bukamata.id – Terminal Cicaheum resmi mengakhiri perannya sebagai terminal bus AKAP dan AKDP pada 26 Mei 2026. Keputusan ini menandai berakhirnya satu babak penting dalam sejarah transportasi Kota Bandung yang telah berlangsung selama lebih dari lima dekade.
Bagi sebagian orang, kabar ini mungkin hanya soal pemindahan layanan bus ke Terminal Leuwipanjang. Namun bagi ribuan perantau, sopir bus, pedagang, hingga warga Bandung, Cicaheum bukan sekadar terminal. Tempat ini adalah saksi bisu jutaan perjalanan, pertemuan, perpisahan, hingga perjuangan hidup yang berlangsung sejak era 1970-an.
Kini, terminal yang dahulu dikenal sebagai gerbang utama Bandung menuju Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Bali itu bersiap menjalani kehidupan baru sebagai depo Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya.
Terminal Cicaheum, Gerbang Timur Bandung Sejak Tahun 1970-an
Terminal Cicaheum dibangun pada 1974 dan diresmikan pada 23 Agustus 1975 oleh Wali Kota Bandung saat itu, R. Otje Djundjunan.
Lokasinya yang berada di Jalan Jenderal Ahmad Yani menjadikan terminal ini sebagai titik strategis bagi arus transportasi dari wilayah timur Pulau Jawa menuju Kota Bandung.
Selama puluhan tahun, hampir semua perjalanan bus dari arah Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, Purwokerto, Yogyakarta, Solo, Surabaya hingga Denpasar berakhir atau dimulai dari Cicaheum.
Terminal ini bahkan pernah menjadi salah satu terminal tersibuk di Jawa Barat.
Pada masa kejayaannya di era 1990-an hingga awal 2010-an, suasana Cicaheum nyaris tidak pernah sepi. Deretan bus berjejer selama 24 jam penuh. Penumpang memadati ruang tunggu. Pedagang asongan hilir mudik menawarkan makanan dan minuman.
Bagi para perantau, Cicaheum menjadi pintu pertama yang menyambut mereka ketika datang ke Bandung untuk mencari pekerjaan, kuliah, maupun mengadu nasib.
Dari Premanisme hingga Lokasi Syuting Preman Pensiun
Di balik romantisme masa kejayaannya, Cicaheum juga memiliki sisi kelam.
Terminal ini pernah dikenal sebagai salah satu titik rawan premanisme di Bandung. Pada era 1980-an hingga awal 2000-an, keberadaan kelompok preman menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan terminal.
Fenomena tersebut bahkan menginspirasi berbagai cerita populer, termasuk serial televisi Preman Pensiun yang menjadikan kawasan terminal sebagai salah satu latar utama.
Namun seiring waktu, wajah Cicaheum berubah. Penegakan hukum yang lebih kuat membuat praktik-praktik premanisme perlahan menghilang.
Para mantan “penguasa terminal” berganti profesi menjadi pedagang, sopir, atau pekerja informal lainnya.
Covid-19 Menjadi Titik Balik Kemunduran Cicaheum
Meski jumlah penumpang mulai menurun sebelum pandemi, pukulan terbesar datang saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia.
Aktivitas transportasi sempat berhenti total. Banyak perusahaan otobus mengalami kesulitan keuangan. Sebagian bahkan gulung tikar.
Kepala Terminal Cicaheum saat itu mencatat jumlah penumpang yang sebelumnya mencapai lebih dari 10 ribu orang per hari turun drastis menjadi hanya ratusan orang.
Jumlah operator bus juga terus berkurang. Jika dahulu terdapat lebih dari 50 perusahaan otobus aktif, kini hanya tersisa sekitar 20 operator. Kios-kios yang dulu ramai perlahan tutup. Banyak pedagang kehilangan pelanggan.
Terminal yang dulu hidup selama 24 jam berubah menjadi kawasan yang jauh lebih sepi dibanding masa kejayaannya.
Mengapa Terminal Cicaheum Ditutup?
Penutupan layanan AKAP dan AKDP bukan keputusan mendadak. Kebijakan tersebut merupakan bagian dari transformasi sistem transportasi Bandung Raya yang telah dirancang sejak lama.
Kepala Terminal Cicaheum, Asep Supriadi, mengatakan penghentian operasional dilakukan setelah adanya arahan dan surat edaran dari pemerintah pusat.
“Pengosongan kami terapkan setelah menerima surat edaran pemerintah pusat.”
Seluruh layanan bus antarkota kini dialihkan ke Terminal Leuwipanjang. Sekitar 85 hingga 100 armada bus mengalami migrasi ke terminal tersebut.
Rute-rute favorit seperti Bandung–Garut dan berbagai trayek menuju Jawa Tengah maupun Jawa Timur kini tidak lagi berangkat dari Cicaheum.
Leuwipanjang Kini Menjadi Pusat Bus AKAP dan AKDP Bandung
Dengan berakhirnya era Cicaheum, Terminal Leuwipanjang kini menjadi pusat utama seluruh layanan bus antarkota di Kota Bandung.
Puluhan perusahaan otobus telah memindahkan armadanya ke sana, antara lain:
- PO Budiman
- PO Gunung Harta
- PO Eka
- PO Sugeng Rahayu
- PO Kalingga Jaya
- Bandung Express
- KYM Trans
- 27 Trans
Kepala Terminal Leuwipanjang, Asep Hidayat, menyebutkan proses perpindahan berlangsung bertahap. Sekitar 80 persen armada telah berpindah sepenuhnya.
Artinya, untuk pertama kalinya dalam sejarah modern Kota Bandung, seluruh layanan bus antarkota ke arah barat maupun timur terkonsentrasi di satu terminal.
