bukamata.id – Ratusan purnama telah berlalu, dan doa itu akhirnya terjawab. Dokter sekaligus kreator konten kesehatan dr. Gia Pratama mengumumkan kabar yang telah lama ia nantikan: sang istri, Syafira Imaniar, tengah mengandung anak pertama mereka setelah delapan tahun berikhtiar.
Kabar bahagia itu bukan disampaikan lewat konferensi pers atau unggahan yang dirancang rapi. dr. Gia mengucapkannya spontan di hadapan para orang tua dalam sebuah seminar parenting di salah satu sekolah di Sragen, Jawa Tengah, Sabtu (31/10/2026).
“Alhamdulillah istriku hamil. Sudah kedengeran detak jantungnya, Bu. Dokter sendiri yang mengatakan,” ujar dr. Gia, seperti terlihat dalam video yang beredar di media sosial.
Ruangan seketika riuh. Sorakan dan ucapan selamat mengalir dari para peserta. Dengan senyum yang tak bisa disembunyikan, dr. Gia meminta satu hal dari mereka.
“Akhirnya hamil setelah menunggu ratusan purnama. Doain sehat-sehat sampai persalinan, Bu, ya,” tuturnya.
Air Mata di Ruang USG
Di balik pengumuman spontan itu, ada momen yang jauh lebih personal. Lewat akun Instagram pribadinya, @giapratamamd, dr. Gia membagikan video saat ia dan Syafira menjalani pemeriksaan USG di dokter spesialis kandungan.
Ketika dokter menyampaikan bahwa detak jantung janin sudah terdengar, dr. Gia tak mampu menahan air mata. Ia mengecup kepala Syafira yang berbaring di ranjang periksa. Keduanya menangis bersama, sebuah tangis yang tertahan bertahun-tahun.
Dalam keterangan unggahannya, dr. Gia mengucap syukur atas doa yang tak pernah putus dari orang-orang di sekitarnya.
“Teman-teman, terima kasih banyak untuk semua doanya selama ini. Alhamdulillah, Allah telah menjawab doa kita. Istriku, Syafira, hamil,” tulisnya.
Buah Manis Program Bayi Tabung
Kehamilan ini merupakan hasil program in vitro fertilization (IVF) atau bayi tabung. dr. Gia menyampaikan terima kasih kepada dr. Christofanie Kapatria beserta tim Siloam Fertility Center dan RS Siloam Lippo Village yang mendampingi mereka.
Jalan menuju titik ini tidak mudah. dr. Gia dan Syafira menikah pada 2017. Sejak itu, mereka terus berikhtiar memperoleh keturunan. Program bayi tabung pernah mereka coba sebelumnya, tetapi belum membuahkan hasil.
Mereka tak menyerah. Pada awal 2026, pasangan ini kembali menjalani program IVF. Prosesnya mereka bagikan secara terbuka di media sosial, mulai dari stimulasi hormon, pengambilan sel telur, pembuahan, hingga transfer embrio pada September 2026.
Keterbukaan itu membuat banyak pengikutnya ikut merasakan setiap tahap penantian. Tak heran, ketika kabar baik akhirnya datang, kebahagiaan seolah menjadi milik bersama.
Ke depan, dr. Gia berencana membagikan perjalanan IVF mereka dari awal lewat serial bertajuk IVF Journey Diary: dr. Gia Pratama, dengan episode pertama berjudul “Detak Pertama”.
Banjir Ucapan Selamat, dari Warganet hingga Deddy Corbuzier
Kolom komentar unggahan dr. Gia segera dipenuhi doa dan ucapan selamat.
“Masyaallah, senangnya. Selamat Mas Gia dan istri. Semoga sehat terus dan lancar sampai persalinan nanti dan seterusnya,” tulis akun @dr.***.
“Alhamdulillah, masyaallah, selamat dokter Gia dan istri, sehat selalu dedek bayinya juga, lancar sampai lahiran,” tulis akun @sad***.
“Alhamdulillah ikut senang dengarnya. Semoga semua diberi kesehatan,” tulis akun @mas***.
Ucapan juga datang dari sejumlah figur publik. Deddy Corbuzier menulis, “I can’t say a words other than….. Love and Gratitude.” Sementara Habib Ja’far melalui akun @husein_hadar menulis singkat, “Ya Rabb. Alhamdulillah.”
Siapa dr. Gia Pratama?
Bagi warganet, dr. Gia bukan sekadar dokter yang aktif di media sosial. Ia dikenal sebagai dokter IGD, penulis, sekaligus edukator kesehatan dengan gaya bicara yang lembut.
Berikut biodata singkatnya:
- Nama lengkap: Gia Pratama Putra
- Tempat, tanggal lahir: Jakarta, 31 Agustus 1985
- Profesi: Dokter umum, mantan Kepala IGD, penulis, dan edukator kesehatan
- Pendidikan: Fakultas Kedokteran Universitas YARSI
- Instagram: @giapratamamd
Ditempa di Ruang Gawat Darurat
Perjalanan dr. Gia di dunia medis dimulai selepas lulus dari SMA Negeri 34 Jakarta. Ia melanjutkan studi ke Fakultas Kedokteran Universitas YARSI, Jakarta.
Masa koasnya di sejumlah rumah sakit daerah, seperti RSUD Garut dan RSUD Serang, mempertemukannya dengan realitas dunia medis yang sesungguhnya, termasuk beragam kasus gawat darurat.
Setelah meraih gelar dokter, ia memilih terjun ke Instalasi Gawat Darurat, ruang yang setiap harinya dipenuhi kepanikan dan pertaruhan nyawa. Dedikasinya membawanya dipercaya menjadi Kepala IGD.
Kariernya tak berhenti di ruang klinis. dr. Gia juga pernah menjabat sebagai manajer humas di sejumlah rumah sakit di Jakarta Selatan, termasuk RS Prikasih dan RSUP Fatmawati. Peran itu mengasah kemampuannya menjembatani institusi kesehatan dengan masyarakat.
Dari Utas Twitter ke Layar Lebar
Di sela jadwalnya yang padat, dr. Gia menyalurkan hobi menulis. Buku perdananya, Garda Detak (2015), berisi kisah-kisah nyata dari ruang gawat darurat. Disusul Perikardia (2019) yang menggali sisi emosional manusia dari kacamata medis.
Namun, karya yang paling melambungkan namanya justru lahir dari kisah cintanya sendiri. Lewat utas di Twitter, ia menceritakan pertemuannya dengan Syafira. Cerita itu viral, dibukukan menjadi novel #BerhentiDiKamu, lalu diadaptasi ke layar lebar.
Ironisnya, kisah cinta yang dinikmati banyak orang itu menyimpan satu bab yang lama belum tertulis: kehadiran buah hati. Kini, bab itu akhirnya mulai ditulis.
Julukan “Dokter Tenteram”
Di media sosial, dr. Gia dikenal sebagai health promoter yang piawai menyederhanakan istilah medis menjadi cerita yang mudah dipahami. Nada bicaranya yang lembut menjadi ciri khas.
Warganet kerap membandingkannya dengan dr. Tirta yang dikenal berapi-api, hingga muncul julukan “dokter tenteram” untuk dr. Gia. Gaya yang membumi dan tidak menggurui membuat unggahannya selalu dinanti.
Kini, pengikutnya punya alasan baru untuk menanti: kabar perkembangan “Detak Pertama” yang telah ditunggu delapan tahun lamanya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










