bukamata.id – Asap pekat berwarna abu-abu kehitaman membumbung tinggi, menyelimuti cakrawala yang biasanya memperlihatkan keindahan deretan perbukitan hijau khas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Di bawah terik matahari kemarau yang menyengat, debu vulkanik dan abu sisa pembakaran beterbangan, memedihkan mata dan menyesakkan dada. Namun, di tengah ladang bara api yang kian meluas itu, tampak sekelompok pria berkeringat peluh dengan baju merah berdebu, bahu-membahu menahan gempuran si jago merah.
Agustus 2026 menjadi saksi bisu ujian berat bagi sang gunung suci. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dahsyat kembali melahap kaldera Bromo. Berawal dari kobaran api di Blok Bantengan pada Senin (3/8/2026) sore, pergerakan api meluas tanpa kendali, menjalar hingga Watugede, P30, Penanjakan Satu, hingga mendekati kawasan Puncak B29 di Desa Argosari, Lumajang. Lebih dari 520 hektare hamparan savana, ilalang kering, vegetasi langka, hingga hamparan abadi bunga edelweiss hangus terbakar menjadi arang.
Di balik helikopter water bombing yang meraung-raung di udara dan koordinasi pejabat di posko darurat, ada kisah kemanusiaan yang jauh lebih sunyi namun begitu bergetar: perjuangan para relawan, petugas Brigdalkarhut, serta aparat TNI-Polri di garis depan pertempuran darat. Mereka adalah benteng terakhir yang berdiri di antara kobaran api dan kelestarian Bromo.
Gebyok Ranting dan Napas yang Terengah di Jalur Tikus
Garis awal bencana ini bermula dari ketinggian Blok Bantengan, Kecamatan Senduro, Lumajang. Titik tersebut bukanlah kawasan wisata umum, melainkan “jalur tikus” terabasan tradisional yang biasa dilintasi warga lokal dari Jemplang menuju Desa Argosari maupun Ranu Pani. Diduga kuat, ulah tak bertanggung jawab manusia yang melintas memicu percikan api pertama. Di tengah musim kemarau yang mengeringkan tiap helai rumput, spark kecil itu bertransformasi menjadi petaka besar.
Bagi para relawan gabungan, memadamkan api di medan berbukit bukan sekadar perang melawan panas, melainkan perang menaklukkan topografi yang curam. Ketika mobil pemadam kebakaran tangki meliuk-liuk di medan savana yang bergelombang, tak jarang roda-roda berat itu tersangkut dan amblas di tanah berpasir yang gembur.
Tampak potret yang menggetarkan hati ketika belasan relawan, personel TNI, dan aparat kepolisian saling dorong bersama-sama mengejan kuat-kuat, merengkuh bodi truk merah tangki pemadam yang amblas di tengah rumput kering. Dengan urat-urat leher yang menegang dan teriakan penyemangat yang bersahutan, mereka mendorong armada agar kembali bisa menerjang medan api.
“Api tidak menunggu kita siap,” ujar seorang petugas di lapangan. Alat-alat canggih seperti drone penyemprot air hingga helikopter memang dikerahkan, namun untuk memadamkan bara-bara kecil yang bersembunyi di sela tebing dan cekungan rumput, tangan-tangan manusialah yang harus bekerja langsung.
Dengan alat bernama jet shooter—tabung air yang digendong di punggung—serta gebyok manual berupa pukulan ranting-ranting pohon berdaun hijau, para relawan terus merangsek masuk ke dalam asap. Keterbatasan peralatan manual memaksa mereka menguras seluruh tenaga hingga batas kemampuan fisik.
Sajadah di Atas Tanah Berbara: Ketika Doa Mengangkasa
Di tengah pertempuran yang tak kunjung usai dari pagi hingga malam, tubuh-tubuh kokoh itu akhirnya menyimpan keletihan yang teramat sangat. Di belakangan truk merah Brigdalkarhut yang menjadi benteng perlindungan, tampak beberapa relawan bersandar pada ban-ban raksasa. Lengannya terkulai, matanya terpejam rapat dalam riuk angin malam Bromo yang menggigit kulit. Mereka merebut istirahat beberapa menit saja, berselimut bau asap yang menempel tebal pada jaket pemadam mereka.
Namun, keletihan fisik tak lantas menggoyahkan dahaga spiritual mereka. Sebuah pemandangan yang menyentuh jiwa tertangkap di tengah remang malam kaldera Bromo. Di atas tanah savana yang menyisa sisa-sisa debu, dengan latar belakang deretan api yang menyala meliuk-liuk di sepanjang punggungan bukit seperti lidah naga, beberapa relawan melipat tangan dan bersedekap khusyuk.
Tanpa sajadah tebal, bermodalkan pakaian pelindung oranye-merah yang penuh jelaga, mereka mendirikan sholat berjamaah. Di hadapan bentangan api yang membara dan kepulan asap yang mengepul ke langit malam, doa-doa dibisikkan ke bumi Bromo. Suasana begitu hening dan magis; suara bisikan doa bersahut-sahutan dengan deru angin dan kertakan kayu yang terbakar. Di titik ini, tugas memadamkan api bukan lagi sekadar kewajiban kerja, melainkan ibadah kemanusiaan dan ikhtiar menjaga alam ciptaan Tuhan.
