bukamata.id – Bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-81, puluhan penelusur gua dari Gahvara Yava Expedition 2026 menorehkan pencapaian penting. Mereka sukses memperbarui data pemetaan sisi terjauh Gua Luweng Ombo, sebuah formasi sinkhole raksasa yang terletak di Dusun Petung, Desa Kalak, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.
Dikenal sebagai gua vertikal terdalam di Pulau Jawa dengan kedalaman mencapai 246 meter, Luweng Ombo menyimpan tantangan speleologi yang masif. Melalui ekspedisi terbaru ini, tim berhasil memperluas cakupan peta lorong bawah tanah hingga menambah panjang 1.242,5 meter dari rekor penjelajahan sebelumnya pada 2025.
“Ekspedisi Gahvara Yava 2026 sesuai dengan targetan kita pada ekspedisi kali ini, kita mau menambah panjang peta Gua Luweng Ombo ini dan Alhamdulillah kita berhasil menambah panjang peta Luweng Ombo ini sepanjang 1.242,5 meter yang menjadikan total panjang peta Gua Luweng Ombo ini sekarang menjadi 8.242,5 meter,” ujar Ketua Ekspedisi Gahvara Yava 2026, Guntur Pambudi, Senin (17/8/2026).
Pencapaian ini sekaligus mengerek posisi Gua Luweng Ombo dalam peta speleologi nasional. Jika sebelumnya berada di urutan kesembilan, kini gua tersebut resmi naik ke peringkat ketujuh sebagai gua terpanjang di Indonesia. Selain pemetaan lorong, ekspedisi berskala besar ini juga mengumpulkan sampel biota bawah tanah seperti udang dan kepiting endemik untuk keperluan riset lanjutan.
Kendati demikian, penjelajahan di perut bumi Pacitan ini bukan tanpa rintangan. Guntur menyebutkan bahwa timnya sempat menghadapi medan berat berupa genangan lumpur pekat serta fenomena minimnya oksigen di beberapa titik terdalam.
“Jadi lorongnya masih berlanjut dan belum di eksplorasi. Kesulitan utama dari Gua Long Omboy ini yang pertama adalah lumpur yang sangat dalam. Di beberapa titik kedalamannya mencapai dada sampai leher orang dewasa, itu yang menghambat pergerakan kita. Kemudian di beberapa seksi dari lorong Gua Luweng Ombo ini ada fenomena namanya hiperventilasi atau minim oksigen yang menyebabkan gejalah hipoksia terhadap penelusur yang didalam,” tandasnya.
Di sisi lain, keterlibatan berbagai elemen organisasi turut memperlancar jalannya agenda yang berlangsung dari tanggal 9 hingga 19 Agustus 2026 ini. Ketua Umum Perkumpulan Pendaki Gunung TRAMP, Julianto Wibowo, menyatakan kebanggaannya atas sinergi yang terjalin selama kegiatan berlangsung.
Pria yang akrab disapa Iyan ini menjelaskan bahwa pihaknya tidak hanya menerjunkan personel untuk lini teknis dan lapangan, melainkan juga mengambil peran dalam aspek legalitas serta hubungan lintas instansi.
“TRAMP mendukung akses komunikasi dan birokrasi antara tim ekspedisi dengan Pemerintah Kabupaten Pacitan dan Kodim 0801/Pacitan terkait perizinan dan dukungan kegiatan dilapangan,” ujarnya.
Selain fokus pada misi ilmiah penelusuran gua, rangkaian kegiatan ini juga diisi dengan aksi nyata bagi warga sekitar melalui penyediaan fasilitas infrastruktur air bersih berbasis Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility / CSR).
“Semoga ekspedisi ini membawa kebermanfaatan untuk masyarakat sekitar Gua Luweng Ombo dan masyarakat Pacitan,” pungkasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










