bukamata.id – Laga sarat gengsi antara Tim Nasional Indonesia kontra Malaysia dalam lanjutan Grup A FIFA ASEAN Cup 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta Pusat, Senin (28/9/2026), menyisakan cerita dramatis. Duel sengit yang berakhir tanpa gol alias 0-0 tersebut diwarnai insiden pengusiran gelandang andalan skuad Garuda, Thom Haye, akibat kartu merah.
Menanggapi situasi pelik yang memaksa timnya bermain dengan 10 orang, juru taktik Merah Putih, John Herdman, sama sekali tidak panik. Pelatih berpengalaman asal Inggris itu justru melihat momen tersebut dari sudut pandang yang lebih luas dan positif, alih-alih meratapi keputusan pengadil lapangan asal Korea Selatan, Ko Hyung-jin.
Baginya, kontroversi maupun dinamika kepemimpinan wasit merupakan bumbu yang tak terpisahkan dari ekosistem sepak bola global. Berbekal jam terbang tinggi di pinggir lapangan selama seperempat abad, pelatih yang pernah membesut timnas Kanada ini mengaku sudah terbiasa dengan siklus hoki maupun kesialan.
“Lihat, saya sudah berada di dunia sepak bola selama 25 tahun sebagai pelatih. Saya sudah menjalani begitu banyak pertandingan. Saya juga pernah mengalami keputusan-keputusan buruk dari wasit dan pernah mendapatkan keberuntungan,” kata John Herdman dikutip Rabu (29/9/2026)
Ujian Mentalitas dan Solidaritas Garuda
Alih-alih menyalahkan wasit, mantan pelatih Toronto FC ini memilih fokus mengamati reaksi anak asuhnya di atas lapangan hijau. Kehilangan satu pilar penting di lini tengah justru dipandang sebagai kawah candradimuka untuk memperkokoh ikatan batin antarpemain dalam situasi tertekan.
Bagi Herdman, ujian berat semacam ini sangat krusial untuk mengukur sejauh mana mentalitas baja dan rasa cinta para penggawa Garuda terhadap lambang di dada.
“Malam ini kami mendapatkan kartu merah. Bagi kami, kartu merah itu memberikan kesempatan kepada para pemain untuk membangun persaudaraan, belajar bagaimana berjuang bersama dalam sebuah situasi sulit demi negara mereka. Mereka harus terus berjuang dan terus bertahan,” kata John Herdman.
Lebih lanjut, pelatih berusia matang itu menganggap hukuman kartu merah bukanlah akhir dari segalanya, melainkan berkah tersembunyi yang membakar semangat juang tim. Ia melihat adanya dedikasi luar biasa dari para pemain yang rela memeras keringat demi menjaga keperawanan gawang Indonesia hingga peluit panjang berbunyi.
“Kami membutuhkan momen-momen seperti ini. Kami perlu tahu bahwa para pemain ini bisa datang ke sini dan berjuang untuk negara ini. Karena ada saat-saat ketika hal tersebut dipertanyakan. Namun malam ini mereka datang dan berjuang karena mereka peduli. Mereka ingin menang dan ingin mengangkat trofi seperti yang belum pernah dilakukan orang lain sebelumnya.
“Kami tahu tim ini, kami tahu para pemain dan pelatihnya. Mereka bersedia berjuang satu sama lain. Kami melihatnya malam ini, dan kami selalu melihatnya. Jadi, kartu merah itu adalah sebuah hadiah sekaligus kutukan,” tutup John Herdman.
Selepas drama kontra Harimau Malaya ini, armada Merah Putih tidak punya banyak waktu untuk bersantai. Pasukan John Herdman langsung mengalihkan fokus untuk melakoni laga pamungkas fase grup melawan Bangladesh di arena yang sama pada Kamis (1/10/2026) mendatang.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