Terminal Cicaheum Akan Berubah Menjadi Depo BRT
Jika fungsi terminal bus antarkota berakhir, bukan berarti kawasan Cicaheum akan ditinggalkan. Justru sebaliknya. Lokasi tersebut diproyeksikan menjadi salah satu pusat operasional sistem Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya.
Program BRT merupakan proyek strategis nasional yang bertujuan:
- Mengurangi kemacetan
- Mengurangi penggunaan kendaraan pribadi
- Mengintegrasikan transportasi publik
- Menurunkan emisi kendaraan
Depo BRT di Cicaheum nantinya akan melayani koridor wilayah timur Bandung seperti:
- Tegalluar
- Gedebage
- Jatinangor
- Kawasan Bandung Timur lainnya
Sementara depo BRT di Leuwipanjang akan fokus melayani wilayah Bandung Barat, Cimahi, hingga Kabupaten Bandung Barat.
Pengamat ITB: Secara Teknis Pemindahan Ini Sudah Tepat
Pengamat Transportasi Institut Teknologi Bandung (ITB), Sony Sulaksono Wibowo, menilai kebijakan pemindahan Terminal Cicaheum ke Leuwipanjang sebenarnya merupakan langkah yang sudah lama direncanakan.
Menurutnya, secara prinsip terminal antarkota idealnya berada dekat dengan akses jalan tol dan jaringan antarkota.
“Pemindahan Cicaheum ke Leuwipanjang memang perlu dilakukan. Ini sebenarnya sudah menjadi rencana lama,” ungkapnya, Minggu (31/5/2026).
Ia menjelaskan lokasi Leuwipanjang jauh lebih strategis karena dekat dengan akses tol sehingga bus antarkota tidak perlu masuk terlalu jauh ke pusat kota.
“Tujuannya mendekatkan bus antarkota ke jalan tol agar tidak membebani lalu lintas perkotaan.”
Sony juga menilai pemanfaatan Cicaheum sebagai depo BRT merupakan keputusan yang logis.
“BRT membutuhkan depo dan Cicaheum adalah lahan milik pemerintah. Jadi pemerintah tidak perlu lagi membebaskan lahan baru.”
Menurutnya, posisi Cicaheum sangat ideal karena berada di kawasan perkotaan yang mudah dijangkau masyarakat.
Namun Ada Masalah Besar yang Harus Segera Diselesaikan
Meski mendukung kebijakan tersebut, Sony memberikan catatan serius. Menurutnya, pemerintah tidak boleh hanya memindahkan terminal tanpa menyiapkan konektivitas transportasi bagi masyarakat Bandung Timur.
“Yang kita butuhkan adalah pemerintah segera menyediakan armada tambahan yang menghubungkan Bandung Timur dengan Leuwipanjang.”
Selama ini warga Bandung Timur cukup menggunakan angkot atau transportasi lokal menuju Terminal Cicaheum. Kini mereka harus menempuh perjalanan lebih jauh menuju Leuwipanjang.
Jika tidak ada solusi, beban perjalanan warga akan meningkat. Baik dari sisi waktu maupun biaya.
“Kalau tidak dilakukan, kasihan masyarakat Bandung Timur yang harus mengakses terminal antarkota di Leuwipanjang.”
Perlu Jalur Baru dan Rerouting Angkutan Umum
Sony mengusulkan sejumlah langkah konkret. Di antaranya:
1. Menambah Armada Bus Penghubung
Pemerintah Kota Bandung dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat perlu menyediakan layanan langsung Bandung Timur–Leuwipanjang.
2. Rerouting Angkot
Trayek angkot yang selama ini berakhir di Cicaheum dapat diperpanjang menuju Leuwipanjang.
3. Optimalisasi Damri dan Metro Jabar
Koridor eksisting perlu diperluas agar menjangkau kawasan Bandung Timur bagian utara dan tengah.
“Selama ini memang sudah ada Damri dari Cibiru ke Leuwipanjang. Tapi Bandung Timur bagian lain belum terlayani secara optimal.”
Ancaman Terminal Overload?
Muncul kekhawatiran bahwa seluruh bus antarkota yang dipusatkan di Leuwipanjang akan membuat terminal tersebut terlalu padat.
Namun Sony menilai kekhawatiran tersebut tidak berlebihan. “Leuwipanjang masih cukup luas. Tinggal ditata ulang.”
Menurutnya, yang lebih mendesak justru penataan slot dan jalur keberangkatan bagi armada yang dipindahkan dari Cicaheum.
Saat proses transisi berlangsung, ia sempat melihat fasilitas tersebut belum sepenuhnya siap.
“Jangan sampai Cicaheum sudah ditutup, tapi slot bus di Leuwipanjang belum disiapkan.”
Akhir Sebuah Era, Awal Babak Baru Transportasi Bandung
Penutupan Terminal Cicaheum memang menyisakan nostalgia mendalam. Bagi para perantau, pedagang, sopir bus, hingga warga Bandung, terminal tersebut adalah bagian dari sejarah panjang perjalanan hidup mereka.
Namun di sisi lain, transformasi menuju sistem transportasi massal modern juga menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari.
Kini tantangannya bukan lagi sekadar memindahkan bus dari satu terminal ke terminal lain.
Tantangan sesungguhnya adalah memastikan warga Bandung Timur tetap memiliki akses transportasi yang mudah, murah, dan terintegrasi.
Jika konektivitas berhasil dibangun dengan baik, maka berakhirnya era Terminal Cicaheum bukanlah sebuah kehilangan, melainkan awal dari wajah baru transportasi Bandung yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










