Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Dulu Dipuji Jadi Joki Karapan Kerbau, Kini Vebby Hananto Dihujat Gegara Polemik COP JRF

Rabu, 28 Oktober 2026 18:03 WIB

Empat Kali Lolos dalam Dua Bulan, Kurir Sabu di Bandung Barat Akhirnya Tertangkap

Rabu, 28 Oktober 2026 17:38 WIB

Demo Mahasiswa di DPRD Jabar Saat Sumpah Pemuda, Soroti Karhutla hingga MBG

Rabu, 28 Oktober 2026 16:47 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Dulu Dipuji Jadi Joki Karapan Kerbau, Kini Vebby Hananto Dihujat Gegara Polemik COP JRF
  • Empat Kali Lolos dalam Dua Bulan, Kurir Sabu di Bandung Barat Akhirnya Tertangkap
  • Demo Mahasiswa di DPRD Jabar Saat Sumpah Pemuda, Soroti Karhutla hingga MBG
  • Pengurus DPC PKB Kabupaten Bandung Dikukuhkan, Dadang Supriatna Mulai Jaring Caleg 2029
  • Persib vs Melbourne Victory Malam Ini Tayang di Mana? Ini Jadwal dan Link Live Streaming
  • Sekolah Rasa Rumah Makan Sunda? SMAN 2 Subang Direnovasi Usai Sidak KDM
  • Siapa Mamita? Istri ‘Raja Sawer’ Haji AW yang Dikecam karena Sawer Uang dari Mobil
  • Prediksi Line Up Persib vs Melbourne Victory Malam Ini, Thom Haye dan Klok Kawal Lini Tengah
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Rabu, 28 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Krisis Industri Kapur Cipatat KBB, Operasi Tanpa Izin hingga Ancaman Bencana Longsor

By Aga GustianaKamis, 16 Juli 2026 15:54 WIB3 Mins Read
Pabrik kapur di Cipatat Bandung Barat. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, baru saja menyingkap tabir gelap di balik industri pengolahan batu kapur di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Hasil tinjauan lapangan mengungkap fakta memprihatinkan: belasan perusahaan beroperasi tanpa legalitas, sementara kesejahteraan buruh jauh dari kata layak.

Dalam inspeksi mendadak tersebut, Dedi menemukan bahwa mayoritas operasional perusahaan tidak hanya melanggar aturan administrasi, tetapi juga mengabaikan hak dasar pekerja, mulai dari standar upah hingga ketiadaan proteksi sosial.

“Saya keliling tuh di Cipatat. Pertama, perusahaan-perusahaan itu banyak yang tidak terdaftar. Yang keduanya, karyawannya dibayar tidak sesuai dengan ketentuan undang-undang. Tidak ada jaminan kesehatan, tidak ada jaminan hari tua,” ujar Dedi, Kamis (16/7/2026).

Ancaman Lingkungan dan Risiko Bencana

Masalah di Cipatat bukan hanya soal perizinan dan kesejahteraan buruh. Dedi menyoroti dampak ekologis yang semakin nyata. Debu putih dari aktivitas pembakaran kapur kini telah menyelimuti wilayah tersebut, memicu kekhawatiran serius terkait kesehatan masyarakat. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) pun telah diterjunkan untuk melakukan uji laboratorium guna memastikan tingkat polusi udara.

Baca Juga:  Medical Check Up Gratis di Jabar Dimulai 3 Februari 2025, Begini Cara Dapatnya

“Dan itu saya cek tadi itu lebih dari 11 perusahaan. Itu baru di internal. Di eksternalnya bisa dilihat debu yang dari kapurnya itu sekarang udah berwarna putih itu Cipatat. Maka saya sudah minta DLH untuk melakukan tes lab. Katanya seminggu lagi keluar hasilnya,” jelasnya.

Tak sampai di situ, ancaman nyata datang dari kondisi geologis tebing kapur. Penambangan yang dilakukan secara serampangan di bagian bawah tebing dianggap berisiko tinggi memicu longsor atau keruntuhan struktur gunung.

