Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Pakar ITB Kritik Wacana PKB Diganti Jalan Provinsi Berbayar: Campur Dua Hal Berbeda

Rabu, 13 Mei 2026 22:55 WIB

Wacana PKB Dihapus Diganti Jalan Provinsi Berbayar, Warga Jabar: Menarik Tapi Masih Membingungkan

Rabu, 13 Mei 2026 22:20 WIB

Bandung Sehat Dimulai dari Rumah: Edukasi Gizi Tekankan Pola Makan Seimbang, Tidur Cukup, dan Gaya Hidup Aktif

Rabu, 13 Mei 2026 21:57 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Pakar ITB Kritik Wacana PKB Diganti Jalan Provinsi Berbayar: Campur Dua Hal Berbeda
  • Wacana PKB Dihapus Diganti Jalan Provinsi Berbayar, Warga Jabar: Menarik Tapi Masih Membingungkan
  • Bandung Sehat Dimulai dari Rumah: Edukasi Gizi Tekankan Pola Makan Seimbang, Tidur Cukup, dan Gaya Hidup Aktif
  • ITB dan Pemkot Bandung Percepat Solusi Sampah Tamansari, Dorong Ekonomi Sirkular Berbasis Teknologi
  • Bandung Jadi Pusat Talenta Digital! Farhan Bongkar Strategi Besar Ekonomi Kreatif 2026
  • Padat Karya Kota Bandung 2026, Warga Dibayar Rp175 Ribu per Hari Sambil Bersihkan Lingkungan
  • UMKM Bandung Siap Go Digital! Pemkot Luncurkan Program Besar hingga AI dan TikTok
  • Dekranasda Bandung Gelar Workshop Rajut di Braga, Warga Diajak Jadi Pelaku UMKM Kreatif
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 14 Mei 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Jago Inggris Tapi Dihujat! Kisah Altaf Siswa Ternate yang Bikin Gubernur Sherly Turun Tangan

By Aga GustianaJumat, 27 Maret 2026 10:03 WIB5 Mins Read
Gubernur Sherly temui Altaf. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Angin laut di Pantai Falajawa, Kota Ternate, biasanya hanya membawa aroma garam dan suara tawa warga yang melepas penat. Namun, beberapa waktu lalu, suasana itu berubah menjadi panggung bagi seorang remaja bernama Altaf. Siswa asal MTsN Ternate ini mendadak menjadi perbincangan hangat setelah aksi komunikasinya yang impresif terekam dalam kamera.

Kisah Altaf bukan sekadar cerita tentang seorang siswa yang pandai bahasa asing. Ini adalah potret kontradiksi di tengah masyarakat kita: antara dambaan akan kemajuan dan ketakutan akan perbedaan yang berujung pada perundungan (bullying). Kisah ini pun akhirnya sampai ke telinga orang nomor satu di Maluku Utara, Gubernur Sherly Tjoanda, pada Rabu (25/3/2026).

Pesona dari Layar TikTok

Keberhasilan Altaf mencuri perhatian publik tidak lepas dari peran media sosial. Melalui akun TikTok @fandynaser, aktivitas Altaf yang kerap berlatih dan berdialog dengan warga asing di ruang publik sering dibagikan. Konten-konten tersebut memperlihatkan sisi gigih seorang pelajar madrasah yang tidak malu untuk mempraktikkan kemampuan bahasanya secara langsung di lapangan.

Namun, di balik dukungan ribuan likes dan komentar positif di jagat maya, realitas di sekolah justru menghujamnya. Sebagai siswa MTsN Ternate, Altaf harus menghadapi tantangan sosial yang cukup berat dari lingkungan sebayanya.

Dari Viral ke Luka: Sisi Gelap Popularitas

Dukungan publik di kolom komentar ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan penerimaan di dunia nyata. Di balik layar ponsel, Altaf harus menghadapi “bisik-bisik tetangga” yang tidak sedap. Teman-temannya di sekolah justru melontarkan komentar negatif yang membuat telinga memerah. Mereka mempertanyakan alasan Altaf terus mengulang-ulang pelajaran bahasanya, sebuah usaha keras yang justru dianggap aneh oleh lingkungan sekitarnya.

