Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Arsenal vs Man City Malam Ini: Duel Panas, Siapa Bawa Pulang Trofi Community Shield 2026?

Minggu, 16 Agustus 2026 10:02 WIB

DI LUAR NALAR! Limbah Daun Nanas dari Bogor Disulap Jadi Karya Mewah, Laras Bikin Australia Bertekuk Lutut

Minggu, 16 Agustus 2026 09:27 WIB

Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini 16 Agustus 2026: 1 Gram Tembus Rp2,78 Juta

Minggu, 16 Agustus 2026 08:05 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Arsenal vs Man City Malam Ini: Duel Panas, Siapa Bawa Pulang Trofi Community Shield 2026?
  • DI LUAR NALAR! Limbah Daun Nanas dari Bogor Disulap Jadi Karya Mewah, Laras Bikin Australia Bertekuk Lutut
  • Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini 16 Agustus 2026: 1 Gram Tembus Rp2,78 Juta
  • Menang Telak 3-0! Persib Tampil Menggila Lawan Sabah FC di Dewata Challenge Series
  • Daftar Kode Redeem Free Fire 16 Agustus 2026: Dapatkan Skin Senjata & Bundle Gratis Hari Ini
  • Kesempatan Klaim Hadiah Digital! Simak Cara Dapatkan Saldo DANA Gratis Hari Ini 16 Agustus 2026
  • Spesial Akhir Pekan! Buruan Klaim Kode Redeem FF 16 Agustus 2026 Sebelum Kuota Keburu Kehabisan
  • Pidato Presiden Sebut Upah Pengupas Bawang Rp700 Ribu per Kg Viral, Begini Kata Istana
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 16 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

DI LUAR NALAR! Limbah Daun Nanas dari Bogor Disulap Jadi Karya Mewah, Laras Bikin Australia Bertekuk Lutut

By SusanaMinggu, 16 Agustus 2026 09:27 WIB9 Mins Read
Desainer asal Dramaga Bogor Laras Andriyani meraih Avant-Garde Award 2026 di Australia lewat Silent Luminous. Foto: Ist.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Dari limbah pertanian di Dramaga, Kabupaten Bogor, lahir sebuah karya fesyen yang justru bersinar di panggung internasional. Adalah Laras Andriyani, desainer asal Bogor yang berhasil meraih Avant-Garde Award dalam Australian Wearable Art Festival 2026 melalui karya eksperimentalnya yang diberi nama Silent Luminous.

Penghargaan tersebut bukan sekadar kemenangan sebuah busana di ajang fesyen. Di balik Silent Luminous, terdapat perjalanan panjang selama sekitar tujuh bulan, eksperimen material yang tidak sederhana, serta gagasan tentang bagaimana sesuatu yang selama ini dianggap sebagai limbah dapat diubah menjadi karya bernilai tinggi.

Laras menjadikan serat daun nanas sebagai salah satu material utama. Daun nanas yang merupakan bagian dari limbah pertanian diekstraksi dan diolah menjadi benang, kemudian dirajut atau crochet menjadi bagian dari struktur busana.

Material tersebut tidak berdiri sendiri. Laras memadukannya dengan kain jacquard daur ulang, manik-manik, kristal Swarovski, kancing, hingga berbagai sisa material produksi. Hasil akhirnya adalah sebuah busana eksperimental yang tidak hanya mengejar kemewahan visual, tetapi juga membawa gagasan mengenai keberlanjutan.

Yang membuat perjalanan karya ini semakin menarik adalah titik keberangkatannya. Silent Luminous lahir dari kreativitas seorang desainer yang berasal dari Dramaga, Bogor, sebelum akhirnya dibawa ke panggung Australia.

1.700 Jam untuk Mengubah Limbah Menjadi Karya Seni

Di balik tampilan Silent Luminous yang memukau, terdapat proses pengerjaan yang panjang.

Laras membutuhkan sekitar 1.700 jam atau tujuh bulan untuk menyelesaikan karya tersebut. Waktu tersebut digunakan untuk melakukan berbagai eksperimen material, mencoba teknik, melakukan penyempurnaan, hingga berkali-kali merevisi desain.

Proses itu menunjukkan bahwa fesyen eksperimental tidak berhenti pada persoalan bagaimana menciptakan pakaian yang terlihat menarik.

Ada proses riset material, pencarian bentuk, percobaan teknik, kegagalan, revisi, hingga keputusan untuk mempertahankan atau membuang bagian tertentu dari desain.

Dalam kasus Silent Luminous, serat daun nanas yang pada awalnya merupakan bagian dari limbah pertanian justru memperoleh kehidupan baru.

Daun yang biasanya tidak menjadi bagian utama dari produk bernilai tinggi tersebut diubah menjadi serat, kemudian menjadi benang, sebelum akhirnya menjadi elemen dari sebuah karya seni yang dipamerkan dan mendapatkan penghargaan di Australia.