“Yang berikutnya ada ancaman lagi gunung. Nah gunung itu, di sisinya rapi, coba naik motor ke dalam. Itu sudah diambil di bagian bawahnya, maka potensinya bisa roboh. Nah nanti kalau saya misalnya ditutup sementara pasti ribut,” katanya.

Baca Juga:  BIJB Tetap Jadi Bandara Resmi Pelayanan Haji dan Umrah 2025

Prioritas Pekerja di Atas Penindakan Hukum

Meski temuan pelanggarannya sangat fatal, Dedi Mulyadi tidak ingin terburu-buru mengambil langkah penutupan paksa. Ia menyadari bahwa tindakan represif tanpa solusi akan mengorbankan ribuan perut pekerja. Langkah preventif kini diambil dengan memerintahkan Disnakertrans Jabar untuk melakukan pendataan menyeluruh.

“Makanya hari ini saya meminta Kepala Disnaker identifikasi dulu karyawan ada berapa, dan saya dengar karyawannya sedikit rata-rata 5, 20, 60, paling banyak 600. Maka nanti karyawannya itu oleh saya akan diidentifikasi mereka yang tidak dibayar dengan sesuai dengan ketentuan,” tuturnya.

Sebagai solusi jangka panjang, Gubernur menyiapkan skema transisi lapangan kerja. Dedi berencana menyalurkan para pekerja tersebut ke sektor-sektor yang lebih stabil, seperti kebersihan atau sektor jasa lainnya yang lebih ramah bagi pekerja dengan latar belakang pendidikan rendah dan usia lanjut.

Baca Juga:  Triliunan Rupiah APBD Dipertaruhkan: BIJB Kertajati Sepi, Pemprov Jabar Angkat Tangan

“Karyawannya mau saya alihin, saya tempatin bekerja di sektor-sektor lain, termasuk juga kita punya kebutuhan untuk tenaga kebersihan karena rata-rata mereka sekolahnya SD sudah tua-tua. Nah itu akan kita dorong,” ujarnya.

Langkah hukum terhadap para pemilik perusahaan nakal baru akan dilakukan setelah nasib para pekerja dipastikan aman. Strategi ini diambil agar pemerintah tidak menimbulkan masalah sosial baru di tengah upaya penegakan aturan.

“Nah setelah itu nanti kita akan melakukan langkah-langkah penanganan terhadap perusahaannya. Jangan sampai saya melakukan penindakan kemudian karyawannya nanti tidak bekerja,” pungkasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Pemprov Jabar
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Empat Kali Lolos dalam Dua Bulan, Kurir Sabu di Bandung Barat Akhirnya Tertangkap

Demo Mahasiswa di DPRD Jabar Saat Sumpah Pemuda, Soroti Karhutla hingga MBG

Pengurus DPC PKB Kabupaten Bandung Dikukuhkan, Dadang Supriatna Mulai Jaring Caleg 2029

Sekolah Rasa Rumah Makan Sunda? SMAN 2 Subang Direnovasi Usai Sidak KDM

Polrestabes Bandung Ungkap Motif Bentrok Pasar Induk Caringin: Berawal dari Perselisihan Lama

Siapa Dwi Bagus Martono? Suami Siri yang Jadi Tersangka Pembunuhan Ibu dan Anak di Madiun

Terpopuler
  • Megalomania Arsitektur: Ketika Kota Bandung Dipaksa Berbaju Kerajaan
  • Lomba Coding SD-SMP 2026 Dibuka, Siswa Ditantang Bikin Solusi Bencana Alam
  • Kisah Santri Cipasung yang Berhasil Mengubah Sejarah Pendidikan Islam Indonesia
  • Dikukuhkan di Depan Gubernur Lemhannas, Tatang Suherman Siap Gerakkan FWK Jabar
  • Peta Potensi Bencana November 2026: Puluhan Kecamatan di Jawa Barat Siaga Longsor dan Banjir Bandang
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.