bukamata.id – Riak keramaian di kawasan Pantai Losari, Makassar, malam itu mendadak heboh. Sejumlah wisatawan, termasuk rombongan pengunjung asal Riau, berkumpul memutari seorang pria bertubuh gempal yang mengenakan kaus biru santai. Di tangan salah seorang pengunjung, layar ponsel pintar yang menampilkan aplikasi kalkulator sudah siap diuji.
“8.450 dibagi 7?” tanya sang pengunjung dengan nada penasaran.
Tanpa coretan kertas, tanpa jemari yang bergoyang melacak angka, pria itu merespons hanya dalam hitungan detik. Dari mulutnya meluncur jawaban dengan presisi luar biasa hingga ke digit desimal yang panjang:
“1.207,14285714285…”
Pengunjung tersebut mendelik tak percaya, lalu berseru kaget sembari menunjukkan layar ponselnya ke kerumunan. Jawabannya persis hingga angka di belakang koma! Sorak-sorai dan tepuk tangan riuh seketika pecah. Pria itu adalah Ruslan Yusuf (25), atau yang lebih akrab disapa Ullang—pria yang belakangan dijuluki publik sebagai “Manusia Kalkulator” dari Makassar.
Tidak hanya soal pembagian rumit, pertanyaan lain seperti 25 x 26 (650), x 13 (8.450), hingga perkalian ribuan 789 x 13 (10.257) dilibasnya hanya dalam waktu kurang dari dua detik. Bahkan dalam sesi uji coba lain, Ullang membuktikan kepekaan sensorik dan ketajaman memorinya dengan menebak tepat jumlah 15 butir kelereng yang digenggam di tangannya hanya dengan merasakan bobotnya.
Namun, di balik decak kagum orang-orang yang menyaksikan kejeniusannya, ada keharuan dan takdir berliku yang menyelimuti perjalanan hidup sang pemuda.
Jejak Langkah di Lorong Pinggiran
Jauh dari hiruk-pikuk pusat kota dan sorot kamera, kehidupan Ullang bermula dari kediaman sederhananya di Jalan Teuku Umar 12, Kelurahan Kaluku Bodoa, Kecamatan Tallo, Makassar. Rumahnya berdiri di sebuah lorong kecil persis di pinggiran selokan besar.
Di sanalah Nuraeni (49), sang ibu, membesarkan Ullang bersama saudara-saudaranya. Ayahnya, M. Yusuf Roa (54), bekerja sebagai buruh bangunan yang kerap merantau keluar daerah demi menopang ekonomi keluarga.
“Ullang lahir normal, sama seperti anak-anak lainnya,” kenang Nuraeni saat ditemui. “Dia sempat mengenyam sekolah formal sampai kelas 3 di SD Galangan Kapal, Tallo.”
Namun, garis hidup keluarga ini berubah drastis sewaktu Ullang menyelesaikan ujian kenaikan kelas tiga. Ullang kecil mendadak diserang penyakit parah: Bronkitis stadium lanjut.
Kondisi fisiknya merosot tajam. Dari RS Ujung Pandang Baru, ia harus dirujuk ke RS Wahidin Sudirohusodo Makassar. Tanpa adanya jaminan kesehatan saat itu, Nuraeni dan suaminya terpaksa mengambil keputusan berat: menjual tanah warisan keluarga demi membiayai pengobatan sang buah hati.
Sayang, perjuangan medis itu terbentur dinding finansial. Tabungan dan hasil penjualan tanah akhirnya habis. Dengan berat hati, Ullang terpaksa dibawa pulang untuk menjalani perawatan seadanya di rumah.
Tiga Kali Mati Suri dan Mukjizat Yang Muncul
Periode kelam itu menjadi ujian terberat bagi keluarga. Kondisi tubuh Ullang memburuk hingga mencapai titik nadir. Ia tak mampu lagi bergerak, kehilangan penglihatan, dan tidak bisa mendengar suara di sekitarnya.
“Dokter yang memeriksa bahkan sempat mengatakan kalau Ullang sudah meninggal,” tutur Nuraeni dengan nada lirih.
Namun, naluri seorang ibu tak pernah padam. Nuraeni dan suaminya percaya sang putra belum benar-benar pergi, melainkan berada dalam kondisi mati suri. Pengalaman ganjil itu terjadi tidak hanya sekali, melainkan hingga tiga kali. Selama hampir tiga tahun lamanya Ullang terbaring lemah berjuang melawan penyakit yang melilit tubuhnya sebelum akhirnya secara ajaib bangkit dan pulih.
Akan tetapi, kebangkitannya membawa perubahan besar. Ullang tak lagi sama. Kondisi emosinya kerap tidak stabil. Ia sering mengamuk jika kemauannya tidak dituruti.
Meskipun sempat dicoba untuk kembali bersekolah, emosinya yang tiba-tiba meledak membuat pihak keluarga khawatir. Takut Ullang merusak fasilitas sekolah atau membahayakan teman-temannya saat penyakitnya kambuh, orang tuanya akhirnya memutuskan untuk berpamitan dan memberhentikan sekolah Ullang secara permanen.