Di titik inilah konsep keberlanjutan dalam karya Laras terasa lebih konkret. Sustainability tidak berhenti sebagai tulisan pada label atau slogan kampanye, tetapi diterapkan langsung pada material yang digunakan.

Terinspirasi Joan of Arc, Menggabungkan Keberanian dan Keberlanjutan

Silent Luminous juga memiliki lapisan cerita yang lebih dalam.

Karya tersebut terinspirasi dari sosok Saint Joan of Arc, figur yang selama berabad-abad dikenal sebagai simbol keberanian, keteguhan, dan perjuangan.

Inspirasi tersebut kemudian diterjemahkan Laras melalui bahasa visual yang eksperimental. Material, konstruksi, tekstur, dan detail busana tidak hanya berfungsi sebagai elemen dekoratif, tetapi menjadi bagian dari narasi yang ingin disampaikan.

Pilihan material dari limbah pertanian juga seolah memperkuat pesan tersebut.

Ada keberanian untuk melihat sesuatu yang dianggap tidak bernilai dari sudut pandang berbeda. Ada keberanian untuk bereksperimen dengan material yang tidak lazim. Dan ada keberanian untuk membawa karya yang lahir dari Bogor ke kompetisi di panggung internasional.

Penghargaan Avant-Garde Award akhirnya menjadi bentuk pengakuan terhadap keberanian tersebut.

Dari Dramaga, Bogor, Menembus Panggung Australia

Laras Andriyani diketahui merupakan desainer asal Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang kini menetap di Gold Coast, Queensland, Australia.

Perjalanan geografis tersebut menarik karena memperlihatkan bagaimana identitas lokal tidak harus hilang ketika seorang kreator masuk ke lingkungan internasional.

Justru sebaliknya, pengalaman dan cara pandang yang dibawa dari Indonesia dapat menjadi kekuatan ketika dipertemukan dengan ekosistem kreatif global.

Dalam Silent Luminous, jejak Indonesia hadir bukan hanya melalui nama desainer dan asal karyanya, tetapi juga melalui pemanfaatan material yang dekat dengan kehidupan agrikultur.

Serat daun nanas yang digunakan Laras menjadi contoh bagaimana kekayaan sumber daya lokal dapat diproses melalui pendekatan desain untuk menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai artistik dan kompetitif.

Dengan kata lain, perjalanan Silent Luminous bukan hanya perjalanan sebuah busana dari Bogor menuju Australia. Ini adalah perjalanan sebuah gagasan: bahwa material lokal dan limbah dapat memperoleh nilai baru ketika bertemu kreativitas, teknologi, ketekunan, dan keberanian untuk bereksperimen.

Ketika Limbah Pertanian Berubah Menjadi Kemewahan

Salah satu kekuatan utama Silent Luminous terletak pada paradoks materialnya.

Di satu sisi, bahan dasarnya berasal dari limbah pertanian. Di sisi lain, hasil akhirnya tampil sebagai karya fesyen avant-garde yang mendapatkan penghargaan.

Kontras tersebut justru menjadi daya tarik.

Selama bertahun-tahun, industri fesyen menghadapi pertanyaan besar mengenai dampak lingkungan. Produksi pakaian membutuhkan bahan baku, energi, air, dan menghasilkan sisa produksi. Karena itu, eksplorasi material alternatif menjadi salah satu arah penting dalam perkembangan fesyen masa depan.

Apa yang dilakukan Laras menunjukkan salah satu kemungkinan jawabannya.

Alih-alih hanya mencari material baru, desainer dapat melihat kembali material yang sudah ada di sekitar mereka. Sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat diteliti, diolah, dan diberi fungsi baru.

Pendekatan semacam itu membuat fesyen tidak lagi sekadar berbicara mengenai tren.

Fesyen dapat menjadi ruang eksperimen untuk mempertemukan seni, teknologi, lingkungan, budaya, dan ekonomi kreatif.

Prestasi Laras Menambah Panjang Cerita Desainer Indonesia di Dunia

Kemenangan Laras juga menarik jika ditempatkan dalam konteks yang lebih luas. Ia bukan satu-satunya kreator Indonesia yang membawa karya desain ke ruang internasional.

Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak desainer dan pelaku industri kreatif Indonesia yang mencoba memperluas jangkauan karya mereka ke luar negeri.

Nama-nama seperti Biyan, Sapto Djojokartiko, Hian Tjen, Peggy Hartanto, Toton, hingga Heaven Tanudiredja misalnya, telah menjadi bagian dari perjalanan panjang mode Indonesia menuju panggung global. Harper’s Bazaar Indonesia juga menyoroti perjalanan para desainer tersebut dalam membangun eksistensi mode Indonesia di kancah dunia.

