bukamata.id – Seorang warga menjadi korban dugaan penipuan bermodus hipnotis saat berbelanja di Pasar Sayati, Kopo, pada Jumat (16/10/2026). Akibat kejadian tersebut, korban kehilangan uang tunai, perhiasan emas, hingga logam mulia Antam yang selama ini disimpan sebagai tabungan masa pensiun.
Peristiwa ini menjadi perhatian setelah anak korban membagikan kisah yang dialami ibunya melalui akun Threads @gracekristiani. Dalam unggahannya, ia menceritakan bagaimana barang-barang berharga milik sang ibu diduga dibawa komplotan pelaku dan ditukar dengan sebungkus tisu basah.
“ Mamaku jadi korban hipnotis di Pasar Sayati, Jumat tanggal 16 kemarin. Bener-bener gak tau dan gak bisa dilacak pelakunya,” tulis pengunggah dalam unggahannya.
Modus Pelaku Berawal dari Percakapan tentang Obat Kanker
Berdasarkan cerita yang dibagikan, aksi tersebut diduga dilakukan oleh tiga perempuan yang menjalankan peran berbeda. Salah seorang pelaku awalnya menghampiri korban dan berpura-pura mengajak berbincang.
Pelaku kemudian menanyakan lokasi obat kanker yang tertulis di secarik kertas sembari bercerita mengenai kondisi suaminya yang sedang sakit. Ketika korban mengaku tidak mengetahui lokasi obat tersebut, seorang perempuan lain datang dan mengaku memiliki pengalaman positif setelah mertuanya menggunakan obat yang dimaksud.
Percakapan itu kemudian berlanjut hingga korban dan barang belanjaannya dibawa masuk ke dalam sebuah mobil. Di tengah perjalanan, seorang perempuan lain bergabung dan berpura-pura meramal korban.
Pelaku diduga menakut-nakuti korban dengan mengatakan bahwa anak laki-lakinya atau yang biasa disebut koko akan mengalami musibah dalam tiga hari ke depan. Untuk mencegah kejadian tersebut, pelaku menawarkan ritual doa terhadap barang-barang berharga milik korban.
Emas Antam dan Perhiasan Ditukar dengan Tisu Basah
Korban kemudian diantar ke sekitar tempat tinggalnya, tepatnya di dekat rumah tetangga. Di lokasi itu, korban diminta membungkus uang tunai, emas Antam, dan perhiasannya menggunakan kertas koran untuk didoakan.
Pelaku juga melarang korban membuka bungkusan tersebut atau menceritakan kejadian itu kepada siapa pun selama tiga hari. Larangan itu disebut-sebut bertujuan agar proses doa tidak gagal.
Setelah barang-barang berharga diserahkan, korban diturunkan di jalan dan diberi uang untuk ongkos pulang. Korban diduga belum menyadari bahwa dirinya telah menjadi sasaran penipuan.
Kejadian tersebut baru terungkap pada Selasa (20/10/2026), ketika anak korban merasa curiga dan membantu ibunya mengingat kembali rangkaian peristiwa yang terjadi.
Saat bungkusan koran diperiksa bersama, isinya ternyata bukan uang atau emas, melainkan satu pak tisu basah. Keluarga juga mendapati simpanan perhiasan yang sebelumnya disimpan di lemari telah hilang.
Tabungan Puluhan Tahun untuk Masa Pensiun Ikut Hilang
Menurut keterangan dalam unggahan tersebut, korban berada dalam kondisi yang membuatnya tidak sepenuhnya menyadari situasi dan mengikuti perintah para pelaku.
Uang tunai, perhiasan, dan logam mulia yang hilang disebut merupakan hasil tabungan korban bersama anaknya selama puluhan tahun. Simpanan tersebut dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan mereka pada masa pensiun.
Berdasarkan ingatan korban, para terduga pelaku terdiri dari tiga perempuan berpenampilan rapi. Salah satunya diperkirakan berusia 20–30 tahun, sementara dua lainnya berusia sekitar 40–50 tahun. Mereka diduga menggunakan mobil berwarna hitam saat menjalankan aksinya.
Kisah ini dibagikan sebagai peringatan agar masyarakat lebih waspada terhadap berbagai modus penipuan, termasuk yang memanfaatkan percakapan, rasa takut, dan kepercayaan korban.
Masyarakat juga diimbau untuk mengingatkan anggota keluarga, terutama orang tua yang kerap berbelanja atau bepergian sendiri, agar tidak mudah mengikuti ajakan orang asing atau menyerahkan barang berharga kepada pihak yang tidak dikenal.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