Di tengah keterbatasan fisik dan ketiadaan pendidikan formal lanjutan itulah, sebuah fenomena menakjubkan mulai terlihat.
Mukjizat Angka dan Kebiasaan Unik
Nuraeni mengungkapkan bahwa keahlian berhitung anaknya tidak pernah dipelajari dari buku maupun bimbingan belajar. Keahlian itu muncul begitu saja setelah Ullang melewati masa-masa mati suri.
“Di rumah dia tidak pernah belajar menghitung, kerjaannya cuma bermain sama anak-anak sekitar rumah. Setelah sakit parah itu baru muncul kelebihan ini, mungkin sudah mukjizat dari Tuhan. Jangankan menghitung angka rumit, membaca tulisan terbalik pun dia bisa,” ungkap Nuraeni.
Kepolosannya bagai anak-anak tetap bertahan meski usianya telah beranjak dewasa. Di rumahnya, Ullang masih gemar bermain dengan anak-anak di bawah umur. Namun di luar rumah, sosoknya menjelma menjadi penolong dan fenomena sosial.
Saban pagi, telepon genggam sederhana pemberian orang yang pernah dibantunya kerap berdering. Panggilan-panggilan itu datang dari pedagang warkop, pemilik toko kelontong, hingga pegawai di kantor gabungan dinas Kota Makassar yang membutuhkan jasa hitung cepatnya.
Setelah mematikan ponsel, Ullang akan mandi, berpamitan pada ibunya, lalu melangkah berjalan kaki menyusuri jalanan Makassar menemui orang-orang yang membutuhkan kemampuannya.
Menopang Keluarga dengan Ketulusan
Dari kelebihannya itu, Ullang kini mampu memberikan kontribusi nyata bagi keluarganya. Setiap kali pulang beraktivitas di luar, ia membawa rezeki yang lumayan untuk membantu dapur tetap ngebul. Tak jarang dalam sehari ia mengantongi uang hingga Rp500 ribu hasil dari kerelaan orang-orang yang dibantunya.
“Setengah uangnya biasa diserahkan ke saya kalau saya minta untuk kebutuhan rumah tangga. Sisanya dipakai sendiri buat jajan atau traktir adik-adik sepupunya,” kata Nuraeni tersenyum.
Apresiasi dan Doa Warganet untuk Sang “Manusia Kalkulator”
Keunikan dan ketulusan hati Ullang yang terekam dalam berbagai kesempatan tidak hanya membuat orang-orang di sekitarnya terpukau, tetapi juga berhasil mengenyahkan batasan layar kaca dan menyentuh hati warganet di dunia maya. Berbagai tanggapan positif, rasa kagum, hingga doa tulus membanjiri kolom komentar atas perjalanan hidup pemuda asal Makassar ini.
“Setiap kekurangan pasti ada kelebihan 🙌🔥,” ujar salah seorang netizen yang takjub melihat kejeniusan Ullang di balik kesederhanaan fisiknya.
Banyak pula yang memetik pelajaran berharga dari kisah hidup Ullang, mengingatkan agar masyarakat tidak serta-merta meremehkan sesama manusia hanya berdasarkan penampilan luar atau latar belakang pendidikan formal semata.
“Itulah yang orang bilang jangan pernah menilai orang dari luarnya saja 🙌,” tulis netizen lainnya.
Tidak sedikit pula warganet yang menyampaikan rasa hormat atas perangai terpuji Ullang yang tetap berbakti kepada orang tua serta memiliki kepribadian yang ramah. Mereka berharap ada uluran tangan atau kesempatan kerja yang layak bagi Ullang untuk menyalurkan potensi luar biasa yang dimilikinya.
“Salut deh udah pintar, ramah, baik, sayang ortu… semoga ada yang memberi pekerjaan yang bagus dengan kelebihan yang dia punya,” ungkap warganet penuh haru.
Penutup
Kisah Ullang “Manusia Kalkulator” bukan sekadar cerita tentang keajaiban matematis atau kemampuan daya ingat luar biasa di luar nalar manusia biasa. Lebih dari itu, ini adalah narasi tentang keteguhan sebuah keluarga bersahaja di sudut kota Makassar, tentang bagaimana sebuah mukjizat hadir di balik penderitaan panjang, serta bagaimana kepolosan jiwa mampu membawa keberkahan bagi orang-orang di sekitarnya.
Kisah Ullang membuktikan bahwa batas kemampuan manusia kerap kali melampaui apa yang sanggup diukur oleh ijazah maupun bangku sekolah. Di balik kesederhanaan hidup di lorong Kaluku Bodoa, Ullang telah mengajarkan arti ketulusan, keteguhan, dan kebesaran Sang Pencipta lewat anugerah angka yang melekat pada dirinya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