Jalur yang ditempuh masing-masing tentu berbeda.

Ada yang dikenal melalui eksplorasi kain dan tradisi Nusantara. Ada yang membangun identitas melalui couture. Ada pula yang mengembangkan pendekatan kontemporer dan eksperimental.

Namun, terdapat satu kesamaan: karya Indonesia tidak lagi hanya diposisikan sebagai produk lokal, tetapi dapat menjadi bagian dari percakapan kreatif internasional.

Laras membawa percakapan tersebut melalui perspektif yang berbeda, yakni sustainability dan wearable art.

Bukan Hanya Fesyen, Desain Indonesia Juga Semakin Mendunia

Fenomena tersebut sebenarnya tidak terbatas pada industri fesyen.

Pada 2025, misalnya, sejumlah produk Indonesia berhasil meraih Good Design Award atau G-Mark di Jepang. Data Kementerian Perdagangan menyebut delapan produk Indonesia memperoleh penghargaan tersebut pada 4 November 2025. Produk yang mendapat pengakuan mencakup tas ramah lingkungan, furnitur, material konstruksi, hingga kendaraan listrik.

Artinya, keberhasilan Laras dapat dilihat sebagai bagian dari arus yang lebih besar: desain Indonesia sedang mencari tempat yang semakin kuat di panggung internasional.

Pemerintah juga terus mendorong jalur tersebut. Program Good Design Indonesia (GDI) yang diselenggarakan Kementerian Perdagangan memang dirancang untuk mengevaluasi sekaligus mempromosikan desain Indonesia serta membuka peluang bagi karya terpilih mengikuti ajang internasional seperti Good Design Award Jepang dan Golden Pin Design Award Taiwan.

Di sektor mode, ekosistem serupa juga terus dibangun.

JF3 pada 2026, misalnya, mengusung tema Recrafted: Shaping the Future dengan penekanan pada craftsmanship, sustainability, dan kemitraan global. Program tersebut diarahkan agar talenta mode Indonesia tidak hanya berhenti pada panggung pertunjukan, tetapi memiliki akses lebih luas menuju industri dan pasar internasional.

Karena itu, pencapaian Laras menjadi relevan bukan hanya sebagai berita tentang seorang desainer yang memenangkan penghargaan.

Ia menjadi bagian dari cerita yang lebih besar mengenai bagaimana kreativitas Indonesia menemukan jalannya sendiri menuju dunia.

Thresia Mareta, Contoh Lain Pengakuan dari Luar Negeri

Jika berbicara mengenai apresiasi internasional terhadap tokoh dari industri mode Indonesia, ada pula Thresia Mareta yang pada 2025 menerima penghargaan Knight of the Ordre des Arts et des Lettres dari Pemerintah Prancis.

Penghargaan tersebut diberikan atas kontribusinya dalam pengembangan fesyen Indonesia hingga ke pasar internasional. Penghargaan dari pemerintah Prancis itu menjadi salah satu bentuk pengakuan terhadap peran pelaku industri Indonesia dalam membawa kekayaan tekstil dan fesyen Nusantara ke tingkat global.

Kisah Thresia dan Laras memang berbeda.

Thresia mendapatkan penghargaan atas kontribusi dalam pengembangan ekosistem dan diplomasi fesyen Indonesia, sementara Laras memperoleh penghargaan kompetisi melalui karya Silent Luminous.

Namun keduanya memiliki benang merah yang sama: Indonesia memiliki kekuatan kreatif yang dapat memperoleh pengakuan di luar negeri.

Perbedaannya justru memperlihatkan luasnya jalan yang tersedia bagi kreator Indonesia.

Pengakuan internasional tidak selalu datang melalui satu pintu.

Ada yang datang melalui kompetisi, pameran, pekan mode, penghargaan desain, kerja sama industri, maupun penghargaan negara lain.

Dari Bogor untuk Dunia

Kembali ke Silent Luminous, cerita Laras sebenarnya sederhana tetapi memiliki pesan yang kuat.

Bahan yang digunakan berasal dari sesuatu yang mudah dianggap tidak bernilai. Prosesnya membutuhkan ribuan jam. Karyanya kemudian menempuh perjalanan hingga Australia dan mendapatkan penghargaan.

Semua itu menunjukkan bahwa kualitas sebuah karya tidak selalu ditentukan oleh seberapa mahal bahan awalnya.

Nilai dapat lahir dari cara seseorang melihat sesuatu.

Laras melihat serat daun nanas bukan sekadar limbah. Ia melihat kemungkinan.

Ia mengubahnya menjadi benang, merajutnya, memadukannya dengan material lain, lalu membangun sebuah karya yang memiliki karakter visual sekaligus pesan lingkungan.

