bukamata.id – Niat menyentil, Jerome Polin justru ikut tersentil. YouTuber yang dikenal vokal itu menjadi sasaran serangan balik setelah mengunggah sindiran soal hoaks di akun Threads pribadinya, yang oleh warganet dinilai mengarah kepada Raffi Ahmad. Bukan hanya warganet, orang-orang terdekat Raffi pun ikut pasang badan dan mengungkit jasa sang presenter di awal karier Jerome.
Dari tudingan “kacang lupa kulit” hingga tuduhan pernah menyebarkan hoaks, polemik ini berkembang jauh melampaui satu kalimat yang diunggah Jerome. Berikut kronologi lengkapnya.
Berawal dari Deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI
Semua bermula dari Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026 yang diinisiasi Polda Metro Jaya di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Kamis (29/10/2026). Acara bertema “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia” itu dihadiri Raffi Ahmad dalam kapasitasnya sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni.
Di hadapan peserta, Raffi mengajak generasi muda untuk aktif melawan penyebaran berita bohong atau hoaks di media sosial.
Namun, acara itu kemudian menuai kontroversi. Muncul pengakuan dari sejumlah peserta bahwa mereka bukan mahasiswa dan diduga mendapat bayaran. Beberapa orang berkemeja almamater yang diwawancarai awak media bahkan diduga merupakan mahasiswa sewaan.
Gelombang kritik pun mengarah kepada Raffi, dan sejumlah figur publik ikut bersuara. Salah satunya Jerome Polin.
Satu Kalimat yang Memantik Badai
Di tengah polemik, Jerome menulis sindiran pendek di akun Threads @jeromepolin.
“Disuruh melawan hoax sama yang bikin hoax,” tulis Jerome.
Jerome tidak menyebut nama siapa pun. Namun, warganet langsung mengaitkan unggahan itu dengan Raffi Ahmad. Sorotan makin tajam setelah Jerome kedapatan tidak lagi mengikuti akun Instagram bersama Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, @raffinagita1717.
Bagi sebagian publik, unfollow itu bukan sekadar urusan media sosial. Pasalnya, Jerome dan keluarga Raffi selama ini dikenal memiliki hubungan pertemanan yang cukup dekat. Dari sinilah serangan balik bermula.
Kubu Raffi Pasang Badan: “Tanpa Raffi Nagita Bukan Siapa-siapa”
Reaksi paling keras justru datang dari lingkaran terdekat Raffi. Asisten pribadi Raffi, Merry, melontarkan sindiran yang menilai Jerome tidak tahu berterima kasih atas masa lalunya.
“Jerome tanpa Raffi Nagita bukan siapa-siapa, jleb banget,” tulis akun Merry.
Tak hanya Merry, Mbak Lala, pengasuh Rafathar, turut mengunggah ulang potongan video yang memperlihatkan Jerome mengakui namanya dikenal publik berkat bantuan Raffi. Unggahan dari akun @merryraffiahmad dan @shela_lala96 itu langsung memancing perdebatan, dan cap “kacang lupa kulit” pun melekat pada Jerome.
“Kacang lupa kulitnya Lo parah @jeromepolin,” tulis seorang warganet.
Kisah 2018 yang Kembali Diungkit
Video yang diunggah ulang itu membawa publik kembali ke tahun 2018. Dalam sebuah percakapan, Jerome pernah menceritakan awal perkenalannya dengan Raffi.
Saat itu, Jerome masih kuliah di Jepang. Dalam sebuah podcast pada 2021, ia mengungkapkan bahwa kala itu pengikut Instagram-nya belum mencapai 100 ribu dan kanal YouTube-nya masih di kisaran 500 ribu subscriber. Ketika Raffi hendak berkunjung ke Jepang, Jerome ikut mengirim pesan meski tak berharap dibalas. Tak disangka, Raffi justru menghubunginya lewat pesan langsung dan mengajaknya bertemu.
Setelah Raffi menandai akun Jerome dalam unggahannya, jumlah pengikut Instagram Jerome melonjak hingga menembus 100 ribu. Jerome sendiri pernah menyebut momen itu sebagai salah satu pengalaman yang mengubah hidupnya.
Pengakuan itulah yang kini dijadikan “amunisi” untuk menyerang balik Jerome.
Senjata Makan Tuan? Jerome Dituding Pernah Sebar Hoaks
Serangan tidak berhenti pada soal balas budi. Karena Jerome menyindir soal hoaks, sejumlah warganet di kolom komentar TikTok dan Instagram berbalik menudingnya munafik. Mereka mengungkit sejumlah hal yang dianggap sebagai kesalahan atau “hoaks” masa lalu Jerome.
Salah satu tudingan yang paling banyak beredar menyangkut uang Rp150 juta. Banyak warganet menuding Jerome pernah menyebarkan hoaks terkait angka tersebut. Padahal, narasi ini keliru dan justru terbalik dari fakta sebenarnya.
Pada akhir Agustus 2025, Jerome membongkar tangkapan layar percakapan dari sebuah agensi yang menawarinya bayaran Rp150 juta untuk membuat konten berisi ajakan damai dari pemerintah, DPR, Brimob, ojol, dan masyarakat. Jerome menolak tegas tawaran tersebut, dan menilai uang sebesar itu untuk sekali unggahan lebih baik dipakai untuk menyejahterakan guru. Kakaknya, Jehian Sijabat, juga menegaskan bahwa pesan tawaran itu memang masuk ke tim partnership agensi Mantappu Corp.
