bukamata.id – Nasib Sri Nurhaida Pratiwi (36), Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kampung Sukatani, Desa Cililin, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), menjadi perhatian setelah diduga menjadi korban penyekapan di Uni Emirat Arab (UEA).
Sri yang baru sekitar sebulan bekerja di Dubai dikabarkan meminta pertolongan kepada keluarga karena merasa terancam oleh pihak yang diduga merupakan mucikari atau germo. Hingga Senin (12/10/2026), keberadaannya masih dalam penelusuran setelah komunikasi dengan keluarga terputus.
Dugaan tersebut mencuat setelah keluarga menyebarkan tangkapan layar percakapan terakhir Sri melalui media sosial. Dalam pesan itu, Sri meminta bantuan agar kondisinya segera dilaporkan kepada Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Dubai.
Sri mengaku berada dalam situasi yang mengancam keselamatannya dan tidak leluasa meninggalkan pihak yang diduga menyekapnya. Ia juga sempat membagikan lokasi melalui fitur share location yang mengarah ke wilayah Ajman, Uni Emirat Arab.
Pesan terakhir tersebut menjadi salah satu petunjuk awal bagi keluarga untuk mencari keberadaan Sri. Namun, lokasi dan kondisi terkini perempuan asal Cililin itu masih perlu dipastikan oleh pihak berwenang.
Di tengah situasi tersebut, Sri diketahui meninggalkan tiga anak di kampung halaman. Sebelum komunikasi dengan keluarga terputus, ia sempat berpesan agar anak-anaknya dijaga dengan baik.
Disnaker Bandung Barat Koordinasi dengan Kementerian
Pemerintah Kabupaten Bandung Barat melalui Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) telah menerima laporan keluarga mengenai dugaan penyekapan PMI asal Cililin tersebut.
Kepala Bidang Pelatihan, Produktivitas, Penempatan, dan Transmigrasi (P3TKT) Disnaker KBB, Dewi Andani, membenarkan bahwa pihaknya menerima laporan mengenai Sri yang diduga mengalami masalah saat bekerja di Dubai.
“Betul kami telah menerima laporan keluarga dan saat ini melakukan koordinasi kepada Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia dan Kementerian Luar Negeri,” kata Dewi saat dikonfirmasi, Senin (12/10/2026).
Disnaker KBB kini berupaya menindaklanjuti laporan tersebut dengan berkoordinasi bersama instansi terkait. Langkah ini dilakukan untuk membantu memastikan keberadaan Sri sekaligus memperoleh kepastian mengenai kondisi keselamatannya.
Berdasarkan informasi awal yang diterima, Sri berangkat ke Dubai pada 14 September 2026 untuk mencari penghidupan. Namun, proses keberangkatan hingga pihak-pihak yang diduga membantu penempatannya di luar negeri masih ditelusuri.
Dewi menyebutkan, terdapat sejumlah pihak yang disebut membantu keberangkatan Sri. Meski demikian, identitas, peran, legalitas pihak-pihak tersebut, serta kelengkapan dokumen keberangkatan belum dapat dipastikan.
“Dalam proses keberangkatannya disebut terdapat beberapa pihak yang membantu, namun mengenai status, peran, legalitas pihak-pihak tersebut serta dokumen keberangkatan masih dalam proses penelusuran dan perlu diklarifikasi lebih lanjut oleh instansi yang berwenang,” ujarnya.
Penelusuran tersebut diperlukan untuk mengetahui bagaimana Sri bisa berangkat ke Dubai, melalui jalur penempatan seperti apa, serta apakah seluruh proses keberangkatannya telah memenuhi ketentuan yang berlaku.
Komunikasi Terputus, Keberadaan Sri Belum Dipastikan
Sri sempat bekerja setelah tiba di Dubai. Akan tetapi, informasi terakhir yang diterima keluarga menyebutkan bahwa ia sudah tidak lagi berada di tempat kerja sebelumnya.
Sejak saat itu, komunikasi dengan keluarga terputus. Kondisi tersebut membuat keluarga khawatir, terlebih sebelumnya Sri sempat mengaku berada dalam situasi yang mengancam keselamatannya.
Lokasi yang dibagikan Sri melalui fitur share location mengarah ke wilayah Ajman. Meski demikian, belum dapat dipastikan apakah ia masih berada di lokasi tersebut atau telah berpindah tempat.
Keluarga kini menanti tindak lanjut dari pemerintah dan instansi berwenang agar keberadaan Sri segera diketahui. Kepastian mengenai kondisinya menjadi hal mendesak, mengingat ia diduga menghadapi situasi yang membahayakan dirinya.
Sri Sempat Minta Bantuan Dedi Mulyadi
Dalam percakapan yang beredar di media sosial, Sri juga sempat meminta bantuan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Ia berharap dugaan praktik sindikat germo atau mucikari dapat diberantas. Dalam pengakuannya, Sri menyebut pihak-pihak yang diduga terlibat memiliki bekingan kuat.
Namun, dugaan keterlibatan sindikat maupun pihak lain dalam kasus ini belum dapat dipastikan. Seluruh informasi yang beredar masih memerlukan penelusuran dan klarifikasi dari instansi berwenang sebelum dapat ditarik kesimpulan mengenai pihak yang bertanggung jawab.
Disnaker KBB menegaskan bahwa pihaknya saat ini berfokus membantu keluarga mendapatkan kepastian mengenai keberadaan dan keselamatan Sri.
Koordinasi lintas kementerian diharapkan dapat mempercepat penanganan laporan, termasuk upaya memastikan kondisi PMI tersebut di Uni Emirat Arab.
“Mengenai pihak-pihak yang disebut dalam keterangan keluarga maupun dugaan kejadian yang dialami korban, kami belum dapat memberikan kesimpulan sebelum ada hasil klarifikasi dan penelusuran dari pihak yang berwenang,” tandas Dewi.
Kasus dugaan penyekapan Sri kembali menyoroti pentingnya perlindungan terhadap pekerja migran Indonesia di luar negeri, terutama ketika mereka menghadapi masalah keselamatan dan terputusnya komunikasi dengan keluarga.
Kini, keluarga berharap ada langkah cepat dari pihak terkait untuk menemukan Sri dan memastikan ia mendapatkan perlindungan yang dibutuhkan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










