Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Cerai Tanpa Drama! Demian Aditya Kudeta Ultah DMS, Reuni Bareng Sara Wijayanto Diserbu Netizen!

Rabu, 4 November 2026 10:07 WIB

BSU Kemnaker 2026 Cair Rp 900 Ribu! Cek Syarat dan Jadwal Transfernya

Rabu, 4 November 2026 09:58 WIB

Siap Gelora! Lokasi Nobar Persib Bandung vs Melbourne Victory Sore Ini

Rabu, 4 November 2026 08:30 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Cerai Tanpa Drama! Demian Aditya Kudeta Ultah DMS, Reuni Bareng Sara Wijayanto Diserbu Netizen!
  • BSU Kemnaker 2026 Cair Rp 900 Ribu! Cek Syarat dan Jadwal Transfernya
  • Siap Gelora! Lokasi Nobar Persib Bandung vs Melbourne Victory Sore Ini
  • Dibikin Heran Satu Dunia! Selebrasi Paling Nyeleneh Veda Ega: Makan Belalang Goreng di Sepang!
  • Bawa JNE Makin Adaptif, Hui Chandra Fireta Sabet Gelar Most Innovative CFO Awards 2026
  • Pincang Tanpa Duo Asing, Persib Tetap Ngotot Segel Tiket 16 Besar ACL 2
  • Klaim Sekarang! Daftar Kode Redeem FF Terbaru 4 November 2026, Amankan Hadiah Gratisnya
  • Link Video Viral Egar dan Fina Banyuwangi Part 1 Sampai 4 Full Durasi Dicari Netizen, Ini Fakta Sebenarnya!
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Rabu, 4 November 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Naskah Khutbah Jumat Tentang Muhasabah Akhir 2024 Jadi Momentum Perbaiki Kualitas Ibadah

By Putra JuangJumat, 27 Desember 2024 09:32 WIB7 Mins Read
Khutbah
Naskah Khutbah. (Foto: Ilustrasi/Hans-Juergen Weinhardt dari Pixabay)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Simak berikut ini naskah khutbah Jumat yang membahas tentang muhasabah akhir 2024 menjadi momentum untuk memperbaiki kualitas ibadah.

Hari Jumat merupakan Sayyidul Ayyam atau rajanya hari bagi umat muslim di dunia, yang diyakini sebagai hari penuh keberkahan.

Pasalnya, pada hari tersebut setiap muslim yang balig diwajibkan untuk mengerjakan shalat Jumat, yang menjadi salah satu penanda perayaan hari raya kecil bagi umat muslim.

Adapun beberapa syarat berlaku dalam pelaksanaan salat Jumat, di antaranya adalah melangsungkan khutbah sebagai rukun dalam salat Jumat.

Nah, berikut ini naskah khutbah Jumat tentang muhasabah akhir 2024 menjadi momentum untuk memperbaiki kualitas ibadah, dilansir dari laman NU Online, Jumat (27/12/2024).

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الْمُنْعِمِ عَلَى مَنْ أَطَاعَهُ وَاتَّبَعَ رِضَاهُ، الْمُنْتَقِمِ مِمَّنْ خَالَفَهُ وَعَصَاهُ، أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةَ عَبْدٍ لَمْ يَخْشَ إِلاَّ اللهَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِي اخْتَارَهُ اللهُ وَاصْطَفَاهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ. أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ ، وَتَفَكَّرُوْا فِي نِعَمِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوْهُ، وَاذْكُرُوا آلَاءَ اللهِ وَتَحَدَّثُوا بِفَضْلِهِ وَلَا تَكْفُرُوْهُ، قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَهُوَ أَصْدَقُ الْقَائِلِيْنَ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: وَما أُمِرُوا ‌إِلَاّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ ‌مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفاءَ ،صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمِ

Ma’asyiral Muslimin, jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Mari kita awali perjumpaan kita ini dengan senantiasa melafalkan kalimat syukur alhamdulillahi rabbil alamin, atas segala nikmat dan karunia yang telah Allah berikan kepada kita semua. Sehingga kita bisa senantiasa istiqamah menunaikan kewajiban-Nya. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw, manusia sempurna yang telah menjadi teladan dalam segala aspek kehidupan, antara lain dalam mengevaluasi diri dalam segala amal perbuatan di dunia.

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Saat ini kita berada di penghujung tahun 2024 dan sebentar lagi memasuki awal tahun 2025. Dengan demikian, kita sudah melewati hari yang begitu panjang dengan berbagai macam kegiatan dan aktivitas, baik yang direncanakan maupun hanya kebetulan, baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan.

