Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Menelusuri Jejak Korupsi Iklan Rp222 Miliar, KPK Periksa Eks Aspri Ridwan Kamil

Rabu, 16 September 2026 10:13 WIB

Dikipasi Bak Ratu Mesir, Tradisi Maulid di Tabalong Tuai Kritik: Ternyata Ada Sejarah Panjang di Baliknya

Rabu, 16 September 2026 10:01 WIB

Bolehkah Salat Pakai Makeup Pengantin? Ini Penjelasan Buya Yahya dan Solusinya

Rabu, 16 September 2026 09:55 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Menelusuri Jejak Korupsi Iklan Rp222 Miliar, KPK Periksa Eks Aspri Ridwan Kamil
  • Dikipasi Bak Ratu Mesir, Tradisi Maulid di Tabalong Tuai Kritik: Ternyata Ada Sejarah Panjang di Baliknya
  • Bolehkah Salat Pakai Makeup Pengantin? Ini Penjelasan Buya Yahya dan Solusinya
  • Jadwal Lengkap FC Seoul vs Persib Bandung di ACL 2: Waktu Kick-off dan Link Nonton
  • Karim Benzema OTW Persib Bandung?
  • Bandung Dibanjiri 50 Ton Sampah MBG per Hari! SPPG Bermasalah Terancam Ditutup
  • Brandon Wilson Punya Misi Besar Bersama Bali United, Bidik 3 Besar dan Tiket Asia
  • Resmi! Ini Daftar 26 Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama 2027, Ada Libur Panjang
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Rabu, 16 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Dikipasi Bak Ratu Mesir, Tradisi Maulid di Tabalong Tuai Kritik: Ternyata Ada Sejarah Panjang di Baliknya

By SusanaRabu, 16 September 2026 10:01 WIB6 Mins Read
Tradisi Makan Batalam Bakipas Pangeran di Tabalong viral karena tamu dikipasi bak ratu Mesir. Foto: Ist.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Sebuah tradisi masyarakat Banua Lawas, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, mendadak menjadi perbincangan di media sosial. Bukan semata karena kemeriahan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, tetapi karena adanya adegan sejumlah tamu yang terlihat menyantap hidangan sambil dikipasi menggunakan kipas tangan tradisional.

Pemandangan tersebut terekam dalam video yang kemudian beredar luas di media sosial. Dalam tayangan itu, sejumlah perempuan yang disebut sebagai istri pejabat terlihat menikmati hidangan dalam suasana acara, sementara beberapa orang lainnya berdiri di samping mereka sambil mengayunkan kipas tangan.

Hal yang membuat perhatian warganet semakin besar adalah keberadaan kipas angin listrik di lokasi acara. Bagi sebagian pengguna media sosial, kondisi tersebut memunculkan pertanyaan: mengapa masih ada orang yang harus mengipasi tamu secara manual ketika fasilitas kipas listrik sudah tersedia?

Komentar pun bermunculan. Sebagian warganet bahkan menganggap adegan tersebut sebagai bentuk perlakuan yang tidak manusiawi hingga menyebutnya sebagai gambaran “perbudakan modern”.

“Tidak manusiawi banget,” tulis akun @ram****.

“SDM rendah dgn kerandoman nya,” tulis akun @ari****.

Sementara akun @ran**** menyoroti keberadaan kipas listrik di lokasi acara.

“Astaghfirullaah padahal ada kipas di belakangnya…. Kasihan adek2 nya dah pada pegel tangannya buat ngipas Permaisuri Raja yang sedang menyantap makanan enak…” tulisnya.

Komentar tersebut dikutip dari kolom komentar unggahan Instagram @babesumbar.

Namun, jika hanya melihat potongan video yang beredar, konteks panjang tradisi tersebut memang mudah terlewatkan.

Sebab, kegiatan yang viral itu bukan acara makan biasa. Di Banua Lawas, kegiatan tersebut merupakan bagian dari Makan Batalam Bakipas Pangeran, sebuah tradisi masyarakat Banjar yang telah berlangsung secara turun-temurun dan kini justru mendapatkan pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia.

Bukan Sekadar Makan Bersama

Tradisi tersebut digelar dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Pada Senin (14/9/2026), Kecamatan Banua Lawas bahkan menggelar Gebyar Maulid dan Doa Bersama dengan mengangkat Makan Batalam Bakipas Pangeran sebagai bagian utama kegiatan.

Baca Juga:  Tempat Hiburan Malam di Kota Bandung Wajib Tutup saat Maulid Nabi

Acara yang berlangsung di Lapangan 17 Mei Banua Lawas itu diikuti masyarakat dari berbagai desa, instansi kecamatan, hingga sejumlah sekolah.