Keluhan ini pertama kali mencuat dalam sebuah acara di Bela Hotel Ternate. Seorang ibu, dengan nada cemas, menyampaikan kepada Gubernur Sherly bahwa Altaf sedang tidak baik-baik saja. Mental sang remaja teruji oleh cercaan kawan sebaya yang gagal memahami visinya.

Baca Juga:  Lama Tak Muncul, Ridwan Kamil Viral Gara-Gara Ikut Protes Delay di Bandara

Mendengar kabar tersebut, Sherly Tjoanda tidak tinggal diam. Ia segera meminta agar Altaf dihadirkan. Baginya, bakat seperti Altaf adalah aset yang harus dilindungi, bukan dibiarkan layu sebelum berkembang karena tekanan sosial.

Pertemuan di Ruang Gubernur: Melawan “Noise”

Tidak butuh waktu lama bagi siswa MTsN itu untuk berdiri di hadapan sang Gubernur. Dalam pertemuan yang berlangsung hangat namun sarat makna itu, Sherly mencoba menyelami isi kepala sang siswa. Ia ingin tahu, apa sebenarnya yang menggerakkan seorang anak dari Ternate untuk begitu gigih menguasai bahasa internasional tersebut secara mandiri.

Dengan jujur, Altaf mengutarakan mimpinya. Ia ingin menembus batas-batas geografis Maluku Utara. Cita-citanya tinggi: ia ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri, bahkan secara spesifik menyebut Spanyol sebagai salah satu tujuannya. Baginya, bahasa Inggris adalah kunci pembuka gerbang dunia.

Sherly Tjoanda mengangguk setuju. Ia melihat potensi besar dalam diri Altaf. Namun, ia juga menyadari bahwa tantangan terbesar Altaf saat ini bukanlah tata bahasa (grammar), melainkan ketangguhan mental menghadapi lingkungan.

“Dengan bisa berbahasa Inggris, itu akan membantu kamu di masa depan. Apa yang kamu lakukan sekarang adalah investasi untuk dirimu,” kata Sherly dengan nada menguatkan.

Baca Juga:  Heboh Video Viral Ukhti Mukena Pink, Benarkah Ada Versi Tanpa Sensor? Ini Faktanya

Namun, Altaf tak bisa menutupi keresahannya. Ia bercerita bagaimana komentar negatif teman-temannya terus menghantui. Mereka menertawakan proses belajarnya, mempertanyakan mengapa ia harus berpayah-payah belajar bahasa yang tidak dipakai sehari-hari di pasar atau di sekolah.

Mendengar itu, Sherly memberikan sebuah analogi yang mendalam tentang kehidupan modern yang penuh dengan distraksi.

“Dalam hidup ada yang namanya ‘noise’, hal-hal yang tidak penting. Kamu tidak perlu menjawabnya, cukup terus lakukan apa yang kamu lakukan,” ujar Sherly menasihati.

Gubernur menekankan bahwa komentar negatif tersebut hanyalah kebisingan yang tidak akan memberikan nilai tambah apa pun bagi masa depan Altaf. Justru keberanian Altaf untuk belajar secara otodidak adalah bukti kekuatan karakter yang jarang dimiliki anak seusianya.

Tamparan bagi Budaya Perundungan

Kasus Altaf adalah cermin retak dari fenomena sosial kita. Seringkali, saat seseorang mencoba melompat lebih tinggi atau melakukan sesuatu yang berbeda, lingkungan sekitar justru berusaha menariknya kembali ke bawah agar tetap “seragam”. Kemampuan bahasa Inggris Altaf dianggap sebagai sebuah ancaman atau keanehan, bukannya inspirasi.

Sherly Tjoanda menggunakan momentum pertemuan ini untuk mengirimkan pesan keras kepada masyarakat, khususnya generasi muda di Maluku Utara. Ia mengingatkan bahwa rasa iri atau ketidakmampuan tidak boleh menjadi alasan untuk menjatuhkan orang lain.