Sebagai manusia biasa, kita tidak luput dari kelalaian, dan juga mampu melaksanakan kebaikan meski tidak istiqamah. Di antara perbuatan kita, ada yang sejalan dengan perintah Islam, ada juga yang melanggar, bahkan kadang menyimpang dari syariat. Ada yang bermanfaat bagi umat, ada juga yang justru merugikan bahkan kadang membahayakan.

Baca Juga:  Khutbah Jumat 20 Juni 2025: Waspadai Kebiasaan Lalai, Sumber Kerugian dalam Hidup

Dalam konsep Islam, kita diperintahkan untuk bermuhasabah, introspeksi dan mengevaluasi diri dari segala perbuatan yang sudah dilakukan. Jika kita mampu melakukan refleksi dan introspeksi diri, maka kita dikategorikan orang yang cerdas, sedangkan yang tidak mampu bermuhasabah atas perilaku yang telah diperbuatnya maka disebut orang yang lemah. Keterangan ini khatib kutip dari sabda Nabi Muhammad SAW:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللّٰهِ

Artinya, “Orang yang cerdas adalah orang yang mengevaluasi dirinya serta beramal untuk kehidupan sesudah kematiannya. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah.” (HR. Ahmad).

Lantas, bagaimana cara bermuhasabah yang sesuai dengan ketentuan Islam? Mula Al-Qari dalam kitab Mirqatul Mafatih menjelaskan:

أَيْ حَاسَبَ أَعْمَالَهَا وَأَحْوَالَهَا وَأَقْوَالَهَا فِي الدُّنْيَا فَإنْ كَانَتْ خَيْرًا حَمِدَ اللهَ تَعَالى وَإنْ كَانَتْ شَرًّا تَابَ مِنْهَا وَاسْتَدْرَكَ مَا فَاتَهاَ قَبْلَ أَنْ يُحَاسَبَ فِي اْلعُقْبَى

Artinya, “Dia mengevaluasi perbuatan, kondisi, keadaan dan perkataannya di dunia. Jika baik maka dia memuji Allah, dan jika buruk maka mestinya dia bertobat, kemudian mengejar sesuatu yang yang telah luput darinya, sebelum dirinya dievaluasi di akhirat kelak.”

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Berdasarkan penjelasan Syekh Mula Al-Qari, bermuhasabah itu tidak hanya sekadar mengingat keburukan-keburukan yang sudah kita lakukan. Tidak juga cuma membayangkan kesalahan-kesalahan yang pernah terjadi. Tapi lebih dari itu, muhasabah harus diwujudkan dalam tindakan nyata agar dosa-dosa kita selama hidup ini mendapat ampunan dari Allah SWT.

Caranya adalah dengan bertobat sungguh-sungguh. Tobat yang sebenarnya berarti kita beristighfar, berhenti dari perbuatan maksiat, menyesali dosa-dosa yang sudah dilakukan dengan hati yang mendalam, dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi. Begitu pula jika menyangkut hak-hak sesama manusia, harus diselesaikan dengan baik.

Jadi, bisa kita pahami bahwa muhasabah itu bukan sekadar seremoni di akhir tahun, tetapi merupakan langkah berkelanjutan untuk terus memperbaiki diri agar kita menjadi hamba yang lebih taat kepada Allah SWT.

Baca Juga:  Ustadz Adi Hidayat Ungkap Hadis Palsu Terkait Keutamaan Rajab, Jangan Salah Kaprah!

Dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi juga dipaparkan makna muhasabah dengan lebih detail:

أَيْ حَاسَبَهَا وَأَذَلَّهَا وَاسْتَعْبَدَهَا وَقَهَرَهَا حَتَّى صَارَتْ مُطِيْعَةً مُنْقَادَةً

Artinya, “Yakni mengevaluasi, menghinakan, menghambakan, dan menundukkan diri, sehingga menjadi orang yang taat dan tunduk kepada Allah.”

Karenanya, dalam konsep muhasabah ini kita terapkan tiga T, yaitu Teliti, Tobat dan Taat. Teliti amal perbuatan yang sudah dilakukan, tobat dari segala dosa yang dilakukan, dan taat hingga akhir hayat.

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Ada satu hal yang bisa merusak spirit bermuhasabah, yang perlu diwaspadai dan dihindari. Apa itu? Merasa kebaikan yang dilakukan lebih banyak daripada keburukannya. Hal ini juga pernah diingatkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah:

وَمِنَ الْمَغْرُوْرِيْنَ مَنْ يَظُنُّ أَنَّ طَاعَاتِهِ أَكْثَرُ مِنْ مَعَاصِيْهِ

Artinya: “Di antara orang-orang yang tertipu adalah dia yang menduga ketaatannya lebih banyak daripada kemaksiatannya.”