Jumlahnya pun tidak sedikit. Terdapat 22 stan dengan total 806 talam yang disiapkan untuk dinikmati bersama. Bupati Tabalong, H Muhammad Noor Rifani, bersama jajaran pemerintah daerah turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Di sinilah istilah “batalam” menjadi penting.

Camat Banua Lawas Arianto menjelaskan, Makan Batalam merupakan tradisi makan bersama menggunakan satu talam atau nampan besar. Dalam satu talam biasanya tersedia nasi, lauk seperti ayam atau itik, ikan panggang, sayur, hingga kuah.

Makanan tersebut kemudian dinikmati secara bersama-sama oleh sekitar empat hingga enam orang.

Tradisi itu, menurut Arianto, telah berlangsung selama lebih dari satu abad dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Maknanya pun tidak berhenti pada kegiatan makan.

Makan Batalam dipandang sebagai simbol persatuan, silaturahmi, rasa syukur, kekeluargaan, adab, serta gotong royong masyarakat Banua Lawas.

Dengan duduk bersama dan menyantap makanan dari satu talam, batas-batas sosial diharapkan melebur dalam satu ruang kebersamaan.

Lalu, Apa Arti “Bakipas Pangeran”?

Bagian inilah yang kemudian menjadi sorotan setelah video viral di media sosial.

Secara sederhana, “bakipas” berarti mengipasi, sedangkan “pangeran” merujuk pada figur bangsawan atau lingkungan kerajaan.

Menurut Arianto, istilah tersebut memiliki kaitan dengan ingatan sejarah masyarakat Banjar terhadap lingkungan Kerajaan Banjar.

Pada masa lalu, mengipasi tamu merupakan bagian dari tata krama pelayanan kepada seseorang yang dianggap penting dan harus dihormati.

Karena itu, menurut Arianto, istilah “Bakipas Pangeran” tidak serta-merta dapat dimaknai sebagai praktik feodalisme yang masih dipertahankan.

“Konsepnya adalah tamu penting yang datang, disambut, dihormati kemudian dilayani dan diberikan jamuan makan. Sementara kipas pada masa lalu merupakan bagian dari tata krama pelayanan kepada orang yang dihormati,” ujar Arianto.

Dengan kata lain, ada konteks sejarah yang melekat di balik praktik tersebut.

Tradisi yang awalnya berkaitan dengan tata cara menjamu tokoh penting kemudian berkembang menjadi tradisi sosial masyarakat. Dalam perjalanannya, budaya Banjar, pengaruh kerajaan Islam, kearifan lokal, serta nilai-nilai keagamaan turut berbaur.

Baca Juga:  Libur Panjang Maulid Nabi, Penumpang Kereta Api di Daop 2 Bandung Melonjak

Ketika Makan Batalam kemudian menjadi bagian dari peringatan Maulid Nabi, sosok yang dihormati pun tidak lagi terbatas pada bangsawan.

Ulama, guru agama, tokoh masyarakat, tamu undangan, dan warga dapat berada dalam satu ruang perjamuan.

Dari Tradisi Kerajaan Menjadi Tradisi Maulid

Perubahan konteks tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Arianto meminta masyarakat tidak terburu-buru menyamakan Makan Batalam Bakipas Pangeran dengan feodalisme.

Sebab, nilai yang ingin dipertahankan dalam pelaksanaan masa kini, menurut dia, bukanlah struktur kebangsawanan.

Yang dipertahankan adalah budaya menghormati tamu, berbagi makanan, menjaga silaturahmi, serta membangun kebersamaan.

“Sejarahnya kita hormati, tetapi feodalismenya tidak perlu kita warisi. Nilai baiknya kita ambil, kemudian kita hidupkan dalam semangat kebersamaan dalam kesetaraan,” tegas Arianto.

Penjelasan tersebut sekaligus memberikan konteks berbeda terhadap video yang kini beredar di media sosial.

Apa yang bagi sebagian orang terlihat seperti seseorang “melayani ratu” dengan mengipasi tamu, dalam konteks tradisinya dipahami sebagai simbol penghormatan kepada tamu.

Namun, perkembangan zaman juga membuat praktik budaya seperti ini menghadapi pertanyaan baru.

Apalagi, adegan tersebut berlangsung di tengah keberadaan kipas listrik. Bagi masyarakat yang melihat video tanpa mengetahui latar belakang tradisinya, praktik mengipasi secara manual tentu dapat ditafsirkan berbeda.

Di sinilah viralnya video tersebut mempertemukan dua perspektif: pelestarian budaya di satu sisi dan perubahan cara pandang masyarakat terhadap relasi sosial di sisi lain.