Selain itu, sebagian warganet juga menyentil konten kritik politik Jerome, seperti pembahasan tunjangan DPR, isu Chromebook, hingga kasus Nadiem Makarim. Mereka menilai konten-konten tersebut terlalu hiperbola atau mengandung misinformasi demi kepentingan opini pribadi. Namun, tudingan ini sebatas penilaian warganet dan belum disertai bukti yang jelas.
Warganet Terbelah
Meski serangan datang bertubi-tubi, tidak sedikit warganet yang membela Jerome. Mereka mengingatkan bahwa Jerome membangun popularitasnya sendiri melalui kanal YouTube Nihongo Mantappu dan konten bersama Waseda Boys.
“Gue tau Jerome bukan dari RANS,” tulis seorang pengguna Instagram.
Ada pula yang menilai kritik terhadap Raffi tidak semestinya dibalas dengan persoalan utang budi.
“Mindsetnya ‘Benar adalah benar, Salah adalah Salah’ jangan karena pernah dibantu terus tutup mata sama kesalahannya, teman yang benar adalah yang mengingatkan jika salah,” tulis warganet lain.
Perdebatan ini memperlihatkan dua cara pandang yang berbeda. Satu pihak menekankan pentingnya balas budi dalam hubungan pribadi, sementara pihak lain menilai kritik terhadap pejabat publik harus dipisahkan dari urusan kedekatan personal.
Jerome Polin: “Nobody Can Buy My Integrity”
Di tengah gelombang hujatan dan cap “kacang lupa kulit”, Jerome tidak tinggal diam. Melalui akun Threads miliknya, ia kembali mengunggah respons singkat pada Senin (2/11/2026).
“Nobody can buy my integrity,” tulis Jerome, yang berarti tidak ada yang bisa membeli integritasnya.
Kalimat pendek itu dibaca warganet sebagai penegasan sikap: bahwa kedekatan atau jasa di masa lalu tidak akan membuatnya berhenti bersuara.
Jehian Ikut Bersuara
Kakak Jerome, Jehian Panangian Sijabat, turut merespons ramainya pembahasan soal unfollow melalui akun Threads @jehianps. Ia mempertanyakan mengapa urusan mengikuti akun Instagram justru menjadi perdebatan, sementara isu kebakaran hutan masih membutuhkan perhatian.
Jehian juga mengaku sudah lebih dulu berhenti mengikuti Raffi sejak tahun lalu. “Saya sendiri udah unfoll dari tahun lalu gara-gara ditelfon perihal ngepost tentang ojol yang meninggal dilindas. Langsung hilang respect,” tulisnya.
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan dari pihak Raffi Ahmad terkait pernyataan Jehian tersebut.
Raffi Ahmad Minta Maaf untuk Kedua Kalinya
Sebelum ramai soal Jerome, Raffi Ahmad telah dua kali menyampaikan permintaan maaf atas polemik kehadirannya di Bundaran HI. Permintaan maaf kedua disampaikan lewat video di akun Instagram resmi @ukp_mudaseni_raffiahmad, Minggu (1/11/2026).
Dalam video tersebut, Raffi menegaskan kehadirannya hanya sebagai tamu undangan, merujuk pada penjelasan Polda Metro Jaya selaku penyelenggara.
“Saya Raffi Ahmad. Dengan kerendahan hati saya, izinkan saya menyampaikan beberapa hal terkait acara pada tanggal 29 Oktober lalu. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Polda Metro Jaya selaku penyelenggara acara, saya hadir sebagai undangan dalam kegiatan kepemudaan tersebut,” ungkap Raffi.
Suami Nagita Slavina itu menjelaskan, memenuhi undangan sudah menjadi kebiasaannya sejak lama.
“Sudah menjadi kebiasaan dari sejak dulu di setiap ada undangan siapa pun yang mengundang saya, InsyaAllah saya selalu mengupayakan untuk hadir walaupun sebentar,” ucapnya.
Raffi juga mengakui niat baik tetap harus dibarengi ketelitian.
“Saya mohon maaf dari hati saya atas kegaduhan yang timbul dari kehadiran saya. Saya sangat memahami bahwa niat baik tetap perlu disertai ketelitian pada setiap kegiatan yang akan dihadiri,” kata Raffi.
“Dan kejadian ini menjadi pengingat bagi saya untuk lebih teliti, memahami informasi, dan lebih berhati-hati dalam mengambil langkah,” ujarnya.
Ia pun mengajak masyarakat untuk bijak menyikapi informasi.
“Selama ini saya mengajak masyarakat seluruhnya untuk tidak menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya, menjauhkan dari ujaran kebencian, apalagi yang diiringi dengan caci maki sampai dengan fitnah,” tambahnya.
Di akhir pernyataannya, Raffi berterima kasih atas kritik dan masukan publik.
“Terima kasih sekali lagi atas perhatian, kritik, dan masukan yang diberikan. Semuanya ini pastinya menjadi pembelajaran bagi saya untuk terus memperbaiki diri. Saya berharap penjelasan yang telah disampaikan dapat membantu memperjelas situasi yang sebenar-benarnya terjadi, sekaligus ini menjadi bahan pembelajaran dan evaluasi bagi semua pihak termasuk saya,” pungkas Raffi.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