Dia hanya sibuk menghitung banyaknya putaran tasbih yang dipakai untuk membaca wirid, mengagungkan nama Allah. Dia fokus pada seberapa sering dia berdzikir menyebut nama-nama Allah. Tapi, dia lupa bahwa begitu banyak waktunya justru habis untuk membicarakan keburukan orang lain, memanfaatkan kesempatan untuk menyakiti sesama, dan melakukan berbagai tindakan buruk lainnya.

Amal baiknya mungkin jauh lebih sedikit dibandingkan amal buruknya, tetapi dia merasa seolah-olah lebih banyak. Waktu yang seharusnya digunakan untuk taat kepada Allah SWT bisa jadi sangat minim, tetapi dia menduga seakan-akan sudah cukup banyak.

Selain itu, kualitas amal baiknya pun perlu dipertanyakan. Apakah saat berdzikir, dia melakukannya dengan ikhlas tanpa pamrih kepada makhluk lain? Apakah ketika bersedekah, dia tidak membatalkan pahalanya dengan menyebut-nyebut sedekah itu atau menyakiti perasaan penerima? Apakah ibadahnya bebas dari rasa ujub (bangga diri) dan takabbur (sombong)? Semua ini perlu direnungkan.

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Karena itu, dalam bermuhasabah, kita harus benar-benar memperhatikan setiap hal yang kita lakukan, baik dalam bentuk perbuatan maupun ucapan. Perhatikan yang besar maupun yang terlihat kecil, yang dilakukan secara terang-terangan maupun yang tersembunyi.

Baca Juga:  Naskah Khutbah Jumat Tentang Keutamaan dan Amalan Nisfu Syaban

Jangan hanya fokus pada perbuatan baik lalu melupakan kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan. Jangan hanya menghitung amal saleh, tapi juga periksa dan evaluasi kualitasnya. Apakah benar-benar dilakukan dengan ikhlas dan sesuai dengan tuntunan?

Teruslah menilai diri sendiri sebelum datang saatnya kita dinilai, dipertanyakan, dan dihisab oleh Allah SWT. Dengan cerdas menghisab diri di dunia, insya Allah hisab kita di akhirat nanti akan menjadi lebih ringan. Sejalan dengan perkataan Sayyidina Umar bin Khattab:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا وَتَزَيَّنُوْا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِى الدُّنْيَا

Artinya, “Hisablah kalian sebelum kalian dihisab, dan berhias dirilah kalian untuk menghadapi penyingkapan yang besar. Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan hanya bagi orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup di dunia.”

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ بنِ عَبدِ اللهِ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ المُسلِمُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَاعلَمُوْا إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَواْ وَّٱلَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ. قَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ خَاصَّةً بِلَادِ فَلِسْطِيْن. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا فِي فَلِسْطِيْن وَآتِهِمُ الْاِسْتِقْلَالَ والحُرِّيَّةَ مِنْ طُغْيَانِ اسْتِعْمَارِ إِسْرَائِيلَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ عِبَادَاللهِ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Ibadah Khutbah Jumat naskah khutbah
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Cerai Tanpa Drama! Demian Aditya Kudeta Ultah DMS, Reuni Bareng Sara Wijayanto Diserbu Netizen!

BSU Kemnaker 2026 Cair Rp 900 Ribu! Cek Syarat dan Jadwal Transfernya

Bawa JNE Makin Adaptif, Hui Chandra Fireta Sabet Gelar Most Innovative CFO Awards 2026

Klaim Sekarang! Daftar Kode Redeem FF Terbaru 4 November 2026, Amankan Hadiah Gratisnya

Link Video Viral Egar dan Fina Banyuwangi Part 1 Sampai 4 Full Durasi Dicari Netizen, Ini Fakta Sebenarnya!

Pekerja menerima BSU 2025 dari pemerintah

Pemerintah Salurkan BSU Rp900 Ribu Lewat Bank Himbara dan Pos, Cek Namamu Sekarang!

Terpopuler
  • Ilustrasi video syur
    Link Video Egar dan Fina Banyuwangi Viral di TikTok, Ini Fakta Sebenarnya!
  • Link Video Viral Egar dan Fina Banyuwangi Part 1 Sampai 4 Full Durasi Dicari Netizen, Ini Fakta Sebenarnya!
  • Perang Estetika Kota: Utopia Art Deco vs Megalomania Kerajaan di Saat Kas Pemprov Jabar Sekarat
  • Geger Link Video Viral Karyawan HWI Durasi 6 Menit, Ini Fakta Sebenarnya!
  • Ruang Bicara Resmi Berdiri di Bandung, Hadir Sebagai Wadah Anak Muda Bertumbuh dan Berdampak
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.