Baru Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda

Menariknya, perbincangan mengenai tradisi ini muncul tidak lama setelah Makan Batalam Bakipas Pangeran resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Bersama tradisi Bagunung Perak, Makan Batalam Bakipas Pangeran mendapatkan penetapan dari Kementerian Kebudayaan RI pada 4 September 2026. Sebelumnya, tradisi asal Tabalong lainnya, yakni Manyampir Buaya, juga telah mendapatkan pengakuan sebagai warisan budaya nasional pada 2025.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tabalong, Gt Judid Ihsan Permana, menyampaikan apresiasi atas penetapan tersebut.

Baca Juga:  4 Rekomendasi Wisata Religi di Cirebon, Cocok untuk Isi Liburan Maulid Nabi

Menurutnya, pengakuan nasional menjadi momentum bagi masyarakat untuk terus menjaga, merawat, dan menghidupkan kearifan lokal.

Status WBTb sendiri bukan sekadar label penghargaan. Pengakuan tersebut menjadi bagian dari upaya pencatatan dan pelestarian kebudayaan agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Pemkab Tabalong bahkan berencana mengusulkan sejumlah tradisi lain, seperti Paliat, Tawas Ja’a dan Mongket Manau, untuk mendapatkan pengakuan sebagai warisan budaya nasional pada 2027.

Ketika Tradisi Bertemu Era Media Sosial

Viralnya Makan Batalam Bakipas Pangeran memperlihatkan satu persoalan yang semakin sering muncul dalam pelestarian budaya.

Sebuah tradisi yang bagi masyarakat pemiliknya memiliki makna sejarah, spiritual, dan sosial dapat terlihat sangat berbeda ketika hanya hadir dalam potongan video berdurasi singkat.

Satu adegan mengipasi tamu dapat dianggap sebagai simbol penghormatan. Namun bagi orang yang tidak mengetahui sejarahnya, adegan yang sama bisa terlihat seperti relasi kuasa yang tidak setara.

Keduanya merupakan pembacaan yang lahir dari konteks berbeda.

Karena itu, tantangan pelestarian budaya hari ini bukan hanya bagaimana mempertahankan sebuah tradisi agar tidak hilang, tetapi juga bagaimana menjelaskan makna di balik tradisi tersebut kepada generasi baru.

Terlebih ketika budaya lokal berhadapan dengan ruang digital yang memungkinkan sebuah adegan tersebar jauh melampaui komunitas pemilik tradisi.

Makan Batalam Bakipas Pangeran pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang satu talam makanan atau tangan yang mengayunkan kipas.

Ia membawa cerita panjang tentang masyarakat Banjar, sejarah Kerajaan Banjar, penghormatan kepada tamu, Maulid Nabi, gotong royong, hingga perubahan cara masyarakat modern memandang hubungan sosial.

Dan setelah video tersebut viral, pertanyaan yang muncul bukan lagi sekadar “mengapa masih ada yang mengipasi?”

Pertanyaan yang lebih besar adalah: bagaimana sebuah tradisi lama tetap bisa hidup di zaman baru tanpa kehilangan maknanya, sekaligus tetap dapat diterima dengan nilai kesetaraan yang berkembang di masyarakat?

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Banua Lawas Makan Batalam Bakipas Pangeran Maulid Nabi Tabalong tradisi Banjar tradisi viral
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Menelusuri Jejak Korupsi Iklan Rp222 Miliar, KPK Periksa Eks Aspri Ridwan Kamil

Penampilan makanan bergizi gratis dari program MBG.

Bandung Dibanjiri 50 Ton Sampah MBG per Hari! SPPG Bermasalah Terancam Ditutup

Siaga Merah di Tanah Suci: Arab Saudi Keluarkan Peringatan Darurat Usai Hujaman Rudal Houthi

Sampah di Purwakarta Nyaris Sentuh 200 Ton Per Hari, Warga Diminta Mulai Pilah dari Rumah

Nenek di Sukabumi Ditemukan Tewas Saat Padamkan Kebun Bambu yang Terbakar

Penyu Raja Ampat Dibunuh di Depan Kamera: Dari Perburuan hingga WNA Diamankan di Bandara

Terpopuler
  • Semarak HUT TNI ke-81, Ribuan Peserta Siap Ikuti Fun Run di Cimahi
  • Game Free Fire
    Deretan Kode Redeem FF 15 September 2026, Klaim Reward Senjata Eksklusif Sekarang Juga!
  • Tradisi 60 Tahun Berujung Hujatan! Menelusuri Fakta di Balik Hebohnya Simbang Kulon Night Carnival 2026
  • Uang Mertua Rp17 Miliar Raib, Shabrina Adfi Buka Suara Soal Kejahatan Perbankan di BTN
  • Bikin Penasaran! Sosok Lylia Kasir Indomaret Jadi Buruan Warganet di TikTok
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.