Di tengah pembicaraan mengenai masa depan industri fesyen yang semakin mempertimbangkan dampak lingkungan, pendekatan tersebut menjadi semakin relevan.

Fesyen masa depan bukan hanya tentang siapa yang mampu membuat busana paling mewah atau paling spektakuler. Lebih jauh, fesyen juga akan berbicara tentang dari mana material berasal, bagaimana material tersebut diproduksi, berapa banyak limbah yang dihasilkan, dan apakah sebuah produk mampu memberikan kehidupan kedua bagi bahan yang sebelumnya dianggap tidak berguna.

Warganet Ikut Bangga

Pencapaian Laras juga mendapatkan respons positif dari warganet Indonesia.

Sejumlah komentar yang beredar menunjukkan kebanggaan, terutama dari masyarakat Bogor yang melihat nama daerah mereka dibawa ke panggung internasional.

“MasyaAllah ikut bangga sebagai warga Indonesia terutama urang Bogor,” tulis salah satu warganet.

Komentar lainnya menyoroti keberhasilan Laras mengubah limbah menjadi karya bernilai tinggi.

“Definisi mengubah limbah jadi kemewahan. Desain avant-garde yang bener-bener jenius!” tulis warganet lainnya.

Ada pula yang mengaku ikut bangga sebagai warga asli Bogor.

Respons tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan seorang desainer di luar negeri dapat memiliki efek yang lebih luas. Ketika sebuah karya lahir dari daerah tertentu dan kemudian memperoleh pengakuan global, prestasi tersebut tidak hanya menjadi milik penciptanya.

Ada rasa memiliki yang muncul dari masyarakat yang merasa daerah dan identitas mereka ikut dibawa ke panggung dunia.

Kreativitas Lokal Tak Harus Menunggu Menjadi Global

Pada akhirnya, kisah Silent Luminous memberi pelajaran penting tentang arah industri kreatif Indonesia.

Kreativitas lokal tidak harus kehilangan identitas untuk dapat diterima dunia.

Justru identitas, material lokal, persoalan lingkungan, serta cerita dari tempat asal dapat menjadi kekuatan ketika diterjemahkan melalui bahasa desain yang mampu dipahami secara universal.

Dari Dramaga, Bogor, Laras Andriyani membawa serat daun nanas menuju panggung wearable art di Australia.

Tujuh bulan dan sekitar 1.700 jam kemudian, kerja keras itu berbuah penghargaan.

Avant-Garde Award bukan hanya menjadi trofi untuk sebuah busana. Ia menjadi penanda bahwa material sederhana dari lingkungan sekitar dapat diolah menjadi karya yang mampu berbicara di panggung internasional.

Dan di tengah semakin banyaknya desainer serta kreator Indonesia yang menembus batas geografis, cerita Laras memperlihatkan satu hal: dunia tidak hanya sedang melihat apa yang dipakai Indonesia, tetapi juga mulai melihat bagaimana Indonesia menciptakan, berinovasi, dan mendefinisikan masa depan desainnya sendiri.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Australian Wearable Art Festival 2026 Avant-Garde Award 2026 desainer Bogor Desainer Indonesia Laras Andriyani Silent Luminous
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Pidato Presiden Sebut Upah Pengupas Bawang Rp700 Ribu per Kg Viral, Begini Kata Istana

Merinding! Ramalan Tirta Siregar Terbukti Lagi? di Balik Gempa Dahsyat NTT hingga Potensi Tsunami

gempa

Update Gempa M 7,7 NTT: 14 Orang Dilaporkan Meninggal Dunia, BMKG Ingatkan Gempa Susulan

Terkuat di Balik Mediasi Kasus Penjahit Bali? Alasan Arya Wedakarna Mati-matian Gertak Hilda Pakai UU ITE!

Tembus 1 Juta Jam Kerja Tanpa Kecelakaan, Proyek PLTP Patuha Unit 2 Cetak Rekor Penting!

Panas! Iran Desak AS Akui Kekalahan, Tolak Klaim Donald Trump

Terpopuler
  • Auto Resign Massal? Rahasia Gaji Pengupas Bawang Rp700 Ribu per Kg yang Bikin Heboh Indonesia!
  • Teti Ratnasih Terpilih Pimpin FORHATI Jabar, Bawa Misi Besar Transformasi Keumatan
  • 10 Pohon Hilang di Jalan Riau Bandung, Pemkot Kecolongan? Pengamat Bongkar Lemahnya Pengawasan
  • Kehabisan Akal Promosi? Brand Miras Buat Challenge Ayat Al-Qur’an Berhadiah Alkohol!
  • BPRS HIK Parahyangan Akui Hadapi Penyesuaian Likuiditas, Dana Deposito Tetap Jadi Kewajiban
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.