“Kami tidak hanya bertaruh tenaga, tapi juga pasrah pada yang Maha Kuasa. Api ini begitu cepat menyebar karena angin kencang. Tanpa pertolongan-Nya, kita bukan apa-apa di hadapan ganasnya alam,” gumam salah satu relawan usai menunaikan ibadah.
Bungkamnya Wisata dan Pengorbanan yang Tak Terhitung
Kebakaran yang menelan area seluas 520 hektare ini akhirnya memaksa Balai Besar TNBTS mengambil tindakan tegas: menutup total seluruh akses wisata Gunung Bromo sejak Sabtu (8/8/2026) malam. Lautan Pasir yang biasanya riuh oleh deru mesin jip dan derap langkah wisatawan kini berubah menjadi kesunyian yang mencekam. Pintu masuk mulai dari Cemorolawang (Probolinggo), Wonokitri (Pasuruan), Jemplang dan Coban Trisula (Malang), hingga Senduro (Lumajang) dikunci rapat demi keselamatan jiwa dan kelancaran operasi pemadaman.
Langkah ini tentu bukan keputusan yang mudah, mengingat Bromo adalah nafas ekonomi bagi ratusan pelaku usaha lokal, mulai dari sopir jip, penyewa kuda, pemandu wisata, hingga pemilik penginapan. Namun keselamatan tim pemadam dan kepungan asap racun di kaldera menjadi prioritas mutlak yang tak bisa ditawar.
Makan siang bersama secara darurat di atas rumput ilalang yang hampir mengering menjadi momen mewah bagi para relawan. Duduk melingkar beratap langit biru tanpa naungan, mereka menyantap nasi bungkus dengan jemari yang masih berjelaga. Tak ada keluhan. Senyum dan gurauan kecil tetap terlontar di antara mereka, memelihara moral bertempur di tengah ancaman bahaya yang setiap saat bisa mengurung mereka jika arah angin mendadak berubah.
Gelombang Simpati dan Doa dari Penjuru Negeri
Perjuangan fisik yang menguras air mata dan keringat di lapangan rupanya tak berlalu begitu saja. Foto-foto dan cerita otentik tentang dedikasi relawan—mulai dari momen mendorong truk mogok, makan nasi bungkus beratap langit, hingga bersujud di depan lautan api—dengan cepat menyebar di media sosial dan menyentuh hati jutaan masyarakat Indonesia.
Dukungan, rasa haru, dan apresiasi mendalam membanjiri ruang-ruang digital. Masyarakat yang menyaksikan pengorbanan ini turut memanjatkan doa serta harapan agar para pahlawan di garis depan tersebut selalu mendapat perlindungan dan kesejahteraan yang layak.
“MasyaAllah Tabarakallah untuk semua crew damkar dan yang terlibat dalam pemadaman ini, semoga Allah limpahkan keberkahan di setiap apa yang dikerjakan. Aamiin,” ujar seorang netizen memberikan apresiasi spiritualnya.
Tak sedikit pula warganet yang menyoroti betapa besarnya risiko keselamatan yang diambil oleh para petugas dan relawan ini demi menyelamatkan ekosistem alam, sehingga mereka dinilai sangat layak mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah.
“Lebih pantas naik gaji dan asuransi jiwa premium,” ujar netizen lainnya menegaskan betapa berharganya pengorbanan nyawa di lapangan.
Selain pujian bagi para pejuang pemadam api, keprihatinan atas rusaknya ekosistem Bromo akibat kecerobohan manusia juga memicu refleksi mendalam. Harapan agar Bromo bisa kembali bangkit dan masyarakat bisa lebih bijak menjaga alam menjadi pesan moral utama yang digaungkan publik.
“Terima kasih banyak atas lelah dan keringat seluruh pihak yang membantu memadamkan kebakaran ini. Semoga Bromo kembali cantik dan manusia-manusia yang menikmatinya semakin menjaganya,” puji seorang netizen dengan penuh rasa haru.
Menjaga Asa di Bawah Asap Bromo
Hingga saat ini, helikopter water bombing terus berseliweran mengambil air demi mengguyur titik-titik api utama. Pihak pemerintah daerah dan TNBTS bersinergi merancang berbagai skema agar si jago merah segera padam total. Namun di balik semua strategi besar di meja rapat, fondasi terbesar dari upaya ini terletak pada keteguhan hati para relawan di lapangan.
Mereka adalah sosok-sosok tanpa tanda jasa yang rela mempertaruhkan keselamatan, menembus asap pekat, mendorong truk mogok, hingga rebah dan bersujud di lautan bara demi menahan hancurnya rumah bagi keanekaragaman hayati Bromo.
Ketika kelak bunga edelweiss kembali bermekaran di lereng-lereng Tengger dan jip-jip wisatawan kembali melintasi lautan pasir, sejarah akan mencatat bahwa keindahan yang kembali pulih itu dibayar mahal oleh tetesan keringat, lecetnya jemari, dan doa-doa khusyuk para relawan yang bersujud di antara kepungan api.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










