bukamata.id – Menjalani kehidupan sebagai mahasiswa bukan hanya tentang mengejar nilai akademik, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mengenali diri, memperluas pengalaman, dan mengembangkan potensi. Hal itulah yang terus dilakukan Adjeng Wulandari, mahasiswa semester 7 Universitas Islam Bandung (Unisba) yang aktif berorganisasi sekaligus menorehkan prestasi di bidang nonakademik.
Di tengah kesibukannya menyusun skripsi, Adjeng masih aktif menjalankan peran dalam organisasi. Ia mengikuti organisasi ekstra kampus dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Islam Bandung. Sebelumnya, ia juga pernah dipercaya menjadi Ketua BEM Fakultas Dakwah Unisba. Kini, Adjeng mengemban amanah sebagai Menteri Dalam Negeri BEM Universitas.
Bagi Adjeng, akademik dan organisasi merupakan dua hal yang sama-sama penting. Akademik menjadi tujuan utamanya menempuh pendidikan di Bandung, sedangkan organisasi menjadi ruang untuk mengeksplorasi potensi dan menemukan jati diri.
“Dua-duanya harus jalan,” ujar Adjeng saat diwawancarai bukamata.id di Bandung, Kamis (29/10/2026).
Keaktifannya membuat Adjeng dikenal sebagai sosok organisatoris di lingkungan kampus. Ia mengaku senang bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang. Baginya, bersosialisasi bukan sekadar memperluas relasi, melainkan juga sumber energi untuk terus berkembang.
Muda Berkarya, Tua Bercerita
Keinginan untuk mencoba banyak hal menjadi salah satu alasan Adjeng aktif dalam berbagai kegiatan. Ia berpegang pada prinsip “muda berkarya, tua bercerita” sebagai dorongan untuk memanfaatkan masa muda dengan sebaik-baiknya.
Menurutnya, terlalu takut menghadapi masa depan justru dapat membatasi pengetahuan dan pengalaman. Karena itu, ia berusaha membuka diri terhadap berbagai kesempatan, baik di bidang akademik, nonakademik, maupun organisasi.
“Aku merasa kalau di masa muda ini kita enggak mencoba hal ini itu, kita terlalu takut terhadap apa yang terjadi di masa depan, justru malah membuat pengetahuan dan pengalaman kita terbatas,” tuturnya.
Meski demikian, perjalanan Adjeng tidak selalu berjalan sesuai harapan. Seiring bertambahnya pengalaman, ia mulai memahami bahwa ekspektasi yang dibangun dalam pikiran tidak selalu sejalan dengan kenyataan.
Ia menyebut dirinya tengah berada dalam masa transisi dari fase pencarian jati diri menuju pendewasaan. Baginya, kedewasaan bukan sekadar menerima keadaan, melainkan kemampuan untuk memahami kenyataan sembari terus berikhtiar mencari peluang dan belajar dari pengalaman.
Ketua BEM hingga Juara Nasional Karate
Salah satu pencapaian yang paling berkesan bagi Adjeng adalah ketika dipercaya menjadi Ketua BEM Fakultas Dakwah Unisba. Amanah tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan organisasinya, sekaligus ruang untuk belajar memikul tanggung jawab.
Selain aktif di kampus, Adjeng juga memiliki prestasi di bidang olahraga. Ia berhasil meraih juara dua dalam kompetisi karate tingkat nasional di Universitas Brawijaya.
Prestasi tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga membuka peluang lain dalam perjalanan akademiknya. Berkat pencapaian di bidang karate, Adjeng memperoleh beasiswa prestasi yang turut mendukung pendidikannya.
Baginya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kegiatan nonakademik dapat memberikan dampak positif bagi kehidupan akademik. Berbagai pengalaman yang dijalani juga membuka kesempatan untuk mengenali potensi diri lebih jauh.
Namun, di balik pencapaian yang terlihat, terdapat proses yang tidak selalu diketahui orang lain. Adjeng mengungkapkan bahwa salah satu tantangan terbesarnya adalah menghadapi rasa takut, terutama ketakutan akan kegagalan dan penilaian orang lain.
“Yang paling sulit itu ketika kita coba memerangi rasa takut kita ataupun overthinking kita. Ketika kita memang sudah bisa melewati itu semua, jalan selanjutnya bakal lebih lancar,” ungkapnya.
Ia menyadari bahwa rasa takut sempat memperlambat langkahnya. Karena itu, ia terus belajar untuk tidak membiarkan keraguan menghalangi kesempatan yang datang.
Alih-alih berhenti setelah mencapai satu tujuan, Adjeng justru merasa tertantang untuk mencoba hal berikutnya. Semangat tersebut membuatnya terus mencari ruang untuk berkembang dan berkontribusi.
Bandung yang Indah, Romantis, sekaligus Ironis
Bagi Adjeng, Bandung merupakan kota yang memiliki banyak sisi menarik. Ia memilih tiga kata untuk menggambarkan kota ini, yakni indah, romantis, dan ironis.
Menurutnya, keindahan Bandung terlihat dari tata kota, perkembangan infrastruktur, nilai seni pada bangunan, serta alam yang masih menjadi bagian dari daya tariknya. Sementara itu, kata romantis menggambarkan banyaknya cerita dan kenangan yang terjalin di kota ini.
Namun, di balik dua sisi tersebut, Adjeng juga melihat persoalan sosial yang perlu mendapat perhatian. Ia menilai masih ada suara masyarakat yang belum sepenuhnya terdengar oleh pemerintah.
“Suara rakyat juga masih belum terdengar secara langsung oleh pemerintahan yang ada, dengan beberapa isu sosial yang terjadi di dalamnya,” katanya.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa kecintaannya terhadap Bandung tidak hanya berhenti pada keindahan kotanya. Ia juga menaruh perhatian pada persoalan masyarakat yang membutuhkan kepedulian dan keterlibatan bersama.
Jika diberi kesempatan untuk berkontribusi lebih jauh, Adjeng ingin terlibat dalam komunitas atau organisasi yang berfokus pada isu sosial dan lingkungan, khususnya di Kota Bandung.
Keinginan itu sejalan dengan pengalamannya selama berorganisasi. Ia berharap pengalaman membangun relasi, bekerja sama, dan memahami berbagai persoalan dapat menjadi bekal untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Melawan Ketakutan dan Terus Bertumbuh
Bagi Adjeng, keberhasilan bukan hanya tentang piala, jabatan, atau pencapaian yang dapat dilihat orang lain. Ada keberanian untuk mencoba, menghadapi keraguan, dan tetap melangkah meski hasilnya belum tentu sesuai harapan.
Motivasi terbesarnya adalah membahagiakan orang tua dan menjalani masa muda dengan pengalaman yang bermakna. Ia ingin suatu hari nanti dapat menceritakan berbagai proses yang telah dilalui, termasuk tantangan dan pelajaran yang membentuk dirinya.
Menutup perbincangan, Adjeng menyampaikan pesan kepada anak muda yang sedang berjuang mencapai tujuan masing-masing. Ia mengingatkan bahwa tidak ada manusia yang sempurna, sehingga setiap orang perlu mengenali potensi dan memaksimalkan kemampuan yang dimiliki.
“You can’t be perfect, cause nobody is perfect, and don’t let them see what you’re not,” pesannya.
Bagi Adjeng, masa muda merupakan kesempatan untuk terus berkarya, belajar, dan mengembangkan diri. Sebab, di balik setiap pencapaian, selalu ada proses panjang yang menuntut keberanian untuk melawan ketakutan dan kemauan untuk terus bertumbuh.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










