bukamata.id – Di tengah berbagai tantangan hidup, kisah Dr. Rozi, S.Pi., M.Biotech, menjadi salah satu cerita paling inspiratif dari dunia pendidikan Indonesia pada tahun 2026. Dosen Universitas Airlangga (Unair) ini membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk meraih prestasi akademik tertinggi.
Rozi resmi menyandang gelar doktor setelah lulus dari Program Studi S3 Sains Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga dengan predikat cumlaude dan IPK sempurna 4.00 pada Wisuda ke-261 Unair, pertengahan April 2026.
Lebih luar biasanya, ia menyelesaikan studi tersebut dalam waktu 3 tahun 11 bulan sambil tetap menjalankan tugas sebagai dosen aktif di Departemen Akuakultur, Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Unair.
Perjalanan Akademik: Dari Dosen Aktif hingga Peneliti Produktif
Di balik gelar doktor yang diraihnya, Rozi menjalani kehidupan akademik yang sangat padat. Ia tetap menjalankan tridharma perguruan tinggi secara penuh, mulai dari mengajar, meneliti, mengabdi kepada masyarakat, hingga publikasi ilmiah.
Selama masa studi doktoralnya, Rozi berhasil mempublikasikan dua artikel internasional bereputasi Scopus Q1 dan tiga artikel Scopus lainnya. Ia juga aktif sebagai editor jurnal internasional bereputasi Scopus.
Capaian ini menjadikannya tidak hanya sebagai akademisi, tetapi juga peneliti yang produktif di tingkat internasional.
Namun bagi Rozi, semua pencapaian tersebut bukan sekadar angka akademik. Ia melihatnya sebagai bukti bahwa pendidikan inklusif benar-benar dapat membuka ruang setara bagi setiap individu.
“Pendidikan adalah hak semua orang. Keterbatasan tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti belajar dan bertumbuh,” ujar Rozi.
Profil Singkat Dr. Rozi
- Nama: Dr. Rozi, S.Pi., M.Biotech
- Profesi: Dosen Universitas Airlangga
- Unit: Departemen Akuakultur, FPK Unair
- Gelar: Doktor Sains Veteriner (FKH Unair)
- IPK: 4.00 (Cumlaude)
- Lama Studi: 3 tahun 11 bulan
- Keahlian: Akuakultur, bioteknologi, riset perikanan
- Karya ilmiah: Publikasi Scopus Q1 & Scopus, editor jurnal internasional
Latar Belakang: Anak Penjual Ikan dari Muaro Jambi
Dr. Rozi lahir dan tumbuh di Desa Markanding, Sungai Bahar, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Ia merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara dari pasangan Musli dan Mastinah.
Keluarganya hidup sederhana dengan mengandalkan usaha berjualan ikan secara eceran. Dari lingkungan inilah semangat Rozi untuk menempuh pendidikan tinggi tumbuh dan terus menguat.
Bagi Rozi, sosok ayah menjadi inspirasi utama dalam hidupnya.
“Ayah saya mungkin tidak memahami apa itu jurnal internasional atau disertasi doktoral, tetapi beliau mengajarkan kerja keras, ketulusan, dan semangat untuk tidak menyerah,” tuturnya.
Perjuangan Berat Sebagai Penyandang Disabilitas Daksa
Perjalanan hidup Rozi tidak mudah. Ia merupakan penyandang disabilitas daksa setelah mengalami amputasi kedua kakinya.
Peristiwa tersebut menjadi titik balik paling berat dalam hidupnya. Ia mengakui sempat berada dalam fase sulit untuk menerima kenyataan yang mengubah seluruh hidupnya.
Namun seiring waktu, ia menemukan kekuatan baru dalam dirinya.
“Saya belajar bahwa manusia tidak selalu diuji untuk dijatuhkan, tetapi kadang diuji untuk menemukan versi terkuat dari dirinya,” ungkapnya.
Di tengah kondisi tersebut, keluarga menjadi sumber kekuatan terbesar.
“Kadang ketika saya merasa lelah, saya ingat bahwa mungkin ada doa ibu yang tidak pernah putus menyebut nama saya,” tambahnya.
Lingkungan Kampus Unair yang Inklusif dan Mendukung
Selain dukungan keluarga, lingkungan akademik Universitas Airlangga juga memainkan peran besar dalam perjalanan Rozi.
Ia mengaku mendapatkan dukungan penuh dari pimpinan fakultas, dosen, tenaga kependidikan, hingga rekan sejawat.
Menurutnya, yang paling berharga bukan hanya fasilitas fisik, tetapi penerimaan sebagai manusia yang setara.
“Yang paling saya rasakan bukan hanya fasilitas fisiknya, tetapi bagaimana saya diterima sebagai bagian dari lingkungan akademik secara setara,” jelasnya.
Unair sendiri telah menyediakan berbagai fasilitas aksesibilitas seperti ramp, lift ramah kursi roda, serta akses gedung yang lebih inklusif.
Namun bagi Rozi, inklusivitas sejati tidak berhenti pada infrastruktur.
“Kadang akses paling mahal bagi penyandang disabilitas bukan lift atau ramp, tetapi rasa diterima sebagai manusia yang setara,” katanya.
Pendidikan Inklusif dan Harapan untuk Masa Depan
Rozi menekankan bahwa pendidikan inklusif harus mencakup lebih dari sekadar fasilitas fisik. Ia menyebut pentingnya akses informasi, komunikasi, dan lingkungan belajar yang ramah bagi semua jenis disabilitas.
Ia juga berharap Airlangga Inclusive Learning (AIL) dapat terus berkembang menjadi pusat layanan disabilitas yang kuat, adaptif, dan kolaboratif.
“Inclusive learning bukan hanya tanggung jawab unit layanan disabilitas, tetapi budaya bersama seluruh sivitas akademika,” ujarnya.
Rozi berharap semakin banyak mahasiswa penyandang disabilitas yang berani melanjutkan pendidikan tinggi dan mengembangkan potensi diri.
“Saya percaya setiap orang punya kesempatan untuk tumbuh dan berprestasi. Kadang yang dibutuhkan hanya ruang yang menerima mereka untuk berkembang,” tegasnya.
Kisah Inspiratif yang Menggema di Media Sosial
Kisah Rozi juga mendapat banyak respons positif dari warganet. Banyak yang memberikan doa dan apresiasi atas perjuangannya menempuh pendidikan hingga jenjang doktoral, dikutip dari kolom komentar Instagram @kamusmahasiswa.
“MasyaAllah, berkah ilmunya. Sehat dan sukses terus Pak,” tulis salah satu akun.
“Beliau dosen pembimbing anak saya, luar biasa sosoknya,” komentar lainnya.
“Dulu sempat ikut sedih dengar ceritanya, sekarang bangga sekali,” tulis warganet lain.
Respons ini menunjukkan bahwa kisah Rozi tidak hanya menjadi prestasi akademik, tetapi juga inspirasi bagi masyarakat luas.
Penutup: Simbol Keteguhan dalam Dunia Pendidikan
Dr. Rozi menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan bukan akhir dari perjalanan hidup. Dari seorang anak penjual ikan di Muaro Jambi, ia berhasil menembus dunia akademik hingga meraih gelar doktor cumlaude di salah satu universitas terbaik Indonesia.
Kisahnya menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya tentang kemampuan intelektual, tetapi juga tentang keteguhan hati, kerja keras, dan dukungan lingkungan yang inklusif.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










