi ngadain agenda tamasya trotoar. Tamasya trotoar halte BRT KW,” kata Fadhil di lokasi.
Disebut “BRT KW” karena Tak Ada Jalur Khusus
Fadhil menjelaskan, julukan “BRT KW” muncul karena sejumlah hak dasar pengguna dinilai belum terpenuhi. Salah satunya, tidak ada jalur khusus bus (bus lane) yang memisahkan BRT dari kendaraan lain.
“Kita bisa lihat tidak ada bus line yang memang mengutamakan untuk jalur BRT di sini,” ucapnya.
Hanya 8 Meter dari Perlintasan Kereta
Kopeka juga menyoroti lokasi halte yang terlalu dekat dengan perlintasan sebidang kereta api. Jarak antara halte dan perlintasan hanya sekitar 8 meter. Halte dibangun di atas trotoar selebar 55 sentimeter, dengan lebar masing-masing ruas jalan 6,35 meter. Adapun jarak antara halte arah selatan dan arah utara sekitar 13 meter.
Menurut Fadhil, halte yang berada di dekat perlintasan kereta api seharusnya diberi jarak lebih jauh.
“Kami ingin mengevaluasi dan memberikan rekomendasi kepada pemerintah. Gimana seharusnya apabila dekat jalur perlintasan kereta api itu harus dikasih jarak, minimal paling dekat 50 meter,” katanya.
Farhan: Mumpung Belum Beroperasi, Harus Di-review
Menanggapi temuan tersebut, Farhan mengaku sudah mengetahui keluhan soal trotoar dan halte yang sulit diakses kawan disabilitas. Ia akan berkoordinasi dengan pihak pelaksana proyek BRT agar fasilitas itu bisa diakses semua kalangan.
“Jadi, ini yang mesti kita bicarakan dan kita selesaikan bersama dengan para kontraktor BRT. Bagaimanapun juga, kita akan selalu mendukung agar akses disabilitas kepada transportasi umum itu berjalan dengan baik,” kata Farhan di Gedung Persis, Kota Bandung, Minggu (18/10/2026).
Meski begitu, perbaikan nantinya tetap harus menyesuaikan desain BRT Bandung Raya. Farhan belum bisa memastikan apakah trotoar dan halte tersebut akan dibongkar.
“Nah, kalau bongkar ulangnya, kita belum tahu, ya. Tapi kita lakukan review, kita lakukan penyesuaian. Karena bagaimanapun juga, mumpung belum operasional, maka sama-sama kita harus melakukan review,” ujarnya.
Halte BRT di Jalan Rajawali Juga Dikeluhkan
Keluhan soal halte BRT tidak hanya datang dari Kiaracondong. Farhan menyebut ada laporan dari Jalan Rajawali, di mana pembangunan halte BRT justru menutup akses kendaraan niaga menuju salah satu perusahaan logistik.
“Makanya saya lagi akan ngobrol dulu sama BRT, karena ada juga satu keluhan di Jalan Rajawali, yaitu halte BRT malah menutup jalan akses untuk kendaraan niaga ke salah satu tempat logistik, perusahaan logistik,” katanya.
Drainase Kiaracondong Dibenahi Lebih Dulu
Saat ini, Pemkot Bandung tengah fokus memperbaiki drainase di kawasan Kiaracondong agar tidak kumuh dan untuk mengantisipasi banjir.
“Sekarang kita bersihkan saja dulu. Yang paling penting, drainasenya dibersihkan dulu, sarang tikusnya dibuang dulu, sehingga nanti saluran air kotornya itu bisa masuk ke arah Sukapura. Sehingga nanti air dari jalan, kalau hujan, tidak masuk ke RW 1 Jayanti,” beber Farhan.
Trotoar Kiaracondong Bakal Dibuat Seperti Cicadas
Ke depan, Pemkot Bandung berencana menata trotoar di kawasan Kiaracondong agar seperti trotoar di Jalan Ahmad Yani, Cicadas. Namun, soal pendanaan masih akan dibahas lebih lanjut.
“Iya, kita akan bekerja sama dengan BRT untuk dibuat seperti Cicadas. Belum tahu. Kan masih kerja sama, baru ngobrol dulu,” pungkasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