“Kalau tidak bisa berbahasa Inggris, jangan membuli yang bisa. Dan bagi yang sedang belajar, teruskan saja, jangan berhenti,” tegas sang Gubernur.

Pesan ini bukan hanya untuk teman-teman Altaf di MTsN Ternate, melainkan sebuah teguran bagi budaya kita yang terkadang alergi terhadap prestasi yang dianggap “asing”. Sherly ingin memastikan bahwa di bawah kepemimpinannya, anak-anak yang memiliki inisiatif untuk maju secara mandiri mendapatkan perlindungan moral yang cukup.

Baca Juga:  Viral! Wabup Garut Putri Karlina Adu Mulut dengan Warga Soal Janji Kampanye

“Saya sangat bangga denganmu. Kamu sudah berada di jalur yang tepat untuk berhasil,” tambahnya, memberikan validasi yang sangat dibutuhkan oleh jiwa muda Altaf.

Menuju Spanyol dan Masa Depan

Dukungan dari seorang pemimpin daerah memberikan angin segar bagi Altaf. Di tengah debur ombak Pantai Falajawa yang menjadi saksi bisu awal mula kisahnya viral di akun @fandynaser, Altaf kini memegang janji pada dirinya sendiri dan dukungan dari pemerintah daerah.

Investasi yang dimaksud Sherly Tjoanda bukan hanya soal materi, melainkan kapasitas intelektual. Di era globalisasi, bahasa Inggris bukan lagi sebuah kemewahan, melainkan kebutuhan dasar untuk berkompetisi. Altaf telah mengambil langkah awal yang berani, jauh mendahului rekan-rekan sebayanya yang masih sibuk mencibir.

Kisah ini memberikan pelajaran berharga bagi kita semua: bahwa pertumbuhan seringkali memicu ketidaknyamanan bagi orang lain. Namun, seperti yang dikatakan Sherly, itu hanyalah noise. Bagi para “Altaf” lainnya di luar sana yang mungkin sedang berjuang mempelajari hal baru di tengah cemoohan, ingatlah bahwa suara yang paling penting untuk didengar adalah suara keyakinan diri sendiri.

Perjalanan Altaf masih panjang. Namun, dengan mentalitas yang kini lebih tangguh menghadapi “kebisingan” dunia, langkahnya menuju benua Eropa atau belahan dunia mana pun, kini terasa sedikit lebih ringan.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Altaf Ternate Gubernur Maluku Utara MTsN Ternate Pantai Falajawa Sherly Tjoanda Viral TikTok
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Kelas Bos! Lihat Apa yang Dilakukan Pria Ini Saat Sulap Dinding Kusam Jadi Emas!

Catat! Jadwal Operasional bank bjb Selama Libur Nasional dan Cuti Bersama Mei 2026

Lari Gratis di Dieng Caldera Race 2026? Cukup Nabung di bank bjb, Begini Caranya!

Video Guru Bahasa Inggris vs Siswa, Bikin Heboh, Ada Kejanggalan Mengejutkan di Menit ke 2

Panduan Lengkap SPMB Kota Bandung 2026: Aturan Baru, Jalur, dan Jadwal Penting yang Wajib Diketahui Orang Tua

Link Asli Video Viral? Guru Vs Murid Durasi 6 Menit Bikin Penasaran Publik

Terpopuler
  • Link Full Video Guru Bahasa Inggris Viral Banyak Dicari, Publik Diingatkan Bahaya Phishing
  • Link Video Guru Bahasa Inggris Viral Berdurasi Panjang Ramai Dicari, Ini Faktanya
  • Link Video Guru Bahasa Inggris Ramai Dicari, Link 6 Menit Ternyata Jebakan Phishing
  • Link Video Bu Guru Bahasa Inggris Diburu Netizen, Identitas Pemeran Masih Misterius
  • Persib Bandung Gigit Jari? Striker Abroad Timnas Indonesia Dipastikan Bertahan di Eropa Musim Depan
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.